Chapter 6: Tinggal serumah

1696 Words
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang, sambil menikmati es krim yang baru saja dibelikan Keynan, Valeta nampak diam tak bersuara. Es krim cokelat magnum menjadi pilihan Keynan untuknya. "Kamu nggak mau?" "Saya nggak suka cokelat," ucap Keynan tanpa menoleh padanya. "Ya sudah, ini untukku semua!" kata Valeta. Mobil hitam itu masuk ke salah satu pekarangan rumah berpagar tinggi, seorang penjaga membukakan pintu pagar saat kedatangan mereka. Mobil itu lalu berhenti di depan dan langsung disambut hangat oleh beberapa pelayanan yang berbaris rapi memakai pakaian hitam putih. Valeta terdiam menatap dari jendela rumah besar nan megah di depannya yang bernuansa gaya mediterania. Seseorang membuka pintu samping sesaat setelah Keynan keluar, ia langsung menghampiri Valeta untuk membantunya berjalan tanpa bantuan pelayan. "Selamat datang Tuan Nona, semua tempat sudah dibersihkan termasuk kamar Tuan dan Nona. Silakan!" Kata pelayan pribadi Keynan. "Terima kasih!" "Ayo Valeta, kita masuk!" Keynan menuntun Valeta ke dalam. Betapa takjubnya saat melihat dalam luas yang sangat besar dan rapi, berbeda dengan rumanya, ruangan ini dua kali lipat lebih besar dan megah, bahkan beberapa pelayan ada yang sedang menyiapkan makanan di meja. Keynan lalu membawanya menuju ke tangga, kali ini ia membopong tubuh Valeta ala bridal style untuk naik ke atas, karena tak mungkin dengan kondisi yang sekarang untuk naik tangga yang lumayan tinggi. "Saya sudah siapkan dua kamar di atas, kamu jangan khawatir, kita nggak akan tidur bersama sebelum kamu siap!" Kata Keynan berhenti di depan pintu yang menjadi kamar Valeta sekarang. "Ini kamar kamu, dan kamar saya ada di sebelah, kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa datang ke kamar saya!" "Nggak perlu, makasih, kalau aku ada perlu apa-apa aku lebih baik memanggil orang lain bukan Anda," ketus Valeta. "Baiklah, itu terserah kamu, istirahatlah, saya akan meminta pelayan membawakan makanan ke kamar kamu nanti!" ucapnya bersamaan ia pergi. "Tunggu!" Valeta menahannya sebelum Keynan berjalan lebih jauh. Laki- laki itu menoleh. "Terima kasih!" ucap Valeta. Malam harinya "Ta, gimana kabar lo, astagah anak-anak pada khawatir sama lo nih!" Kata seseorang dari balik telepon. "Gue baik, gue juga udah pulang kok!" "Syukurlah, kita mau jenguk lo besok tapi anak- anak kayaknya mau jenguk Justin dulu deh di rumah sakit. Oh ya Ta, kalian berdua baik-baik ajakan?" tanya temannya. Diam, Valeta membisu saat nama Justin disebut, teman-temannya mungkin tak tahu kejadian yang sebenarnya kalau hubungannya dengan Justin sedang tak baik-baik saja. "Iya baik kok." Valeta terpaksa bohong kali ini. Ia tak mau teman-temannya terlalu khawatir dengannya atau Justin. Lagipula soal tunangan dengan laki-laki lain Valeta belum cerita pada teman-temannya di sekolah. "Gue kangen sama lo Ta!" "Gue juga, bentar lagi gue juga balik kok ke sekolah. Tenang aja." "Oke deh, yaudah gue tutup dulu ya, bye!" "Bye!" "Sudah teleponnya?" Suara bariton dari arah pintu mengejutkan Valeta. Keynan berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di d**a. Sejak tadi ia bersandar di sana tanpa Valeta sadari. "Key!" Keynan kini berjalan mendekatinya. "Kenapa kamu masuk ke kamarku? "Sontak saja Valeta kesal. "Memangnya kenapa?" "Ini kamar ku, Anda nggak seharusnya masuk sembarangan sebelum mengetuk pintu dulu!" "Dan ini rumah saya, saya berhak untuk masuk dan keluar di rumah ini, termasuk masuk ke kamar istriku!" ucapan telak Keynan membuat Valeta tak bisa protes, tapi ia kesal dengan sikapnya yang sok penguasa. "Mau apa?" ketus Valeta. "Sudah jam makan malam!" pintanya. "Aku nggak lapar!" tolaknya. Keynan mendekati Valeta yang duduk di ranjang, kali ini tatapan Keynan seakan tak suka dengan penolakan yang ia terima. "Valeta-" kedua tangan Keynan digunakan untuk menyanggah tubuhnya saat wajah Keynan semakin dekat. Tatapan kali ini sedikit mengintimidasi. "Sudah cukup main-mainnya, saya memiliki tanggung jawab besar sama kamu termasuk mama kamu yang menitipkan kamu sama saya, mengerti!" Tatapan itu membuat Valeta tak berkedip untuk sejenak, ia melihat dari bola mata laki-laki itu yang semakin mengintimidasinya. "I-ya!" Valeta tak bisa berkata apa-apa selain menuruti ucapannya. Keynan tersenyum lalu membelai rambutnya lembut, tatapannya kini menjadi sayu dan lembut. Laki-laki itu membenarkan posisinya. "Aku akan menyuruh pelayan membawa makanan ke sini, " katanya. "Nggak perlu, aku bisa turun ke bawah," kata Valeta berdiri dibantu kruk. Belum sempat ia melangkah lebih jauh, ketukan pintu dari luar mengejutkannya. Dua troly yang dibawa pelayan membawa makan malamnya. "Selamat malam Nona, kenalkan saya Bibi Nida, kepala pelayan sekaligus pelayan pribadi Nona mulai sekarang!" Katanya dengan senyum lebar, umurnya memang lebih tua. Namun sepertinya ia ramah dengan sifat keibuan. "Key-" Valeta menoleh pada Keynan yang hanya menunjukkan kedua bahu seakan tak tahu menahu. Valeta pasrah, ia mengiyakan makanan itu masuk ke kamarnya, ada berbagai macam makan malam tersaji mulai dari sup, nasi, roti, dan lauk pauk ayam, ikan, udang, dan yang lainnya. "Sebanyak ini?" Kejutnya. "Apa Nona tidak suka makanannya, saya bisa mengambil menu yang lain," ucap Bibi Nida. "Tidak perlu, " Valeta jadi sungkan. Sementasa Keynan hanya berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya. Setelah menyiapkan semua makanan yang ditaruh di meja. Para pelayan itupun keluar dari kamar Valeta dan menyisakan keduanya yang masih berada di satu kamar. "Key, apa aku harus memakan semua ini? Ini banyak banget." Valeta tak yakin bisa menghabiskan makanan ini sendirian. Keynan mendekat, "aku nggak tahu apa makanan kesukaan kamu. Tadi mama kamu bilang, kalau kamu suka yang makanan yang pedas, tapi karena kamu masih sakit jadi aku melarang memberikan makanan pedas hari ini." Valeta mengusap air liurnya. Ia tak peduli dengan ucapan Keynan, perutnya saat ini keroncongan meminta makan. Langsung saja ia mengambil kue dan langsung melahapnya satu kali telan. Ia sangat menyukainya. Keynan yang melihat kerakusan gadis itu hanya menggelengkan kepala. Valeta lalu mengambil sup ayam yang masih panas dan melahapnya habis. "Ahh panas!" "Apa kamu kalau makan serakus itu?" "Iya, kenapa. Nggak suka?" "Ternyata walau kamu sakit, nafsu makanmu sangat tinggi." Valeta tak menggubris ucapan Keynan. Ia masih tergiur dengan banyaknya makanan di depannya, walau tak ada makanan kesukaannya, tapi semua terlihat nikmat karena dia sangat lapar. "Setelah makan, aku akan menyuruh pelayan membereskan semuanya, kamu cukup istirahat dan jangan ke mana-mana," pintanya. "Aku akan menyelesaikan pekerjaanku di ruang sebelah. Kalau kamu perlu bantuan, kamu bisa menghubungiku. Kamu mengerti?" "Iya, aku ngerti!" "Gadis pintar!" Keynan menyentuh puncak kepala Valeta dan tersenyum sekilas padanya sebelum ia keluar dari kamar Valeta. Hari berikutnya, kondisi Valeta semakin membaik. Kondisi kakinya juga sudah mulau sembuh. Kedua teman Valeta, Nadia dan Roy datang menjenguknya dengan membawakan buah-buahan segar untuknya. "Ta, setelah ini kita mau jenguk Justin ke rumah sakit. Lo nggak papakan?" Mendengar nama Justin, hati Valeta menjadi sedih. Ia masih mengkhawatirkan Justin yang koma di rumah sakit. "Udahlah Ta. Gue yakin, Justin bakal sadar lagi, lo tenang aja. Yang terpenting kondisi lo membaik." Valeta hanya mengangguk. "Iya." Belum ada yang tahu dengan status Valeta sekarang termasuk kepindahannya di rumah baru. Valeta hanya bilang kalau ini rumah saudaranya, jadi sementara ia akan tinggal di sini. Nadia tak banyak bertanya tentang kepindahan Valeta di rumah barunya. Kecuali salah satu teman sekaligus sahabatnya Justin bernama Roy yang sedikit menaruh curiga ketika pertama kali masuk ke dalam rumah itu. "Ta, rumah lo gede banget ya?" Ujar Roy takjub. "Yakin lo tinggal sama saudara lo disini, saudara yang mana?" Awalnya Valeta bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Roy. Lagipula dari semua teman-temannya, ia sangat dekat dengan Justin. Roy-laki-laki yang suka memakai jaket jersey berwarna biru. Beruntung Nadia, langsung mengalihkan pertanyaan Roy membuat Valeta kikuk. "Udahlah Roy, mau rumah gede Valeta gede apa kecil itu bukan urusan kita, yang terpenting sekarang kondisi Valeta baik-baik saja." "Ya ya ya, tapi kondisi Justin-" Roy menggantungkan kalimatnya. "Gue harap tuh anak bisa sadar kembali." "Yaa, kita semua juga berharapnya gitu.." Nadia yang melihat Valeta murung langsung menyenggol perut Roy untuk tak membicarakan Justin di depannya. "Val... jangan sedih lagi ya, kita tahu kok gimana perasaan lo sekarang." Valeta mencoba berusaha senyum di depan teman-teman, bukan karena kondisi Justin sekarang, tapi ketika Justin sadar nanti dan melihatnya apakah ia kuat mengatakannya. Sementara di luar, Mobil hitam yang dibawa Keynan telah memasuki halaman depan. Ia keluar dan mendapati ada mobil jazz merah di depan halaman juga. Mungkin ada tamu di rumahnya sekarang. "Selamat datang Tuan Keynan," ucap Bastian membukakan pintu dan menyambut kedatangan tuannya itu. Keynan mendelik penasaran dengan mobil di depan halaman itu. "Apa ada tamu Bastian?" "Iya Tuan. Di dalam ada teman-teman nona Valeta." "Oh begitu." "Kita balik dulu ya Ta, cepet sembuh terus masuk sekolah lagi sama kita. Anak-anak yang lain kangen sama lo!" Pamit Nadia bersamaan ketiganya keluar dari rumahnya. "Cepet sembuh ya Ta!" Ucap Roy juga. Saat Nadia dan Roy keluar, mereka berhadapan dengan Keynan yang masih berada di luar. Valeta terkejut melihat kepulangan Keynan yang mendadak, padahal dia bilang akan pulang malam, kenap masih siang ini sudah pulang? Key! Nadia dan Roy yang baru pertama kali melihat Keynan menatap Valeta dan laki-laki itu bingung, terlebih Nadia yang merasa takjub dengan sesosok tampan di depannya. Bahkan Nadia sempat tak berkedip kalau bukan Roy yang membuyarkan lamunannya. "Siapa mereka?" Tanya Keynan Valeta terlihat bingung bagaimana menjelaskan semua pada Keynan dan juga nanti pada teman-temannya tentang Keynan. Roy juga penasaran, "Anda siapa? Inikan rumah Valeta." "Saya sua-" Hahaha, tawa Valeta yang langsung menarik tangan Keynan untuk tak melanjutkan kata-katanya berhasil. "Dia itu... " Valeta berpikir. "Saudara, iya, saudara jauh gue." Valeta bahkan tak segan mencubit pinggang Keynan untuk mengikuti permainannya di depan teman-teman. "Saudara jauh? Kok gue baru lihat ya?" Nadia curiga. "Soalnya dia itu udah lama di luar negeri, baru ini dia pulang ke Indonesia, iyakan??" Valeta memberi isyarat pada Keynan, langsung saja Keynan paham dan hanya mengulas senyum tipis. "Oh saudara. Kita temen Valeta," ucap Nadia. "Oh ya tadi kalian mau balikkan? Berhubung saudara gue udah pulang. Jadi ada yang nemenin, jangan khawatir aku baik-baik aja kok." "Oke deh, kita balik ya Ta." "Hati-hati, dahhh!" Kepergian Nadia dan Roy membuat Valeta lega. Ia terpaksa menutupi semua di depan teman-temannya, ia tak ingin teman-temannya tahu tentang status dia sekarang. Huft, Valeta bernafas lega. "Saudara?" Keynan memincingkan mata pada Valeta. Valeta yang masih merangkul tangan Keynan segera melepaskannya. "Tadi aku terpaksa, jangan salah paham." "Tadi kamu bilang, aku saudaramu?" "Ya iyalah, masa aku bilang kamu ini suamiku. Nggak mungkinlah!" Keynan menghela nafas panjang, ia sudah cukup lelah dengan kerjaannya di luar, meladeni anak kecil seperti Valeta justru akan menguras tenaganya. "Iya ya, itu terserah kamu." Keynan berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Bastian di belakangnya. Tbc 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD