BAB 50 | Kedai Kopi dan Si Barista

2124 Words
KEDATANGAN Isabela di kampusnya seperti membawa angin segar untuk beberapa laki-laki. Namun tak jarang ada yang membencinya karena tidak suka melihatnya. Isabela cantik dan kecantikan itu terkadang bumerang untuk dirinya sendiri. Belum lagi saat pertama kalinya mendapatkan materi di sana, Isabela berusaha melakukan yang terbaik. Dia berusaha untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan dosennya, atau mungkin ketika diberikan waktu bertanya, Isabela akan memanfaatkannya untuk bertanya. Perempuan itu sama sekali tidak berharap akan dipuji atau dianggap cari perhatian. Semua itu dilakukan olehnya untuk menguji seluruh hal yang dipelajarinya selama di rumah dan belajar secara langsung memang lebih mudah dibandingkan dengan pembelajaran daring yang dilakukan kampusnya yang lama. Kepindahan Isabela seperti kebahagiaan untuk beberapa orang dan kesedihan bagi sebagian orang. Terutama untuk si ambisius yang biasanya tanpa henti menjawab pertanyaan dosen tetapi harus kalah telak oleh Isabela yang kecerdasannya memang tidak bisa diremehkan begitu saja. Karena semua itu, Isabela menjadi kesulitan berteman. Dia tidak tahu mana teman yang tulus dan tidak. Di dalam kelas, beberapa teman laki-laki lah yang mendekatinya; seperti biasa. Tetapi teman perempuan memilih untuk mengabaikannya padahal dirinya sudah berusaha bergabung atau menyapa mereka. Namun tidak ada yang mengajaknya bicara. Tidak ada yang peduli pada keberadaannya. Mereka mengatakan bahwa dunia Isabela tidak sama dengan mereka. Perempuan yang terlalu cantik dan bisanya hanya dandan, tidak pantas berada dalam lingkungan orang yang ambisius meraih cita-cita dan belajar dengan sungguh-sungguh. Namun, ... apakah salah jika dirinya juga ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Dia datang ke kampus ini pun bukan karena ingin memamerkan diri, namun karena ingin belajar dan tentunya berteman. Harapan Isabela tentang kehidupan kampus yang diinginkannya hanyalah angan-angan semata. Padahal, Isabela membayangkan dirinya mempunyai teman di sini. Teman yang mengajak dirinya berjalan bersama, mengajak makan, belanja, jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, atau kegiatan yang biasanya dilakukan oleh perempuan ketika bersama. Ternyata, berteman tidak semudah itu. Duh! Isabela meringis ketika bahunya dengan sengaja ditabrak oleh seorang perempuan berambut pendek yang rambutnya dicat warna abu-abu itu. Perempuan itu tersenyum sinis ke arah Isabela dan kembali berjalan bersama dengan teman-temannya yang lumayan banyak. Mungkin ada sekitar enam orang yang sama-sama melihatnya dengan tatapan sinisnya. Memang salahnya apa? Isabela dengan polosnya hanya bisa tersenyum, memberikan senyuman terbaiknya sambil terus berjalan ke arah stand makanan yang berada di kampusnya. Perempuan itu duduk dengan santai disalah satu kursi setelah memesan makanan dan minuman yang diinginkannya. Tatapan matanya menyisir seluruh tempat, melihat orang-orang yang duduk bersama dengan temannya. Sedangkan dirinya, hanya sendiri. Tidak ada yang mau duduk bersama dengannya. Sampai seseorang akhirnya menarik salah satu kursi yang berada di depan Isabela. Membuat perempuan itu sedikit kaget. "Arond," lirih Isabela ketika melihat Arond yang tersenyum ke arahnya dan membawa semangkuk bakso yang uapnya mengepul ke udara. "Sudah pesan sesuatu?" Tanya Arond kepada Isabela. Perempuan itu menganggukkan kepalanya pelan. Semua orang yang berada di sana hanya menatap tidak suka ke arah Isabela yang bisa duduk bersama dengan Arond, ketua BEM di kampus mereka. Mereka juga tahu bahwa Arond sangat terkenal di kampus. Selain karena jabatannya, laki-laki juga memenangkan beberapa penghargaan dalam seni yang selalu diikutinya. Arond sempurna yang selalu disukai orang-orang. "Kehidupan kampus, sulit, ya?" Tanya Arond dengan tatapan seriusnya. Dia bisa melihat bahwa Isabela tidak akan mudah mendapatkan teman di sini. Arond tahu bagaimana karakter sebagian besar orang-orang di sini—mereka semua ambisius. Jika ada satu saja orang yang menonjol dibanding mereka, maka bisa jadi akan dijauhi. Padahal, seharusnya, mereka harus mendekati orang yang pintar itu dan berteman dengannya. Setidaknya orang itu akan membantu ketika kesulitan dalam pelajaran. "Kampus ini penuh dengan orang yang berambisi tinggi. Mereka yang mempunyai mimpi besar. Meskipun bukan satu-satunya kampus terbaik, tetapi rata-rata mahasiswa di sini memang datang ke kampus untuk benar-benar belajar. Walaupun ada satu dua orang yang merupakan anak-anak para pejabat yang masuk karena memberikan dana sumbangan yang fantastis agar anak-anak bisa kuliah di tempat bergengsi. Sekarang, sekolah atau kampus tidak lepas dari politik." Ucap Arond yang berusaha untuk menjelas kepada Isabela yang terjadi. Dia memperhatikan Isabela yang hanya diam saja dan tidak punya teman sama sekali. Padahal Isabela surga terlihat ramah, sayangnya tak ada yang mau mendekatinya. "Kenapa tidak mengambil jurusan seni? Kita bisa bertemu di fakultas yang sama dan gedung yang sama." Tanya Aron kepada Isabela sambil memotong bakso yang ada di dalam mangkuknya. Isabela mengaduk-aduk minuman yang ada di dalam gelasnya, "tidak, aku ingin belajar hal lainnya selain menggambar. Aku suka seni bukan berarti akan memilih jurusan yang sama dan tidak belajar hal lainnya yang lebih aku suka. Aku juga ingin menjadi pegawai disebuah kantor atau membuat usaha sendiri. Aku ingin membuka lapangan pekerjaan juga." "Hm, ... kamu memang selalu dekat dengan image malaikat." Ucap Arond yang tersenyum ke arah Isabela, hal yang jarang dilakukannya kepada beberapa orang disekitarnya. "Aku ingin hidup orang lain tidak seperti aku dan Kakak. Kami sudah sering kesulitan karena pekerjaan, dulu. Jadi, ada baiknya aku sedikit membuat perubahan. Walaupun, sepertinya membutuhkan waktu panjang." Jawab Isabela seadanya. Arond menganggukkan kepalanya sekali lagi, "kamu pasti berhasil!" Isabela membalas ucapan Arond dengan senyuman. Mereka kembali fokus dengan makanan dan minuman masing-masing. Suasananya diantara mereka pun berubah hening dengan tatapan aneh dari beberapa orang di sana. "Hm, Arond," panggil Isabela yang teringat sesuatu. "Kamu tahu, ... kita sering datang ke kedai kopi yang sama dan selalu dilayani oleh orang yang sama di sana. Kamu ingat dengan barista di kedai kopi itu? Apakah kemungkinan wajahnya dengan seseorang yang videonya viral di sosial media itu, ... dia?" Sambung Isabela yang membuat Arond yang tadinya fokus dengan makanannya menjadi mendadak terdiam. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Arond. Laki-laki itu tiba-tiba kehilangan kata-katanya dan diam seperti patung. Pandangan matanya tidak fokus hanya karena mendengar kata-kata Isabela tentang barista di kedai kopi itu. "Sepertinya aku ada kelas! Aku lupa! Maaf, ... aku akan meninggalkanmu sendiri. Tidak apa?" Tanya Arond yang beranjak dari duduknya. Tentu saja Isabela menganggukkan kepalanya pelan, "tidak masalah! Aku bisa makan sendiri kok. Sebentar lagi aku akan pulang juga. Katanya Kak Gala juga akan menjemputku." Arond memberikan senyumannya sebelum melambaikan tangannya kepada Isabela. Laki-laki itu dengan terburu-buru menghilang dari pandangan mata Isabela, membuat tanya di kepala perempuan itu. Tapi Isabela tidak mau ambil pusing. Dia hanya penasaran dengan apa yang terjadi sehingga bertanya kepada Arond. Dia penasaran dengan apa yang dilihatnya di sosial media akhir-akhir ini dan menjadi tranding selama beberapa hari. Sayangnya, sebelum mendapatkan informasi dari Arond. Laki-laki itu sudah hilang entah kemana. Hal yang sama dilakukan Arkana ketika dirinya bertanya tentang video itu. Arkana malah memintanya untuk tidak menonton video semacam itu dan memintanya menonton yang lainnya saja. Padahal video itu banyak sekali bermunculan di mana-mana. ~~~~~~~~~ "Aduh!" Teriak Kana yang tiba-tiba ditabrak oleh Arond yang sepertinya sedang terburu-buru. "Apa-apaan sih kamu! Ini kampus tahu, bukan taman bermain. Main tabrak-tabrak aja sih anak orang." Gerutu Kana yang tidak ditanggapi Arond. Laki-laki itu langsung berjalan cepat ke arah mobilnya. Membuka pintunya dan masuk ke dalam. Tetapi seseorang pun ikut masuk ke dalam sambil memberikan senyuman ke arah Arond, lalu memasang seat belt ke tubuhnya. "Kana, ... aku ada urusan penting. Mendingan kamu turun sekarang! Aku enggak ada waktu untuk ladenin kamu hari ini." Ucap Arond dengan meminta Kana segera turun dari mobilnya. Tentu saja perempuan itu tidak akan begitu saja menurutinya. Kana malah memasang headset dan memutar lagu keras-keras, tidak mendengarkan apa yang Arond katakan kepadanya. Dan akhirnya, Arond yang mengalah juga. Mau tidak mau, dirinya pun harus membawa Kana bersamanya. Mobilnya melaju dengan kencang menuju ke sebuah tempat yang tidak asing untuk keduanya. Kana melepas headset- nya dan menatap sekeliling. Tidak biasanya Arond datang kesini ketika jam kuliah seperti ini. Padahal Arond sangat mencintai kuliahnya sampai tidak pernah bolos sama sekali. Arond masih mempunyai beberapa kali jam kuliah, namun apakah hari ini ada pengecualian sampai laki-laki itu datang kesini? "Bukannya masih ada dua matkul, lagi?" Tanya Kana yang menatap ke arah Arond serius. "Biasanya enggak pernah bolos. Kenapa bolos? Datang ke kedai kopi lagi. Mau nongkrong?" Sambung Kana penasaran. Arond melepaskan seat belt yang dipakainya tanpa menjawab Kana. Laki-laki itu berjalan masuk ke kedai kopi itu. Beberapa waiters langsung menyambutnya dengan ramah dan fokusnya langsung tertuju kepada meja counter di mana biasanya ada seseorang yang membuatkannya varian kopi kesukaannya. Sayang, orang itu tidak ada digantikan lagi dengan seseorang yang lain, tidak dirinya kenal. Suasana kedai kopi itu pun tampak sangat lenggang, tidak seperti biasa yang ramai dan dipenuhi oleh para pelanggan setia. Arond seperti orang yang kebingungan, matanya terus mencari di mana keberadaan orang yang dicarinya. "Kak," sapa Arond kepada salah satu pelayan di sana dan ditanggapi dengan sangat ramah. Ucapannya seperti menggantung. Bibirnya terasa kelu, namun pertanyaan itu akhirnya keluar juga dengan sedikit terbata. "Kakaknya yang sering bikinin kopi enggak berangkat ya hari ini? Saya biasa pesan sama Kakaknya." Ucap Arond dengan perasaan yang campur aduk. Pelayan itu tampak tertegun cukup lama dan akhirnya hanya memberi senyuman tipisnya saja. "Kakak tidak melihat berita, ya?" Tanya pelayan itu balik dengan mata yang berkaca-kaca. "Sudah meninggal Kak karena dianggap sebagai salah satu anggota pembunuh bayaran dan sudah membunuh banyak orang." Sambungnya dengan takut-takut. Arond membeku di tempatnya dan tersenyum masam. Kana memegang lengan Arond dan menatap laki-laki itu yang tampak terdiam dengan kedua matanya yang memerah. "Ada apa?" Tanya Kana penasaran sambil mengelus punggung Arond dengan pelan. "Kenapa diam aja? Kenapa? Memangnya kamu kenal barista itu? Bukannya semua media baru mengabarkan tentang dia? Kenapa sih? Arond!" Sambungnya dengan kesal, namun tidak mendapat jawaban apapun dari Arond. "Tadi, ... ada yang datang juga dan bertanya hal yang sama." Ucap si pelayan dengan nada suara yang lemah. Arond mendongakkan kepalanya dan menatap pelayan itu, "siapa? Apa dia laki-laki atau perempuan?" "Laki-laki, Kak. Mungkin umurnya sedikit lebih tua dari Kakak. Kakak yang tadi bertanya tentang Herda." Sambung pelayan itu menjelaskan tentang seseorang yang sempat datang kesana dan bertanya tentang barista itu juga. "Siapa?" Tanya Arond penasaran. Pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, "saya tidak tahu nama Kakaknya. Tapi Kakak itu seringkali datang kesini." Arond hanya bisa mendudukkan dirinya di kursi tanpa mengatakan apapun lagi. Sedangkan Kana hanya menatap aneh ke arah temannya itu. Dia tidak mengerti mengapa Arond tiba-tiba datang kesini. Bahkan tidak ada yang bisa Kana mengerti sama sekali dari tatapan mata Arond yang aneh dan penuh dengan kesedihan secara mendadak. "Arond," sapa seseorang yang baru saja datang. Arond menoleh ke arah Isabela dan Gala yang masuk ke dalam kedai kopi itu secara bersamaan. "Tadi Kakak ini yang datang kesini, Kak." Tandas si pelayan menunjuk ke arah Gala yang membuat Arond hanya bisa menatap laki-laki itu penasaran. Tetapi Arond tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya diam sambil terus memperhatikan Gala. Sedangkan Gala seperti tahu apa maksud pelayan itu ketika menunjuk ke arahnya. Arond berusaha mencerna sesuatu, namun dirinya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia tidak mau sekedar menduga-duga. Dia harus mencari bukti kuatnya saja. Tapi, apa yang sedang Arond rencanakan. Apakah dia benar-benar perlu melakukan semua ini? "Katanya, ada kelas?" Tanya Isabela kepada Arond yang tidak dijawab sama sekali oleh laki-laki itu. Arond langsung melenggang pergi begitu saja. Tidak biasanya Arond memberikan tatapan sedingin itu kepada seseorang. Isabela yang mendapatkan tatapan itu hanya bisa menatap Arond dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Arond!" Teriak Kana yang berada di belakang laki-laki itu dan dengan senyuman melambaikan tangan kanannya ke arah Isabela, pamit karena Arond tidak memberikan respon yang baik Isabela menatap Gala kemudian dan ditanggapi dengan senyuman yang seadanya dari laki-laki itu. Pelayan yang sempat berbicara kepada Arond tadi hanya bisa berpamitan undur diri karena tidak mau terjadi masalah yang lebih besar lagi. "Ada apa?" Tanya Isabela yang kini menatap Gala serius. "Memangnya Kak Gala datang kesini tadi? Lalu, ... kenapa Arond menatap Kak Gala seperti itu? Dia juga terlihat sangat dingin." Sambungnya lagi. Gala sendiri hanya menggelengkan kepalanya, "dia pasti sudah gila." Setelah mengatakan itu, Gala pun memilih untuk duduk disalah satu kursi dan mengabaikan semua pertanyaan yang diajukan Isabela kepadanya. Sedangkan Arond dan Kana yang berada di dalam mobil hanya saling diam. "Biar aku yang menyetir untuk kita. Aku tidak mau kecelakaan karena mood- mu sedang buruk!" Tandas Kana dengan cepat. Arond menghela napas panjang dan memilih mengalah. Akhirnya mereka berdua bertukar posisi. "Kita sahabat sejak kecil, 'kan?" Tanya Kana kepada Arond dan hanya dia tanggapi dengan anggukan semata. "Tapi, ... aku tidak akan mengatakan apapun kepadamu tentang masalah yang sekarang sedang aku hadapi. Aku tidak mau melibatkanmu. Jadi, jangan memaksaku untuk memberi tahu apa masalahku." Sambung Arond lagi. Kana mengelus kepala Arond dan tiba-tiba memeluknya. Arond pun tidak menolak, menerima pelukan hangat yang diberikan Kana padanya. "Jangan terlalu percaya diri kalau aku menyukaimu. Aku memelukmu hanya untuk menenangkan temanku. Aku menyukai Arkana." Tandas Kana sambil mengelus punggung Arond. "Lagipula aku tidak tertarik dengan perempuan sepertimu!" Canda Arond yang sepertinya mood- nya sudah lumayan membaik. "Sialan!" Arond tertawa namun menangis juga. Dia tidak mengerti mengapa rasanya akan sesakit ini. ~~~~~~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD