Setelah sekali lagi memamerkan satu senyum kepuasan akibat keberhasilan rencananya, Derry segera mengambil tempat kosong di sebelah Karin. "Jalan, Pak!" perintah Derry kemudian, dengan tampang yang seakan sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Gue tau aksi gue tadi keren banget, tapi ya nggak usah ngeliatain gue sampe segitunya juga kali, Rin!" kata Derry dengan pedenya. Taksi yang mereka naiki saat itu telah kembali berjalan normal, namun Karin masih juga terbengong-bengong memandangi Derry yang duduk di sebelahnya.
Karin yang seakan baru sadar bahwa tindakannya tadi betul-betul b**o kontan memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Kini dirinya benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa pada cowok paling nekat sekaligus paling b******k di hidupnya itu.
"Jujur aja, Rin... lo belum pernah diginiin sama cowok kan?" tanya Derry santai. "Gue cowok pertama kan yang nekat ngejar-ngejar lo sampe kayak tadi?" tambahnya sambil cengar-cengir nggak jelas.
Karin bukannya tak mendengar ucapan Derry tadi, tapi ia lebih memilih diam. Walaupun pada kenyataannya semua yang dikatakan Derry itu benar, namun ia lebih memilih untuk tak meladeni cowok sumber penderitaan hidupnya itu.
Masih dengan bibir yang terkatup rapat, Karin menatap gelapnya jalanan di balik kaca taksi yang dinaikinya. Terserah apa yang akan dilakukan Derry selanjutnya, yang jelas ia bertekad untuk takkan membuka mulut hingga sampai di rumah dan turun dari taksi s****n itu.
Dan Karin memang membuktikan tekadnya itu hingga taksi berhenti di depan pagar rumahnya. Sepanjang perjalanan Derry terus mengoceh, mengajaknya bicara, menggertak bahkan juga sempat mengancamnya seperti biasa, namun Karin sama sekali tak mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya yang terus menerus terkatup rapat.
Ia bahkan sama sekali tak memandang cowok itu kecuali saat Derry memaksanya untuk duduk menghadap dirinya dengan menyentuh dagu Karin dan memutarnya agar wajah cewek yang selalu tertuju pada kaca jendela mobil itu dapat sejenak beralih kepadanya.
Dan kejadian itu benar-benar berlangsung hanya sesaat. Ketika kemudian Derry melepaskan tangannya dari dagu Karin, cewek itu buru-buru kembali membuang mukanya dari cowok b******k namun sangat populer di sekolahnya itu.
Kini taksi yang dinaiki Karin sudah benar-benar berhenti, dan ia pun segera turun. Tanpa melirik Derry sekali pun, tanpa bertanya berapa tarif yang harus ia bayar, Karin membuka dompet dan menyerahkan tiga lembar uang lima puluh ribuan pada si supir taksi yang terus diam tanpa ingin mencampuri urusan mereka.
"Rin... gue udah bela-belain nganterin lo sampe rumah lho, Rin... gue juga udah tinggalin mobil kesayangan gue di jalan gitu aja cuma buat lo lho, Rin... lo nggak mau bilang terima kasih atau apa dulu kek gitu ke gue, Rin?" tanya Derry yang tiba-tiba jadi terkesan cerewet dan makin menyebalkan.
"Gue nggak pernah minta lo buat ngelakuin itu!" desis Karin tajam sambil sesaat menatap Derry yang masih duduk manis di dalam taksi.
"Yaelah, lo jangan ngambek mulu dong, Rin! Emang gue sejahat itu ya di mata lo?" tanya Derry lagi. Entah mengapa Karin kini merasa cowok itu jadi agak berbeda.
Saat ini Derry bukan lagi cowok songong dan sok berkuasa, tapi lebih ke Derry yang sok asik dan sok akrab pada dirinya.
Apa mungkin Derry merasa bersalah karena telah bertingkah keterlaluan terhadapnya? Namun Karin buru-buru mengenyahkan dugaan itu dari pikirannya setelah sadar bahwa dugaan-dugaan itu hanya semakin memperlambat dirinya masuk ke dalam rumah.
Tanpa menunda lagi, Karin segera pergi menjauhi Derry dan taksi yang dinaikinya. Dibuka dan ditutupnya kembali gerbang setinggi d**a itu sendiri hanya dalam hitungan detik, dan Karin pun kini menjejakkan kakinya di petak-petak paving block halaman rumahnya yang tampak sepi.
Segera diketuknya salah satu sisi dari pintu ganda bagian depan rumahnya, dan seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan berjuta amarah tersimpan di balik wajah keibuannya.
Derry menyaksikan itu semua dalam diam. Setelah berusaha mati-matian menyembunyikan perasaan dan bersikap senormal mungkin di hadapan Karin, kini tiba saatnya bagi cowok itu untuk mengakhiri sandiwaranya. Untuk bebas mengeluarkan tampang iba dan prihatinnya tanpa perlu disembunyikan dari Karin. Untuk bebas menatap lekat-lekat cewek itu tanpa takut akan dipergokinya.
Dan kini saat samar-samar didengarnya suara wanita tadi berteriak dan membentak-bentak Karin, ingin sekali rasanya Derry menghampirinya. Berdiri di tengah-tengah mereka dan mengklarifikasi semuanya. Mengatakan dengan lantang bahwa semua ini bukan salah Karin melainkan salahnya.
Dialah yang telah membuat Karin pulang hingga larut malam seperti ini. Dialah yang telah membuat Karin pulang dengan keadaan kaki bengkak dan mandi keringat. Bahkan dia pula penyebab Karin menangis sesenggukan yang meskipun kini air mata itu telah sepenuhnya hilang tapi tetap meninggalkan bekas berupa luka hati yang mendalam.
Namun walaupun hal itu yang paling diinginkannya sekarang, Derry sadar betul itu sangat tidak mungkin dilakukan.
"Kita ke mana sekarang, Mas?" tanya supir taksi tiba-tiba.
Derry tak merespon. Ia tertegun memandangi Karin yang masih terus tertunduk menerima segala macam bentuk kemarahan mamanya.
"Mas?" panggil supir taksi yang membutuhkan jawaban pasti. Bahkan kini ia tolehkan kepalanya ke belakang untuk dapat melihat langsung wajah tampan penumpangnya itu.
"Tunggu bentar, Pak..." ujar Derry tanpa mengalihkan pandangannya dari Karin yang saat itu mulai melangkah masuk diikuti sang mama yang menutup pintu rapat-rapat, lalu kembali terdengar di telinga Derry bentakan demi bentakan yang ditujukan wanita itu pada putrinya.
Derry masih tetap bergeming di posisinya, dan bapak supir taksi pun masih diam menunggu dirinya memberikan perintah. Pria bertopi itu sepertinya tak tahu bahwa perintah itu mungkin takkan keluar dalam waktu dekat, sebab Derry masih fokus memandangi rumah itu dengan konsentrasi penuh.
Walaupun Karin telah sepenuhnya menghilang dari pandangannya, namun Derry tetap tak ingin pergi begitu saja. Terlebih lagi saat dilihatnya siluet tubuh cewek dari balik jendela lantai atas milik sebuah kamar yang lampunya baru saja menyala.
Bentakan-bentakan mama Karin yang membuat sakit telinga sudah mulai tak terdengar, hingga kini Derry dapat memfokuskan diri sepenuhnya pada siluet hitam cewek di lantai atas itu.
Siluet hitam yang diyakininya sebagai bayangan yang tercipta dari tubuh Karin yang diterpa cahaya lampu kamarnya. Siluet cewek bertubuh tinggi semampai yang kini tampak tengah menggulung rambut panjangnya di puncak kepala, lalu berjalan menjauh sambil membuka kancing-kancing teratas bajunya.
Detik berikutnya, siluet itu pun menghilang dari jendela berlapis sehelai kain yang warna dasarnya tersamarkan oleh terangnya lampu di dalam ruangan. Derry masih tak berkutik di dalam taksi yang mesinnya masih menyala, karena dirinya yakin betul bahwa siluet itu pasti akan kembali.
Derry menunggu sambil menebak-nebak ke mana perginya Karin saat ini atau apa yang mungkin akan dilakukannya malam-malam begini. Sesekali Derry mengalihkan pandangannya ke jendela-jendela lain di rumah itu.
Namun saat tak ada pergerakan apa pun dari semua jendela pengalih perhatiannya, pada akhirnya fokus Derry kembali pada sisi timur lantai atas tadi.
"Bapak tidur dulu aja nggak papa, kayaknya saya bakalan lama di sini," ucap Derry pada si supir taksi. "Tenang aja Pak, saya akan bayar berapa pun yang Bapak minta," tambahnya.
Si supir taksi kembali menoleh ke belakang, namun saat dilihatnya Derry masih mendongakkan kepala, fokus pada lantai dua rumah bernomor 42, pria itu hanya mengangguk patuh seraya menjawab, "Siap, Mas!"
Benar saja, setelah lebih dari sepuluh menit Derry setia memandangi kekosongan di balik jendela kamar Karin, akhirnya siluet cewek itu kembali hadir dengan tampilan berbeda.
Rok selututnya telah berganti dengan celana panjang yang membuat Derry tahu bahwa cewek itu mungkin baru saja mandi dan mengganti bajunya.
Dilihatnya siluet Karin melangkah pelan menghampiri sebuah kursi dan duduk di sana. Namun bayangan hitam itu kini jadi berada di pinggir jendela hingga Derry hanya dapat melihat sebagian saja, sementara sebagian yang lain hilang tertutup tembok.
Cukup lama Karin terdiam di sana, hingga perlahan Derry melihat pundaknya mulai berguncang. Mungkinkah Karin sedang tertawa bahagia, atau malah sebaliknya?
Pertanyaan dalam benak Derry itu terjawab saat kemudian siluet itu kembali berdiri dengan satu tangan yang mengusap pipinya. Ia berjalan beberapa langkah ke depan, lalu mengulurkan tangan dan dalam sekejap siluet itu menghilang seiring gelapnya ruangan.
Lampu kamar Karin telah dimatikan, dan saat Derry melirik jam tangan mewahnya, dapat diketahuinya bahwa saat itu waktu telah menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat. Sudah hampir tengah malam, namun Derry rasanya enggan untuk pulang.
Dia seakan masih ingin berlama-lama di sana, memperhatikan betapa gelap dan sunyinya ruangan di sisi timur lantai atas rumah itu. Ruangan yang menyimpan seorang gadis berwajah bidadari yang harus terus terluka dan menderita. Ruangan tempat di mana gadis itu tengah berusaha terlelap menyambut mimpi indah agar semua masalahnya dapat terlupakan walau hanya sekejap saja. Ruangan milik adik dari musuh di masa lalunya namun kini tak kuasa untuk dicemaskannya.
Ya, Derry mencemaskan keadaannya. Keadaan cewek bernama lengkap Karin Ayudya Putri Nugraha yang sebenarnya telah menarik perhatian Derry dari awal cowok itu melihatnya dari posisi yang saat ini persis sama.
Namun setelah semua kekejaman dan siksaan yang telah diperbuatnya, masih pantaskah Derry berharap agar cewek itu baik-baik saja? Setelah semua luka dan derita yang disebabkannya, masih pantaskah Derry berharap agar cewek itu dapat terus bertahan dalam menghadapinya?
Derry menghela napas berat, masih terus memandangi kamar Karin yang telah gelap gulita. "Selamat tidur, Rin! Semoga nggak ada gue di mimpi lo..." bisik Derry dengan perasaan miris, karena ia tahu walau di alam mimpi Karin pun dirinya pasti hanya akan membawa luka dan penderitaan bagi cewek itu.
***
Teamnya Derry, semangatin si ganteng dongs!
Teamnya Karin gimana? Setuju aku bikin Derry jadi ngerasa bersalah gitu?
Btw, ada yang punya saran nggak buat Derry biar Karin nggak marah lagi?
Comment ya guys :)
Makasih udah baca, semoga kalian tetap suka dan masih mau nungguin kelanjutannya
So guys, SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤❤