Setelah hampir semalaman menunggu Vina mengirim nomor kontak Damar, pagi ini Jessy akan melanjutkan rencana berikutnya. Berbekal nomor itu Jessy mengirim chat pada Damar untuk menegur tindakannya yang ia anggap sangat salah.
"Enak aja, emang dia kira dia siapa?!" gumam Jessy dengan wajah kesal, ia mengutak-atik ponsel keluaran terbaru yang tengah ia genggam saat ini. "Sebelum dapetin ibu aku, langkahi dulu diriku."
Dengan satu tarikan napas, Jessy mengirim chat itu pada Damar. Jantungnya berdebar keras, bukan karena ia sudah lama tidak menghubungi si pemilik nomor tapi kenangan yang pernah terjadi antara dirinya dan Damar seolah muncul begitu saja seiring ia menghubungi Damar.
[ Ngapain kamu mau memperistri ibuku? Memangnya udah nggak ada perawan lain apa yang bisa kamu peristri. ]
Jantung Jessy terus berdebar kencang, ia tidak bisa membayangkan apa jawaban yang diberikan Damar kepadanya. Keresahan yang melanda dirinya dapat dibaca oleh Ratih, teman kerja Jessy di kantor.
"Jess, kamu kenapa? Kok wajah kamu kayak orang ngempet b***k gitu?" Wajah Ratih terheran-heran, ia bahkan nyaris menabrak Bagus saat selesai melaporkan pekerjaannya ke ruang atasan.
Jessy menyeringai, menggeleng perlahan. "Nggak Mbak, nggak ada pa-pa kok."
"Kalo mau b***k, udah sono ke belakang. Jangan ditahan, bikin bau nanti." Kelakar Bagus diikuti tawa yang lainnya. Jessy hanya nyengir, tidak ada pembelaan dari bibirnya meskipun ia merasa kesal bukan main.
Klunting.
Ponsel Jessy berbunyi, mengalihkan perhatiannya dari celetukan sang senior di kantor tersebut.
[ Anaknya aja hot apalagi ibunya?! Mana mungkin aku melewatkan kesempatan itu. ]
Wajah Jessy langsung memerah, ia melotot ke arah ponsel dengan amarah tak mampu dibendung.
[Jaga mulutmu! Jauhi ibuku. Cari perawan lain, jangan keluargaku! ]
Napas Jessy naik turun, emosinya langsung tersulut saat membaca chat itu dari Damar. Semua kenangan yang pernah ia lakukan bersama Damar mendadak muncul di permukaan, kenangan-kenangan yang terjadi begitu saja tanpa Jessy ingini.
Kring... Kring... Kring... Kring..
Kini ponsel Jessy berdering keras sekali. Seluruh teman kerja Jessy langsung melayangkan tatapan ke arah gadis itu. Jessy mengangguk, ia nyengir sekali lagi. "Maaf ada telepon masuk."
Jessy buru-buru mengangkat, ia berdiri dari duduknya lalu pergi keluar sebentar dari area kantor.
"Kenapa? Kamu cemburu ya sama ibu kamu?" Suara Damar yang berat dan terdengar seksi itu menyapa telinga Jessy.
Bulu kuduk Jessy langsung meremang, ia pun teringat akan sesuatu yang tidak-tidak saat bersama pria itu.
"Katakan saja. Jika kamu cemburu, kenapa dulu kamu meninggalkanku?" Damar kembali bersuara, ia terdengar seperti bercanda.
"Hei Damar, jangan ingat-ingat masa lalu ya. Yang aku inginkan sekarang adalah berhenti mendekati ibuku," bentak Jessy dengan tangan sebelah berkacak pinggang.
"Memangnya kenapa? Bagaimana jika aku bilang aku tidak mau?" Damar berkata dengan tenang, suaranya pun terdengar lebih menantang sekarang.
"Heh, matamu siwer ya. Umur ibuku tuh berapa, umurmu tuh berapa. Silakan cari yang lain, jangan ibuku!" Jessy lagi-lagi membentak, kali ini ia langsung mematikan sambungan telepon. Bagi Jessy tidak ada gunanya berdebat dengan Damar, ia tidak ingin perdebatan pagi ini mempengaruhi semangatnya dalam bekerja.
Jessy menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya melalui mulut. Menatap ponselnya sejenak, Jessy hendak masuk kembali ke dalam kantor. Hanya saja—
Klunting.
Pesan w******p kembali masuk ke kotak pesan, menghentikan langkah Jessy yang sedikit terburu-buru.
[Aku tidak butuh persetujuanmu untuk menikahi siapa. Yang jelas saat ini aku ingin melamar wanita yang bernama Kamila untuk menjadi istriku. Sama seperti ucapanmu, lupakan masa lalu diantara kita. Aku tidak melarangmu pergi begitu pun kamu, jangan larang aku untuk menikahi siapa pun yang kuingini. ]
"Sialan!" Pekik Jessy dengan kesal, ia menggenggam ponselnya dengan tangan bergetar. Napas gadis itu kembali naik turun, ia bahkan tidak bisa membayangkan jika pria yang dulu pernah melihat isi dalam bajunya serta nomor behanya itu menjadi papa tirinya sekarang. "Emang sialan Damar ini!"
"Jess, kamu kenapa? Kok uring-uringan kayak gitu?" Ratih muncul diambang kantor, ia menatap Jessy dengan tatapan bingung. "Laporan untuk kunjungan hari ini sudah kamu siapkan belum? Pak Ridwan nanyaian tuh!"
"Eh iya Mbak, udah aku siapin kok. Tinggal copy doang," ucap Jessy langsung tersenyum kaku pada Ratih. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kain lalu masuk ke dalam kantor.
Pagi itu Jessy memilih untuk meredam kemarahannya. Chat yang dikirim kepadanya sengaja ia biarkan dan tidak dibalas. Ya, memang sesulit itu menghadapi Damar dan Jessy baru menyadarinya sekarang.
***
"Dam, ngapain kamu senyum-senyum sendiri kayak gitu? Kesambet arwah pohon mana kamu?" Anton, rekan kerja Damar menepuk bahu pemuda itu ketika melihat Damar terus tersenyum menatap ponselnya.
Damar mendongak, ia lalu meletakkan ponsel dan melakukan peregangan tubuh. "Nggak kok An, cuma seneng aja."
"Seneng kenapa? Dapat chat mesra dari pacarmu ya." Pria yang usianya dua tahun lebih tua dari Damar itu duduk dan menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Apa sih? Bukan kok. Pacar darimana? Kamu tahu sendirikan sejak putus dari dari Jessy dua tahun yang lalu, aku sama sekali tidak memiliki pacar," aku Damar seraya menyeringai.
"Nggak bisa move on ya dari Jessy?" goda Anton balas menyeringai. "Apanya Jessy yang bikin kamu nggak bisa move on? Dadanya yang gedhe itu atau serabinya yang lebar?"
Anton tergelak, ia merasa lucu sendiri dengan apa yang ia katakan. "Emang sih udah kelihatan kalo Jessy tuh pepayanya gedhe, kamu nggak akan mungkin bisa move on dari pepayanya."
Wajah Damar memerah, ia menatap Anton yang terus menertawakannya. "Hei, siapa bilang?! Aku sudah move on kok. Kali ini gebetan aku jauh lebih matang dan berpengalaman."
"Heleh, kayak sopir ambulan aja, berpengalaman." Anton masih saja tertawa, ia menatap Damar sambil geleng-geleng kepala. "Emangnya siapa? Kalo cuma digebet nggak dikawini ya sama aja."
"Rencananya tahun ini aku bakal nikah bro," tandas Damar dengan wajah serius. Ia bahkan menepis tawa Anton dalam hitungan detik.
"Beneran?" Goda Anton dengan tatapan genit. "Aishh... Sepertinya emang kamu udah nggak tahan mau nyobain rasanya serabi anget deh Dam."
Kekehan Anton kembali berlanjut. Damar cuma tersenyum lantas kembali menekuni pekerjaannya di kantor itu.
Sebuah komputer cukup besar terpampang di hadapan Damar, menemani keseharian pemuda itu dalam bekerja. Saat ini pemuda berusia dua puluh lima tahun itu menjabat sebagai salah satu manager andalan di PT. Kayu Sejati.
Pekerjaan Damar saat ini tidaklah terlalu berat dibanding dua tahun yang lalu. Meskipun berada di pabrik yang sama, jabatannya dulu dengan sekarang memanglah berbeda.
Dua tahun yang lalu ia hanyalah karyawan yang bekerja sebagai operator mesin potong kayu dan kini berkat keuletannya, Damar naik jabatan dan menjabat sebagai manager disana.
"Dam, kasih tahu dong spek wanita yang ingin kamu nikahi itu? Bolehlah dikasih tahu ciri-cirinya sama aku," bisik Anton seraya menepuk tangan Damar. Rasa penasaranlah yang membuat Anton berhenti tertawa dan menatap Damar dengan intens.
Damar mengalihkan tatap dari layar komputer, ia tersenyum penuh misteri. "Yakin kamu pengen tahu?"
"Iya," angguk Anton makin serius. "Ceritain dong!"
"Pengen tahu atau pengen tahu banget?"
"Issh.... Kamu nih! Berhenti bikin penasaran tau!" Anton kesal, ia menepis tangan Damar sambil melengos.
Damar kini gantian terkekeh, "Kamu tahu nggak sama Kamila?"
"Kamila?" Kening Anton berkerut, tampak memikirkan sesuatu sambil mengangguk pelipisnya. "Kamila siapa?"
"Ibunya Jessy," jawab Damar tanpa basa-basi. Ia tersenyum penuh kode pada Anton.
"Ibunya Jessy?" Kerutan di dahi Anton makin menjadi-jadi. "Eh, tunggu-tunggu! Jangan bilang kalo kamu—"
Kedua sahabat masa kecil itu saling bertukar pandang, tatapan mereka saling memberi kode dimana Anton sepertinya mengetahui kemana arah bicara Damar saat ini.
Dengan anggukan kepala Damar, Anton langsung terhenyak dan memukul tangan Damar. "Beneran kamu Dam? Wah parah kamu tuh?! Emang nggak ada perawan lain apa? Beneran kamu mau—sama ibunya Jessy?"
"Iya," angguk Damar sekali lagi. Kali ini tatapannya serius diiringi anggukan yang mantap. "Emangnya kenapa? Yang penting kan dia punya serabi anget. Serabi kalo santannya mantep, rasanya juga nampol."
"Wah, bener-bener kamu nih!" Anton menggeleng masih tak percaya, ia memegangi kepalanya sendiri. "Yakin? Beneran kamu mau nikahin janda? Tapi, tapi—bagaimana dengan Jessy? Apakah dia sudah tahu semua ini?"
***