Telah lewat jam sepuluh malam ketika akhirnya Karin diizinkan untuk mengganti seragam ala pelayannya dan dibolehkan untuk keluar dari kafe tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Nada yang menakjubkan.
Dan di sanalah kini Karin berada. Melangkah gontai menyusuri jalan di depan kafe yang telah sepi dengan mengenakan seragam putih abu-abu lusuhnya.
Dalam setiap langkah yang ditempuhnya, mati-matian Karin berusaha untuk menahan tangisnya. Ia sadar betapa menyedihkannya kondisinya saat ini.
Tanpa ponsel, tanpa uang, tanpa teman, dirinya harus berjuang menembus kegelapan malam untuk segera sampai di rumah. Belum lagi ketika sampai di rumah, entah alasan apa yang akan diberikannya pada sang mama atas kepulangannya yang mencapai larut malam seperti ini.
Setetes air mata akhirnya mengaliri pipi mulus Karin. Emosi yang telah tak terbendung dalam dirinya itu kini tercurah melalui kristal-kristal bening yang keluar dari pelupuk matanya. Karin tak tahan lagi untuk pura-pura tegar sementara kehidupan begitu kejam terhadapnya.
Dan kini Karin benar-benar tak peduli. Tak peduli berapa lama lagi ia harus berjalan, tak peduli akan gelapnya malam yang begitu mencekam. Bahkan ia pun tak peduli pada kendaraan yang sesekali lewat atau beberapa orang yang memandangnya penuh rasa penasaran.
Karin terduduk di trotoar jalan sambil sesenggukan. Kakinya terasa pegal, seluruh tubuhnya terasa lengket oleh peluh dan keringat, sementara pikirannya terlalu kacau hingga tak dapat mengenali sebuah mobil hitam mengilat yang tiba-tiba berhenti di hadapannya.
Derry yang berada di balik kemudi mobil itu tampak memandangi Karin dengan penuh kebimbangan. Tanpa sepengetahuan Karin, sebenarnya Derry telah diam-diam mengikutinya sejak cewek itu keluar dari halaman kafe beberapa menit yang lalu. Tanpa sepengetahuan Karin pula, Derry sebenarnya tak langsung pulang begitu pesta usai dan memilih untuk menunggu cewek itu keluar.
Jelas saja Derry tak ingin melewatkan saat-saat Karin keluar dari kafe dengan wajah kucel dan penampilannya yang bahkan hanya sedikit lebih baik dari gembel di jalanan. Tentu saja Derry juga ingin menyaksikan sendiri puncak keberhasilannya dalam membuat cewek itu menderita.
Namun siapa sangka, ternyata bukan kebahagiaan yang didapat Derry begitu melihat Karin melangkah gontai menyusuri trotoar jalan. Bukan pula kepuasan yang dirasakannya ketika mendapati cewek itu terduduk sendirian sambil sesenggukan di pinggir jalan.
Derry kini sepenuhnya bimbang dalam memahami dirinya sendiri. Di satu sisi ia ingin melanjutkan rencananya untuk meninggalkan Karin dan membiarkan cewek itu semakin menderita dengan pulang sendirian, namun di sisi lain yang ternyata lebih kuat dan mendesak, Derry ingin sekali keluar dan menarik cewek itu masuk ke dalam mobilnya. Memaksanya untuk pulang bersama seperti hari-hari sebelumnya. Dan itulah yang pada akhirnya Derry lakukan.
Dengan cepat Derry keluar dari mobilnya dan menghampiri Karin yang terduduk pilu sambil sesekali memijat kakinya yang agak bengkak.
Tampaknya cewek itu masih belum menyadari kehadiran Derry di sisinya. Dan tanpa berkata apa-apa, Derry lantas menarik satu lengan Karin seakan berusaha membantu cewek itu untuk berdiri.
Karin terlonjak mendapati seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya. Ia kontan mendongak dan samar-samar melihat Derry yang juga tengah menatapnya.
Cepat-cepat Karin menghapus air mata di pipinya dan berdiri dengan bantuan Derry. Untuk beberapa saat mereka berdua hanya saling tatap. Karin menatap Derry dengan penuh kebencian dan rasa lelah, sementara tatapan Derry benar-benar tak terbaca.
Sekuat tenaga Karin berusaha melepaskan satu lengannya dari cengkeraman Derry. Cewek itu lalu mengalihkan pandangannya ke mobil Derry yang otomatis mengakhiri aksi tatap-menatap di antara mereka.
Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, Karin melangkah menghampiri pintu depan mobil yang deru mesinnya masih terdengar itu. Dibukanya pintu itu segera, diraihnya tas kotak-kotak yang ternyata masih aman di tempat terakhir kali Karin meninggalkannya, lalu kembali dibantingnya pintu mobil Derry itu keras-keras.
Derry hanya menyaksikan itu dalam diam. Terus diperhatikannya mata Karin yang memerah dan memancarkan kebencian sekaligus penderitaan, wajah kusutnya yang dipenuhi bekas air mata, serta bibirnya yang terus terkatup rapat tanpa ada senyuman di sana.
Derry masih tetap diam hingga Karin kembali menatapnya sejenak, dan pergi meninggalkannya dengan membawa serta tas sekolah miliknya.
Derry mencegat kepergian Karin itu dengan kembali mencekal lengannya sebelum cewek itu benar-benar menjauh. "Biar gue antar pulang!" ujar Derry tanpa ekspresi.
"Gue bisa pulang sendiri!" sahut Karin, pelan tapi penuh emosi.
"Gue nggak bakal biarin lo pulang sendiri malam-malam begini," balas Derry sambil menatap tajam kedua bola mata Karin.
Karin membalasnya dengan sorot mata berapi-api. "Lo mau apa lagi sih? Belum puas lo sama semua ini?" tanya Karin semakin emosi.
Ia bahkan kini mulai meronta-ronta dengan air mata yang kembali mengalir perlahan. "Gue udah lakuin semua yang lo suruh! Gue udah turutin semua yang lo minta! Apa lagi sekarang?" tanyanya frustasi. Tangisan putus asa Karin pun kini terdengar jelas di sepasang telinga milik Derry.
Entah apa yang ada di pikiran Derry saat itu, namun ia malah menarik Karin dalam dekapannya. Entah ingin berusaha menenangkannya atau hanya berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada, yang jelas Derry kini menempelkan kepala Karin di dadanya. Membiarkan tangis serta air mata Karin luruh di sana, membiarkan setiap isakan cewek itu menyatu dengan degup jantungnya.
Aroma parfum Derry yang maskulin seketika tercium oleh hidung Karin ketika tiba-tiba cowok itu menariknya dalam dekap hangatnya. Untuk beberapa saat, Karin tak bereaksi apa-apa. Hati dan pikirannya kini benar-benar kacau, hingga saat Derry merengkuh pelan kepala Karin ke dadanya pun terasa wajar-wajar saja.
Masih diiringi sedu sedannya, samar-samar Karin mendengar Derry berucap, "Udah pernah gue bilang kalo gue bayar lo dengan nganter jemput lo ke sekolah. Jadi untuk sekarang... biarin gue yang nganterin lo pulang!"
Responnya, Karin malah menjauhkan kepalanya dari d**a bidang Derry yang terbalut kemeja peach lengan pendeknya. Ditatapnya cowok itu dengan pandangan tak percaya.
Ternyata Derry bersikeras mengantarkannya pulang hanya sebagai bayaran dari sikap patuhnya seharian ini, bukan karena cowok itu peduli atau takut terjadi apa-apa terhadap dirinya.
Setetes air mata kembali jatuh di pipi Karin yang masih menatap nanar Derry. Segera saja Karin menghapusnya dengan satu tangannya, sadar ia tak perlu membuang air mata berharganya hanya untuk cowok biadab di depannya ini.
"Jadi lo pilih masuk mobil gue, atau gue pastiin besok pagi lo bakal jadi pusat perhatian di sekolah!" Kembali terdengar suara Derry dengan tampang songong yang juga telah ikut kembali. Sikap serta ucapan Derry kali ini mengingatkan Karin akan saat-saat pertama kali cowok itu menggertaknya sekitar seminggu yang lalu.
Karin tak dapat berkata apa-apa. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Derry. Bahkan setelah Karin berada di puncak penderitaannya, cowok itu seakan tak membiarkannya untuk lepas dan beristirahat barang sejenak saja.
"Terserah apa kata lo! Gue nggak bakal mau nurut lagi sama lo!" ucap Karin lirih, lalu melanjutkan langkahnya menjauh dari Derry yang sempat tertunda beberapa saat.
Dengan sedikit berlari, Karin menyusuri trotoar jalan yang berpenarangan lampu kuning tinggi di atas kepalanya. Ia terus berlari lurus-lurus, tanpa pernah menoleh ke belakang. Entah dengan cara apa ia akan pulang ke rumah, yang jelas dia hanya ingin lepas dari jangkauan Derry secepatnya.
Derry sendiri segera masuk ke dalam mobilnya. Diinjaknya pedal gas kuat-kuat, dan kendaraan itu pun berjalan searah dengan langkah yang ditempuh Karin.
Derry menekan klakson saat telah berhasil menyejajari Karin, namun sama sekali tak ada respon dari cewek itu. Dengan kepala tertunduk, Karin masih terus melangkah cepat menggunakan kedua kaki jenjangnya yang agak bengkak akibat mondar-mandir ke sana ke mari seharian ini.
Derry kembali menekan klaksonnya lama hingga menghasilkan bunyi memanjang yang memekakkan telinga siapa saja, namun Karin tetap tak berhenti.
Derry terus menjalankan mobilnya lambat-lambat agar tetap bersisian dengan cewek itu, hingga akhirnya Karin berhenti dan berbalik arah untuk kembali menyusuri trotoar yang tadi telah dilaluinya.
Derry yang membawa mobil, tentu tak semudah itu berbalik arah dan memutar balik kendaraannya. Hingga ia putuskan untuk keluar dan mengejar cewek itu dengan berlari. Entah mengapa sepertinya kali ini Derry benar-benar takkan membiarkan cewek itu pulang sendirian.
Namun baru saja Derry menutup pintu mobilnya dengan bantingan, dilihatnya Karin malah masuk ke dalam sebuah taksi yang berhenti sekitar sepuluh meter di belakangnya.
Belum sempat Derry menghampiri taksi itu, kendaraan roda empat yang kini mengangkut Karin itu malah lebih dulu menyalip mobilnya, meninggalkan dirinya yang masih terdiam dan tak henti memperhatikannya.
Setelah satu kata paling kasar dalam bahasa Indonesia terlontar keras dari mulutnya, buru-buru Derry memasuki kembali mobilnya dan dikejarnya taksi itu dengan kecepatan penuh.
Bagi Derry yang sudah biasa kebut-kebutan di jalan, tentu bukanlah hal sulit untuk menghalangi laju taksi yang dinaiki Karin itu. Hingga hanya dalam waktu kurang dari lima menit, Derry berhasil memepet dan membuat mobil itu terdesak di antara trotoar dan body mobil hitam Derry. Sudah dapat dipastikan taksi itu pun berhenti sesuai dengan yang diinginkan cowok itu.
Saat itu Derry dengan cepat membawa mobilnya maju beberapa meter dan memarkirnya sembarangan tepat di depan taksi itu. Dengan cepat pula ia keluar dan mengunci mobil kebanggannya itu.
Ia lantas menghampiri taksi Karin yang dikemudikan oleh seorang bapak-bapak yang masih diam terpana akan kejadian yang barusan dialaminya. Segera Derry membuka pintu belakang kemudi tanpa permisi, lalu didapatinya Karin tak berkedip memandanginya.
***
Again, chapter ini aku bagi 2 ya, so pertengkaran Karin & Derry masih bakal berlanjut di chapter berikutnya.
Sabar gengs, sabar... Orang sabar disayang pacar
*Cielah, kayak pada punya pacar aja
Oh ya, makasih udah baca sampe sejauh ini... semoga kalian makin suka ❤❤❤
Sorry kalo gagal bikin baper, aku mah emang ga jago ngebaperin orang. Jagonya malah dibaperin sama dia *eh?
Ya udahlah ya, pokoknya SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤