"Tidak, ini tidak benar!" sanggah Jessy dengan roman wajah sangat berbeda. Gadis berambut panjang itu menyambar tas selempangnya dengan kasar. "Bagaimana bisa pemuda berusia dua puluh lima tahun itu mau menikahi Ibu? Dan Ibu juga, ingat umur Bu. Bukannya belajar taubat malah mau kawin lagi."
Kamila bangkit berdiri, ia menunduk dengan kedua tangan saling menaut satu sama lain. "Maafin Ibu Jess, Ibu sendiri tidak tahu kenapa Damar tiba-tiba datang dan melamar Ibu."
Jessy merengut, ia bersedekap saat mendengar pengakuan ibunya. Kamila menatap Jessy, perlahan ia menyentuh pundak Jessy dengan lembut. "Tapi Ibu belum kasih jawaban kok, jika Jesy tidak setuju maka Ibu —"
"Bukannya tidak setuju Bu, Damar itu siapa?!" ucap Jessy dengan nada keras. "Damar itu mantan Jessy, orangnya jelek, jerawatan, item lagi. Jessy aja nggak mau, masa Ibu mau sih?! Kalo Ibu mau cari ayah baru untuk Jessy, cari yang kaya Bu, yang Ibu sendiri nggak perlu bangun pagi-pagi lalu buka laundry."
Kamila terdiam, ia hanya mendengarkan omelan Jessy yang terdengar begitu marah dan tidak suka. Mendesah kencang, Jessy berbalik badan dan meninggalkan ruang makan. "Terserah Ibu aja, terserah mau kawin dengan siapa asal jangan sama Damar. Titik!"
Anak gadis berusia dua puluh tahun itu pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan Kamila seorang diri dengan segenap pikiran rumit yang kini tengah ia rasakan. Bagaimana ini? Apakah Kamila harus menolak lamaran Damar demi Jessy? Lantas, alasan apa yang akan ia katakan?
Sementara itu Jessy masuk ke dalam kamar. Seperti kain bekas, wajahnya lusuh setelah tahu bahwa Damar yang pernah ia campakkan kini hadir dan justru berani melamar ibunya.
Membanting pintu kamar dengan keras, Jessy membuang tas selempangnya di atas kasur. Duduk resah di depan cermin, Jessy menatap pantulan dirinya sendiri di sana.
Ya, siapa yang tidak syok mendengar kabar itu. Dirinya yang masih gadis, berkulit kencang, dan memiliki kecantikan setara artis Irish Bella harus kalah dengan ibunya. Kekasihnya sendiri— si Bimo, bahkan sampai sekarang belum berani untuk melamarnya.
Menepuk meja dengan kesal, Jessy terus saja merengut. "Enak aja Ibu mau nikah lagi, aku aja belum dilamar masa Ibu mau nambah lagi."
Mengembuskan napas panjang, Jessy bangkit berdiri lalu merebahkan diri di atas ranjang. "Aku harus tahu alasan Damar memilih ibu sebagai calon istrinya."
Jessy terdiam beberapa saat, ia memikirkan berbagai macam hal terkait dengan Damar, si mantan b***k yang ia tinggalkan lantaran cacat jari yang ia dapatkan sewaktu bekerja di pabrik kayu dulu.
Merubah pose dari berbaring menjadi tengkurap, Jessy lantas membuka tas selempang miliknya dan mengambil ponsel. "Coba aku hubungi Vina, siapa tahu dia masih nyimpen kontaknya Damar."
Gadis itu lantas menekan-nekan layar ponsel, mencari nomer kontak Vina lalu meneleponnya.
Beberapa saat menunggu, kesabaran Jessy berbuah manis. Teman semasa SMA-nya itu dengan cepat mengangkat telepon yang tengah ia ciptakan.
"Jessy, ada apa Sayang? Tumben sekali kamu telepon. Lagi banyak pulsa ya?" sindir Vina dengan suara dibuat-buat.
"Ini penting Vin, makanya aku telepon kamu." Jessy lalu beringsut duduk. Ia menatap sprei kamarnya dengan serius seraya memfokuskan diri pada percakapan mereka sore itu.
"Penting apa Jess? Nggak biasanya," ucap Vina, kali ini ia merubah mode candanya menjadi lebih serius lagi.
"Kamu nyimpen nomer kontaknya Damar nggak?"
"Damar? Mantan kamu itu ya?"
"Hiss... Punya nggak?" dengkus Jessy dengan wajah pura-pura marah.
"Ada, kebetulan aku masih simpan. Dia kan nggak pernah ganti nomer. Memangnya ada apa Jess?" Vina penasaran, ia menanyakan perihal keingintahuan Jessy tentang nomer kontak Damar.
"Kamu kirim ke aku segera ya. Nanti kalo sudah menemukan titik terang, aku bakal ceritain ke kamu deh. Bye, Vina."
Jessy lantas mematikan panggilan telepon, ia menunggu Vina mengirimkan nomer kontak itu kepadanya. "Tunggu aja Damar, kamu tidak akan bisa menikahi ibuku. Enak saja, emang kamu siapa?! Dasar muka bulus."
***
Pagi itu setelah menyiapkan sarapan untuk Jessy, Kamila bergegas menuju ke kios depan rumah yang ia gunakan untuk usaha laundry. Usaha milik almarhum suaminya tersebut secara turun temurun telah memperbaiki perekonomian mereka dari tahun ke tahun.
Jessy sendiri setelah lulus dari SMA memilih untuk bekerja di sebuah koperasi simpan pinjam di salah satu kecamatan di kota Wonogiri.
Diusianya yang ke empat puluh, Kamila tergolong wanita yang beruntung. Ia memiliki usaha sendiri dan juga pelanggan yang selalu setia dengan hasil Laundry miliknya.
"Selamat pagi Mbak." Seorang pria menyapa Kamila ketika wanita itu tengah memasukkan cucian ke dalam mesin cuci.
"Selamat pagi," balas Kamila sambil tersenyum. Saat tahu bahwa Damar-lah yang datang, senyum Kamila berangsur menghilang.
"Hari ini saya nggak sempat nyuci baju Mbak, boleh saya ikut laundry di sini?" Damar berkata dengan sopan di hadapan Kamila. Ia lantas mengulurkan bungkusan plastik hitam lumayan besar ke hadapan wanita tersebut.
Kamila menerima uluran itu dengan ragu, ia sendiri bahkan bingung harus mengatakan apalagi pada pemuda yang beberapa hari lalu telah melamarnya.
"Nanti sore saya ambil ya Mbak. Kalo gitu saya berangkat kerja dulu ya, permisi." Damar berbalik badan, ia rasa kehadirannya memang kurang pas pagi itu.
"Ehm, tunggu sebentar." Kamila menahan langkah Damar hingga pria itu berhenti lalu menoleh ke arahnya. "Bisa tidak kita ngobrol sebentar?"
Damar hanya mengangguk, ia memperhatikan Kamila dengan degup jantung kian kencang. Wanita itu lalu mempersilakan Damar untuk duduk di kursi plastik yang tersedia di kiosnya.
"Ada apa Mbak?" Damar bertanya setelah sekian detik wanita paruh baya dengan wajah yang masih terlihat cantik itu diam seribu bahasa. "Mau bicara apa?"
Kamila menatap Damar sekali lagi, ia menunduk. "Jessy sudah mengetahui perihal cincin ini, Dek."
Damar menatap sejenak ke arah cincin emas yang dipakai Kamila, "Lalu?"
"Dia—dia tidak setuju kalo saya nikah lagi. Apalagi nikahnya sama Dek Damar." Kamila berkata pelan, sesekali mendongak untuk memastikan mimik wajah Damar saat ini seperti apa.
Damar masih diam, beberapa saat kemudian ia terkekeh. Kamila menatapnya heran, merasa aneh dengan sikap Damar. Pemuda ini, bukannya bersedih atau kecewa, ia justru tertawa lucu.
"Kenapa Dek? Kok malah ketawa?"
"Ya jelas dong Mbak dia nggak setuju, dia belum ada yang lamar sedangkan Mbak, Mbak udah mau dua kali dilamar." Damar masih tertawa tapi tidak dengan Kamila yang nampak begitu resah.
Pemuda itu menghentikan tawa, menatap ekspresi Kamila yang diselimuti keresahan. "Maaf Mbak, saya tidak bermaksud untuk menghina. Saya tahu betul bagaimana perasaan Jessy, sudah pasti dia tidak bisa menerima karena calon ayahnya adalah mantan kekasihnya sendiri."
Kamila perlahan membalas tatapan Damar. Pria itu tersenyum manis, "Jika Mbak percaya sama saya, saya akan buktikan bahwa saya benar-benar serius sama Mbak. Tidak ada niat apa pun, saya tetap menginginkan Mbak sebagai istri saya. Percaya Mbak, meskipun Jessy tidak memperbolehkan, saya tetap akan melangkah dan meminang Mbak."
**