Senin pagi. Semalam aku sudah menelepon Laila terkait dengan keaktifan Pak Ruslam di kantor. Rupanya beliau mengambil cuti satu pekan untuk menenangkan diri. Ya, aku bisa maklum akan hal itu. Tapi yang membuatku terkejut adalah perkataan Laila bahwa Pak Ruslam menyerahkan sepenuhnya proyek kerjasama dengan Hizi Corp. padaku. Aku tahu, proyek ini memang tidak bisa ditunda karena pelaksanaan direncanakan bulan depan. Tapi masih banyak sekali yang harus dikerjakan. Bahkan apa yang sudah kami kerjakan hanya sekitar dua puluh persen saja. Jadi, sisanya akan kukerjakan sendiri dengan Kaizan? Oh tidak!!! Aku bengong di kamar, waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh. Menunggu pukul tujuh untuk mengirim tantangan pada Ala dan Ghulam. Tapi hendak pukul tujuh, justru Pak Sadetil, ayah Ghulam y

