Chapter 3

1704 Words
    Aditya melangkah pelan menghampiri box di mana sang bayi yang sedang terlelap. Dengan seringainya ia tertawa melihat tubuh mungil yang sedang menggeliat. Mungkin bayi itu tidak nyaman dengan sentuhan dirinya.     "Diamlah, Baby! Berhentilah bergerak!" ucap Aditya lirih. "Ah ... susah sekali," keluhnya.     Bayi itu menggeliat lagi. Kali ini ia mulai merengek.     "Kau di sini?" tanya ibu Aditya yang datang menghampiri. "Apa yang sedang kaulakukan?"     Aditya tetap pada pekerjaannya saat ini. "Apa Ibu tidak lihat apa yang sedang aku lakukan pada Baby?" Alih-alih menjawab, tanpa memerhatikan wajah sang ibu, pria itu malah balik bertanya.     "Darahnya masuk ke infusan. Ibu akan panggilkan suster." Ibu Aditya terbelalak setelah melihat kondisi cucunya. Wanita itu pun keluar dari ruangan cucunya.     "Ah ... selesai. Kalau begini ‘kan kau bisa tidur dengan tenang," ucap Aditya tersenyum lega. Ia merasa puas atas keberhasilan yang sudah dilakukannya.     Selang beberapa menit kemudian, ibu Aditya kembali masuk bersama seorang suster. Suster itu segera menghampiri box bayi dan mengecek selang infusnya.     "Ini rumah sakit mahal. Tak bisakah kalian memperhatikan keselamatan pasien kecil sepertinya?!" gerutu Aditya.     Suster itu hanya mampu menunduk. "Maafkan kami, Tuan, tapi mungkin putri Anda—" Gugup yang menyergapnya semakin memuncak kala ucapannya terpotong.     "Jangan salahkan putriku! Aku tidak mau mendengar alasan kalian," sanggah Aditya memotong ucapan sang suster.     Ibu Aditya mengelus d**a putranya, mencoba menenangkannya. "Sabar, Dit. Chloe itu sangat aktif. Dulu kau juga suka tidur seperti itu."     "Jangan membela suster itu, Bu. Bagaimana jika aku terlambat datang? Apa yang akan terjadi pada Baby?" tanya Aditya meluapkan kekesalannya.     "Maaf, Tuan," lirih suster itu. Pandangannya terus menunduk. Ia tidak bisa berkutik walau sebenarnya ia tidak salah. Tapi, pria yang menggerutunya bukanlah pria biasa. Ia takut dipecat.     "Pergilah!" perintah ibu Aditya. Suster itu pun meninggalkan ruangan dengan hati yang masih belum tenang.     Aditya terus memandangi box bayi itu. Sesekali ia mengelus pipi putrinya sambil kepalanya menyandar pada tiang pengaman box.     "Tidurlah, Baby, and sweet dreams!" ujar Aditya.     "Kau berlebihan, Aditya. Seharusnya kau tidak memarahi suster itu. Kau tahu, saat kau kecil, kau selalu tidur sambil berputar. Entah bagaimana posisi dan gaya tidurmu, yang jelas bantal, guling, serta selimut sudah jatuh ke lantai," kekeh ibu Aditya. Dalam hati ia merasa bangga, karena putranya sangat peduli dengan cucunya. "Chloe sangat mirip denganmu," celetuknya.     "Jangan panggil Baby dengan sebutan itu. Aku tidak suka," ujar Aditya kesal. "Aku tidak berlebihan. Jika aku tidak segera datang, Baby mungkin sudah kehabisan napas, karena lehernya terbelit selang infus," tambahnya menjelaskan. Ya, saat Aditya menghampiri box bayinya, malaikat kecil itu sedang tidur dengan posisi menyamping dengan satu tangannya yang menutup wajahnya dan tangan lainnya menekuk di sebelah telinga. Namun entah bagaimana, selang infus itu membelit leher sang malaikat kecil hingga darah ikut masuk kedalam selang infus.     Dengan hati-hati jemari tangan Aditya membalikkan posisi malaikat kecil itu hingga terlentang sambil mengangkat kepalanya agar selang infus yang membelitnya terlepas. Geliatan yang dilakukan malaikat kecil itu membuatnya kesulitan. Sesekali ia ingin tertawa saat memikirkan bagaimana malaikat kecil itu bisa tidur dengan gaya seperti itu.     "Baiklah, baiklah. Rasa kebapakanmu sepertinya sudah ada," kekeh ibu Aditya. Dari wajahnya sudah kembali menampakkan wajah malaikat, yang jelas bukan malaikat pencabut nyawa seperti tadi. "Bukankah namanya Chloe? Kalau Ibu tidak boleh memanggilnya dengan sebutan itu, lalu apa? Kita tidak bisa memanggilnya dengan sebutan baby, ‘kan? Dia harus punya nama," tambahnya ketika teringat akan ucapan Aditya tadi.     Mulut Aditya tak mengeluarkan sepatah kata pun, sedangkan manik mata abunya terus saja memerhatikan malaikat kecil yang sedang tertidur lelap. "Dia cantik, wajahnya putih, pipinya merah, begitu juga dengan bibirnya yang seperti warna apel. Tapi, aku tidak mungkin memberikannya nama Snow White. Lagi pula, rambutnya tidak hitam seperti gagak. Rambutnya hitam, tapi ada yang sedikit coklat keemasan," ujarnya yang masih menatap lekat sang bayi sambil sesekali mengelus rambut, dahi dan pipi malaikat kecil itu.     Ibu Aditya terkekeh mendengar jawaban sang anak. Bagaimana bisa kata Snow White terlintas dari seorang Aditya?     "Humaira. Sekarang namanya Humaira," ujar ibu Aditya tersenyum. "Kau bilang pipinya merah, bukan? Humaira artinya yang kemerah-merahan. Kau suka dengan nama itu?" tanyanya.     Aditya mengangguk kecil sebagai jawaban. "Tapi nama itu panjang sekali. Kalau begitu, nama kecilnya kita panggil saja Aira," usulnya sambil menatap sang ibu. Dilihatnya sang ibu hanya mengangguk tersenyum. Pria itu kemudian kembali memandangi wajah bayi yang kini dipanggil Aira. "Hai, Aira. Lekas sembuh, Sayang!"     Sayang, putriku, panggilan-panggilan itu begitu saja terucap dari mulut Aditya. Mulut yang dari kemarin-kemarin tidak mengakui sang bayi. Melihat pemandangan yang menyejukan itu hati ibu Aditya terasa damai. Ia senang, karena putranya mau bersikap dewasa. Kini ia hanya menunggu dan memberi pengertian akan hadirnya anggota baru kepada suaminya.     "Pergilah! Cari ibu Aira sampai dapat. Aira sangat membutuhkan ibunya. Sakitnya bukan hanya karena ia terjatuh, melainkan ia tidak minum ASI dari ibunya. Aira sudah nyaman dan terbiasa dengan ASI sang ibu, sehingga ia menolak s**u formula," perintah ibu Aditya. "Tenanglah, Ibu akan menjaga Aira," tambahnya.     Mendengar ucapan sang ibu membuat hati Aditya terasa mendapat tamparan telak. Ibunya mengingatkannya dengan wanita yang benar-benar tidak ingin ia nikahi. Tak hanya itu, kepalanya seketika menjadi pusing saat ibunya mengatakan Aira terbiasa dengan ASI sang ibu. Wanita seperti apa ibu Aira itu? Kalau ia membenci Aira, kenapa ia harus menyusui Aira? Kenapa ia membiarkan bayi itu lahir di dunia ini? Mengapa pula wanita itu baru membuang Aira di saat usianya sudah enam bulan? Apa maksud dari wanita itu? Sebenarnya, apakah ia membenci dan tidak menginginkan Aira, atau apa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.     "Baiklah, aku pergi dulu," ujar Aditya bangun dari pikirannya. Ia kemudian kembali ke Indonesia dengan pesawat jet pribadinya.     ***     "Kau dari mana saja?" tanya seorang pria yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kendatipun pria itu masih sakit, tapi matanya masih mampu menatap tajam.     "A—aku tadi habis mengantar Adit pulang. Ia masih banyak pekerjaan," jawab ibu Aditya dengan sedikit terbata-bata.     "Bukankah, kau habis menemui cucumu?" tanya pria itu yang tak lain adalah ayah Aditya. Ibu Aditya hanya bisa diam mematung. "Jangan coba menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak pernah suka itu. Sekarang di mana bayi itu?!" tambahnya dengan nada lantang.     "Aku bisa jelaskan semuanya. Sekarang, kau sebaiknya istirahat," jawab ibu Aditya seraya mendekati suaminya, lalu mengelus d**a suaminya—mencoba menenangkan. Kondisi suaminya saat ini belum sembuh benar. Ia takut suaminya shock akan kehadiran Aira.     "Bawa aku menemuinya!" perintah ayah Aditya sambil mencoba berdiri.     "Tapi, kondisimu belum pulih benar," sanggah ibu Aditya. Kekhawatiran dan rasa takut mulai melandanya.     "Bawa aku! Kau tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja," balas ayah Aditya memaksa.     Ibu Aditya akhirnya pasrah. Dengan bantuan sang suster, suster itu membawa ayah Aditya dengan kursi roda menuju kamar di mana Aira dirawat.     Ayah Aditya berdiri dan melangkah menuju box Aira. Tangan pria paruh baya itu mengelus dahi Aira sambil tersenyum. Merasakan perlakuan lembut dari sang kakek, netra abu-abu nan indah malaikat kecil itu terbuka. Tak hanya itu, seulas senyum mengembang dari bibir kecilnya, membuat orang yang melihatnya sangat damai.     "Dia perempuan?" tanya ayah Aditya yang kini sudah menimang sang cucu dalam gendongannya.     "Ya. Namanya Aira," jawab ibu Aditya yang masih diselimuti penuh kekhawatiran. Takut suaminya meledak marah pada Aditya, takut tidak bisa menerima Aira, dan takut terkena serangan jantung.     "Hai, Aira. Kau sangat cantik sekali. Apa kau mirip dengan ibumu? Di mana ibumu, Sayang?" tanya ayah Aditya sambil memegang jemari tangan mungil Aira. Sementara itu sang cucu hanya tersenyum dan membalas dengan bahasa planetnya pada sang kakek dengan penuh antusias. Namun tetap saja, tidak ada yang mampu memahami apa yang dia katakan.     "Kau tidak marah pada Aira?" tanya ibu Aditya memberanikan diri.     "Tentu saja tidak. Aku malah senang. Anak ini pasti akan mengubah Aditya menjadi pria dewasa yang lebih baik. Tapi, di mana ibunya?" jawab ayah Aditya sambil menatap wajah sang istri.     Tubuh ibu Aditya sedikit menegang. "Aku tidak tahu. Aditya sedang mencarinya," jawabnya.     "Aku tidak menyangka anak itu bisa berbuat memalukan seperti ini. Tapi, aku tidak akan pernah malu menerima Aira," ujar ayah Aditya sambil menimang-nimang cucunya dengan penuh kasih sayang hingga Aira tertawa lepas.     "Sudah, hentikan! Aira masih harus istirahat. Kau juga harus istirahat. Nanti setelah kalian berdua pulih, kalian bisa bermain sepuasnya," pinta ibu Aditya. Akhirnya ayah Aditya meletakkan kembali Aira di box bayinya.     Alih-alih takut kondisi ayah Aditya memburuk, justru kehadiran Aira seperti memberikan semangat sekaligus obat, membuat ibu Aditya mengelus d**a lega. Apa karena bayi itu berjenis kelamin perempuan? Cucu yang diidam-idamkan ayah Aditya selama ini mengingat sampai detik ini ketiga anaknya yang telah menikah hanya memberikan dirinya cucu laki-laki.     ***     Sementara itu di sisi lain, Aditya terlihat sudah sampai di Indonesia. Ia kemudian meminta pengurus real estate tempat tinggalnya memutar CCTV sesuai waktu di mana Aira diletakkan.     "s**t! Kenapa hasilnya seperti ini?" geram Aditya kesal. "Apakah ada yang membayar kalian untuk menghilangkan rekaman itu?" tanyanya ketika melihat hasil rekaman yang ternyata sudah kehilangan potongan rekaman di mana menit-menit Aira diletakkan. Bahkan beberapa jam sebelumnya. Tak ada tanda-tanda orang seperti di rekaman Aditya yang masuk ke kawasan real estate hingga rumahnya. Ibu Aira pasti sudah memperkirakan hal ini sebelumnya.     "Tidak, Tuan. Kami tidak akan pernah mau disogok untuk menghilangkan rekaman ini. Mungkin ada yang sengaja meretasnya," elak petugas CCTV itu membela diri.     Kali ini Aditya benar-benar naik pitam memikirkan apa yang ibu Aira inginkan. Melihat rekaman itu hilang, pasti wanita itu bukan wanita sembarangan. Namun, satu hal yang pasti, wanita itu benar-benar ingin menyerahkan Aira begitu saja. Tanpa adanya permintaan pertanggungjawaban, harta atau apa pun itu. Wanita itu hanya ingin menghukum pria itu dengan kehadiran putrinya. Hmm, benarkah?     Aditya mendengus kesal, ia kemudian kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, tanpa ba-bi-bu pria itu membanting segala barang yang ada dan meremas rambutnya.     "Akan aku temukan dan pastikan kau menyesal, wanita jalang! Kau tidak bisa membiarkanku terjebak dengan setan kecil itu. Tidak ... tidak akan pernah!" gerutu Aditya. Kali ini ia menendang kursi meja makan hingga terjungkir.     Aditya benar-benar frustasi. Tadinya ia berharap menemukan wanita itu, menikahinya sesuai keinginan sang ibu, menyerahkan Aira kembali kepada ibunya, membuat kesepakatan pernikahan selama satu tahun, atau jika wanita itu tidak setuju dengan pernikahan itu Aditya akan menawarkan mengurus Aira bersama-sama bergantian.     Aditya hanya ingin Aira hidup tenang bersama ibunya dan tidak mengganggu hidupnya. Pria itu rela mengeluarkan uangnya agar ia tidak terjebak dan harus mengurus malaikat kecil itu. Tapi, apa yang ia dapat? Semua rencana itu sepertinya takkan pernah terrealisasi.     "Sia-sia saja tadi aku bersikap baik padamu di depan ibuku. Seharusnya terjatuh dari tempat tidur tak hanya membuatmu sakit, tapi juga membuatmu pergi dari dunia ini selamanya. Aku menolongmu dari kesulitan bernapas, tapi kau membalas dengan membuatku tak bisa bernapas. Kau setan kecil, Aira. Aku membencimu. Seharusnya aku tidak memberikan kesempatan hidup tenang bersama ibumu. Seharusnya kau hidup tenang di akhirat sana!!!" teriak Aditya membabi buta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD