bc

Akhir Rasa Ini

book_age16+
149
FOLLOW
1K
READ
HE
second chance
friends to lovers
brave
doctor
drama
tragedy
sweet
bxg
brilliant
office/work place
war
musclebear
like
intro-logo
Blurb

"Jika terjadi sesuatu padaku, aku titip Raras. Aku tahu kamu mencintainya lebih dulu dibanding aku." Kata Rangga pada Marco.

*

Marco Vescari Taysir si ahli bedah bertangan dingin, harus terjebak friendzone yang terasa friendsh*t baginya. Bagaimana tidak? Dia menyukai Raras sedari dulu tapi harus merelakan ditikung Rangga, sang sahabat, menyisakannya harus menjaga jarak.

*

Pernah timbul dark wishes Marco untuk bisa memiliki Raras, padahal wanita itu sudah jelas menentukan pilihannya dan itu bukan dirinya. Keinginan gelap yang sempat terlintas untuk memiliki Raras, menjadi sebuah kutukan bagi Marco.

Tapi saat Rangga benar-benar pergi, menyisakan sesal teramat sangat pada Marco, merasa tidak pantas untuknya masih bernafas di atas penderitaan Raras.

*

Bagaimana caranya Marco bisa meyakinkan Raras bahwa dia layak untuk dicintai, ketika Marco sendiri membenci jantungnya yang masih berdetak sementara sang sahabat tidak lagi bernyawa? Ketika Marco merasa bahwa dia pengkhianat karena tidak mampu penuhi janjinya pada wanita yang dia cintai?

*

Novel ini bukanlah sekadar kisah cinta segitiga, melainkan kisah tentang bagaimana cara memaafkan diri sendiri agar bisa kembali mencintai.

chap-preview
Free preview
Part 1. Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta
Sebelum melangkah masuk ke kantin Rumah Sakit Mazaya yang bising, MarcoVescari Taysir berhenti sejenak di ambang pintu kaca. Ia menarik napas panjang, menahan udara di paru-parunya selama tiga detik, lalu menghembuskannya perlahan. Itu adalah ritual kecilnya yang hanya diketahui oleh sang adik, sebuah persiapan mental untuk memasang topeng. Di kejauhan, di meja nomor 4, meja keramat merek, dia sudah melihat dua sosok itu. Si Gadis Purnama dan Si Pria Matahari. Mereka bersinar begitu terang hingga Marco merasa seharusnya ia memakai kacamata hitam, atau lebih baik lagi, berbalik arah dan makan roti di pantry sendirian. Tapi Marco tidak mau berbalik. Ia justru melengkungkan bibirnya, membentuk senyum santai yang sudah dilatihnya bertahun-tahun di depan kedua sahabat dekatnya itu, lalu melangkah mendekat. Menuju pusat gravitasi yang perlahan namun pasti tanpa dia sadari, membunuhnya. “Aarrgh kesel, keseeel, KESEEELL!” Pekik gadis yang sedang menyantap soto ayam sebagai menu makan siangnya di kantin RS Mazaya. Usai pantatnya duduk di kursi, di jam makan siang yang padat itu, suara denting sendok beradu dengan mangkuk keramik menjadi simfoni yang akrab di telinga Marco, Rangga Pradipta juga Raras Kirana Maheswari. Tiga orang yang bersahabat lebih dari sepuluh tahun. "Jadi, Prof. Hendra beneran nyuruh kamu ulang semua sampelnya?" Rangga bertanya dengan mulut penuh kerupuk, matanya berbinar jenaka menatap perempuan yang duduk di depannya yang nampak emosi. Raras mendengkus kesal, menancapkan garpunya ke potongan lontong dengan sedikit lebih bertenaga dari yang seharusnya. Kepalanya menggeleng-geleng, "bukan cuma ngulang sampel, Ga. Dia minta aku cross-check manual. Manual! Bayangin deh, ada dua ratus cawan petri dan mataku cuma dua biji! Gilaaa kan?!” Raras geram dan seketika menyuap dua irisan lontong sekaligus sangking emosinya. Rangga tertawa lepas, suara baritonnya membuat beberapa perawat di meja sebelah reflek menoleh dan ikut tersenyum. Itu adalah efek Rangga Pradipta, dia adalah matahari. Ke mana pun dia pergi, seolah membawa gravitasi yang membuat orang ingin mendekat. Sementara itu, Marco adalah bayangannya. Tanpa mengalihkan pandangan dari jurnal medis di pangkuannya, tangan kanan Marco bergerak otomatis, sebuah memori otot yang terbentuk dari sepuluh tahun kebersamaan. Ia menarik mangkuk soto Raras ke hadapannya, menyendok keluar irisan seledri satu per satu, lalu memindahkannya ke mangkuknya sendiri. Marco tahu Raras benci bau seledri. Ia tahu Raras lupa memesan "tanpa seledri" karena terlalu emosi. Dan ia tahu, Raras mungkin tidak akan menyadari kalau seledri itu hilang dengan sendirinya karena terlalu sibuk menertawakan lelucon Rangga tentang pasien yang menelan gigi palsunya sendiri. "Thanks, Mark," gumam Raras sekilas saat mangkuknya kembali bersih dari seledri, tapi matanya masih terkunci pada wajah Rangga. "Hmm," gumam Marco pelan. Tidak ada yang menyadari getaran getir pada satu suku kata itu. "Oh iya, Mark!" Rangga menepuk meja, membuat sendok Marco sedikit bergetar. “Apaan sih Ga? Ngagetin orang idup aja lo!” Balas Marco yang kaget. "Sorry, sorry, tapi lo inget nggak gue minta tolong ke lo buat gantiin shift gue Sabtu ini? Gue mau ajak Raras ke pameran seni di Jaksel." Marco mengangkat wajahnya. Ia menatap Rangga sebentar, mencari setitik keraguan di sana, tapi nihil. Lalu ia beralih ke Raras. Gadis itu menatapnya dengan mata membulat penuh harap, kedua tangannya ditangkupkan di depan d**a. Jangan tatap aku begitu, Ras, batin Marco menjerit sakit. Itu curang, karena aku tidak akan pernah bisa menolak. Marco tahu ia bisa saja menolak. Ia bisa bilang ia sibuk. Ia bisa bilang dia sudah lelah menjadi bumper mereka berdua. Tapi di hadapan mata berbinar itu, logika Marco lumpuh total. "Lo beneran mau pergi ke pameran seni sementara sabtu ini ulang tahun ibu lo, Ga," jawab Marco datar. Rangga tertegun, tepukannya di meja terhenti diganti tepukan ke keningnya sendiri, “astaga. Gue lupa total. Mati gue, nyokap bisa ngamuk. Makasih udah ingetin! Lo emang terdebes! Iya kan, Ras?” Rangga meminta pembenaran pada Raras yang dijawab dengan anggukan. "Gue juga udah pesen kue tart atas nama lo. Lo bisa ambil di toko langganan jam lima sore," lanjut Marco, kembali menatap jurnalnya seolah itu hal sepele. Padahal, ia menghabiskan waktu satu jam kemarin untuk memilih rasa kue yang tidak terlalu manis, sesuai selera ibunda Rangga, karena Rangga pasti akan lupa. Minggu ini jadwal operasi mereka sangat padat. Walau pada akhirnya Marco menyerah dan minta bantuan mama tercinta untuk memberikan referensi cake yang tepat. Raras menatap Marco lekat. Ada jeda hening sejenak di meja itu, "by the way Mark," panggil Raras pelan, “kamu tuh kenapa selalu inget hal-hal seperti ini sih?" tanya Raras, suaranya hati-hati seolah pertanyaannya itu sembilu tajam yang mampu menyakiti Marco. Marco merasakan detak jantungnya terhenti sejenak. Karena itu menyangkut kebahagiaan lo, Ras. Karena gue hafal jadwal lo, kesukaan lo dan semua orang yang lo sayang. Marco memasang senyum miring andalannya, topeng nomor satu yang sering dia kenakan sepuluh tahun terakhir ini. "Kebetulan aja kemarin reminder di HP gue bunyi," bohong Marco lancar seolah terbiasa lakukan itu, "gue kan orangnya terorganisir, nggak kayak lakik lo yang berantakan ini." Kata Marco sembari melirik ke arah Rangga yang tertawa kecil dan menangkup tangan di depan d**a. Tepat di saat itu ponselnya berdering, menyelamatkannya dari interogasi lebih lanjut. “Halo?” Marco menjawab cepat, keningnya berkerut mendengar suara perawat di ujung sana, “heuum, oke. Vital sign menurun? Aku ke situ sekarang.” Dia menutup jurnalnya dan berdiri, memasukkan pena ke saku d**a, “gue duluan. Ada pasien gawat di poli." "Hati-hati, Mark!" seru Rangga ceria. Tanpa menunggu jawaban Raras, Marco berjalan keluar kantin dengan langkah cepat, meninggalkan tawa hangat sepasang manusia yang saling melengkapi di belakangnya. Sesampainya di koridor yang dingin dan sepi, bahu tegap Marco merosot. Tangannya terkepal kuat di dalam saku baju seragam, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa perih. Ternyata menjadi pemeran pembantu itu bisa sangat melelahkan. Terutama ketika kau harus menulis naskah manis romantis dengan jalan cerita bahagia, untuk wanita yang kau cintai, agar dia bisa memainkan perannya dengan lelaki lain. Marco menekan tombol lift, melihat pantulan dirinya di pintu besi yang buram. Sosok pria jangkung berwajah bule dengan seragam dokter yang gagah, pintar, kaya namun memiliki tatapan mata yang kosong. Tidak ada yang kurang pada dirinya, kecuali rasa cinta bertepuk sebelah tangannya yang hanya mampu dia pendam. Sampai kapan lo mau jadi penonton, Mark? batinnya mengejek kejam. Sampai kapan lo mau jadi badut yang nyiapin panggung buat orang lain, huh? Pintu lift terbuka. Marco melangkah masuk ke dalam kotak besi itu sendirian. Dia menekan tombol lantai 4, lalu bersandar lemas di dinding lift yang hanya berisi dirinya. Bibirnya menyunggingkan senyum getir, menertawakan kebodohannya sendiri. Nggak apa-apa, bisik sisi hatinya yang lain. Selama Raras ketawa, gue rela cuma jadi figuran yang numpang lewat. Sekalipun bayarannya adalah hati gue yang remuk redam setiap melihat kemesraan mereka. Itu jalan yang aku pilih.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.1K
bc

TERNODA

read
199.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook