"Aku sedang ada seseorang, jadi mungkin lain kali," Dine menggeleng. Banan menarik nafas panjang, "Lelaki itu? Kamu sudah berani membawanya ke rumah?" Tiba tiba pintu terbuka lebar, sosok Bian ada di belakang Dine. Banan langsung kesal sendiri. Rencananya gagal! Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Bian menatapnya tajam, "Untuk apa kamu terus mengganggu Dine? Harus dengan bahasa apa agar kamu mengerti?" "Bukan urusanmu!" Banan mulai menunjukkan kekesalannya. "Apa yang terjadi pada Dine adalah urusanku," Bian menegaskan. Banan menatap Dine, "Aku tidak mengerti, apa yang kamu lihat dari lelaki ini?" Dine mengerutkan keningnya, "Itu urusanku. Kamu.. Kamu.. Kamu membuatku kesal. Banan, persoalan kita sudah selesai sejak pernikahan itu batal. Dan kamu jelas tahu alasannya! Persel

