BAB 73 | King atau Big Boss

2006 Words
BIG Boss memang orang yang sangat jarang sekali marah. Apapun masalah yang mereka hadapi, Big Boss selalu mengendalikan emosinya agar tidak membuat satu atau dua pihak yang melakukan kesalahan menjadi tidak nyaman atau merasa bersalah. Tetapi kali ini, laki-laki itu seperti sedang menunjukkan tatapan kecewanya, kemarahannya, dan juga rasa tidak senangnya terhadap perlakuan dari salah satu temannya. Tentu saja itu semua karena insiden di misi yang lalu. Beberapa bulan belakangan ini, Jendela Kematian memang sedang mengalami banyak sekali masalah yang cukup krusial. Tiba-tiba banyak sekali musuh yang berdatangan dan mengincar mereka. Bukan hanya satu atau dua orang, melainkan kelompok penjahat yang mulai terasingkan atau turun pamornya karena keberadaan Jendela Kematian yang dianggap lebih tepat dikatakan sebagai kelompok penjahat ulung. Mereka tidak tahu bahwa kelompok Jendela Kematian hanyalah kelompok kecil dengan anggota minim. Tetapi yang perlu digarisbawahi dari lima orang itu adalah; mereka mempunyai pengalaman yang jelas. Seperti lima orang jenius yang dijadikan satu dan dapat merusak dunia dengan ilmu pengetahuan yang mereka kuasai. Mereka adalah orang-orang yang terbuang dan tersingkirkan. Tidak digunakan idenya. Namun ternyata mahir dan membuat semua orang yang pernah menolak berebut ingin menemui mereka kembali. Kisah tentang Jendela Kematian yang meroket seperti mengingatkan pada potongan kejadian yang sama sekali tidak menyenangkan. Tepatnya saat berita meninggalnya Bear menjadi bahan pemberitaan dan semua orang tidak menginginkan Bear mendapat pemakaman yang layak. Kematian itulah yang masih menjadi PR bagi seluruh anggota karena mereka tentunya ingin membuat perhitungan dengan orang yang telah membunuh teman baik mereka. Keempat orang itu duduk bersama sambil melihat ke arah lain. Seperti menolak untuk berkomunikasi satu sama lain karena ada masalah yang mengganjal di hati masing-masing. Biasanya, Big Boss akan menjadi penengah di setiap masalah pun memilih mengabaikan temannya. Jujur saja, Big Boss adalah orang yang paling kecewa di sini. Merasa jika dirinya telah dikhianati dan itu membuatnya sangat marah. Beauty, satu-satunya perempuan di grup mereka itu hanya diam sambil menatap sepasang sepatunya yang kotor ujungnya. Dia tidak berani menatap Big Boss yang kebetulan duduk tepat di depannya. Tentu saja dirinya tahu bahwa Big Boss sedang marah padanya dan enggan untuk bicara padanya semenjak kejadian itu. Kejadian di mana dirinya yang membuat kesalahan. Jika biasanya kesalahan tidak sengaja bisa dengan mudah termaafkan. Namun kali ini, Big Boss memilih bungkam. Seperti menjelaskan bahwa apa yang telah Beauty lakukan memang dianggap sebagai kesalahan. Happy dan King sudah jauh lebih baik berkat operasi darurat yang sudah dilakukan oleh Big Boss. Mereka hanya membutuhkan waktu yang cukup untuk penyembuhan luka. Selebihnya mereka sudah sangat baik-baik saja. "Kita tidak akan bicara?" Tanya King yang sudah bosan melihat anggota hanya diam sambil sibuk menatap sepatu masing-masing. Seakan-akan sepatu mereka begitu indah, sehingga menarik untuk dipandang selama berjam-jam lamanya. Happy pun ikut menatap ketiga temannya, "sebenarnya, banyak hal yang harus kita bahas, bukan? Akan lebih baik jika kita memulainya dari awal dan saling mendengarkan satu sama lain. Pendapat satu sama lain 'kan penting untuk didengarkan. Setidaknya tidak ada salah paham diantara kita semua." "Ini bukan masalah salah paham atau apalah itu, Happy! Ini masalah yang berkaitan dengan tanggungjawab! Bagaimana bisa kita mengabaikan keselamatan teman yang lain? Apa hal-hal seperti itu tidak bisa dibahas? Apakah kita harus selalu menjaga perasaan seseorang padahal dia jelas-jelas salah. Dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali." Apa yang Big Boss katakan memang terdengar menyakitkan dan penuh sindiran. Big Boss benar-benar menumpahkan segala hal yang ada di dalam benak dan pikirannya saat itu juga. Emosi yang ditahannya beberapa hari ini keluar juga. Meskipun dia tahu jika apa yang diucapkannya akan dengan sengaja melukai orang lain. Lebih tepatnya lagi adalah Beauty yang memang sudah menyimpan rasa bersalah sejak awal. "Aku tahu, ... aku salah kepada kalian semua. Aku sudah mengacaukannya berkali-kali. Bahkan karenaku, Bear meninggal dibunuh. Aku memang ceroboh dan pantas jika Big Boss marah, kecewa, atau kesal padaku. Tapi aku benar-benar tidak pernah bermaksud membuat kalian semua celaka. Aku tidak membela diri, tapi aku juga tidak mengakuinya. Tidak mengakui bahwa aku sengaja ingin membuat salah satu diantara kita menderita. Maafkan aku!" Tandas Beauty yang meminta maaf dengan sangat tulus. King dan Happy sendiri memang merasa tidak masalah. Sehingga tak ada yang perlu mereka bahas hanya tentang hal sepele yang jika dipikir, pasti mempunyai dampak yang sangat besar. "Sudahlah, ... kita biarkan saja semua masa lalu itu. Kita bisa membahas hal lainnya. Kita masih punya pekerjaan yang banyak. Tidak perlu meratapi semuanya atau saling menyalahkan satu sama lain. Big Boss, semuanya sudah baik-baik saja. Kita tahu apa yang terjadi, bukan? Semua itu pun hanya misi jebakan." Tandas Happy lagu yang berusaha untuk memberikan pengertian kepada Big Boss yang masih tampak kesal. Big Boss diam! Dia memilih untuk tidak menjawab apapun. Dia mirip seperti orang yang egois. Tetapi, ada alasan yang jelas yang membuatnya bersikap demikian. "Jika misi itu memang misi jebakan. Mengapa orang itu memanfaatkan anak konglomerat kaya itu? Apakah anak seorang konglomerat kaya itu membutuhkan uang dan bekerjasama dengan seseorang seperti orang yang berusaha untuk membunuh kita?" Tanya Big Boss dengan menaikkan sebelah alisnya. King menepuk bahu Big Boss dengan pelan, "ingat, ... ketika Beauty tidak mau menembak? Itu karena Beauty melihat perempuan yang bersama dengan laki-laki kemarin menangis. Karena janggal, Beauty hanya diam. Menurutku, ini tidak berhubungan dengan anak konglomerat itu. Bisa jadi seseorang memanfaatkan keadaan karena menganggap seseorang harus memanggil kita, bukan?" "Kita hanya tinggal empat orang dan tidak mungkin selamanya kita akan berselisih paham seperti ini. Beauty memang salah, aku tahu itu. Tetapi kita satu tim, 'kan? Kita tidak boleh saling menyalahkan meskipun kita tahu kesalahan satu sama lain. Aku dan King benar-benar tidak apa-apa, itu semua karena bantuanmu, Big Boss. Tapi, bisakah kita bersama lagi untuk mengerjakan banyak misi? Bukankah kita sudah berusaha sejak awal untuk saling memahami dan mengerti. Kita hanya butuh sedikit lagi saling mengenal. Ya?" Ucap Happy lagi. Big Boss hanya menganggukkan kepalanya, akhirnya. Yang membuat senyuman tampak indah menghiasi wajah perempuan itu. Dia tahu jika Big Boss akan memaafkannya. Tetapi dia juga merasa bersalah karena telah membuat Big Boss terpaksa memberi maaf karena paksaan dari Happy dan King yang terluka, namun memilih untuk memaafkan dirinya dengan mudah. "Kita harus mencari tahu apakah yang terjadi sebenarnya. Aku sangat penasaran, mengapa kita bisa sampai berurusan dengan orang-orang yang tidak kita ketahui siapa. Bukankah seharusnya kita membereskan duri yang mengganggu jalan kita?" Ucap Big Boss yang mulai geram dengan keadaan. "Kita harus memburu dan menyingkirkan orang itu. Kita tidak tahu dia siapa. Tapi kemungkinan besar, anak konglomerat kaya itu tahu siapa orang yang memanfaatkan keadaannya." Sambung Big Boss memberikan pendapatnya. "Jadi, ... apa rencanamu?" Tanya King yang mulai bersemangat lagi. Dia tak pernah puas untuk melakukan segala hal yang menurutnya menyenangkan. Padahal dirinya baru sembuh dari lukanya. Big Boss tersenyum samar, "biarkan dia yang datang kepada kita lagi. Aku yakin bahwa banyak pertanyaan yang dia pikirkan sekarang. Tentu saja dia akan kembali dengan membawakan kita informasi penting. Kita tinggal menunggu. Setidaknya sampai dia siap untuk mengatakannya." Mereka saling menatap, berusaha untuk mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pemimpin mereka. Sesekali Beauty masih berusaha untuk kontak mata dengan Big Boss. Namun laki-laki itu masih terus saja mengabaikannya. Tidak peduli pada semua hal yang berusaha dirinya lakukan. King pun merasa gusar, merasa tidak senang dengan cara menatap Beauty kepada Big Boss. Hari itu, selesai! Mereka memilih pulang. Tidak seperti hari biasanya ketika mereka meluangkan waktu untuk sekedar duduk bersama dan menikmati hari dengan bercerita santai. Big Boss yang mengatakan tentang banyak acara, sehingga tidak ada yang memilih tinggal di markas. Mereka semua pergi. Markas pun kembali sepi. ~~~~~~~~~~~ Tidak berapa lama, King masuk kembali ke markas setelah membeli beberapa minuman bersoda. Namun dirinya kaget ketika melihat adanya Happy yang masih berada di dalam dengan menenteng minuman yang beralkohol di tangannya. Happy pun menggeser duduknya, memberikan ruang kepada King untuk duduk bersebelahan dengannya. Keduanya memang bisa dibilang tim netral karena tidak menyalahkan siapapun. Mereka memposisikan diri mereka pada posisi Beauty atau Big Boss, sehingga tidak ada menghakimi yang berlebihan. "Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Happy kepada King yang menatap keluar jendela sambil meminum minuman soda yang baru dibelinya tadi. King menggeleng pelan, "aku masih memikirkan kisah percintaan yang sepertinya berjalan buruk. Di dunia nyata maupun dunia kita, sepertinya aku selalu tidak beruntung dalam hal percintaan. Menyebalkan sekali! Aku tidak bisa cemburu. Tetapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak menyukai perasaan seperti ini. Karena sangat menyiksa sekali." Happy berusaha menepuk pundak King beberapa kali. Dia tentu saja tahu apa yang sedang mengganggu pikiran King selama ini. Laki-laki itu terlihat sangat tersiksa. Namun tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya pasrah kepada keadaannya. "Ternyata kamu masih berharap pada Beauty. Aku pikir, kamu sudah punya perempuan idaman lain di duniamu. Memangnya tidak ada perempuan yang bisa kamu pacari? Bukankah kamu punya uang untuk membeli perempuan-perempuan di luaran sana. Setidaknya untuk menemani malammu jika memang tidak ada seseorang yang kamu cintai." Ucap Happy dengan nada setengah bercanda dan membuat King menggeleng dengan cepat. King mengusap wajahnya, "aku tidak pernah bisa melakukan hal-hal yang menurut orang lain biasa dilakukan. Aku tidak bisa tidur atau menikmati hari dengan orang yang tidak aku cintai. Aku benar-benar ingin dan mau menikmati hidupku dengan orang yang benar-benar aku inginkan. Bukan seseorang yang bisa aku sewa dalam satu malam dan berganti lagi malamnya. Itu terlalu membosankan dan berisiko." "Kamu benar-benar tipikal laki-laki yang setia. Tapi belum tentu Beauty menyukai Big Boss. Bukankah dia selalu mengatakan tentang kagum kepada Big Boss? Bukan rasa suka? Mungkin saja Beauty tidak pernah menyukai Big Boss. Dia hanya kagum dan ya, ... sekedar itu." Ucap Happy kembali dengan nada suara yang bingung. Jujur saja, ranah percintaan bukan ranahnya. Happy hanya tahu tentang bagaimana komputer dan sistemnya. Dia tidak tahu tentang perasaan King atau Big Boss kepada Beauty. Karena perempuan itu memang tidak bisa ditebak bagaimana perasaannya. Beauty tidak pernah memperlihatkan perasaannya secara jelas. Kecuali ketika melihat Big Boss dengan tatapan yang terkadang memang terlihat dalam. "Sudahlah, lupakan saja!" Tandas Happy kembali. "Sekarang, fokus lah kepada proses mencari uang itu dan sejenak lupakan tentang perasaan anehmu itu. Aku benar-benar heran, bisa-bisanya kamu menyukai orang yang bahkan tidak kamu kenal secara langsung." Sambung Happy yang merasa heran dengan King. King sendiri hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia sendiri pun tidak dapat mendefinisikan rasa yang ada di dalam dirinya. Beberapa saat kemudian, King beranjak untuk pulang. Masih banyak kegiatan yang harus dilakukannya selain meratapi perasaannya kepada Beauty yang tak terbalas. Laki-laki itu berjalan menyusuri jalanan yang begitu ramai. Lalu dia kembali mengganti wajah aslinya saat berada di tengah kerumunan. Tatapan matanya yang tajam menjadi sebuah objek yang cantik untuk dilihat. King ketika berada di luar markas tidak lagi menjadi seorang King. Laki-laki itu sangat berbeda dengan sosok yang selama ini pandai dalam merakit senjatanya sendiri. Dia hanyalah seseorang yang biasa saja. Sosok mereka sebagai manusia yang masuk dalam kelompok Jendela Kematian terkadang memang sangatlah berbeda dengan diri mereka yang sesungguhnya. Sama seperti Big Boss, sosok King adalah sosok yang begitu berbeda dan tidak sama persis dengan apa yang dilihat aslinya. King lebih ceria dan mudah tertawa. Sedangkan sosok aslinya adalah orang yang pendiam dan jarang bicara. Jika bicara pun, hanya kepada beberapa orang tertentu yang disukainya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada panggilan darurat yang masuk ke dalam ponselnya. Seseorang yang dikenalnya dan sempat marah pada dirinya tadi. Laki-laki itu buru-buru mengangkat telepon dari orang itu. "Tolong!" Itu adalah kata pertama yang didengarnya. "Sakit sekali! Tolong!" Sambungnya dengan suara yang begitu serak dan hampir hilang. Seketika tubuhnya terasa gemetaran karena mendengar rintihan suara dan helaan napas kasar dari ujung sana. Matanya memerah, berusaha untuk tidak menangis. Tangannya mengepal dan emosinya seperti memuncak di ubun-ubun. "Arond, ... sakit." Ulangnya dengan suara isakan. Laki-laki itu tersadar dari lamunan dan berusaha untuk kembali pada kenyataan yang sesungguhnya. "Kana, ... kamu ada di mana? Apa semua baik-baik saja? Kana, ... aku akan datang. Kamu bisa memberi—" Tiba-tiba telepon terputus begitu saja dan membuat laki-laki itu hanya bisa menatap layar ponselnya. Dengan sigap, dirinya berlari dengan sangat kencang sambil menatap ponselnya yang dipasang alat pelacak yang tentunya terhubungan dengan orang yang baru saja menelepon dirinya. Apa yang terjadi pada perempuan itu sekarang? ~~~~~~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD