10 [DASAR DERRY SIALAAAN!!]

1602 Words
Hari senin datang. Pagi itu, Derry baru saja sampai di kelasnya dengan diikuti Karin yang membawakan tas serta buku-bukunya. Cewek itu berjalan di belakang Derry diikuti tatapan serta perhatian para siswa yang dilewati atau berpapasan dengannya. Karin mencoba menguatkan hati dan berusaha cuek-cuek saja dengan semua perlakuan siswa satu sekolahnya itu, karena ia sadar hal inilah yang akan diterimanya hingga setidaknya tiga bulan ke depan. Sudah jelas sekali bahwa Derry telah mengetahui identitas Karin yang merupakan adik dari Danar. Dan Karin bukannya tidak tahu bahwa kakaknya itu dulu merupakan biang onar dan dimusuhi banyak orang. Untuk itu dia memilih takkan melawan. Dirinya sadar betul, jika Derry berlaku keterlaluan terhadapnya, maka mungkin saja yang dulu dilakukan Danar pun sama keterlaluannya. Dan walaupun kini Karin harus tersiksa dan menderita, ia hanya bisa pasrah dan menganggap itu sebagai penebusan dosa yang dulu diperbuat kakaknya. Karin segera meletakkan tas serta buku-buku Derry di atas mejanya. "Gue balik ke kelas, Kak!" ujarnya, menatap Derry sekilas yang telah duduk manis di atas singgasananya, lalu berbalik dan pergi keluar dari ruang kelas XII IPA5. Sepeninggal Karin, Derry memandang berkeliling dan menemukan Rama serta Gara yang tampak tengah mengerjakan tugas bersama di meja mereka. Segera saja dihampirinya dua cowok itu yang duduk di bangku kedua dari belakang deretan meja paling kanan. Begitu sampai, Derry langsung menempati kursi Aryo yang masih kosong di depan meja Gara. "Gue udah ketemu Danar," kata Derry serius. Hal itu ternyata langsung membuat kedua cowok yang tadi sibuk dengan buku-buku di depan mereka seketika mendongak menatapnya. "Danar?" Gara bertanya memastikan. Derry mengangguk. "Pas nganterin Karin pulang," jawabnya. "Tuh cowok berdiri di depan rumahnya, nggak tau lagi ngapain..." "Lo langsung ribut sama dia?" Gara kembali bertanya, sementara Rama hanya menyimak obrolan mereka tanpa ingin menyela. Kali ini Derry menggeleng. "Nggaklah! Gue nggak bakal ngabisin dia, sebelum gue puas nyiksa adeknya," sergah Derry yang tampak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Rama hanya tersenyum menaggapinya, sementara Gara mengemukakan pendapatnya. "Gue nggak yakin dalam tiga bulan lo bakal puas nyiksa tuh cewek..." Derry manggut-manggut dengan pandangan menerawang. "Lo bener. Gue kayaknya kudu bener-bener kejam nih buat manfaatin waktu sebaik-baiknya," sahut Derry setuju. "Pokoknya tuh cewek harus lebih menderita dari gue! Tuh cewek harus lebih merasa sengsara, lebih merasa tersiksa dari gue!" tambahnya dengan tangan yang mulai mengepal seiring dengan emosi yang hadir akibat hadirnya kenangan mengenai masa-masa kelas sepuluhnya yang penuh dengan penindasan. Tiba-tiba, Rama menyerahkan sesuatu pada Derry yang didapatnya dari kolong mejanya. "Kali aja ini bisa jadi alternatif lo buat bikin tuh cewek menderita," ucap Rama lirih. Derry melirik Rama dan menerima coklat batangan berpita yang diserahkannya. Diamatinya coklat merek ternama itu dengan ketidakmengertian total. Derry pun menemukan selembar kertas terlipat yang diikat bersama coklat itu menggunakan pita pink terang. "Buat lo. Pesta ulang tahunnya Nada, besok malam." Gara menjelaskan sesimpel mungkin tepat sebelum Derry membuka lipatan kertas yang disisipkan bersama coklat itu. Coklat mahal yang ternyata merupakan sebuah undangan pesta ulang tahun dari Nada. Mendengar itu, sebuah senyuman licik perlahan tersungging di bibir Derry. Cowok itu mulai merangkai rencana mengerikan yang akan dilakukannya pada Karin bermodalkan acara ulang tahun Nada yang pastinya sangat meriah dan dihadiri banyak siswa kelas XII Netrisa. *** Karin memandang lurus-lurus jalanan tak berujung di depannya. Saat itu sekitar pukul tiga sore, dan dirinya tengah berada di dalam mobil Derry yang berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata. Setelah satu jam lebih menunggu Derry mengikuti pengayaan atau jam tambahan khusus bagi siswa kelas XII di sekolahnya, kini cewek itu kembali berkendara bersama sang penguasa sekolah walau tak tahu akan dibawa ke mana. Setelah satu jam lebih diisi dengan penuh rasa bosan serta kekesalan dalam penantian, Karin tetap mencoba untuk mengikuti saja apa mau cowok yang kini sedang duduk di sebelahnya. Jalan yang saat itu mereka lewati merupakan rute berbeda dari yang biasa dilalui Derry, dan Karin bukannya tidak menyadari hal itu. Karin tahu itu bukanlah jalan yang mengarah ke rumahnya, dan bukan juga jalan yang mengarah ke basecamp kelas XII, tempat di mana Derry biasanya membawa Karin sepulang sekolah. Namun Karin hanya diam saja akan fakta itu. Selain dia tipe cewek yang tidak terlalu pandai dalam memulai obrolan, dia juga benar-benar malas bila harus berakrab-akrab ria dengan Derry si kakak kelas yang telah mengubah hari-harinya bagaikan di neraka. Karin sama sekali tak ingin bertanya, berkomentar, atau apa pun itu, dan Derry sendiri tampaknya sedang tidak ada ide untuk menggoda cewek itu, sehingga tak ada suara lain di dalam mobil itu kecuali lantunan lagu Hymn for The Weekend yang dinyanyikan oleh band favorit Derry. Lagu telah berganti ketika mobil Derry mulai menepi. Kendaraan roda empat yang tampak mewah itu kini memasuki lahan parkir sebuah kafe yang cukup besar dan terkenal di kalangan para remaja. Karin pernah sekali makan di situ bersama kakaknya beberapa waktu yang lalu sebelum dirinya menjadi siswa SMA. Dan saat Derry membawanya ke tempat itu, tak ada hal lain yang terlintas di benak Karin selain makan siang bersama. Karin melirik Derry sekilas dan menemukan cowok itu sudah tak lagi manggut-manggut sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil sesuai dengan irama lagu yang mengalun. Derry tampak segera mematikan mesin mobilnya, dan saat itu juga suasana di dalam mobil menjadi sunyi senyap tanpa suara. Ia segera membuka pintu mobil di sebelahnya, dan melangkah keluar. Seakan telah terbiasa, tanpa perlu menunggu perintah Derry, Karin segera mengikutinya keluar dari mobil. Saat itu ia lihat Derry tengah melangkah ke sisinya. "Taro aja tas lo di dalam!" pinta Derry. Karin mengangguk tanpa rasa curiga. Segera dibukanya kembali pintu depan mobil Derry dan meninggalkan tas kotak-kotaknya di atas jok yang tadi didudukinya. Namun sebelum ia berbalik, diambilnya dulu dompet tosca gelap serta ponsel pipih warna putih yang disimpan di dalam tasnya. Melihat itu, Derry kontan berujar, "Ngapain lo bawa-bawa dompet? Lo pikir gue nggak punya duit buat bayarin lo makan?" tanya Derry sinis. Karin menghela napas menanggapi betapa sinisnya sikap Derry itu. Namun untuk menghindari adanya konflik, Karin kembali mengalah. Segera disimpannya kembali dompet serta ponselnya di dalam tas warna marun itu dan ditutupnya segera pintu mobil cowok itu. Karin pun kini berjalan beriringan bersama Derry memasuki area kafe tanpa membawa apa-apa, sesuai yang diinginkan cowok yang berlagak sebagai bosnya itu. Sampai di dalam, Karin agak terkejut melihat kafe yang tanpa pengunjung dan hanya berisi beberapa pegawai yang tampaknya tengah mendekorasi beberapa area di ruang utama tempat itu. Lain dengan ekspresi Karin, Derry tampak tak terkejut sama sekali dan hanya memandang berkeliling seakan sedang mencari-cari keberadaan seseorang. Seorang cewek berseragam putih abu-abu dengan rambut ikal kecoklatan tergerai indah lantas menghampiri mereka, dan Karin semakin tak mengerti dibuatnya. Karin mengenal cewek itu sebagai Nada, kakak kelasnya yang juga suka bertingkah seenaknya bersama dengan teman-teman cewek satu gengnya yang katanya tajir gila. Nada tampak heran melihat Derry yang datang secara tak terduga. Apalagi seorang cewek cantik datang bersamanya. "Derry?" tanya Nada yang langsung menghentikan aksi memandang berkeliling Derry. Kini cowok itu fokus pada cewek yang baru saja memanggil namanya, lalu melemparkan satu senyum tebar pesona padanya. "Kok lo di sini?" Nada kembali bertanya dengan mengangkat kedua alisnya. Derry tak menjawab, namun segera direngkuhnya pundak Nada yang berdiri di dekatnya, lalu dengan cepat diciumnya satu pipi cewek itu. "Happy birthday," bisiknya yang langsung membuat pipi Nada merona seketika. Sementara Karin terpana dengan yang terjadi antara kedua kakak kelasnya itu, Derry tampak biasa saja. Begitu ia melepaskan Nada dari dekapannya, Derry segera beralih pada Karin yang tadi datang bersamanya. "Ini surprise dari gue. Mulai sekarang sampe nanti malam, ni cewek jadi milik lo!" tukas Derry dengan seringai yang tampak mengerikan bagi Karin, namun selalu terlihat mempesona bagi Nada. "Lo bebas suruh dia ngapain aja... kalo dia ngebantah, laporin aja ke gue!" Mendengar itu, Karin bengong sejadi-jadinya. Dan kini kedua cewek itu sama-sama menatap lekat-lekat kedua bola mata Derry. Karin yang menatap Derry dengan berjuta makian yang dipendamnya, sedangkan Nada menatap Derry terpesona akan kejutan yang diberikannya secara tak terduga. "Oke! Gue balik dulu, sekalian mau cari kado buat lo," kata Derry sambil mengelus sebelah pipi halus Nada yang membuat cewek itu semakin memperlebar senyumannya. Ia kemuadian beralih pada Karin di sisi kirinya. "Lo baik-baik ya di sini! Awas kalo coba-coba kabur!" lanjut Derry, lembut namun penuh penekanan. Sejenak diacaknya rambut di puncak kepala Karin yang semakin membuat cewek itu melongo memandanginya. Derry lantas berbalik badan hendak keluar dari kafe tersebut. Dan saat melihat Derry mulai berjalan menjauh, barulah Nada sadar dari keterpukauannya. Segera saja cewek itu berlari mengejar Derry, lalu memeluknya dari belakang. "Thanks ya," bisik Nada dengan penuh letupan rasa bahagia di hatinya. Derry otomatis menghentikan langkahnya. Ia berbalik sejenak, hingga kini saling berhadapan dengan cewek yang baru saja melepaskan pelukannya itu. "Lo suka kejutan gue?" "Suka bangeeet," jawab Nada dengan suara yang dibuat semanis mungkin sementara senyuman itu sepertinya tak dapat hilang dari bibirnya. "Ntar malam jangan sampai telat ya..." pesannya kemudian. Derry mengangguk lalu segera pergi, sementara itu Nada terus memperhatikan kepergiannya dengan sesekali melambaikan tangan. Karin yang menyaksikan adegan romantis murahan antara Derry dan Nada itu jelas merasa muak setengah mati. Mati aja lo pada! Karin menghujat dari dalam hati dengan menatap nanar Derry yang kini mulai memasuki mobilnya. Melihat mobil itu, Karin seakan ingat seusatu. Ingatan yang seketika membuat mata cewek itu membulat, ingatan yang seketika membuatnya berlari menghampiri mobil itu secepat yang ia bisa. "KAK DERRY! TAS GUE MASIH DI DALAM MOBIL LO!" teriak Karin di tengah larinya. Namun terlambat, karena mobil itu kini telah meninggalkan area parkir dan kembali menyusuri aspal jalan dengan kecepatan penuh. Karin mengembuskan napas kecewa dan perlahan sadar bahwa ini juga merupakan bagian dari rencana Derry. "DASAR DERRY SIALAAAAN!" *** Gimana chapter ini? Suka? Love and comment jangan lupaaaaa.... Btw, ada yang belum tau siapa Nada? BACA CRAZY SENIORITY YANG PERTAMA!!!! Again, aku mau bilang makasih buat kalian yang udah nyempetin waktu buat baca... Semoga makin suka ❤ Next chapter, kira-kira apa ya yang bakal dilakuin Nada ke Karin di hari ulang tahunnya? So, SEE YOU GUYS, AND LOVE YOU ❤❤❤❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD