Karin menyamakan panjang tali sepatunya. Dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, ia lantas mengikat dan membentuk simpul sederhana. Selesai dengan itu, ia kemudian beralih memasangkan sepatu ke kaki sebelah kirinya. Dan Karin tengah menyamakan kembali panjang tali sepatunya saat kekhawatiran itu datang menyergapnya.
Bayangan Derry mendadak hadir di pikirannya. Cowok gila namun sungguh sangat mempesona itu berdiri bersandar pada kap mobilnya, menyambut Karin yang baru saja muncul dari balik pintu pagar rumahnya. Wajahnya membentuk seringai mengerikan seakan siap menerkam Karin dengan berbagai perintah tak terbantah.
Setelah sehari penuh terbebas dari kekangan Derry, kini Karin sepertinya harus siap untuk kembali diperbudak oleh cowok itu. Setelah kemarin ia dapat merasakan suasana sekolah yang damai dan tenteram, kini Karin harus siap untuk kembali disuruh-suruh dan dipermalukan.
Ketidakhadiran Derry kemarin di sekolah benar-benar tak terduga namun mampu membuat Karin merasa merdeka meski hanya sekejap saja. Ia sungguh tak peduli dan tak ingin tahu kenapa Derry tak hadir di sekolah, tapi yang jelas jika boleh berharap, Karin ingin absennya Derry di sekolah kemarin dapat terus berulang hingga hari ini, esok dan seterusnya.
Karin beranjak dari ujung ranjangnya saat kedua sepatunya telah terikat dengan sempurna. Ia segera beralih ke satu-satunya cermin yang ada di ruangan itu, dan menatap pantulan wajahnya dengan serius. Mendadak pandangannya menangkap benda kecil berwarna hitam yang tergeletak begitu saja di antara bedak, body lotion serta perlengkapan kecantikan milik Karin yang lainnya.
Karin meraihnya, membuka tutupnya dan memutar ujung bawahnya. Kini Karin memperhatikan baik-baik lipstik warna nude yang ada di tangannya. Sejenak ia berpikir untuk mengoleskannya di bibirnya. Bukankah tak ada salahnya untuk sedikit memoles diri dan tampil cantik di sekolah untuk saat ini?
Selama ini Karin selalu menahan diri untuk tidak merias wajahnya bila ke sekolah demi menghindari perhatian para siswa. Selama ini Karin selalu tampil biasa untuk menjaga identitasnya di sekolah.
Namun saat ia yakin identitasnya yang merupakan adik dari alumni bermasalah Netrisa telah terbongkar, saat lebih dari sebagian siswa di sekolah telah mengenal siapa dirinya, lantas untuk apa lagi dia berusaha sembunyi?
Bila Derry memang bebas menindasnya, maka ini pulalah saatnya Karin untuk bebas berekspresi. Ya, Karin menghias diri memang murni bentuk pengekspresian dirinya sebagai kaum perempuan dalam usia remaja.
Sama sekali bukan karena ingin menarik perhatian atau dianggap cantik, walaupun kedua hal itulah yang selalu didapatnya ketika ia berdandan.
Karin tak peduli pada cowok teman SMPnya yang selalu menatap terpesona akan wajahnya, Karin juga tak peduli pada cewek-cewek sirik yang dulu mengecapnya sebagai cewek ganjen atau apa, pokoknya Karin suka dandan tanpa alasan.
Itu semacam hobi yang kadang ia gunakan untuk mengisi waktu luang, juga semacam candu yang tak dapat terlalu lama ia pendam.
Entahlah, yang jelas Karin selalu suka masuk ke toko kosmetik dan tak pernah keluar dari sana dengan tangan kosong.
Karin suka melihat pantulan wajahnya dengan pipi yang merona oleh blush on, mata yang tegas oleh eye liner, bulu mata yang lentik oleh mascara, serta bibir yang manis terpoles lipstik.
Dan tanpa terasa, itulah yang sedang diperbuat Karin pada wajahnya. Tanpa sadar, cewek itu keluar dari kamar dengan wajah yang begitu berbeda dari biasanya.
***
Di luar dugaan Karin, ternyata pagi ini Derry tak datang untuk menjemputnya ke sekolah. Entah ini karena masih terlalu pagi atau karena Derry tak masuk sekolah lagi, yang jelas Karin senang bukan main saat mendapati jalan g**g kompleks depan rumahnya lengang tanpa mobil Derry yang biasanya parkir di sana. Ia tersenyum girang seraya berdoa bahwa kejadian kemarin saat Derry tak ada di sekolah dapat terulang hari ini.
Semoga saja Derry sakit, atau kekunci di kamar, atau seragamnya dicuri orang, atau apalah yang membuat cowok itu memutuskan untuk tak masuk sekolah. Begitulah harapan hati Karin seiring langkah yang ditempuhnya menuju ke rumah Mario.
Begitu sampai di rumah yang hanya berjarak 200 meter dari rumahnya itu, Karin harus sedikit kecewa mendapati fakta bahwa Mario telah pergi ke sekolah lebih dulu sekitar sepuluh menit yang lalu.
Setidaknya itulah informasi yang didapat Karin dari Tante Yun, wanita yang tengah menyiram bunga di halaman rumahnya, serta wanita yang juga dikenal Karin sebagai ibunda Mario.
Dengan itu Karin pun memutuskan untuk naik bus. Dan setelah lebih dari lima menit menyusuri jalan utama kompleks perumahannya, kini sampailah cewek itu di halte tempat beberapa siswa SMA yang berbeda sekolah dengannya berdiri menunggu kendaraan umum yang sama.
Sesaat Karin berharap bisa jadi bagian dari mereka. Bersekolah di sekolah yang berbeda, tak mengenal Derry, Rama serta yang lainnya, juga dapat hidup normal dan bahagia sebagaimana remaja pada umumnya.
Dulu kakak Karin melarangnya mati-matian untuk sekolah di Netrisa, dan kini Karin agak menyesal telah menentang cowok yang paling ingin melindunginya itu.
Dulu Karin terlalu buta oleh cerita teman-temannya akan betapa wow dan kerennya nama Netrisa di kalangan siswa SMP, namun saat dirinya sudah resmi menjadi siswa Netrisa segalanya terasa sama saja.
Dulu Karin juga merasa bangga bisa masuk sekolah yang katanya menerapkan kualifikasi tingkat tinggi dalam menyeleksi para pendaftarnya, namun kini semua itu seakan tak berguna.
Lamunan Karin terhenti saat sebuah bus berhenti selangkah di depannya. Ia pun segera naik dan masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkannya ke sekolah itu.
Di sepanjang perjalanannya menuju ke sekolah Karin kembali melamun memikirkan keputusannya untuk sekolah di Netrisa. Hingga tanpa terasa bus berhenti yang mengharuskan Karin untuk segera turun dari sana.
Di depan pintu gerbang yang terbuka lebar, telah berdiri bapak satpam dengan senyum ramahnya yang siap membantu Karin menyeberang.
Begitu sampai di dalam area sekolah, Karin mulai menatap sekeliling, barangkali Derry telah menunggunya lengkap dengan seribu perintah gila yang telah disiapkannya. Namun hingga dirinya sampai di ambang pintu kelas, cowok populer Netrisa itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya.
Karin melirik jam tangan abu-abunya, dan jam klasik dengan berhias angka-angka romawi itu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Masih ada setengah jam lagi yang bisa ia manfaatkan untuk bersembunyi dari Derry.
Memang ia berharap agar Derry kembali tak hadir di sekolah hari ini, namun tetap tak ada yang menjamin bahwa harapannya itu akan menjadi kenyataan kan?
Jadilah kini Karin membatalkan niatnya untuk masuk ke kelas. Ia akan ke perpustakaan sekalian mengerjakan tugas yang belum terselesaikan.
Saat bel masuk berbunyi nanti, barulai ia akan kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran seperti biasa. Dengan begitu saat Derry sampai di sekolah dan tak menemukannya di kelas, ia berharap bahwa cowok itu akan menganggapnya masih dalam perjalanan dan belum sampai di sekolah.
Namun harapan tinggal harapan. Saat Karin menginjakkan kakinya di teras perpustakaan, tanpa sengaja pandangannya bertumbukan dengan seseorang yang baru saja muncul dari arah parkiran.
Orang yang tengah melangkah menyusuri jalan penuh rerumputan di depan bangunan perpustakaan yang memanjang, orang yang menatap terkesima akan dirinya tanpa berkedip, serta orang bernama Derry yang tengah berusaha untuk dihindarinya.
***
Makasih udah baca, semoga kalian tetap suka ❤
Jangan lupa kasih love sama komen ya, biar aku semangat ngelanjutinnya..
Untuk sekarang alurnya lagi flat dulu ya teman-teman, masa konflik mulu tiap chapter...
Tapi tenang aja, next chapter bakal ada konflik yang lebih ****** deh pokoknya. *sengaja disensor biar pada kepo
Percaya sama aku, kalian bakal lebih baper dari sebelumnya. Hehe semoga aja
Ada yang penasaran? Ada yang nggak sabar pengen tau gimana reaksi Derry saat ngeliatin Karin dandan cantik banget ke sekolah hari ini?
Silakan menebak-nebak....
SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER AND LOVE YOU ❤❤❤❤