Keynan duduk di meja kerjanya, wajahnya termenung dengan situasi yang mengingatkannya saat bertemu dengan teman-teman Valeta tadi.
Saudara? Keynan kembali tersenyum. Rupanya Valeta memang tak ingin memperkenalkan status hubungan dengannya.
Bastian masuk secara tiba-tiba, menunduk memberi hormat pada tuannya itu. "Tuan muda!"
"Apa Valeta sudah tidur?" tanya Keynan
"Belum Tuan, tadi saya lihat dia sedang bermain game di ruang tamu,"jawabnya
"Bermain game? Malam-malam begini?" Keynan kaget, ia bangkit dan langsung beranjak keluar untuk menemui anak itu.
Benar saja. Ketika Keynan turun dari lantai atas ia mendapati Valeta tengah bermain games playstation di ruang depan. Terlihat ia begitu sangat menikmatinya sampai-sampai toples berisi makanan di depannya habis bahkan ada beberapa minuman soda bercecer di sana. Sungguh pemandangan yang bisa membuat Keynan geram.
"Valeta!" Panggilnya.
Valeta tak menggubris, ia masih fokus dengan game tembak-tembakan di layar.
"Valeta, sudah jam berapa sekarang?"
"Ih bentar, lagi asyik nih!"
Keynan mendengus, ia pun mendekat dan mengambil toples makanan di lantai dan menaruhnya kembali di meja. Lantas ia merampas alat yang dipegang Valeta. Sontak saja Valeta marah.
"Apaan sih!?!"
"Sudah jam berapa sekarang, ini waktunya istirahat?" bentak Keynan
"Aku belum ngantuk, jadi biarkan aku bermain, sini kembaliin!" Valeta berusaha mengambil alat itu kembali namun Keynan malah melemparnya—ia marah.
Kelakuan Keynan membuat Valeta kaget, ia juga kesal dengan sikap Keynan yang selalu mencampuri urusannya. Ia ingin marah pada Keynan tapi mengurungkan niatnya melihat wajah yang tak merasa bersalah dari Keynan malah semakin membuatnya muak.
Terpaksa ia menurut tanpa berucap, dan langsung pergi ke kamarnya. Melihat sikap yang ditunjukkan Keynan pada Valeta membuat Bastian yang sejak tadi melihat keributan mereka hanya terdiam. Ia pun sama kagetnya melihat tuannya bertindak sekasar itu pada Nona Valeta.
"Arghhh!" Valeta geram ketika masuk ke kamarnya. "Memangnya dia siapa ngatur-ngatur gue seenaknya. Baru juga jadu suami udah sok-sokkan, dasar muka tua!"
"Kamu bilang apa tadi ke saya?" Keynan yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu membuat Valeta kaget.
"Kamu!"
Keynan masuk dan langsung mendekatinya. "Muka tua kamu bilang?"
Seakan menantang, Valeta sama sekali tak takut padanya. "Iya muka tua, lebih tepatnya bapak-bapak."
"Hey anak kecil!" Sumpal Keynan membalas dengan tatapan intens. "Jaga bicara kamu ya, aku ini suami kamu!"
Valeta terkekeh, "Suami? Dari awal saya nggak pernah mau jadi suami Anda, mengerti?"
"Kamu pikir saya mau menikahi anak kecil seperti kamu itu?"
"Oh begitu ya? Kalau gitu ceraikan saja aku, mudahkan?"
"Bercerai kamu bilang? Kamu pikir hubungan ini main-main? Ingat ya Valeta,jangan pernah mengatakan kata perceraian di depan saya lagi."
"Kita nggak mungkin bisa bersatu, lagipula hubungan ini nggak akan berjalan, suatu hari nanti kita juga akan berpisah."
Keynan menghela nafas, berbicara dengan Valeta memang membutuhkan kesabaran ektra. "Maafkan saya tadi saya kasar sama kamu, saya hanya nggak suka orang di rumah ini tidak disiplin."
"Baiklah, bagaimana kalau kita buat perjanjian," usul Valeta
"Perjanjian?"
"Perjanjian untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Saya akan nurut sama Anda tapi saya juga punya hak atas kebebasan di rumah ini, untuk itu kita buat perjanjian."
Keynan berpikir dengan tawaran Valeta, namun setelah dipikir-pikir akhirnya ia menyetujuinya. "Baiklah, kita akan buat perjanjian."
***
Keynan dan Valeta duduk saling berhadapan satu sama lain di ruangan tertutup. Di depan meja masing-masing mereka telah disediakan kertas kosong dan pulpen. Keynan dan Valeta mulai menulis hak apa saja yang selain status mereka sebagai suami istri. Tanpa pikir panjang, Valeta menulis dengan sangat cepat dan panjang di atas kertas itu sementara Keynan hanya beberapa.
Setelah beberapa menit, akhirnya keduannya pun saling bertukar kertas untuk dibaca masing-masing.
Isi perjanjian Valeta
-Dilarang mencampuri urusan pribadi
-Di rumah sebagai istri, di luar bebas
-Tidak boleh masuk kamarnya seenaknya
-Membebaskan untuk bermain dengan teman-temannya
-Teman-temannya hanya tahu mereka saudara
-Dilarang saling sentuh-pelukan-ciuman, s*x, dll
Isi perjanjian Keynan
-Tidur tepat waktu
-Dilarang membawa teman cowok ke rumah
-Menùruti ucapan suami
-Dilarang jatuh cinta dengannya
-Dilarang membuat pesta di rumah
-Melayani suami
Valeta tertawa membaca perjanjian dari Keynan di baris akhir.
"Dilarang jatuh cinta? Hahaha, mana mungkin saya jatuh cinta dengan bapak, itu nggak akan pernah."
"Saya hanya mengantisipasi. Kalau suatu hari nanti kamu jatuh cinta dengan saya, isi perjanjian ini batal."
"Atau mungkin bapak yang jatuh cinta dengan saya, lagian siapa juga yang bakal suka sama orang tua kaya Anda."
"Kamu menantang saya?"
Valeta bungkam, ia pun langsung menandatangani surat itu secara bergiliran. "Oke, surat perjanjian ini jangan sampai hilang."
"Saya mengerti!" Keynan pun menyimpan kertas itu.
"Besok lusa kamu sudah diperbolehkan untuk masuk kembali ke sekolah, baju, tas, seragam akan disiapkan oleh bibi, kamu bisa bertemu dengan teman-teman kamu lagi dan bebas melakukan apapun, tapi..."
"Tapi apa?"
"Pulang malam saya batesi jam 9 malam, lebih dari itu, saya akan beri kamu hukuman."
"Kenapa tiba-tiba-tiba ada hukuman segala?"
"Itu hanya untuk membuatmu menurut. Ingat perjanjian tadi. Kamu harus menuruti suami."
"Baiklah, saya setuju!" Keduanya saling berjabat tangan dan tersenyum satu sama lain.
Setelah itu, Keynan pun kembali ke ruangannya dan menyimpan surat itu di laci. Tampaknya ia begitu kelelahan meladeni anak kecil seperti Valeta.
"Alishia, melelahkan juga harus menuruti permintaan anak itu, coba kamu ada di sini, mungkin kamu bisa membuat anak itu lebih sopan." Keynan menatap foto Alishia yang begitu anggun tersenyum menatapnya.
"Apa aku bisa bertahan dengannya nanti?"
"Cowok b******k, sialan, pengatur, arghhhh!" Valeta memukuli bantalnya sendiri saking kesalnya. "Lihat saja nanti, akan aku buat Anda menyesal sudah berurusan dengan seorang Valeta!" Valeta tersenyum sinis.
....
Pagi harinya, Valeta bangun lebih dulu. Ia pun pergi ke dapur membuat kopi untuk disajikan pada suaminya—Keynan yang masih terlelap tidur.
Terlihat ia begitu senang dengan racikan kopi yang dibuatnya. "Kopi untuk suami, hahaha!"
Valeta pun siap memberikan pada Keynan di ruang makan saat ia telah bangun dengan masih mengenakan piyama tidurnya. Terlihat Keynan terfokus dengan bacaan korannya sambil bersantai.
"Pagi pak Keynan!" Sapaan hangat keluar dari mulut Valeta.
Keynan mengernyit heran, tumben Valeta sudah bangun dengan wajah berseri-seri. "Ada apa?"
"Saya buatkan kopi istimewaa untuk bapak, silakan diminum."
Keynan tak menaruh curiga sedikitpun melihat sikap Valeta, "terima kasih banyak!"
Setelah selesai memberikan kopi pada Keynan, Valeta pamit untuk kembali ke atas. Ketika Keynan mencoba kopi buatan Valeta, awalnya ia bersikap biasa saja, dan ketika ia mulai meminum kopi itu sontak semburan mengarah di depannya. Kopi asin yang rasanya benar-benar tak karuan.
Valeta tertawa puas di atas sambil meledek.
"VALETAA!"
Rupanya niat baik Valeta pagi-pagi memang harus diragukan, harusnya dari awal Keynan sadar atas kejailan anak itu.