Mengikatku Dengan Perjanjian

905 Words
Emma menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran itu. "Aku...aku harus pulang," ucapnya dengan suara parau. Tapi sebelum ia sempat melangkah keluar dari tempat tidur, Chris sudah mendekat, menghalangi jalannya. "Apa yang kamu takutkan, Em? Kita sama-sama dewasa. Kenapa tidak menikmati pagi ini bersama?" Chris menatap Emma dengan tatapan yang sulit ia tolak, tatapan penuh dengan godaan yang membuatnya merasa rapuh. "Tidak, Chris. Ini salah," Emma menundukkan kepala, mencoba menghindari tatapan Chris padanya. "Aku hanya butuh waktu untuk berpikir." Chris menghela napas panjang, tapi kemudian ia melangkah mundur, memberikan ruang untuk Emma. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak mau dipermainkan!" Tegasnya. Emma menatapnya sejenak, mencoba memahami kilatan menakutkan di mata Chris. *** Ketika Emma sampai di apartemennya, Emma duduk di tepi tempat tidur, memegang kepalanya. Ia merasa begitu lelah, bukan hanya fisik, tapi juga emosional. Hubungan ini, apa pun itu, terasa begitu salah, tapi juga sulit untuk dihindari. Emma tahu jika telah terjebak dan ia harus membuat keputusan, tapi untuk saat ini, ia hanya ingin beristirahat dan melupakan semua yang terjadi. *** Emma membaringkan diri, menutup mata, dan mencoba membuang pikiran tentang Chris dan kejadian semalam. Tapi, sentuhannya, dan kata-katanya terus menghantui pikiran Emma. Saat Emma membuka matanya, ia terkejut melihat Chris berdiri di ambang pintu apartemen. Senyumnya sinisnya begitu mendebarkan jiwa, tapi entah kenapa, Emma suka dengan tatapannya dan senyumnya itu. "Aku ingin berbicara," katanya, langkahnya menuju ke dalam. Emma menatap Chris, hati berdebar. "Apa yang kamu inginkan, Chris?" Chris mendekat, mata Emma terpaku pada tatapan Chris. "Aku ingin tahu apa keputusanmu." "Maaf, aku hanya perlu waktu untuk berpikir." Chris mengangguk. "Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa menunggu terus." *** Chris mata Emma dengan intensitas yang membuat Emma merasa terjepit. "Jangan bermain-main denganku, Emma," katanya dengan suara rendah dan bergetar. "Aku tidak suka orang yang bermain-main dengan perasaanku." Ucap Chris. Ia kemudian melanjutkan ucapannya dengan posisi yang semakin dekat dengan Emma. "Kamu tahu apa yang aku inginkan," ucapnya dengan senyum sinis. "Jangan pikir kamu bisa menghindar begitu saja. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu bermain-main denganku." Emma merasa ketakutan seketika dan mencoba mundur, tapi Chris menghalangi jalannya. "Jangan mendekati aku!" ucap Emma. Chris tersenyum lagi. "Atau apa?" katanya dengan nada tantangan. Chris melangkah mendekat, mata Emma terpanah pada matanya yang berkilauan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja," katanya, suaranya lembut tapi penuh otoritas. Emma mencoba melawan, tapi Chris sudah memeluknya, bibirnya menyentuh lembut di telinga Emma. "Aku tahu kamu masih merasakan ini," katanya, napasnya menghangatkan kulit Emma. Emma merasa lemah, kenikmatan yang sudah lama tertunda mulai mengalir kembali. Ia mencoba melawan, tapi tubuhnya berkhianat, menyerah pada sentuhan Chris. "Kita tidak seharusnya melakukan ini," Emma berbisik, lemah. Chris tersenyum, matanya berkilauan. "Kita sudah melewati batas, Emma. Tidak ada jalan kembali." Emma terjebak dalam kenikmatan yang memabukkan. Chris memeluknya erat, membuatnya merasa kehilangan kontrol. Emma mencoba memisahkan diri, tapi Chris terlalu kuat. "Tunggu, Chris...!" bisik Emma. "Jangan berhenti sekarang, Emma," katanya, napasnya menghangatkan kulit leher Emma. Tiba-tiba, bell apartemen berbunyi. Chris menghentikan gerakannya, menatapku dengan kesal. "Siapa itu?" tanyanya. Emma mengambil napas dalam-dalam, mencoba membebaskan diri. "Mungkin makanan pesananku." Chris menggeram, "Jangan buka pintu!" Emma merasa terjebak, tidak bisa melawan. Chris mencium Emma lebih dalam, tangannya memeluk Emma erat. Emma mencoba membebaskan diri, tapi Chris benar-benar terlalu kuat. "Chris, berhenti..." Emma berbisik lemah. Chris tidak mendengarkan, malah membawa Emma ke atas sofa. Emma merasa lemah, tidak bisa menolak. Chris mendudukkan Emma di pangkuannya, lalu memeluk Emma erat. "Tidak ada jalan kembali, Emma," katanya, suaranya bergetar. Kali ini, Emma merasa terjebak dalam kelemahan dan keinginan. Apa yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah. Emma merasa terjebak dalam badai emosi. Kepalanya berputar, pikiran kacau. Ia tidak tahu apa yang ingin ia lakukan. Di satu sisi, ia merasa tertarik pada Chris, tapi di sisi lain, ia takut akan konsekuensinya. "Chris, tolong... berhenti," bisik Emma pelan, mencoba membebaskan diri. Chris menatap Emma dengan mata yang berapi. "Aku tidak bisa berhenti, Emma." Emma kesal akan dirinya yang terjebak dalam badai emosi. Kepala Emma berputar, pikirannya sangat kacau. "Chris, tolong... berhenti." Chris menatap Emma dengan mata yang berapi. "Kamu milikku, Emma. Sejak pertama kami berhubungan, kamu sudah menjadi bagian dariku." Emma terkejut mendengar penuturan Chris. "Apa maksudmu?" Tanyanya. Chris tersenyum sinis. "Jika kamu menolak, aku tidak akan membiarkanmu tenang. Kamu tidak akan bisa berjalan besok pagi." Emma merasa ngeri. Apa yang harus ia lakukan untuk bisa lepas dari Chris? Emma merasa terjebak, tak berdaya. "Baiklah, Chris... aku tidak akan pergi," bisik Emma dalam nada menyerah. Chris tersenyum, lalu memeluk Emma erat. "Kamu membuat pilihan yang tepat, Emma." Sebuah map Chris letakkan di atas meja. Map berisi kontrak pernikahan. Emma merasa sedih melihat map itu. Ia benar-benar merasa kacau. Kenapa juga ia harus terlibat dengan Chris yang pemaksa dan otoriter?" Emma membubuhkan tanda tangannya di atas berkas itu dengan berat hati. Pikirannya kembali pada malam di mana Chris membantunya. "Andai malam itu, aku tidak ke bar, mungkin aku tidak akan berurusan dengan pria ini. Minuman sialan!" umpatnya dalam hati. Sejak kejadian itu, ia tidak bisa menghindari Chris lagi. Garis takdir seakan berada pada saru jalur dan mereka harus melewatinya meski dengan paksaan. "Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Emma setelah membubuhkan tanda tangannya. "Kamu tinggal denganku. Aku ingin kamu melakukan semua yang ada di dalam perjanjian itu dan kewajibanku adalah memberikan semua kemewahan yang kamu inginkan." Ucap Chris sambil berbisik tepat ditelinga Emma dan dengan sengaja ia meniup leher Emma hingga membuat Emma merinding.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD