18 [Mangkal Cari Om-Om]

1297 Words
"Derr, dicariin Bayu tuh!" Itu suara Tina, teman sekelas Derry yang baru saja masuk bersama tiga cewek lainnya. Derry yang saat itu sibuk dengan layar ponsel yang sedang menampilkan akun sosial media miliknya sejenak menoleh ke arah cewek hitam manis yang duduk tepat di depannya itu. "Bayu?" Derry bertanya memastikan. "Iya," jawab Tina yang baru saja menyimpan tasnya di laci meja dan kini berbalik badan menghadap cowok itu. "Katanya lo suruh nemuin dia gitu..." "Sekarang?" "Nggak! Nanti nunggu lebaran," ujar Tina ketus. "Oooh." Hanya itulah respon Derry. Ia pura-pura kembali fokus pada ponselnya meskipun ia tahu Tina jadi makin kesal dibuatnya. "Derr! Sana buruan temuin..." rengek Tina. "Nanti gue lagi yang kena, disangkanya gue nggak nyampein pesannya ke elo." "Tadi katanya nanti nunggu lebaran?" tutur Derry makin ngeselin. "Hellooo?! Ya kali lo mau nunggu lebaran cuma buat ketemu si Bayu doang..." Derry menggaruk kepalanya dengan gusar. Ungkapan bahwa cewek sulit dimengerti itu emang benar. "Jadi gue musti nemuin si Bayunya sekarang nih?" tanya Derry yang juga ikut-ikutan kesal. "Serah deh!" jawab Tina yang seketika itu langsung memalingkan mukanya membelakangi Derry. Derry mengepalkan kedua tangannya geram. Ini cewek maunya apa coba? Ditanya bener, jawabnya ngaco. Diikutin ngaco, malah ngomel. Sekarang ditanya serius, jadi ngambek. "Ya udah, ya udah... ada di mana tuh anak?" tanya Derry akhirnya. "Mana gue tau! Cari aja sendiri!" perintah Tina seenaknya. Derry semakin geram. "Ck! Gue cium juga lo lama-lama, Tin!" kata Derry sambil berlalu. Seandainya saja cewek yang kini duduk membelakanginya itu sebuah botol bekas, ingin sekali Derry meremukkannya. Namun karena pada kenyataannya Tina hanyalah cewek manis yang seringkali memberinya contekan pada saat ulangan, pada akhirnya hanya kalimat itulah yang keluar dari mulut Derry. Sampai di koridor depan kelasnya, Derry mulai celingukan mencari keberadaan Bayu—anak kelas sebelah yang biasa main bola bersamanya di saat jam istirahat pertama tiba. Ketika sosok Bayu tak juga dilihatnya, sebuah pemandangan yang lain dari biasanya berhasil menyita perhatian Derry sepenuhnya. "Ada apaan sih tuh?" Derry menghampiri beberapa cewek kelas sebelah yang juga sepertinya sedang memperhatikan fenomena di lantai bawah bangunan seberang. Fenomena berupa kerumunan siswa yang tak dapat diketahui Derry mengenai apa yang tengah mereka lakukan. "Pagi-pagi udah cari sensasi aja," komentarnya. "Biasalah, Derr... si Vivi sama teman-temannya," jawab cewek berambut lurus sebahu yang disusul anggukan mengerti Derry. Saat melihat Vivi, Nada, serta teman satu gengnya yang lain mencari keributan di pagi hari memang bukan lagi hal luar biasa bagi cowok itu. "Lo nggak gabung?" tanya cewek yang satu lagi. Derry mengangkat alisnya. "Kenapa gue musti gabung?" "Itu yang lagi dibully kan si Karin, cewek yang biasanya lo suruh-suruh," jawab cewek bermata agak sipit yang posisinya paling dekat dengan Derry. Mendengar nama Karin disebut, mata Derry membulat seketika. Lalu tanpa berucap apa pun lagi, Derry segera meninggalkan ketiga cewek yang kini terheran-heran akan tingkah cowok itu. Dengan langkah cepat Derry menyusuri koridor lantai tiga bangunan kelas XII, menuruni dua-dua anak tangga sekaligus, dan berlari menghampiri kerumunan yang kini menjadi semakin ramai oleh para siswa terutama cewek-cewek kelas sepuluh. Derry berdiri di baris paling belakang kerumunan siswa yang membentuk setengah lingkaran dengan Karin sebagai pusatnya. Ia tak langsung menyeruak di tengah-tengah kerumunan itu, namun terlebih dulu diamatinya situasi yang tengah terjadi. Dari posisinya Derry dapat melihat Karin yang terpojok hingga ke tembok bangunan kelas sepuluh. Cewek itu diapit oleh Alya dan Rasty yang mencengkeram erat kedua lengannya. Tepat di hadapannya, Vivi tampak sedang asyik mengoleskan eye shadow hitam yang entah milik siapa ke kelopak mata Karin. Ia terlihat sangat antusias membentuk dua lingkaran hitam besar pada mata Karin yang terpejam. Sementara itu Nada hanya tertawa puas menyaksikan Karin dianiaya. Cewek itu berdiri selangkah di belakang Vivi sambil mengipasi lehernya layaknya sang ratu penguasa jagat raya. "Gue peringatin sama lo ya, nggak usah sok kecakepan deh jadi cewek!" Terdengar suara Nada dengan keangkuhannya yang setinggi langit di angkasa. "Pake dandan segala... lo mau ke sekolah apa mau mangkal cari Om-Om?" sindirnya dengan begitu pedas, sementara Vivi telah beralih dari mata Karin ke bibir cewek itu. Semua yang diam-diam memperhatikan Karin tahu betul bahwa ada benci yang mendalam di balik sikap pasrah cewek yang menjadi korban bullying Vivi cs pagi itu, juga ada rasa malu yang tergambar jelas dari wajah Karin yang kian memerah. "Emang lo tuh ngapain sih ke sekolah pake make-up segala?" Kini giliran Vivi yang angkat bicara. "Lo mau diperhatiin banyak orang? Atau lo mau jadi cewek paling cantik di Natrisa? Iya?" bentaknya tepat di depan wajah Karin. Dengan kejamnya ia oleskan lipstik merah menyala di sekitar bibir Karin hingga membentuk tampilan mirip Joker dalam serial film superhero Batman. "Udah deh, kalo jelek tuh jelek aja! Nggak usah sok-sokan dandan biar keliatan cantik..." timpal Rasty dengan suara centilnya. Bersamaan dengan itu ia ikut mempererat cengkeramannya di lengan kiri Karin. Karin sendiri tak melakukan perlawanan apa pun. Dalam hati ia tak henti berdoa agar bel masuk cepat-cepat berbunyi dan semuanya segera bubar dari sini. Kalau tahu akan jadi begini, Karin benar-benar menyesal telah berani merias diri untuk ke sekolah hari ini. Dan dengan Vivi cs mempermalukannya sepagi ini, sama sekali tak ada yang ingin Karin lakukan selain berlari pulang kembali ke rumah dan mendekam sendirian di dalam kamarnya. Entahlah, dengan puluhan siswa melihat betapa buruk wajahnya pagi ini, Karin seakan tak sanggup melewati sisa harinya yang masih sangat panjang di sekolah mengerikan ini. Ia ingin lari, pergi sejauh-jauhnya dari hadapan mereka semua, namun ia sendiri sadar itu tak mungkin bisa dilakukannya. Tuhan, bila terus-terusan menderita, disiksa dan dipermalukan tiada henti seperti ini, kenapa tak Kau akhiri saja hidup Karin saat ini juga? "Oke, done!" sahut Vivi, tampak begitu puas memandangi wajah Karin yang bahkan lebih konyol dari badut Ancol. "Gimana, guys? Karin jadi makin cantik kan?" tanyanya pada para penonton yang saling kasak-kusuk berbisik satu sama lain. Tak ada yang menjawab. Semua memandang prihatin ke arah Karin yang masih belum membuka matanya. "Woy! Kalo ditanya tuh jawab!" teriak Nada seraya memelototi satu persatu cewek di barisan terdepan kerumunan. "Gimana tuh make overnya? Makin cantik kan? Makin mempesona kan?" Nada lantas bertanya namun dengan kesan memaksa agar semua menjawab iya. "Iya Kak, cantik..." jawab beberapa dari mereka dengan hati-hati. "Tuh! Denger sendiri kan?" bentak Vivi tepat di salah satu telinga Karin. "Lain kali, kalo mau dandan tuh nggak usah tanggung-tanggung... totalitas dong!" tambahnya sambil ngakak. Karin yang telah membuka matanya hanya mengangguk menanggapi saran Vivi itu. "Ini kita kurang baik apa lagi coba jadi kakak kelas lo? Udah nyempetin buat ngajarin lo gimana caranya dandan yang bener, udah bikin lo jadi tontonan dan makin terkenal, buruan bilang makasih!" paksa Vivi yang disambut senyum kemenangan Nada. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya Karin mengeluarkan suara. "Makasih, Kak..." ucapnya pelan dan amat sangat hati-hati. Namun Nada malah melangkah maju dan merengkuh dengan kasar dagu Karin hingga cewek itu mendongak menghadapnya. Masih dipegangi oleh Alya dan Rasty di kiri dan kanannya, Karin kini berhadapan langsung dengan Nada. "Gue nggak mau tau, pokoknya lo nggak boleh cuci muka atau bersihin wajah lo sampe pulang sekolah!" pinta Nada dengan begitu kejam. "Ngerti lo?" tandasnya kemudian. Anjiiir! Karin memaki dalam hati. Emang s****n ya ini cewek satu! Belum cukup apa dia bikin muka Karin yang tadinya cantik jelita penuh pesona jadi hancur sehancur-hancurnya? Belum puas apa dia mempermalukan Karin di hadapan semua orang? Dan dia kini malah seenaknya memerintah Karin untuk tak membersihkan wajahnya hingga pulang sekolah? Dasar cewek gila! "CUKUP!" Satu kata itu berasal dari barisan paling belakang kerumunan. Satu kata yang terucap dari mulut Derry yang sejak tadi terus memperhatikan adegan demi adegan yang telah terjadi. Satu kata yang membuat semua mata seketika menoleh ke arahnya. Satu kata yang mampu membungkam semua kata hingga keheningan tercipta dengan sendirinya. *** Aku tau kalian ingin berkata kasar karena aku stop ceritanya di sini. Wkwkwk Tapi yaaa, apalah daya guys. Ini trik biar kalian nggak kabur dan masih mau nunggu chapter selanjutnya... Haha, maafin kelicikan author ya... Tapi makasih lho udah baca, semoga kalian makin suka ❤ Jangan lupa love sama komen juga yaaa, sekalian ajakin temen-temennya juga buat ikutan baca... SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD