Chapter 11

2166 Words
    Sore pun tiba, ternyata di kediaman orangtua Aditya tengah mengadakan pesta penyambutan hadirnya keluarga baru. Siapa lagi kalau bukan putra kedua dari kakak ketiga Aditya, Taqiyya, yang lahir satu bulan yang lalu. Sebenarnya aqiqah sudah dilakukan tepat tujuh hari setelah putra kakaknya itu lahir, namun dilaksanakan di Dubai, karena bayi itu kebetulan lahir di sana.     "Gaunmu indah sekali. Kau sangat cantik, Aira!" puji Selim, anak pertama Taqiyya yang berusia tujuh tahun.     "Tentu saja, ayahku yang membelinya. Tapi, Ayah bilang aku sudah cantik walau tanpa gaun ini," balas Aira dengan bangga.     "Benar begitu, Adit?" tanya ibu Aditya tak percaya. Bukan karena putranya membelikan gaun cantik untuk cucunya, tetapi pujian yang dilontarkan Aditya untuk Aira. Ia merasa kalau semakin ke sini, sikap putra bungsunya semakin berubah.     "Ibu sudah mendengarnya sendiri," jawab Aditya. "Pilihanku bagus, ‘kan?" tanyanya menggoda ibunya.     "Iya, seleramu memang tinggi," jawab ibu Aditya senang sekaligus bingung.     "Aira, ayo kita lihat adikku!" ajak Selim. Aira pun mengangguk mengikuti kakak sepupunya yang sudah berlari lebih dulu menuju tangga, sedangkan sepupu-sepupu Aira lainnya entah main ke mana bersama anak-anak dari para tamu undangan.     "Kakak, jangan lari-lari! Nanti jatuh dari tangga sepertiku!" teriak Aira memperingati sambil menyusul Selim dengan langkah hati-hati. Sementara itu, ibu Aditya memperlihatkan tatapan tajam kepada Aditya.     "Jadi luka itu akibat jatuh dari tangga?" tanya ibu Aditya. "Kau bilang hanya luka biasa. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan cucuku? Mengapa kau tidak memberitahu Ibu?" tambahnya penuh dengan kekhawatiran.     "Sudahlah, Bu. Nyatanya Aira baik-baik saja. Dia juga sudah mendapatkan penanganan yang terbaik dari dokter. Ibu tidak usah khawatir," jawab Aditya sambil tersenyum kepada ibunya. Walau sebenarnya ia cukup kesal.     Sebelumnya, ibu Aditya sudah marah dan panik ketika cucunya datang dengan dahi yang terluka. Aira tidak dijahit, hanya diberi gel perekat. Itu perintah ibu Aira sendiri, karena menurutnya memberi gel lebih baik dan tidak akan meninggalkan bekas, tidak seperti dijahit, walau itu berarti merawatnya harus lebih ekstra hati-hati.     Pesta pun dilaksanakan dengan sangat meriah. Namun hanya keluarga dekat dan rekan bisnis tertentu saja yang diundang. Keluarga Assegaf memang selalu memperkenalkan keluarga baru mereka, kecuali Aira. Orangtua Aditya bilang pesta penyambutan cucu perempuannya dilaksanakan di luar negeri, karena gadis kecil itu adalah cucu perempuan pertama dan satu-satunya keluarga Akyas. Ya, anak-anak dari kakak-kakak Aditya semuanya laki-laki.     ***     Malam harinya, Aira terlihat gelisah. Selepas ia menghabiskan makan malamnya ia bergerak di kursi tak karuan. Kadang-kadang tatapan beredar pada orang-orang di meja makan yang mampu menampung dua puluh orang itu.     "Ayah, berapa lama Ayah dan Ibu tidur istimewa sampai Tuhan menitipkan Aira berada di perut Ibu?" celetuk Aira dengan wajah polosnya. Matanya mengerjap menggemaskan menatap wajah Aditya yang berada di sebelahnya, meluapkan segala pertanyaan yang mengganggunya sejak tadi. Sontak pertanyaan itu membuat orang-orang hening. Ada juga yang tersedak.     "Apa yang kau bicarakan?" bisik Nina tak percaya mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil Aira.     "Memangnya kenapa, Ibu? Kak Selim bilang ia punya adik, karena ayah dan ibunya tidur istimewa. Tapi, dia tidak tahu tidur istimewa itu harus berapa lama. Apakah itu seperti tidur siang atau tidur malam? Jadi, Kak Selim bilang Aira harus bertanya pada Ayah. Aira ‘kan juga ingin mempunyai adik," jawab Aira dengan tampang tak berdosa.     "Benar begitu, Selim?" tanya Sofia, ibu Selim sambil membulatkan matanya.     "Iya, Mom. Itu yang Daddy katakan padaku. Katanya bayi itu ada di perut Mommy, karena kalian tidur istimewa. Lalu bayi itu tumbuh di perut Mommy selama sembilan bulan," jawab Selim dengan wajah tak kalah polos mengingat kejadian tadi sore ketika ia mengajak Aira melihat adiknya, Zain.     "Adik Kakak lucu dan tampan sekali. Aku ingin memilikinya," ujar Aira gemas melihat Zain yang sedang tidur di boxnya.     "Adikku memang tampan, sama sepertiku," balas Selim dengan percaya diri.     "Kak Reynard mempunyai adik Malik, Kak Noah mempunyai adik Nathaniel, dan Kak Selim mempunyai adik Zain, lalu kenapa aku tidak punya adik?" tanya Aira bingung.     "Kau minta saja pada ayah dan ibumu," jawab Selim.     "Caranya?" tanya Aira bingung.     "Daddy bilang, Tuhan menitipkan baby Zain di perut Mommy setelah Daddy dan Mommy tidur bersama. Setelah sembilan bulan dan baby Zain besar, lalu ia keluar dari perut Mommy," jawab Selim.     "Bagaimana caranya keluar dari perut? Perut ‘kan tidak ada lubangnya." Gadis kecil itu diselimuti pertanyaan yang membuatnya penasaran.     "Aku lihat perut Mommy ada bekas lukanya. Mommy bilang itu bekas sayatan saat melahirkan," jawab Selim sambil memperlihatkan ukuran sayatan di perut ibunya dengan jari telunjuknya yang diusap di perutnya.     "Pasti itu sakit." Aira bergidik ngeri ketika Selim memperlihatkan seberapa besar ukurannya.     "Tidak, ‘kan Mommy disuntik dulu. Jadi, Mommy tidak merasa sakit," sanggah Selim.     "Jadi rasanya seperti digigit semut. Disuntik ‘kan rasanya seperti itu," ujar Aira. Sementara Selim mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. "Kakak, tapi kenapa Kakak cuma punya satu adik? ‘kan orangtua Kakak tidur bersama setiap hari, apa Uncle Taqiyya tidak tidur bersama Aunty Sofia, tapi Uncle Taqiyya tidur bersama Kakak? Sama seperti Ayah tidur bersamaku?" tanya Aira yang masih diselimuti penuh tanda tanya.     "Daddy bilang itu tidur istimewa," jawab Selim.     "Tidurnya harus berapa lama agar Tuhan menitipkan adik bayi? Apa itu seperti tidur siang atau tidur malam?" tanya Aira semakin penasaran.     "Aku tidak tahu. Kau tanya saja pada ayahmu berapa lama dulu mereka tidur istimewa sampai Tuhan menitipkanmu di perut ibumu," jawab Selim memberi saran. Sementara itu Aira hanya tersenyum mengangguk.     Sofia menatap tajam wajah Taqiyya—suaminya—yang berpaling seperti seorang pencuri yang baru saja ketangkap basah.     "Kau ini, Taqi. Berani-beraninya kau ...," geram Sofia. Sementara Taqiyya hanya menyunggingkan bibirnya  penuh sesal menahan malu.     Orangtua Aditya, Athaya, Rachel, Zakiyya dan Maryam di meja makan hanya tertunduk menahan tawa mendengar celotehan Selim dan Aira, sementara sepupu-sepupu Aira lainnya hanya diam dan acuh tak mengerti.     "Kenapa Ayah tidak menjawabnya?" tanya Aira sambil menatap ayahnya. Kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah ibunya. "Ya sudah, Aira tanya pada Ibu saja. Ayah dan Ibu ‘kan tidur bersama. Jadi, pasti Ibu tahu. Jadi, Ibu, berapa lama kalian tidur istimewa?" tanyanya dengan santai dan penuh keingintahuan.     Bunyi nyaring akibat Aditya menggebrak meja terdengar sangat keras. Beruntung meja itu terbuat dari kayu, kalau terbuat dari kaca mungkin sudah pecah. Tindakan pria itu membuat semua orang membisu, kaget, sekaligus takut. Bahkan Malik yang berusia enam tahun sontak menangis.     "Cukup, Aira!" bentak Aditya.     Tubuh Aira bergetar. Ia tak melakukan apa pun, tapi kenapa ayahnya menampakkan wajah yang menyeramkan? Bulir-bulir bening, sudah menggenang di pelupuk matanya. Namun, gadis kecil itu langsung mengeratkan pelukannya pada Nina dan menahan diri agar tidak menangis. Ia harus kuat seperti yang wanita itu bilang.     "Urus putrimu!" titah Aditya kepada Nina. Dapat semua orang lihat kilat di iris kelabunya.     Nina dengan patuh segera membawa Aira pergi meninggalkan ruang makan. Suasana di meja makan pun menjadi kacau akibat ulah Aditya. Sementara itu, Rachel memilih membawa Malik pergi untuk ditenangkan.     "Tersindir oleh pertanyaan putrimu, Aditya," ejek Zakiyya. "Jadi, berapa lama kau tidur istimewa itu?" tanyanya sambil terkekeh.     "Yang jelas aku mengalahkan rekor kalian semua," jawab Aditya dengan smirk sinisnya. Sementara itu, Athaya hanya menunduk terasa tersindir, karena Reynard baru lahir setelah tiga tahun pernikahannya.     "Aira benar, kami semua sudah memiliki dua anak. Kau sebaiknya segera menyusul," usul Taqiyya.     "Aku tidak mau punya anak lagi. Satu anak saja sudah membuatku kesal, apalagi nanti ada dua," jawab Aditya ketus.     "Cukup! Kalian semua boleh meninggalkan ruangan ini," titah ayah Aditya geram sambil mencoba menahan emosi. "Dan kau, Aditya ... jangan pernah membentak cucuku seperti itu lagi. Apa kau lupa, siapa pemegang warisnya?" tanyanya mengingatkan.     Aditya mencoba mengatur napasnya. Baru kali ini ia memarahi Aira di depan keluarganya. Biasanya ia memperlakukan putrinya dengan sangat baik, agar orangtuanya itu tidak marah kepadanya. Ia merutuki kecerobohannya sendiri.     Awas, kau setan kecil. Setelah ini kau akan mendapatkan akibatnya, gerutu Aditya dalam hati.     ***     Aditya keluar dari kamarnya sambil menenteng sebuah batal dan selimut. Namun, baru saja ia menutup pintu, terdengar suara yang begitu tidak mengenakkan di telinganya.     "Diusir istri dan anakmu, Aditya?" tanya seseorang yang sedang tertawa puas. Aditya melirik ke arah kanan, dilihatnya seorang pria yang sedang membawa secangkir kopi sedang berdiri sambil bersandar pada tembok.     "Diamlah, Zaki!" teriak Aditya sinis. Ia kemudian pergi tak memedulikan pertanyaan kakak keduanya itu.     "Kalau kau diusir, bagaimana kau bisa memberi adik untuk Aira?!" tanya Zakiyya dengan setengah berteriak.     "Sudah aku katakan, aku tidak mau punya anak lagi!" teriak Aditya geram. Ia kemudian membalikkan badannya dan mendekati Zakiyya.     "Apa?!" tantang Zakiyya saat Aditya menatap tajam.     "Rasakan ini!" Aditya memukul tubuh Zakiyya dengan bantal yang dibawanya. Kopi yang dibawa Zakiyya pun tumpah mengenai pakaian kakaknya itu. Beruntung kakaknya bisa memegang erat gelas itu, hingga tidak sampai gelas itu terjatuh.     "Aku baru tahu kalau Aditya yang katanya bisa mendapatkan apa pun keinginannya di dunia ini, tapi saat ini ia tidak bisa mendapatkan kamar tidurnya sendiri. Kau tahu, laki-laki memang tidak pernah menang dari wanita. Aku menyadari hal itu. Aku tidak pernah menang dari Maryam," ujar Zakiyya terkekeh melihat ekspresi wajah adiknya itu.     "Aku tidak seperti dirimu. Tidak ada satu wanita pun yang bisa mengalahkanku," balas Aditya geram.     "Lalu apa namanya kalau sekarang kau tidak bisa tidur di kamarmu sendiri. Pasti istrimu marah gara-gara kejadian di ruang makan tadi, sehingga dia tidak mengizinkanmu tidur di kamar," ujar Zakiyya dengan tatapan meledek.     "Diam kau! Dia tidak mengusirku. Enak saja dia mengusirku dari kamarku sendiri. Aku tidak seperti dirimu, Atha, atau Taqi yang mau berlutut di bawah kaki perempuan," ujar Aditya geram.     "Lalu?" tanya Zakiyya.     "Ibu tidur di kamarku. Dia bilang ia ingin tidur bersama cucunya. Kau puas!" jawab Aditya semakin geram.     "Kalau Ibu ingin tidur dengan Aira, kenapa tidak membawa Aira ke kamar Ibu saja?" tanya Zakiyya.     "Kau tanyakan saja sendiri kepada Ibu, kenapa dia mau tidur di kamarku," jawab Aditya ketus.     "Kau tahu, sampai sekarang aku masih tidak percaya saat kau mengenalkannya sebagai istri yang kau nikahi diam-diam. Demi Tuhan, pakaiannya, Adit …. Damn! Bagaimana bisa pria berengsek sepertimu mendapatkan bidadari surga sepertinya? Aku kira kau akan menikahi model seperti mantanmu itu. Kau tidak memaksa atau memerkosanya hingga dia mengandung Aira dan mau menikah denganmu, 'kan?" tanya Zakiyya dengan tatapan menyelidik.     "Semua itu bukan urusanmu," desis Aditya seraya berlalu dari hadapan kakaknya—pergi ke salah satu kamar tamu agar ia bisa tidur.     Zakiyya benar-benar tak bisa menahan tawanya. Dari kecil Aditya sangat keras kepala. Sifatnya sangat jauh dengan kakak-kakaknya. Namun, tak bisa dipungkiri kalau Aditya tidak bisa menolak perintah apa pun dari ayah dan ibunya.     ***     Di hotel, Erida terlihat masih suka melamun. Ia baru saja merelakan Aditya, yang boleh dibilang cinta pandangan pertamanya dan itu berarti kini pernikahannya dengan Rifki akan dilaksanakan sebentar lagi. Ia benar-benar bingung akan nasibnya. Terlebih lagi ia takut seperti apa sikap Rifki sebenarnya. Ia takut calon suaminya tidak sebaik apa yang dipikirkannya. Ia takut pria itu hanya bersikap baik di depan. Sungguh ia lebih baik mendapatkan suami dingin, ketus dan pemarah seperti yang bosnya tampakan di luar, tapi ternyata di dalam memiliki hati baik untuk semua orang, terlebih lagi kasih sayang dan perhatian yang begitu besar untuk anak dan istrinya. Ia benar-benar takut. Ia tidak ingin kalau suatu saat pernikahannya berhenti di tengah jalan.     Erida tersentak saat Mia berteriak. "Ada apa?" tanyanya. Untung di kamar hanya ada mereka berdua, karena dua orang pegawai lainnya sudah keluar karena menikah. Jjika jadi, ia juga sebentar lagi akan keluar dari hotel itu.     "Ini. Lihatlah!" teriak Mila sambil menunjuk layar ponselnya. Erida pun menunduk menatap layar ponsel Mila.     "Tuan Aditya," ucap Erida dengan lirih.     "Aaa ... mengapa hal ini bisa terjadi? Artis itu tidak seharusnya jalan bersama pangeran esku." Wajah Mila terlihat frustasi, tatkala tak terima atas apa yang baru saja dilihatnya.     "Pangeran es? Artis?" Erida mengernyit kebingungan.     "Siapa lagi kalau bukan tuan kita Aditya si jutek, angkuh, pemarah dan dingin bagaikan es krim yang di balik dinginnya memberikan rasa manis dan lumer di mulut. Sedangkan wanita ini, apakah kau tidak tahu? Dia itu Caitlyn Rossi. Artis asal Australia yang juga sering bermain dalam beberapa film hollywood," jawab Mila panjang lebar. Tapi, tetap saja Erida tidak mengenal siapa itu Caitlyn Rossi.     "Kau suka Tuan Aditya? Bukankah kau membencinya?" tanya Erida bingung melihat tingkah laku sahabatnya itu.     "Aku hanya kagum. Memangnya kau tidak? Wanita mana pun di dunia ini pasti sangat memuja ketampanannya dan si Caitlyn ini, sungguh sekarang aku membencinya. Padahal aku dulu follower setianya," jawab Mila penuh amarah. Ya, gadis itu sedang melihat sosial medianya.     Erida bergeming. Mila memang benar, wanita mana pun pasti menggilai ketampanan Aditya, terlebih lagi jika mengetahui sisi baik pria itu, termasuk dirinya sendiri.     "Mengapa Tuan Aditya bisa bersama artis itu?" tanya Erida.     "Entahlah, aku tidak tahu. Situs ini bilang, 'Artis cantik Caitlyn Rossi sedang dekat dengan pria tampan'," jawab Mila sambil melihat layar handphone-nya lagi.     Erida melihat tanggal di situs itu. Itu sekitar beberapa hari yang lalu. Artis itu terlihat sangat cantik. Baik Aditya maupun artis itu sedang tertawa bahagia di sebuah restoran.     "Mungkin mereka hanya berteman. Tuan Aditya ‘kan sering berjalan bersama wanita. Dia juga tidak malu berjalan denganku. Iya, ‘kan?" Erida mencoba menenangkan Mia yang hendak menangis seperti kehilangan kekasihnya.     "Kau benar. Mudah-mudahan saja itu hanya gosip," balas Mila dengan sedikit tenang.     Apa itu istri Tuan Aditya? Tapi, istri Tuan Aditya ‘kan tinggal di luar kota, bukan luar negeri. Kalau itu istri Tuan Aditya, pasti mereka mengajak putrinya juga. Apa jangan-jangan Tuan Aditya selingkuh, ya? Tapi, Tuan Aditya ‘kan sangat mencintai anak dan istrinya. Ah ... pasti mereka hanya berteman, batin Erida. Ia menjadi semakin bingung. Jika Aditya yang mencintai keluarga kecilnya saja bisa berselingkuh, lalu bagaimana nasib pernikahannya dengan Rifki nanti yang tidak dilandasi cinta dari awal. Jika kau ingin berpaling. Berpalinglah padaku, Aditya, dewi batinnya menyeringai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD