Di saat bersamaan ketika Karin tengah mengikat tali sepatunya di dalam kamar...
Tidak biasanya Derry gelisah seperti ini.
Ini memang bukan kali pertama bagi cowok itu berdiri di depan pintu pagar rumah Karin, namun sungguh baru pertama kali ini Derry merasa tak tenang menunggu kemunculan cewek itu.
Kini ia kembali bimbang bagaimana menyikapi Karin hari ini. Dalam hati Derry bertanya-tanya mengenai sikap Karin terhadapnya pasca tragedi ulang tahun Nada malam itu. Mungkinkah Karin masih sakit hati dan tak ingin bicara dengannya, ataukah ia telah lupa dan memilih bersikap seperti biasa?
Derry mengacak rambutnya kesal seraya merutuki betapa bodohnya perasaan yang dimilikinya saat ini. Bila memang Karin tak mau bicara atau menuruti perintah, ya harusnya Derry tinggal menggertak atau mempermalukan cewek itu di depan siswa satu sekolah seperti yang sudah-sudah. Dengan begitu Karin akan tahu bahwa ia tak berhak untuk menolak perintah Derry yang berkuasa penuh di sekolah.
Namun untuk sekarang, pikiran Derry seakan buntu. Jangankan merangkai rencana untuk menggertak Karin, membayangkan wajah Karin yang muncul di hadapannya saja sudah membuat Derry stress setengah mati.
Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Segera Derry merogoh sakunya dan meraih benda pipih yang sukses menyita perhatian yang sebelumnya dimiliki oleh jendela kamar Karin di lantai dua.
Sebuah panggilan masuk dari Nada segera diterimanya. Derry lantas menempelkan ponsel hitam itu ke salah satu telinganya. "Halo, Nad..." sapanya.
"Derry, lo udah berangkat sekolah belum?" tanya Nada tanpa menjawab sapaan Derry barusan.
"Belum. Kenapa emang?"
"Kalo mau berangkat, mampir ke rumah gue ya... mobil gue lagi rese nih," jawab Nada dengan suara yang agak kesal namun juga terdengar manja di saat bersamaan.
Derry tak langsung menjawab. Nada memintanya untuk menjemput cewek itu dan berangkat bareng ke sekolah. Apa ia akan ke rumah Nada sekarang atau tunggu Karin keluar dulu, lalu mereka berdua sama-sama ke rumah Nada? Derry pun kembali bimbang.
"Derr!" panggil Nada dengan teriakan keras yang tentu saja mengagetkan cowok yang menjadi lawan bicaranya. "Gimana? Bisa kan? Plis, plis, pliiiisss, gue nggak tau nih musti minta tolong ke siapa lagi..."
"Oke, oke, lo tunggu deh! Gue OTW sekarang," sergah Derry spontan.
"Oke Derry, thank you banget!" pekik Nada yang terdengar amat senang. Namun Derry tak merespon. Ia segera mematikan hubungan telepon mereka, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Dijalankannya mobil kebanggannya itu meninggalkan rumah Karin. Permintaan Nada kali ini ternyata menyelamatkan Derry dari kegelisahannya. Permintaan Nada itu juga ternyata mampu menunda pertemuan dirinya dengan Karin di hari itu.
Untuk sesaat, Derry merasa menjemput Nada merupakan pilihan tepat. Namun cepat atau lambat, Karin pasti akan ditemuinya juga. Entah dalam situasi dan kondisi yang seperti apa, namun satu yang pasti, Derry seakan belum siap untuk kembali dipertemukan dengan cewek itu.
***
Pertemuan antara Derry dengan Karin akhirnya terjadi juga. Derry tak pernah berharap bahwa mereka akan kembali dipertemukan secepat itu, namun itulah kenyataan yang tak dapat terhindarkan.
Saat Derry berjalan bersisian bersama Nada menyusuri rerumputan yang tumbuh di area depan perpustakaan, saat itulah dilihatnya Karin yang baru saja menginjakkan kakinya di teras gedung penyimpan ribuan buku itu.
Dalam sekali tatap, dapat langsung dikenalinya cewek yang tengah berdiri mematung menghadap dirinya di dekat pilar bangunan. Dalam sekali tatap, Derry juga langsung dapat merasa bahwa ada yang berbeda dengan cewek berseragam rapi itu.
Wajah Karin tampak berbeda dari biasanya, dan itu membuat Derry tak dapat mengalihkan perhatiannya. Ia tahu dan sadar betul bahwa Karin memang selalu cantik, namun untuk hari ini Karin bukan hanya cantik.
Cewek itu seakan menjelma menjadi gadis super cantik dengan tatanan make-up yang pas dan tak berlebihan di wajahnya. Cewek itu juga seakan berubah menjadi secantik pemeran utama dalam film-film SMA yang bahkan paras wajahnya setara dengan bintang iklan papan atas produk kecantikan remaja.
Baru pertama kali ini Derry melihat ada polesan lipstik tipis di bibir Karin, dan itu membuat Derry semakin terpesona dalam posisinya. Derry juga melihat bahwa wajah Karin hari ini jadi lebih cerah dan bersinar hingga ia seakan enggan untuk mengalihkan pandangannya dari kecantikan sempurna yang merupakan mahakarya Tuhan paling luar biasa bagi dirinya.
Tanpa sadar Derry memperlambat langkahnya, dan itu membuat dirinya tertinggal beberapa langkah dari Nada. Nada yang masih mengoceh baru menyadari kalau dia hanya berjalan sendiri sementara Derry masih di belakang.
Segera saja cewek itu berbalik menghampiri Derry. Saat itulah didapatinya Derry sedang terbengong-bengong dengan pandangan yang terfokus pada salah satu pilar perpustakaan.
Nada segera mengikuti ke mana arah pandangan Derry, lalu dilihatnya pula cewek dengan sejuta pesona tengah berdiri mematung di sebelah pilar perpustakaan. Nada memandang bergantian antara Karin dan Derry hingga ia tahu meraka berdua hanya saling tatap dalam diam. Ini jelas tidak bisa dibiarkan.
"Derry!" bentak Nada yang didahului dengan tepukan keras di bahu cowok itu.
Derry kontan terlonjak di posisinya dan saat itu juga tersadar dari keterpanaannya akan penampilan Karin yang hanya sedikit berbeda namun berefek sangat besar bagi cowok itu. Secepat mungkin Derry menoleh ke Nada dan memasang tampang senormal mungkin di hadapan cewek itu.
"Ngapain sih lo ngeliatin cewek norak itu sampe segitunya?" tanya Nada dengan kecemberutan di wajahnya.
Derry mengangkat alisnya, berusaha tampak polos tapi malah terlihat b**o. "Ngeliatin... siapa?"
"Kariiiin! Dari tadi lo ngeliatin Karin kan?" tuntut Nada yang berusaha untuk semakin memojokkan Derry.
"Karin? Mana Karin?" Derry bertanya sambil celingukan nggak jelas. "Orang dari tadi gue cuma ngeliatin lo juga..." kilah Derry kemudian.
"Bohong!" balas Nada singkat.
"Udah deh ah, jalan yuk jalan... gue udah ditungguin si Rama di kelas nih..." Dengan meraih dan menggenggam erat satu tangan Nada, Derry memaksa cewek itu untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kelas. Dan walaupun Nada masih kesal, ia sama sekali tak berdaya bila Derry sudah mulai memainkan sentuhan dalam aksinya.
Ketika dirinya dengan Nada berjalan tepat di depan Karin, Derry melangkah sewajarnya tanpa sekali pun melirik cewek itu. Bagaimanapun Derry telah terlanjur pura-pura pada Nada bahwa dirinya tak tahu akan keberadaan Karin yang berdiri di situ. Oleh karenanya Derry takkan memulai menyapa atau menghampiri sebelum Karin yang menyapanya terlebih dulu.
Dan tepat sesuai dugaan, Karin juga tak mengeluarkan suara sama sekali. Boro-boro menyapa Derry, cewek itu kini malah terlihat sibuk sendiri dengan membuka tasnya seakan sedang berusaha menemukan sesuatu di dalam sana.
Entah itu hanya pura-pura atau sungguhan, namun Derry agak merasa kecewa dengan sikap cewek itu yang tak juga memanggilnya hingga ia sampai di tikungan dan berbelok ke koridor ruang kepala sekolah.
Entah rasa kecewa ini datang dari mana, entah kecewa macam apa yang kini sedang dirasakannya, Derry sama sekali tak mengerti. Benar-benar tak mengerti...
***
Cie yang ngarepin bakalan ada adegan lebih antara Karin sama Derry... Hahaaa
Sabar pemirsah, jangan dulu pada kecewa... semua ada waktunya kok, tenang aja...
Oke, intinyaaaa jangan bosan-bosan baca Crazy Seniority 2 ya?! Voment juga jangan lupa!!!
Ajak juga teman-temannya buat ikutan baca. Sama makasih udah bikin rank Crazy Seniority 2 terus naik tiap harinya
SEE YOU GUYS ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤❤