11 [Nada's Sweet Eighteen]

1187 Words
Tak ada sedetik pun waktu bagi Karin untuk bersantai. Setelah kepergian Derry dari kafe tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Nada itu, Karin benar-benar dimanfaatkan tanpa cela. Nada dengan angkuhnya memerintah Karin untuk melakukan ini itu. Nada dengan tampang nenek lampirnya tak segan-segan mengomeli Karin bila cewek itu bergerak lambat atau memanyunkan bibirnya atas perintah semena-mena yang diterimanya. Di enam puluh menit pertama keberadaannya dalam daerah teritori Nada, Karin dipaksa untuk ikut bersama para pegawai dalam mendekor area depan kafe tersebut. Merangkai balon, menggulung kain dan pita, memasang pernak-pernik, bahkan hingga mengatur posisi kursi dan meja dilakukannya tanpa rasa ikhlas. Memotong, mengelem, bahkan sesekali berkomunikasi dengan para pelayan kafe pun dilakukannya tanpa senyum ketulusan. Hingga akhirnya Karin diseret begitu saja oleh Nada menjauh dari kumpulan cowok pemasang lampu di sudut utara ruangan yang cukup untuk memuat lebih dari dua ratus tamu undangan itu. Tanpa suara Karin mengikuti saja langkah Nada yang membawanya ke mobil kuning menyala yang terparkir di depan kafe. Karin baru mengetahui tempat yang mereka tuju begitu mobil yang dinaikinya bersama Nada dan dua perempuan lebih dewasa yang tidak dikenalnya itu berhenti beberapa meter di depan salon paling terkemuka se-DKI Jakarta. Di sana Karin kebanyakan diam dan hanya sesekali diperintah Nada untuk mengambilkan sesuatu yang diperlukannya. Di sana Karin lebih banyak menghabiskan waktunya untuk terpana menyaksikan betapa piawainya sang penata rambut dan kecantikan yang disewa Nada untuk menghias dirinya dalam acara sweet eighteen-nya itu. Namun belum sempat Karin melihat hasil akhir dari kerja keras si penata kecantikan itu, dirinya keburu diajak pergi keluar dari salon oleh Mbak Maya—sepupu Nada yang tadi datang semobil dengannya. Perempuan muda yang tidak sekejam Nada itu ternyata membawanya ke toko kue paling menggoda yang pernah Karin temui seumur hidupnya untuk mengecek pesanan kue ulang tahun Nada. Saat itu hari telah mulai petang dan begitu urusannya selesai dengan sang pemilik toko kue, mereka berdua langsung kembali ke kafe tempat berlangsungnya acara dengan diikuti mobil resmi milik toko kue yang mengantarkan kue pesanan Nada. Entah apa yang terjadi dengan Nada beserta penata kecantikannya, Karin benar-benar tak tahu karena dirinya kembali disibukkan dengan berbagai persiapan di dalam kafe yang hampir seratus persen rampung itu. Saat Karin memasukinya bersama Mbak Maya, lampu-lampu di kafe itu telah menyala hingga menyebabkan cewek itu tercengang dibuatnya. Segalanya tampak sangat indah dan tertata dengan sempurna. Pemilihan warna pastel sebagai tema dari acara pesta Nada itu benar-benar mengagumkan. Meja dan kursi telah ditata melingkar lengkap dengan sentuhan pita cukup besar tapi tak berlebihan yang berwarna kuning pastel di punggung setiap kursi ruangan. Satu set alat musik yang akan diisi oleh band penghibur acara juga telah siap di salah satu sisi ruangan dengan tak ketinggalan ornamen bernuansa pastel yang semakin memperkuat konsep dari pesta Nada tersebut. Selanjutnya, Karin sendiri diperintah untuk bergabung bersama cewek-cewek waitress kafe tersebut dan mengganti bajunya dengan seragam hitam putih yang sama persis dengan para pekerja kafe itu. Meskipun ingin sekali Karin menolak dan berlari pulang ke rumah, nyatanya ia turuti juga keinginan Nada yang tersalur lewat perintah Mbak Maya itu. Saat dirinya sudah terjebak dalam serangkaian aturan yang terus diturutinya, memang tak ada yang lebih baik dilakukan selain segera menyelesaikannya tanpa perlu membantah ataupun melawan, apalagi kabur-kaburan. Sekali lagi Karin mengingatkan dirinya bahwa penderitaan yang ia terima saat ini adalah bentuk penebusan dosa kakaknya di masa lalu. Dengan berusaha menghibur dirinya sendiri, Karin meyakinkan hatinya bahwa kakaknya dulu pasti memperlakukan adik-adik kelasnya bahkan lebih parah dari ini. Menjelang jam tujuh malam, para tamu undangan mulai berdatangan. Dan Karin kian sibuk dalam mempersiapkan minuman serta berbagai bentuk sajian. Beberapa tamu itu dikenal Karin sebagai kakak kelasnya di sekolah yang mungkin teman sekelas Nada, namun beberapa tamu yang lain sama sekali tampak asing bagi cewek itu hingga ia tak terlalu peduli akan hal itu. Saat susana kafe telah lumayan ramai, barulah Nada sampai kembali di kafe tempat berlangsungnya acara pesta sweet eighteen-nya. Dan kemunculan cewek itu benar-benar mengundang decak kagum semua yang hadir di situ. Nada bukan mengenakan gaun pesta yang bahkan ekornya sampai bermeter-meter panjangnya. Nada bukan menata rambutnya ala gadis-gadis yang sedang berulang tahun pada umumnya. Ia hanya memakai minidress bunga-bunga tanpa lengan yang sederhana namun sangat indah. Dengan bentuk potongannya yang mengembang di bagian bawah namun tetap memperlihatkan betapa rampingnya lekuk tubuh Nada, dress itu sukses menjadi pusat perhatian semua orang. Dress di atas lutut ciptaan desainer ternama dengan harga selangit memang tak dapat membohongi siapa saja yang melihatnya. Dress berwarna dasar putih dengan bunga pink tua serta sentuhan warna hijau pada motif dedaunannya itu memang mengundang perhatian siapa saja, tak terkecuali Karin yang tak pernah berkedip menatap iri cewek itu sejak kehadirannya. Nada hadir diapit oleh kedua orangtuanya, dan baru saja turun dari mobil mewah ayahnya. Keluarga yang tampak sempurna dan bahagia itu kini melangkah anggun menyusuri karpet merah yang membelah ruangan menjadi dua. Karpet merah itu memang terhampar dari pintu masuk hingga ke pusat ruangan tempat sebuah kue bertingkat bertahta di atas meja kristal dengan begitu menakjubkan. Setelah memamerkan senyum bahagianya di hadapan para tamu undangan, cewek dengan rambut ditata sederhana dan hanya berhiaskan flower crown di kepalanya itu mulai menghampiri dan menyalami para sahabatnya. Make-up di wajahnya juga begitu segar dan terkesan natural namun tetap membuat kesan bahwa Nada merupakan gadis paling cantik di pesta itu tak terbantahkan. Kini lampu-lampu flash kamera mulai bermunculan. Berbagai tamu undangan mulai mengabadikan momen indah mereka dalam pesta menakjubkan itu. Dan saat itulah Karin melihat Derry memasuki area kafe dengan menenteng kotak berlapis kertas warna caramel yang manis di satu tangannya. Cowok yang kini mulai menjejakkan kakinya di karpet merah itu tampak mempesona dan keren abis dengan hanya dibalut celana jins dan kemeja polos lengan pendek warna peach yang tangannya digulung dua lipatan ke atas. Pastel memang menjadi dress code dalam pesta Nada malam itu, dan kemeja yang Derry kenakan itu memang sangat pas meskipun tak sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya. Sebuah jam tangan sporty warna hitam semakin menambah kesan kasual cowok yang malam itu menggunakan pomade untuk menata rambutnya. Derry menatap berkeliling dan Nada segera menghampirinya dengan senyum lebar yang sangat mengagumkan. Mereka tampak saling cipika-cipiki sejenak lalu Derry segera menyerahkan kado yang dibawanya. Nada menerimanya dengan sangat bahagia, lalu mereka ngobrol sejenak, hingga akhirnya Derry menghampiri salah satu meja tempat Gara dan teman-temannya berkumpul sejak beberapa menit yang lalu. Ternyata kehebohan belum berhenti sampai di situ. Para tamu undangan kembali dibuat tercengang oleh kehadiran tiga orang yang datang tak terduga. Setelah berpelukan hangat dan ngobrol sejenak dengan Nada yang diiringi tatapan tak berkedip berbagai pihak, ketiganya kini melangkah menuju panggung kecil berisi alat musik serta sound system yang sejak tadi tak henti-hentinya memainkan berbagai lagu yang saat itu tengah berada di urutan teratas chart billboard Amerika. Saat dua cewek dan satu cowok itu mulai menaiki panggung dan bersiap untuk menyanyi, seluruh yang hadir di situ mulai riuh, bahkan beberapa di antaranya sampai berteriak histeris akan kehadiran grup vokal yang sedang tenar di kalangan remaja saat itu. *** Halooooo I'm back Aslinya chapter ini masih panjang ya, tapi karena berasa terlalu panjang, aku bagi jadi dua. Bersabarlah wahai kalian yang nungguin kelanjutannya. Makasih juga udah nyempetin baca, jangan lupa love sama komentarnya yaaa LOVE YOU GUYS, SOOOOOO MUCH! ❤❤❤ So, see you on the next chapter, yang insya Allah nggak bakal bikin kalian kecewa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD