BAB 72 | Rumah Ternyaman

2023 Words
RUMAH adalah ranah pribadi dan privasi yang selalu Arkana jaga agar tidak banyak orang yang mengetahui di mana dirinya tinggal selama ini. Sampai saat ini, hanya ada sebagian kecil orang yang tahu rumahnya dan siapa keluarganya. Dia tidak suka ada terlalu banyak orang yang mengenal dirinya dengan baik sampai tahu soal rumah dan juga keberadaan Isabela di sana. Sayangnya, akhir-akhir ini ada beberapa orang yang tidak diundang seringkali datang dengan niatan yang buruk. Mungkin juga mengincar dirinya dan tentunya sekedar untuk; membunuhnya. Sebenarnya tidak ada niatan untuk membawa Kana pulang ke rumahnya. Namun ketika melihat perempuan itu dalam keadaan yang buruk, akhirnya Arkana membawanya pulang. Dia tak bisa tinggal sementara di apartement perempuan itu karena Isabela berada di rumah sendirian. Semenjak Isabela patah hati, adik perempuannya itu seringkali mengurung di kamar atau meratapi semuanya dengan cara melamun. Tentu saja dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Isabela. Sekarang, ... tugasnya terasa lebih berat. Ada Isabela dan ada Kana yang sama-sama membutuhkan bantuan dan perhatiannya. Dan sekarang, Isabela bisa merasakan bahwa apa yang dirasakannya begitu tidak lah nyaman. Dia bisa melihat perhatian yang diberikan Kakaknya kepada perempuan lain. Dia tidak pernah berpikir akan benar-benar berbagi sosok Arkana dengan seorang Kana. Meskipun perhatian dan kasih sayang Arkana sama sekali tidak berubah kepadanya. Namun tetap saja dirinya harus berbagi. Dulu, dia merasa sangat egois karena membiarkan Arkana sendirian dan lebih memilih untuk bersama Gala selama yang laki-laki itu mau. Dan sekarang, dia harus merelakan hal membahagiakan itu dengan tetap berjalan sendirian tanpa Gala yang beberapa bulan terakhir menemani hari-harinya. Dari apa yang Arkana katakan tentang Kana, perempuan itu baru saja bertengkar dengan Arond karena suasana hatinya tidak baik. Isabela malah kepikiran kepada Arond yang entah sudah lama sekali tidak saling berkirim kabar dengannya atau bertemu di kampus dan saling mengobrol seperti biasanya. Sepertinya Arond juga punya alergi padanya juga. Entahlah, laki-laki itu menghindarinya tanpa sebab. "Masih memikirkan tentang orang itu?" Tanya Kana yang melongok ke kamar Isabela yang pintunya hanya terbuka. "Masuklah!" Ucap Isabela yang menggeser duduknya. Meminta perempuan itu untuk masuk dan duduk disampingnya. Kana menurut, perempuan itu pun masuk ke dalam kamar Isabela dan duduk di atas ranjang. Tepatnya lagi disamping Isabela yang tengah sibuk memainkan jemarinya sendiri. Tidak biasanya ada orang lain di kamarnya. Begitupula dengan Kana, tidak biasa tidur di rumah orang lain. Biasanya dia pecinta ruangan yang sepi dan kosong yang hanya terisi oleh Kana sendiri. Karena baginya, akan lebih menyenangkan sendirian dibanding ada orang lain yang berada di dalam lingkungannya. Tetapi kali ini, dia harus menarik ucapannya, mungkin. "Rumah kalian sederhana tapi sangat nyaman. Kamu pasti mengurusnya dengan baik." Puji Kana tentang rumah mereka yang memang cukup nyaman ditinggali. "Aku iri, ... kamu mempunyai Kakak yang pengertian, perhatian, dan selalu ada untukmu. Sayangnya aku tidak punya saudara satupun. Orang tuaku hanya ingin satu anak. Mereka tidak mau repot karena merasa sudah mempunyai keturunan yang bisa tukar tambah nantinya." Sambung Kana mulai membuka suaranya. Isabela menoleh ke arah orang yang tengah bercerita kepadanya dengan antusias. Kana memang orang yang menyenangkan dan mudah bergaul dengan orang baru. Selain itu, Kana juga tipikal orang yang dapat dengan mudah bicara tentang masalahnya. "Kamu tinggal sendirian?" Tanya Isabela kepada Kana akhirnya dan dijawab dengan anggukan kepala saja. "Aku tinggal di rumah sendiri sudah sangat lama. Sebenarnya ada rumah yang aku tinggali saat masih kecil dan sebelum orang tuaku pindah ke luar negeri. Tapi sudah lama aku tidak tinggal di sana. Aku memilih untuk tinggal di apartement karena terasa lebih pas saja. Kamu tahu 'kan, kalau tinggal di rumah besar dan hanya satu orang saja yang tinggal, rasanya akan semakin kosong. Aku benci rasa kosong itu." Tandas Kana mengingat tentang keadaannya di masa lalu. Isabela menepuk bahu Kana pelan dan tersenyum, "punya keluarga tak selamanya dianggap membahagiakan, bukan? Tapi aku bangga sama kamu. Kamu kuat banget sama bisa berjalan sejauh ini sendirian." Kana tersenyum samar. Sepertinya karena ucapan Isabela, membuatnya lebih mempunyai semangat lagi. Dia memegang kedua tangan Isabela dan mengangguk. Mungkin jika mereka nantinya tinggal bersama, tidak akan buruk juga. Isabela juga merasa jika adanya Kana mungkin akan sedikit mengusir rasa sepinya ketika Arkana tidak ada di rumah. "Kak Arkana kemana?" Tanya Isabela kepada Kana. Karena sejak tadi, dia belum melihat Arkana disekitarnya. "Katanya sih harus pergi ke club'. Padahal aku sudah memintanya untuk tinggal." Tandas Kana dengan wajah sedihnya. Isabela memegang tangan Kana dan tersenyum, "dia memang seperti itu. Kak Arkana adalah orang yang selalu bekerja keras sejak kami masih kecil. Dia adalah orang yang paling banyak berkontribusi dalam hidupku. Lebih banyak dari orang tua kami, mungkin. Dia yang mengurusku dengan baik, yang mengatur semuanya, dan yang berjuang mati-matian agar aku bisa hidup dengan baik. Tapi berulangkali aku mengecewakannya. Dan itu pun lantas tidak membuatnya membenci atau mengabaikan aku. Kadangkala kali bertengkar, tapi dia selalu lebih dulu minta maaf. Tidak peduli jika aku yang salah sekalipun." Kana hanya tersenyum samar. Dia sebenarnya sudah sangat tahu apa yang terjadi kepada dua bersaudara itu tanpa dijelaskan sekalipun. Kana datang dari tempat yang jelas-jelas lebih gelap dari kelihatannya. Tapi dirinya tidak terlalu palsu untuk sekedar mengatakan bahwa dirinya mulai nyaman dengan peran seperti ini. Dia terlihat lebih manusiawi dan seperti perempuan pada umumnya. Isabela mengajak Kana untuk segera tidur. Namun perempuan itu tidak langsung mengiyakan karena ada tempat yang ingin dikunjunginya. Kana pamit kepada Isabela untuk keluar sebentar. Dan tentunya tanpa curiga sama sekali, Isabela memberi anggukan kepala sebagai bentuk ijin dan persetujuannya. Perempuan itu keluar dari rumah Arkana. Lalu masuk ke dalam mobil mewahnya untuk menuju ke sebuah tempat yang lumayan jauh dari area rumah Arkana. Kana memang sudah mempunyai rencana untuk datang ke tempat itu—sebuah tempat yang telah terbengkalai, bekas pabrik besar yang dulu sempat kebakaran. Mobilnya berhenti di depan tempat itu. Ada beberapa mobil lain di sana dan beberapa orang dengan pakaian hitam-hitam. "Kita bertemu lagi, Tuan Putri." Lirih laki-laki itu dengan senyuman sinis dan tatapan tajamnya. "Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersama." Sambungnya lagi. Kana menatap laki-laki itu dengan tatapan malasnya, "bukankah aku sudah mengatakan tentang posisi kita yang berbeda? Kamu hanya sekedar beruntung bisa bicara denganku karena Ayah mempercayaimu. Tapi siapa yang tahu bahwa aku bisa jadi membuatnya dibuang seperti sampah yang bau!" "Nona, ... Tuan menunggu Anda." Ucap salah satu bodyguard berbadan besar dan satu matanya yang telah hilang. Kana menganggukkan kepalanya setelah mengacungkan jari tengah kepada laki-laki tadi, tentunya sambil memberikan senyuman. Laki-laki itu hanya mengepalkan tangannya, Kana memang tidak pernah absen untuk menghinanya. Perempuan itu sulit sekali ditaklukkan—meskipun dengan banyak rayuan yang dia ajukan dan banyaknya harta yang ditawarkan. Perempuan itu sudah mempunyai segalanya. Seperti tidak butuh harta apapun itu. Kana melangkah masuk ke dalam bangunan itu. Di dalam sudah ada beberapa orang dan salah satunya adalah seseorang yang memanggil dirinya datang kesini. Laki-laki yang mengenakan kemeja yang ditekuk sampai siku itu membalikkan tubuhnya ke arah Kana, tersenyum tipis dan meminta beberapa orang yang berada di dalam untuk segera keluar. Membiarkan mereka berdua di dalam sana. Plak! Sebuah tamparan mampir dengan mulus di pipi Kana. Terasa perih dan pastinya akan membekas. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa memperlakukannya dengan baik layaknya seorang laki-laki kepada perempuan. Meskipun Kana adalah kesayangannya, namun jika ada satu kesalahan saja, pasti ada akibatnya. "Aku memintamu untuk mengawasi Arkana dan mengambilnya kembali. Bukan untuk bermain api dengannya. Aku sudah mengatakan sebelumnya, cinta hanya akan membuatmu lemah dan terkadang menyedihkan. Padahal aku sangat mempercayaimu untuk mengambil misi ini. Tapi kamu sangat mengecewakan!" Tandas laki-laki itu dengan menarik rambut Kana sampai membuat perempuan itu meringis kesakitan. "M-maaf, Ayah! Tapi ini benar-benar hanya untuk sekedar menjebaknya, sesuai dengan rencana kita. Banyak orang yang mengincarnya, aku akan kesulitan mendekatinya jika tidak mengambil hatinya." Ucap Kana yang berusaha untuk membela dirinya. Laki-laki yang dipanggil Ayah itu pun hanya tertawa sambil melepaskan jambakannya dari rambut Kana. Matanya fokus kepada tatapan perempuan yang sama-sama menatap dirinya itu. Kana memang tidak bisa ditebak isi kepalanya. Namun dari matanya, Kana terlihat sangat marah dan kesal. Tetapi berusaha untuk disembunyikannya. "Matamu memperlihatkan segalanya, Kana. Kamu benar-benar orang yang mudah untuk ditebak. Aku meminta dirimu maju karena percaya padamu. Sehingga jangan pernah berani untuk melanggar apapun yang sudah aku tetapkan. Ini permainan yang mudah. Jangan sampai kalah! Karena aku sangat membenci kekalahan." Ucap laki-laki itu sambil memegang kedua pundak Kana dan tersenyum ke arah perempuan itu. "Aku menyayangimu lebih dari teman-temanmu yang lain. Tentu saja kamu tahu alasanmu selalu dipanggil Tuan Putri, bukan? Artinya kamu tidak boleh gagal sama sekali." Sambungnya dengan tegas dan menepuk kedua bahu Kana. Setelah itu, Kana diminta untuk pergi. Sebelum keluar, tentu saja dia harus membereskan dirinya yang lumayan berantakan dan menyembunyikan pipinya yang mungkin memerah—setidaknya agar tidak diketahui siapapun. Dia terlalu malu dan kesal jika harus menjawab pertanyaan orang-orang tentang pipinya yang terluka karena terkena tamparan gratis. Kana keluar, disambut dengan dua orang bodyguard yang membungkuk ke arahnya. Mereka semua memang terbiasa memberikan penghormatan kepada seseorang yang mereka sebut sebagai Tuan Putri. Itu sebuah gelar yang diberikan kepada perempuan kepercayaan Ayah. Perempuan yang selalu menjadi unggulan di dalam kelompok mereka. Perempuan itu langsung masuk ke dalam mobilnya dengan membanting pintu. Dia benar-benar kesal dengan perlakuan laki-laki itu kepadanya. Baru kali ini dirinya ditampar dan diberikan peringatan keras. Padahal Kana sudah berusaha sangat keras. Bahkan mendekati Arkana bukan sesuatu yang mudah. Kana harus berusaha sejauh ini dan mungkin hatinya pun ikut terlibat, memang. Namun dia cukup sadar batasan diantara mereka yang begitu jelas. Kana menepikan mobilnya ketika sudah sampai di daerah yang aman. Perempuan itu memilih untuk diam sejenak, menenangkan dirinya yang masih kesal karena ucapan laki-laki yang dipanggilnya Ayah tadi. Kana hanya bisa menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Benar-benar sialan! Aku sudah berusaha sangat keras. Kenapa dia tidak pernah menghargai sedikit pun usahaku! Ah, ... menyebalkan sekali." Tandas Kana yang memukul-mukul setir mobilnya. Pertemuannya dengan Ayah selalu membuatnya merasa kesal dan stress akhir-akhir ini. Apalagi misinya kali ini memang sangat sulit untuknya. Kana menghembuskan napas kasar sambil memikirkan tentang Arkana. Tiba-tiba wajah laki-laki itu masuk ke dalam pikirannya. Arkana yang tidak pernah terlihat ingin menyakitinya meskipun awalnya hubungan mereka atas dasar ketidaksengajaan. Tok... Tok... Tok... Kana kaget setengah mati ketika ada yang mengetuk kaca mobilnya. Kana menatap ke arah kaca mobilnya dan wajah laki-laki muncul di sana. Kana sedikit bisa bernapas lega ketika ada wajah Arkana yang terlihat jelas di sana. Bukannya menurunkan kaca mobilnya, Kana langsung membuka kunci pintu mobilnya. Seperti sedang meminta Arkana untuk masuk ke dalam. "Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu sedang bekerja? Kenapa bisa menemukanku di sini?" Tanya Kana yang memasang seat belt- nya kembali. "Kenapa diam saja? Apa kamu tid—" ucapan Kana terputus begitu saja. Dia seperti menyadari satu hal, mungkin yang ada di dalam mobilnya bukan Arkana. Bisa jadi orang lain yang menyamar menjadi Arkana. Kana menahan napasnya dan menoleh ke samping, di mana orang lain duduk di sana. Laki-laki itu hanya menampakkan senyumannya yang menyeramkan. "Hai, ... kita bertemu lagi. Apa kamu tidak ingat denganku?" Tanya laki-laki itu dengan tersenyum menyeramkan. Kana menatap laki-laki itu, "keluar dari mobilku sebelum aku berusaha menghabisimu. Memangnya siapa kamu? Peniru wajah kekasihku? Bahkan kamu tidak pantas sama sekali menggunakan topeng wajah Arkana. Dia terlalu tampan untuk orang sepertimu. Menjijikkan!" "Mulutmu ternyata masih sangat tajam! Bos- ku sangat ingin datang ke pemakamanmu. Jadi, ... aku akan memberinya hadiah malam ini." Tandasnya sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat yang ada di dalam saku jaketnya. Terjadi pertarungan sengit di dalam mobil. Tentu saja Kana sudah sangat terlatih dengan keadaan seperti ini. Bagaimana pun dia adalah andalan di kelompoknya. Walaupun begitu, dia tetap kewalahan dengan bertarung di dalam mobil seperti ini. Sampai ada seseorang yang menusuknya dari belakang. Membuat darah keluar cukup banyak dari perut perempuan itu. Laki-laki yang sempat memakai topeng wajah Arkana tiba-tiba diam terpaku, menatap orang yang muncul dari jok belakang dan menikam Kana. Sampai membuat perempuan itu tak bisa berkata-kata karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. "Bermain lah yang cantik!" Tandas orang itu sebelum merampas kamera yang terpasang di mobil itu dengan cepat sambil memberikan senyuman ke arah laki-laki yang memegangi pisau itu. Sayangnya, ... pisau itu tidak terpakai sama sekali. Orang itu berjalan pelan lalu terburu-buru sambil bersiul dan menghilang di kegelapan. ~~~~~~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD