"Hai guys, selamat malam..." suara cewek paling pendek di antara mereka mulai menyapa teman-teman Nada yang hadir di pestanya. Cewek yang dikenal bernama Audrey itu memiliki senyum hangat serta tampang bersahabat.
"Sebelumnya gue mau ngucapin happy birthday dulu buat sepupunya sahabat gue, cewek paling cantik yang berdiri di sana..." timpal Cantika, cewek lain yang ikut berdiri di atas panggung dan kini tangan serta arah pandangan matanya tertuju pada Nada yang tak jauh dari tempat kue ulang tahunnya berada. "Happy birthday, Nad! Wish you all the best..." lanjutnya yang tampak tulus dari hati.
"Yap! Semoga selalu bahagia," sahut Gamal, satu-satunya cowok di antara mereka bertiga. "Sama seperti lagu yang akan kita bawakan buat kalian semua, BAHAGIA!"
Sorak sorai kembali terdengar dari teman-teman Nada yang tanpa sadar kian merangsek maju mendekat ke panggung berornamen bunga-bunga warna pastel itu. Kini lagu dengan judul Bahagia itu pun mulai mengalun langsung dari penyanyi aslinya.
Alunan musik serta nyanyian merdu yang terdengar di setiap sudut kafe semakin memanjakan mata dan telinga para tamu undangan. Sungguh tak ada satu pun dari mereka yang menyesal telah datang ke pesta ulang tahun Nada malam ini.
Namun sayangnya kehadiran GAC di pesta itu tidaklah lama. Setelah membawakan tiga lagu berturut-turut, ketiganya harus segera pergi meninggalkan pesta Nada yang disambut koor kecewa teman-teman Nada yang ternyata sangat mengidolakan mereka. Pesta pun berlanjut pada acara peniupan lilin serta pemotongan kue yang tak pernah terlewat dalam setiap perayaan ulang tahun.
Dengan disaksikan lebih dari seratus teman yang diundang, Nada mulai membuat harapan dan segera meniup lilin yang terpasang di atas kue bertingkatnya. Tepuk tangan bergemuruh menyambutnya, dan Nada pun mulai memotong kue ulang tahunnya dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
Sementara itu pada salah satu meja di sisi timur kafe, Derry beserta teman-teman cowoknya sibuk membicarakan pesta meriah Nada tanpa benar-benar memperhatikan prosesi pemotongan kue yang sedang dilakukan cewek itu di depan sana.
"Lo nggak ke sana, Derr? Kali aja dapet potongan kue pertama..." celetuk Rama yang duduk tepat di samping Derry.
"Ogah ah!" Derry menggeleng malas. Dan sebelum Rama sempat menanyakan alasan akan penolakannya, cowok itu buru-buru beralih ke Gara yang duduk di seberang meja. "Lo nggak bawa Sabrina, Gar?" tanya Derry.
"Bawa Sabrina? Gila aja lo!" sergah Gara. "Yang ada entar abis dia dicabik-cabik sama si nenek lampir Vivi itu!" komentarnya seraya menengok ke depan, tempat Vivi, Alya serta sahabat terdekat Nada yang lainnya berada.
"Lo sendiri nggak sama Karin?" Gara balik bertanya dengan kedua alis terangkat. "Gue kira lo bakal bikin malu dia di sini..."
Derry hanya menyeringai menanggapinya. "Emang!" jawabnya pendek, lalu beranjak berdiri dari kursinya. Saat itu acara pemotongan kue telah usai dan semua yang hadir dibebaskan untuk menikmati sisa pesta dengan menyantap hidangan yang telah disiapkan.
"Lo pada lihat baik-baik ya!" pinta Derry, tak hanya pada Rama dan Gara, tapi juga pada Juno, Ruben, serta tiga cowok lain yang ikut berkumpul bersama mereka.
Derry kini melangkah menyeberangi red carpet, menghampiri salah satu pelayan yang tengah menjajakan minuman berbagai rasa melalui nampan yang dibawanya. Semua mata yang sejak tadi mengekor ke mana pun Derry melangkah kontan membelalak tak percaya begitu mengetahui siapa pelayan yang dihampiri Derry.
Itu memang Karin, dan dia memakai seragam hitam putih layaknya para pelayan kafe di sini. Derry memang benar-benar gila, dan itu membuat teman-temannya geleng-geleng kepala antara takjub dan tak habis pikir dengan apa yang dilakukannya terhadap cewek yang menjadi objek dalam aksi pembalasan dendamnya itu.
Namun walau begitu, mereka tetap tak mengalihkan pandangan seraya menunggu dalam diam serta dipenuhi rasa penasaran akan apa yang hendak dilakukan Derry selanjutnya.
"Aduh gue haus, nih! Mbak, boleh minta minumnya satu?" panggil Derry, pura-pura tak tahu bahwa Karinlah si pelayan pembawa minuman itu.
Mendengar itu, Karin yang tadinya sibuk dengan beberapa cewek yang duduk melingkar dalam satu meja seketika mendongakkan kepalanya.
"Oh, Karin?" Derry berlagak kaget ketika dilihatnya kini Karin berdiri menghadapnya hingga membuat keduanya saling bertatapan.
Karin menghela napas kecewa, sadar bahwa kemunculan Derry pasti hanya akan menambah masalah.
"Lo... lo ternyata cocok juga pake baju pelayan kayak gini," goda Derry dengan tampang sengaknya.
"Thanks," timpal Karin sinis, lalu segera disodorkannya nampan penuh minuman ke hadapan Derry. "Tadi katanya haus? Ambil!"
Derry berdecak menanggapi sikap Karin itu. "Jutek banget sih jadi pelayan... nggak dapet gaji?" godanya lagi, kali ini sambil berusaha menahan tawa.
"Maaf ya Mas, pelayan yang nggak dapat gaji di hadapan Mas ini lagi sibuk! Jadi kalo nggak ada yang diperluin lagi, tolong minggir!" Dengan cuek bercampur kesal, Karin mengeluarkan kalimat demi kalimat yang pada akhirnya hanya membuat Derry tertawa tanpa menggeser sesenti pun tubuh tegapnya.
Memang butuh kesabaran ekstra dalam meladeni cowok model kayak Derry ini. Dan untuk itu Karin lebih memilih pergi, karena jujur saja, stok kesabaran dalam dirinya kian lama terasa kian menipis. Dan karena Derry yang tampaknya takkan pernah bergeser untuk memberinya jalan, Karin dengan sigap memilih untuk berbalik dan menjauh dari cowok itu.
Namun Derry malah mencekal satu lengan Karin dengan satu tarikan keras. Hal itu ternyata membuat nampan yang dibawa Karin oleng hingga air berbagai rasa itu tumpah ke segala arah.
Memang tak ada gelas yang jatuh ke lantai dan pecah seketika, namun itu tak bisa dikatakan sebagai suatu keberuntungan bila melihat siapa yang kini rambutnya basah akibat terciprat minuman yang dibawa Karin.
Ginna yang kebetulan tengah duduk tepat di sisi kanan Karin berdiri langsung emosi begitu cairan manis berwarna merah itu mengenai rambutnya.
"Apa-apaan sih lo?" bentak Ginna yang kini telah berdiri seraya menatap murka Karin. Saat itu juga langsung dikenalinya si pelayan cantik yang mematung di sebelahnya. Apa lagi saat dilihatnya Derry juga di situ, berdiri selangkah di belakang cewek itu.
"Marahin aja, Ginn!" seru Derry tiba-tiba. "Tadi gue lihat kayaknya dia sengaja tuh numpahin minuman ke rambut lo," hasut Derry dengan seenaknya.
What the hell? Karin menghujat dalam hati sambil melemparkan tatapan ingin membunuhnya ke wajah Derry yang ada di belakangnya.
Namun belum sempat Karin memberi klarifikasi akan apa yang sebenarnya terjadi, segelas minuman tanpa diduga disiramkan Ginna ke wajah Karin. Minuman yang didapatnya dari gelas yang masih tersisa di atas nampan yang dibawa Karin, minuman yang tak hanya membuat matanya terasa perih tapi juga berhasil membasahi wajah, leher, serta kemeja putihnya.
"Maksud lo apa sengaja numpahin minuman itu ke rambut gue, hah?" tuntut Ginna dengan nada tinggi.
Karin tak bereaksi apa-apa. Masalah memang benar-benar bertambah akan kehadiran Derry, persis seperti yang telah diduganya. Namun Karin lagi-lagi tak punya kuasa untuk membela dirinya. Ia bahkan dapat memastikan sendiri bahwa semeyakinkan apa pun usaha klarifikasinya pasti takkan dipercaya begitu saja.
Jadilah kini Karin hanya pasrah menjalani opsi terakhir yang dimilikinya. Sambil tak henti-hentinya menyumpahi Derry dari dalam hati, cewek itu diam tertunduk menerima segala yang akan dilakukan Ginna terhadap dirinya.
Sementara itu Derry, si kompor s****n hanya tersenyum puas menyaksikan betapa tak berdayanya Karin saat ini. Senyumnya semakin lebar lagi saat disadarinya konflik kecil yang diciptakannya itu mulai menarik perhatian satu persatu dari teman Nada yang ada di sekitar mereka.
Dan itulah faktanya, Derry memang selalu punya seribu macam cara untuk membuat Karin jatuh dalam lubang derita. Membuat cewek itu kesal, namun tetap tak dapat melakukan apa-apa.
***
DASAR DERRY KOMPOR BLEDUG!!!
Wkwkwk
Tahan dulu kekesalannya ya gengs, next chapter bakal aku bikin baperrrrr kalian semua...
Siap-siap!!
Makasih udah baca, semoga kalian tetap suka ❤
Love sama comment juga jangan lupa
So, SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤❤