Elisa dan Wira berbaring berhadap-hadapan di atas ranjang luas, selimut sutra membentang di antara mereka seperti sebuah perbatasan yang halus. Cahaya lampu tidur temaram menebar bayangan panjang di dinding, menerangi ketegangan yang terasa hampir nyata di udara. Ini malam pertama mereka sebagai suami istri, namun tubuh mereka terpaku, dipisahkan oleh jarak beberapa jengkal dan oleh segala hal yang telah terjadi. Wira, yang biasanya begitu mudah menyentuh, kini tangan-tangannya terlihat ragu, terkepal di atas bantal. Matanya menatap Elisa, mencari izin, takut akan penolakan yang mungkin menyakitkan lebih dari yang bisa dia tanggung. "Bagaimana ... keadaannya?" tanya Wira akhirnya, suaranya rendah dan agak serak, pecah dalam kesunyian. Elisa mengerutkan kening. "Siapa?" Wira berdeham, ma

