BRAK!
Pintu Laboratorium Farmakologi RS Mazaya terbuka lebar. Suara riuh rendah seketika memecahkan keheningan sakral tempat itu.
"Pengiriman paket cinta untuk Ibu Ilmuwan Tercantik!" teriak riang sebuah suara yang membuat semua mata tertuju padanya.
Lima menit sebelumnya di sore yang sudah jelang malam di Laboratorium Farmakologi yang masih aktif, Raras menyipitkan mata, menatap lensa mikroskop elektron dengan mata yang mulai lelah. Lehernya terasa kaku, seolah ada beton yang ditanam di tengkuknya.
Tiga jam sudah dia non-stop berdiri, meneliti pergerakan sel dalam cawan petri, membuat perutnya mulai mengirim sinyal protes berupa lapar dengan orkestra yang membuat teman-teman satu lab tertawa.
"Satu sampel lagi... ayo, semangat Raras! Ganbatte!" gumam Raras menyemangati dirinya sendiri, sembari memijat pelipisnya yang berdenyut.
Tapi keheningan yang menyergap lab seketika menghilang, dihebohkan oleh Rangga yang berdiri di ambang pintu dengan senyum yang lebih terang dari lampu operasi. Di pelukannya, terdapat buket raksasa baby breath dan mawar putih, kombinasi favorit Raras yang sulit dicari. Wangi bunga segar seketika menyerbu masuk, bertarung dengan bau alkohol dan disinfektan.
"Rangga!" Raras terlonjak, hampir menyenggol pipet kacanya. Pipinya seketika merona, melihat kegilaan kekasihnya, "kamu ngapain? Ini masih jam kerja loh!" pekiknya, malu dan kaget.
"Jam kerja apanya? Ini udah waktunya pacaran," ucap Rangga santai, melangkah masuk dengan percaya diri, tidak peduli pada tatapan iri para asisten lab lain, “tuh, udah hampir jam tujuh malam. Buket bunga ini buatmu biar kamu nggak stres liatin bakteri melulu."
"Ciee... Raras," celetuk Siska, rekan kerjanya yang lebih senior, sambil senyum-senyum menggoda, “enak banget sih, punya pacar dokter, ganteng, romantis lagi. Kita mah boro-boro dibawain bunga, boro-boro pacar dokter, dibalas chat-nya aja udah sujud syukur." Kata Siska dibalas kekehan tawa rekan lainnya.
Raras tertawa renyah mendengar curhatan Siska, dia menerima buket itu dan mencium harumnya. Hatinya menghangat. Setiap kali Rangga melakukan hal-hal besar seperti ini, Raras merasa menjadi tokoh utama dalam sebuah film komedi romantis. Jantungnya berdegup kencang, yang menyenangkan, penuh adrenalin dan euforia karena merasa diperhatikan dan diratukan oleh sang kekasih.
Namun, di tengah euforia itu, tangan Raras bergetar pelan. Bukan karena cinta, tapi karena hipoglikemia. Gula darahnya turun drastis. Ia butuh duduk dan ia butuh asupan makanan. Buket bunga yang dibawa Rangga memang indah, tapi dia bukan ulat yang bisa memakannya. Dia butuh makanan!
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari belakang punggung Rangga. Tangan yang kokoh dengan lengan kemeja digulung rapi sebatas siku.
Sebuah tumbler stainless dan satu pack cracker diletakkan di meja kerja Raras. Tanpa kehebohan, tanpa seremonial.
"Latte, double shot, s**u oat, gula aren seperempat sendok teh. Panas. Cracker abon. Makanlah," suara bariton yang tenang itu terdengar mengudara.
Marco muncul dari balik bayangan Rangga. Wajahnya datar, tangannya dimasukkan ke saku celana bahannya. Marco muncul tidak membawa bunga juga tanpa membawa kehebohan. Dia hanya membawa apa yang tubuh Raras teriakkan sejak satu jam lalu! Marco tahu itu.
Raras menoleh cepat. Matanya berbinar indah, kali ini bukan binar terpesona, tapi binar karena merasa terselamatkan.
"Aagh Marco, makasiiiih..." Raras meletakkan bunga Rangga di lengan kirinya, lalu menyambar tumbler itu. Dia menyesapnya rakus seolah tidak pernah minum kopi selama seminggu. Cairan kafein yang sudah hangat itu mengalir ke kerongkongannya, seketika meredakan rasa pening di kepalanya, "kamu tahu banget aku lagi mau mati karena ngantuk." Pekik Raras bahagia.
"Lo bukan ngantuk, Ras, lo telat makan," koreksi Marco singkat, matanya memindai wajah pucat Raras dengan presisi seorang dokter bedah, "muka lo pucat banget. Hei, minumnya pelan-pelan aja, awas tersedak. Jangan lupa cracker dimakan."
Siska dan rekan-rekan lab lainnya kembali riuh, "gila ya Raras ini, kiri kanan oke. Yang satu, kekasih ngasih romansa, yang satu lagi, sahabat ngasih logistik. Ras, infoin alamat dukun lo dong, sama lo pake susuk apa sih biar kita juga bisa dapat double combo, dokter ganteng, kaya raya, perhatian macam mereka berdua."
Raras tertawa, kali ini lebih lepas karena energinya sudah kembali. Kehangatan yang dia rasakan bertambah. Jika Rangga adalah kembang api yang meledak indah dan membuat jantungnya berpacu, sedangkan Marco adalah selimut tebal di hari hujan. Terasa seperti rumah yang nyaman dan aman.
"Udah, jangan godain Raras terus," Rangga merangkul bahu Raras posesif, tapi matanya melirik Marco sambil nyengir.
"Ras, pulang ini dinner yuk? Ada resto Italia baru buka di Senopati. Sekalian rayain proyek lo yang udah mau kelar."
"Boleh!" jawab Raras antusias, mengangguk-angguk senang. Lalu, seperti refleks alaminya selama ini, dia menoleh pada Marco, “ajak Marco juga ya? Kan dia yang bantuin aku revisi jurnal kemarin sampai mabok dia tuh.” Katanya merajuk.
Rangga tertawa, mengacak rambut Raras penuh sayang, “kamu ini, kita tuh berasa kayak paket buy 1 get 1 terus. Ke mana-mana harus bertiga." Kata Rangga tanpa ada tendensi apa pun.
Baik Raras dan Rangga terkikik geli mendengar itu. Mungkin saja, kalimat itu terdengar sebagai candaan bagi keduanya, tapi tidak bagi Marco, karena itu adalah sebuah vonis.
Buy 1 Get 1. Marco meringis perih. Dia-lah yang jadi barang bonus, yang jadi tambahan. Ternyata selama ini, dia memang tidak pernah menjadi yang utama.
Marco memaksakan sudut bibirnya naik, seolah mengikuti candaan mereka. Sebuah senyum yang tidak mencapai matanya yang biru tajam, gen dari sang mama yang berdarah Italia.
"Gue nggak bisa," tolak Marco halus.
Raras dan Rangga berhenti tertawa. Mereka berpandangan. Tumben. Biasanya Marco selalu mengiyakan.
"Eh kenapa, Mark?" tanya Raras, kekecewaan terdengar jelas di suaranya, “kamu ada jaga malam? Kan bisa minta ganti jadwal, secara ini rumah sakit punya mamamu kan?” pinta Raras penuh harap agar Marco ikut mereka.
"Justru itu, lusa mama mau balik ke Italia bisa sebulanan," kata Marco menyebut nama Louisa Vescari sebagai tamengnya, "gue harus di rumah, dinner keluarga sama bantu packing. Lo tahu sendiri Mama kalau nyuruh orang lain suka ngamuk kalau gak sesuai."
"Yaah…, sayang banget," Raras mendesah panjang, “padahal aku mau traktir kamu.”
"Lain kali aja ya," Marco menepuk puncak kepala Raras sekilas. Sentuhan yang sengaja dia batasi durasinya, tidak boleh lebih dari dua detik agar tidak ketahuan gemetaran di tangannya, “bye, selamat kencan." Kata Marco, kedipkan sebelah mata dan melangkah keluar dari lab dengan pundak tegap.
Lima belas menit kemudian, di area parkir basement.
Marco duduk di dalam kabin mobil SUV-nya yang gelap. Mesin sudah menyala, tapi dia belum memasukkan gigi transmisi. Matanya terpaku pada kaca spion tengah.
Di pantulan cermin persegi panjang itu, dia melihat mereka.
Rangga sedang membukakan pintu mobil untuk Raras, sebuah gestur seorang gentleman. Sebelum Raras masuk, Rangga sempat mencubit pipi gadis itu, membuat Raras tertawa dan memukul lengan Rangga manja. Bahasa tubuh mereka begitu mesra.
Jika diibaratkan dengan semesta, maka Rangga adalah Bumi, tempat Raras berpijak, tumbuh dan hidup.
Sementara dirinya?
Hufft…, Marco menatap tangannya sendiri yang mencengkeram kemudi sangat erat.
Dia adalah Saturnus.
Planet yang konon paling indah dengan cincinnya. Megah, mighty dan menawan dari kejauhan. Tapi Saturnus terbuat dari gas dan es hingga hanya ada dingin. Yang paling menyakitkan adalah Saturnus memiliki orbit yang jauuh. Dia harus menjaga jarak jutaan kilometer dari Matahari.
Jika Saturnus nekat mendekati Bumi, cincin indahnya akan hancur dan ia akan terbakar habis oleh panasnya Matahari. Tidak hanya hancur tapi juga mengacaukan alam semesta, hingga tidak mungkin untuk dilakukan.
"Jaga jarak aman, Marco. Jaga jarak aman," bisiknya pada diri sendiri, mengulang mantra yang menyakitkan itu.
Di spion, mobil Rangga mulai bergerak menjauh, membawa serta tawa dan cahaya hidup Marco. Parkiran kembali sunyi dan dingin.
Marco mengulurkan tangan ke dashboard, memutar volume audio hingga maksimal. Lagu rock cadas, entah berjudul apa itu, dengan distorsi gitar kasar meledak-ledak memenuhi kabin mobil. Dia berteriak-teriak marah, sering mencoba namun selalu gagal, untuk menulikan telinganya dari suara kesepian yang menjerit jauh lebih nyaring di dalam dadanya.
Satu kata, sakit! Batin Marco sembari meremas d**a kirinya.
Menjadi rumah itu ternyata bisa sangat menyakitkan, Ras, batin Marco saat menginjak pedal gas dalam-dalam. Karena orang-orang hanya singgah saat mereka lelah, lalu pergi lagi saat matahari mulai bersinar.
Sepanjang perjalanan, Marco akhirnya menyerah dan ditemani lagu ‘Luluh’ dari Samson yang kata adiknya, sangat cocok dengan dirinya.