22 [Night Futsal]

1716 Words
Ada kalanya semua harus kembali pada sebagaimana mestinya. Dan meskipun kini perasaan Derry perlahan mulai berubah, hari-hari yang dilewatinya masih tetaplah sama. Karin memang jadi sedikit agak istimewa di matanya, namun rasa dendam itu tak mudah terhapus begitu saja. Dengan kesempurnaan Karin yang mampu menarik perhatian cowok mana saja, dengan kesan manis di balik sikap juteknya, serta dengan senyum yang jarang sekali diperlihatkan hingga kerap kali membuat Derry kelabakan didera kerinduan, cewek itu tanpa sadar mampu membuat Derry memperlembut sikapnya. Namun meskipun begitu, ada sisi dalam diri Derry yang lebih kuat dan tak tersentuh. Sisi kelam yang melibatkan seluruh emosinya, sisi perpaduan antara masa lalu dan masa sekarang. Dan itulah dendam. Selalu mengusik hati dan pikiran, selalu menuntut untuk dibalaskan. Derry masih seenaknya memperlakukan Karin sebagai budaknya, dan Karin pun masih dengan pendiriannya. Ia tak ingin menambah masalah dengan mencoba menentang Derry. Ia terima saja semuanya, karena mungkin ini memang sudah takdirnya. Ia juga masih berdoa agar dosa-dosa kakaknya di masa lalu dapat tertebus oleh apa yang dilakukannya saat ini, meskipun hal ini hanya digunakannya sebagai penghibur belaka ketika Derry bertindak keterlaluan terhadapnya. Malam ini Derry meminta Karin untuk pergi keluar bersamanya. Seperti biasa cowok itu menyertakan satu ancaman agar Karin tak berani melawan dan menuruti saja apa maunya. Walaupun Karin tahu dan paham betul ancaman Derry itu hanyalah hoax belaka, cewek itu tetap tak dapat menolak perintahnya. Entahlah, mungkin ia sendiri tanpa sadar mulai menikamti perannya sebagai babu yang tak masalah bila harus disuruh-suruh. Derry sampai di gapura kompleks perumahan Karin pukul setengah delapan malam. Dan seperti yang telah cowok itu perintahkan sebelumnya, Karin telah standby, duduk manis sendirian di bangku panjang milik pos skuriti di sisi kiri gerbang. Dalam benak Karin, Derry itu cowok banci. Masa mau ngajak jalan tapi nggak berani jemput di rumah? Yang ada dia malah nyuruh nunggu di gapura kompleks dari setengah jam yang lalu. Nggak tau diri banget kan? Siapa yang ngajak jalan, siapa yang malah harus nungguin sampe lumutan. "Cakep amat, Non!" goda Derry. Belakangan ini Derry jadi sering banget gangguin Karin dengan rayuan gombalnya yang nggak penting itu. Cowok itu kini tak lagi memberikan kesan kejam dan menakutkan, tapi malah jadi mirip cowok b******k j****y menjijikan. Setidaknya itulah sekelumit pandangan Karin mengenai sikap Derry akhir-akhir ini. Kejam? Jangan tanya! Karin mah emang gitu orangnya. "Udah lama ya nungguin Abang?" tanya Derry lagi sambil senyam-senyum najis bagi Karin, tapi bagi cewek lain itu senyum sempurna penakluk hati mereka. Karin memperhatikan penampilan cowok yang baru saja keluar dari mobilnya itu. Ia memang diberitahu bahwa malam ini Derry mau main futsal melawan anak-anak sekolah lain, tapi Karin sama sekali tak percaya. Ia yakin itu hanya akal-akalan Derry saja yang ingin mengajaknya jalan. Masa iya main futsal malam-malam begini? Kan nggak mungkin! Seperti itulah pemikiran Karin pada awalnya. Namun saat kini dilihatnya Derry dengan jersey Real Madrid menempel di tubuhnya, cewek itu jadi agak ragu akan dugaannya. "Beneran mau main futsal?" tanya Karin dengan mengangkat satu alisnya. "Emang lo kira gue mau ngajak lo ke mana?" Karin tak peduli. Ia masih tak yakin akan rencana Derry itu. "Serius, Kak? Malam-malam begini?" "Iyaaaa," jawab Derry. "Buruan naik! Gue udah ditungguin," timpalnya yang kembali masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat-rapat. Karin menurut saja dan kini cewek itu telah duduk di sebelah Derry seperti hari yang sudah-sudah. Ia masih ngedumel dalam hati. Futsal kan buat cowok, ngapain coba Derry ngajakin dia? Namun detik berikutnya bayangan Karin langsung terbang ke jam istirahat pertama saat Derry main bola di lapangan dan dirinya dipaksa untuk menungguinya. Mengambilkan minuman, mengelap keringat mereka kalau diminta, udahlah! Pokoknya Karin persis sama kayak upik abu. Dan yang terjadi di tempat futsal nanti pasti takkan jauh berbeda dari hal itu. Derry melirik cewek di sebelahnya sekilas. Untuk pertama kali ini Derry melihat Karin begitu kasual namun tetap menarik untuk diperhatikan. Penampilannya membuat cewek itu seakan menjelma menjadi model celana jeans produk Amerika yang terlihat nakal, seksi, namun tetap manis. Ya, Karin mengenakan skinny jeans yang terdapat robekan kecil di atas lututnya dengan atasan kemeja kotak-kotak longgar warna biru gelap yang bagian bawahnya dimasukkan ke dalam celana. Lengan panjangnya digulung hingga siku, sementara sebuah gelang pita hitam mengikat satu pergelangan tangannya menggantikan posisi jam tangan yang biasa dipakainya ke sekolah. Rambut panjangnya dikumpulkan menjadi satu dan diikat di belakang telinga kirinya. Hal itu membuat sebagian kecil rambut di sisi kanan kepalanya yang tak ikut terikat menjuntai bergelombang dengan indahnya. Oh, tangan Derry rasanya gatal sekali ingin menyentuh helaian rambut itu dan menyelipkannya ke belakang telinga Karin yang dipasangi anting kecil berkilauan. "Kak! Tidur?" tegur Karin saat cukup lama menunggu mobil dijalankan namun yang dilakukan si pengemudi hanya terdiam lama memandanginya. Derry otomatis terkejut atas teguran mendadak yang diucapkan dengan suara keras itu. Karin memang seperti itu. Sinis, ketus, jutek, tapi itu malah mebuat Derry tersenyum. "Lo cantik banget sih, Rin?" pujinya. "Dandan abis-abisan lo ya buat ketemu gue malam ini?" tambahnya, membuat Karin yang tadinya sempat blushing jadi kesal setengah mati. Derry memang seperti itu. Blak-blakan, gombal, over confident, dan itu membuat Karin sangat sulit untuk mengerti dan memahami watak asli cowok itu. "Jadi jalan nggak? Kalo nggak gue balik nih!" ancam Karin tegas yang lagi-lagi disambut senyum tebar pesona Derry. "Oke, okeee," ujar Derry yang memilih mengalah saja. Bukan karena takut akan ancaman Karin, tapi karena dia sendiri sadar sudah tak ada waktu lagi baginya untuk berlama-lama menggoda cewek itu akibat teman-teman yang memang telah menunggunya di lokasi yang telah mereka sepakati. Derry lantas mengalihkan pandangan ke depan, lalu dijalankannya mobil dengan kecepatan penuh agar dapat secepat mungkin sampai di tempat futsal indoor langganannya yang berjarak belasan kilometer dari daerah kompleks perumahan Karin. Jarak belasan kilometer itu ternyata hanya ditempuh dalam waktu kurang dari lima belas menit. Dan kini mereka berdua telah sampai di lokasi tujuan Derry. Dimulai dengan Derry yang keluar dari dalam mobil mewahnya, lalu disusul Karin yang juga ikut keluar dua detik kemudian. Flatshoes berpita Karin dipaksa untuk menjejak masuk ke dalam gedung berlantai satu itu, sementara Karin sendiri tampak sibuk membawakan tas Derry yang berisi celana ganti, botol minum dan lain sebagainya. "Buruan kali! Dasar cewek, jalan aja lama banget!" omel Derry yang telah berjalan lebih dulu, namun sama sekali tak direspon oleh Karin. Sesampainya di dalam, Derry langsung bergabung dengan wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi bagi Karin, karena teman-teman Derry memang hanya itu-itu saja. Semua cowok yang hadir di sekitarnya saat ini merupakan cowok-cowok yang hampir setiap hari main bola di lapangan pada jam istirahat pertama. Dan tentu saja Karin telah hapal dengan wajah-wajah mereka, karena tugasnya setiap hari memang melayani mereka sesuai dengan perintah Derry yang tak terbantah. Seperti biasa, Gara, Juno, serta Ruben menyapa Karin dengan disisipi godaan dan rayuan serta pujian mereka akan penampilan Karin malam ini. Mereka semua tidak jauh berbeda dengan Derry, kecuali Rama yang memang jarang mengeluarkan suara. Ia hanya memandang Karin sekilas tanpa benar-benar bermaksud menyapa, lalu kembali sibuk melakukan pemanasan. Melihat Rama selalu membuat Karin teringat akan kata-kata Derry bahwa cowok itu telah memiliki pacar. Seorang cewek cantik yang sedang kuliah di Australia, dan itu membuat Karin semakin hopeless akan perasaan terpendamnya terhadap cowok itu. Entahlah, Rama terasa begitu jauh untuk dapat dijangkau... Rama juga terlalu tinggi untuk dapat diraih... Permainan dimulai segera setelahnya. Sebenarnya ini hanya pertandingan tidak resmi antara Derry dan cowok-cowok yang dikenalnya dari sekolah lain. Maka dari itu sungguh tidak etis bila peran mereka saat ini dikatakan mewakili sekolah masing-masing. Karena pada dasarnya ini hanyalah pertandingan biasa yang hanya bertujuan untuk mengasah kemampuan berolahraga mereka. Sepanjang permainan berlangsung, tak ada yang dilakukan Karin selain fokus pada layar ponselnya. Cewek itu duduk di bangku panjang yang menghadap lapangan, sibuk stalking akun i********: siapa saja. Mulai dari teman-teman, cowok cakep tak dikenal, hingga artis-artis yang diidolakannya. Ia sama sekali tak tertarik akan pertandingan yang berlangsung sengit di hadapannya. Ia juga tak peduli akan Derry yang berkali-kali memasukkan bola ke gawang lawan dengan begitu mengesankan. Sesekali ketika break, Karin diminta—atau dipaksa lebih tepatnya, untuk mengelap keringat Derry sesuai dengan yang sudah diduganya sejak di perjalanan menuju ke sini. Karin yang sudah biasa diperintah ini-itu tak protes sama sekali. Bahkan ketika teman-teman Derry yang lain memintanya untuk melakukan hal yang sama, Karin masih menurut saja. Baginya, ini semua belum ada apa-apanya dibanding tingkah Derry yang biasanya bahkan lebih kejam dan mengesalkan dari ini. Pertandingan berakhir satu jam kemudian dengan kemenangan yang berhasil dikantongi oleh tim Derry. Mereka semua lantas merayakannya dengan makan-makan di resto yang masih berlokasi di satu gedung yang sama dengan tempat futsal yang mereka booking malam ini. Dan untuk pertama kalinya Karin tak diperlakukan sebagai pelayan ketika kelompok cowok s****n itu tengah makan-makan. Untuk pertama kalinya Karin dibiarkan duduk manis bersama mereka, memesan makanan yang diinginkannya, udah gitu nggak perlu bayar pula. Mungkin itu karena mereka terlalu bahagia mendapatkan banyak uang akibat menang taruhan, atau mungkin mereka mulai insaf bahwa memperbudak Karin merupakan perbuatan dosa, meskipun untuk pilihan kedua ini sepertinya sangat kecil kemungkinannya. Acara makan-makan itu berlangsung sekejap. Karin memesan spagethi porsi kecil dan menyantapnya dalam diam. Ia benar-benar tak mengerti mengenai obrolan seru cowok-cowok yang ada di sekitarnya. Obrolan yang bahkan sampai disertai teriakan dan tawa menggelegar. Obrolan dengan berbagai macam topik, namun tak ada satu pun yang membuat Karin tertarik dan ikut mengeluarkan suara. Begitu selesai makan-makan, Derry bermaksud mengantar Karin pulang. Teman-temannya memang masih belum bubar dan memilih nongkrong-nongkrong entah sampai kapan. Dan di sinilah mereka berdua sekarang. Melangkah beriringan menuju mobil Derry yang diparkir beberapa meter ke depan. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil dan segera beranjak pergi dari area parkir yang dibanjiri sinar temaram lampu-lampu taman. *** Bakalan ada kejadian seru di next chapter! Percaya deh! Makanya jangan lewatkan ya! Maaf updatenya malam banget.. judulnya night futsal, jadi updatenya night juga. Hehe Curhat dikit, sebenarnya tadi tuh udah mau upddate sekitar jam delapan-an, tapi di sini habis hujan gede sama mendung juga, jadi susah banget gegara mungkin jaringannya keganggu. Di daerah kalian hujan tidak? Aku jadinya boboan aja sambil dengerin musik, sampe ketiduran, dan ini baru kebangun lagi... Nggak papa deh ya, semoga jam segini masih belum pada tidur. Oke deh, makasih udah baca, makasih banyak juga buat yang selama ini sering kasih komentar dan semangat biar aku cepet lanjut. Nggak tau lagi harus gimana ngungkapin betapa bersyukurnya aku punya kalian Kalian the best lah pokoknya!!! Kasih comment juga di sini ya, yang biasanya jadi sider... gak usah bingung harus komen apa, cukup kata 'NEXT' aja aku udah seneng banget kok, seriusan! So guys, SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD