Ini cewek emang nggak ada takut-takutnya! Derry membatin. Kayaknya butuh gue kasih sedikit kejutan nih... putusnya masih dari dalam hati.
Setelah itu Derry mulai membuka kancing bajunya. Namun baru sampai di urutan kancing ke empat, mereka dikejutkan oleh kehadiran orang lain di ruangan khusus perempuan itu.
"Ups... so... so... sorry!" kata cewek tak terlalu tinggi yang baru saja masuk itu. Ia seakan kehabisan kata-kata untuk diucapkan namun tatapannya masih tertancap pada Karin dan Derry yang sama-sama membeku di posisi mereka.
Kini cewek kelas sepuluh itu terlihat salah tingkah dan tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia lantas tersenyum garing pada Derry, "Gue nggak ada maksud ganggu... lanjutin deh! Lanjutin aja! Gue pergi, dadaaah..."
Setelah melambaikan tangan dengan nggak pentingnya, cewek itu kini berlari dengan kecepatan penuh keluar dari toilet.
Karin yang langsung tersadar dari keterkejutannya, segera menyusul cewek itu. Ia tinggalkan Derry begitu saja demi mengklarifikasi semuanya pada cewek yang pasti bakal mengambil kesimpulan yang salah atas pemandangan yang baru saja dilihatnya.
Karin berhasil mengejarnya dan mencekal satu lengan cewek itu begitu mereka telah sama-sama berada di luar toilet. "Ini semua nggak seperti yang lo bayangin! Sumpah, gue tadi nggak ngelakuin apa-apa..." tutur Karin cepat dengan tatapan meyakinkan.
Sepersekian detik berikutnya, Derry muncul dari dalam toilet dengan kemeja yang sudah dirapikan.
Cewek tadi tampak tak menghiraukan Karin yang berusaha mati-matian melakukan pembelaan. Yang ada ia malah fokus menatap Derry sambil berusaha mati-matian menahan tawanya. "Kak Derry lo gila lo ya... nggak nyangka gue..." ungkapnya sambil geleng-geleng kepala lalu tertawa.
Karin memang bingung dengan reaksi cewek yang baru saja memergokinya itu. "Plis, plis jangan sebarin gosip yang nggak-nggak... sumpah gue butuh banget bantuan lo Sabrina! Pliiis..." Karin memohon dengan sangat pada cewek yang dikenalnya sebagai pacar Gara itu.
Ya, Karin sama sekali tak dekat dengan Sabrina yang tangannya kini masih dipeganginya itu. Ia hanya tahu bahwa cewek itu anak kelas sebelah dan cukup terkenal di sekolah karena telah berhasil menaklukkan hati si berandal nomor satu di Netrisa.
Derry melangkah menghampiri Sabrina yang belum berhenti tertawa. "Turutin apa kata dia, dan lo bebas minta apa aja dari gue!" ucap Derry serius.
Sabrina kini menyunggingkan senyum cerianya. "Lima permintaan?" usulnya sambil mengangkat kelima jarinya.
"Satulah! Enak aja lima..." tolak Derry, dan Karin hanya menyaksikan percakapan mereka seakan ia orang luar yang sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah mereka.
Sabrina menunjukkan ekspresi licik di wajahnya. "Oke kalo gitu..." ia mengangguk lalu menarik napas dalam-dalam bersiap untuk berteriak. "WOOOOY—"
Derry buru-buru membekap mulut ember cewek itu sebelum teriakannnya membahana di seluruh area sekolah.
Meskipun sekarang toilet ini sedang sepi akibat semua siswa yang tengah belajar di kelas masing-masing, tak ada jaminan bahwa takkan ada yang mendengar suara kaleng rombeng milik Sabrina.
"Oke deh, tiga permintaan!" putus Derry memilih jalan tengah walau dengan perasaan tidak ikhlas. "Lo kudu setuju! Nggak setuju, gue bakal karungin lo, terus gue lempar ke kali Ciliwung. Mau?" ancam Derry.
Sabrina susah payah melepaskan tangan Derry yang meredam semua teriakannya, lalu dilemparkannya satu senyum kemenangan ke arah cowok itu.
"Oke, deal!" sahutnya setuju, disusul dengan tersenyum ramah pada Karin yang masih memegangi satu tangannya dengan ekspresi harap-harap cemas tergambar jelas di wajahnya. "Pertama... gue minta mobil lo buat gue!"
"Anjiiiir!" Derry memaki pelan dengan membuang muka namun tetap tersenyum lebar. Cowok itu tak habis pikir akan permintaan Sabrina yang cerdas namun tak masuk akal.
"Kenapa? Katanya tadi boleh minta apa ajaaaa?" tagih Sabrina dengan mimik tanpa dosa tapi terlihat sangat mengesalkan bagi Derry yang kini telah kembali menghadapnya.
"Lo jadi istri gue dulu, baru gue kasih itu mobil buat lo!" rayu Derry yang berusaha mengimbangi candaan Sabrina barusan.
Mata Sabrina membulat. "Jadi istri lo?" ulangnya sambil tertawa ngakak. "Kok gue? Kan masih ada Kak Nada, Kak Ginna, sama ini yang baru... ada Karin juga nih!"
"Ya lo jadi istri pertama gue! Nanti si Nada biar jadi istri kedua, Ginna istri ketiga. Kalo ini cewek," ujar Derry seraya melirik Karin yang berdiri di sebelah Sabrina. "Cukup jadi selir gue aja... ribet kalo gue jadiin istri juga..."
Sabrina kembali tertawa mendengarnya. "Gaya lo Kaaaak, udah kayak raja minyak aja punya istri banyak!"
"Gimana jadi? Mau gue jadiin istri? Dapet mobil loh..." tawar Derry berpromosi.
"Nggaklah!" jawab Sabrina seketika. "Bukannya dapet mobil yang ada gue dicekek duluan sama Kak Gara!"
Ganti Derry yang kini tertawa, sementara Karin tetap diam tak bereaksi apa-apa. Sungguh Karin merasa bahwa dia bukanlah siapa-siapa ketika melihat obrolan asyik di antara mereka berdua.
"Jadi lo mintanya apa?"
"Nanti deh, biar gue pikir-pikir dulu!" jawab Sabrina. "Gue pengen balik ke kelas ah! Nggak enak ganggu lama-lama..." tambahnya dengan senyum sindiran. "Bisa tolong lepasin tangan gue nggak?" tanya Sabrina saat didapatinya tangan Karin yang masih bersarang di lengannya.
"Oh, iya iya! Sorry," sergah Karin yang baru sadar bahwa sejak tadi ia masih belum melepaskan tangan Sabrina.
"Lo tenang aja, gue orangnya bisa jaga rahasia kok..." bisik Sabrina di telinga Karin, yang dilanjutkan dengan satu kedipan mata. Cewek itu lantas pergi meninggalkan mereka, entah mencari toilet lain atau kembali ke kelas.
"Jangan lama-lama mikirnya! Lewat tiga hari, tiket permintaan dari gue kadaluarsa!" Derry sedikit berteriak pada Sabrina yang kini berjalan menjauh. Sabrina menjawab dengan mengangkat jempolnya tinggi-tinggi tanpa berbalik badan sama sekali.
Kini kembali hanya ada Karin dan Derry. Setelah Karin mengembuskan napas lega dari dalam dirinya, kembali ditatapnya Derry si pembuat masalah dalam hidupnya. "Kak Derry bersihin sendiri aja deh tuh bajunya!" perintah Karin sebal.
"You're welcome," jawab Derry nggak nyambung, tapi mungkin itu sebuah sindiran untuk Karin yang tak mengucapkan terima kasih sama sekali atas tindakan Derry yang telah dua kali menyelamatkannya di pagi hari ini.
Pertama Derry telah menyelamatkan Karin dari tindasan Nada serta teman satu gengnya, dan yang kedua cowok itu juga telah menyelamatkan Karin dari mulut ember Sabrina yang pastinya akan berimbas pada semakin rendahnya image Karin bila gosip tadi sampai menyebar di seluruh area sekolah.
Karin yang memang peka akan sindiran itu, kontan memaksakan senyum di bibirnya. "Makasih Kak Derry... udah nyelametin aku dua kali," ucapnya sok manis.
"Iya, gue tau gue ganteng... lo baru nyadar?" tanya Derry makin nggak nyambung.
Dan tentu saja Karin semakin tak mengerti akan arah pembicaraan cowok itu. Namun ia lebih memilih untuk tak peduli dan tak ambil pusing dengan omongan ngaco Derry itu. "Serah deh! Gue mau balik ke kelas!"
"Lo udah telat banget kali! Nggak mau bolos bareng gue aja?" goda Derry.
"Nggak! Makasih!" Karin menjawab cepat.
"Bolos lebih asik loh, Rin..." bujuk Derry. "Gue bakal tunjukin lo tempat seru di sekolah ini yang biasanya gue pake kalo lagi males belajar."
"Nggak usah, lain kali aja!" Karin tetap tak tergoda, dan kini cewek itu mulai berbalik badan untuk segera pergi.
Derry masih tak menyerah untuk menggoda cewek itu. "Nggak lama kok, cuma sampe pergantian jam aja..."
"Nggak, Kak... makasih."
Karin kini telah benar-benar pergi, sementara Derry tetap tersenyum memandangi punggung cewek keras kepala yang semakin menjauh dan hilang ditelan jarak.
Di dalam benaknya terus terputar momen-momen yang menimpa mereka berdua pagi ini. Momen yang seakan tak mampu menghapus senyuman yang tercetak sempurna di bibir cowok itu, momen yang begitu amazing dan sempurna hingga membuat Derry tak kuasa untuk terus menerus mengenangnya.
Ah, Karin... Karin... sulit sekali rasanya mengenyahkan wajah berparas bidadari itu dari pikiran Derry saat ini.
***
Uuuuuuh Derry kasmaran tuh!
Oh iya, buat yang dari kemaren kangen sama Sabrina, tuh Sabrinanya aku munculin meskipun cuma sekelebat. Hehe...
Ada yang udah nebak sebelumnya kalo yang bakal mergokin Der-Rin itu Sabrina?
Oke deh, makasih udah baca sampe sajauh ini, semoga kalian tetap suka sama jalan cerita Crazy Seniority 2 ❤❤
Commentnya dong biar aku makin semangat nyusun adegan baper Der-Rin buat ke depannya!!!
Tunggu terus next chapternya ya, bocoran judulnya: Night Futsal.
Udah kebayang bakalan berlanjut kayak gimana ceritanya?
SEE YOU GUYS ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤❤