Chua: Halo! Apa Kabar? "Betah banget di sini." Sindiran Lakka berhasil memecahkan kosentrasi gue yang sedang mengetik. Laki-laki itu meletakkan secangkir cokelat panas ke atas meja dan duduk tepat di belakang gue. "Sebentar lagi," sahut gue. "Setiap hari jawabannya selalu gitu." Gue tertawa kecil mendengar suara Lakka di telinga gue. Nggak mau kalah sama Nae, Lakka selalu protes setiap kali gue sibuk menulis untuk persiapan novel baru. Biarpun udah jadi ibu rumah tangga. Sibuk mengurus anak dan suami, serta toko roti yang gue rintis berdua sama Lomi semenjak tiga tahun lalu, gue tetap menjalankan profesi menulia gue. Sejak awal gue emang penulis. Gue suka menulis. Menulis dan gue nggak bisa dipisahkan dari dulu. Ya walaupun cuma bisa menerbitkan satu judul dalam setahun, gue te

