Part 3. Sebuah Gladi Resik Patah Hati

1637 Words
Apakah seorang sahabat harus selalu mendukung sahabatnya? Walau dalam kepahitan hati sekalipun? Walau harus bermain peran ikut bahagia? Jika jawabannya iya, maka dunia menyebutnya sebagai pengorbanan. Novel-novel romansa menyebutnya sebagai cinta tanpa syarat. Tapi, saat Marco menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca etalase toko perhiasan itu, dia melihat definisi lain. Kebodohan. Yah, sebuah kebodohan hakiki yang dibungkus rapi dengan pita bernama "setia kawan". * Pantulan lampu sorot halogen di toko perhiasan "Diamond & Co.” menambah cantik koleksi perhiasan yang terpajang. Tapi bagi Marco, ruangan berpendingin udara maksimal itu terasa engap. Oksigen di sana seolah telah disedot habis oleh antusiasme Rangga yang meletup-letup sedari kakinya pertama kali melangkah ke outlet mewah ini. "Kalau yang ini gimana, Mark?" entah untuk ke berapa kalinya Rangga menunjuk lagi sebuah cincin, setelah sedari tadi Marco menggeleng tanda tidak setuju dengan model yang dipilih Rangga. Kali ini Rangga menunjuk ke sebuah cincin dengan berlian solitaire yang menonjol tinggi, berkilau sombong di atas bantalan beludru hitam, “kayanya yang ini paling pas deh. Gede nih, 2 karat. Pasti Raras jejeritan seneng. Gue mau dia pamerin ke satu rumah sakit dengan bangga!” Kata Rangga, sesekali melirik Marco yang tampak sudah lelah dengan sandiwara hari ini. Marco melirik cincin itu sekilas dan lagi-lagi mendesah. Cincin itu tampak indah, mahal tapi salah. Cincin itu bukan dibuat untuk wanita setipe Raras. “Yang itu banget?” Marco coba yakinkan Rangga, dijawab anggukan penuh antusiasme dan mata berbinar Rangga. "Norak, Ga," komentar Marco datar. Tangannya bersedekap di d**a, menyembunyikan jemarinya yang mengetuk-ngetuk siku tangannya dengan ritme tak beraturan, sebuah tanda kegelisahan yang tidak terbaca orang lain,”lagian nggak praktis." Rangga menoleh, keningnya berkerut bingung, “hah? Kok praktis sih? Cincin kan juga buat gaya bukan?" "Raras kerja pake sarung tangan lateks tiap hari, Ga. Minimal ganti sepuluh kali sehari," jelas Marco dengan sabar. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa dia seperti menelan pecahan biji kedondong, sakit, tapi atas nama sahabat yang baik, dia tetap mengeluarkannya. "Kalau berliannya nonjol tajam gitu, bakal ngerobek sarung tangannya. Dia bakal risih. Ujung-ujungnya cincin itu bakal dia lepas, ditaruh di saku jas lab. Lo tahu Raras teledor. Cincin ratusan juta lo bakal ilang gak nyampe seminggu atau lebih parahnya, masuk ke insinerator limbah medis." Rangga ternganga. Dia menatap cincin itu, lalu menatap Marco dengan mulut sedikit terbuka, tanda kagum dan berterima kasih, “wah bener juga. Gue... kenapa gue nggak kepikiran sampe situ. Gue cuma mikir yang paling berkilau yang akan disukai gadis-gadis.” Jawabnya, meringis malu. "Cari yang bezel set aja. Yang matanya ditanam. Atau malah model eternity ring yang simpel tapi elegan," Marco menggeser telunjuknya ke sudut etalase lain, menunjuk sebuah cincin emas putih dengan deretan berlian kecil yang melingkar rapi, “ini lebih Raras. Dia nggak suka jadi pusat perhatian, tapi dia suka detail." Pelayan toko, seorang wanita paruh baya dengan seragam hitam rapi, tersenyum lebar pada Marco. Tatapannya penuh kekaguman yang tulus, tidak menyangka calon pembelinya sepaham itu dengan mempelai wanitanya. "Masnya pengertian sekali sama calon istrinya," puji pelayan itu sambil mengeluarkan cincin pilihan Marco, “betul Mas, model ini memang best seller untuk yang profesi dokter atau wanita karier. Calon istri Mas pasti bahagia sekali punya pasangan sepeka ini." Dunia Marco berhenti berputar selama tiga detik. Darahnya berdesir, dia ingin sekali mengangguk. Dia ingin sekali mengiyakan bahwa cincin itu untuk Raras-nya dan bahwa dia adalah pria yang paling mengerti wanita itu di seluruh dunia ini. "Ahahaha! Ibunya tuh salah orang!" Tawa Rangga meledak, keras dan renyah, seketika memecahkan gelembung angan-angan Marco. Rangga menepuk punggung Marco hingga tubuh tegap sahabatnya itu terhuyung sedikit ke depan. "Calon pengantin pria mah saya, Bu! Dia ini... apa ya? Euum, sahabat terbaik kami sekaligus konsultan cinta saya. Gratis tis! Terdebes emang dia nih," Rangga menyeringai lebar tanpa dosa. Senyum pelayan toko itu berubah canggung. Wajahnya memerah malu dan takut, "oh... maaf. Maaf sekali, Mas,” dia menangkup tangan di depan d**a ke arah Rangga, “habisnya Mas yang ini bicaranya pakai hati banget." Kalimat itu terasa wajar diucapkan oleh si pelayan toko, tapi tetap saja ada sembilu mengiris Marco. Bicaranya pakai hati banget. Marco hanya bisa pasrah karena kalimat itu malah semakin memerkeruh suasana, bukannya menetralisir. Marco memaksakan sudut bibirnya tertarik ke atas, menampilkan sebuah senyum mekanis yang tidak mencapai mata biru tajamnya, "nggak apa-apa, Bu. Ga, mending yang itu aja, ukuran 10. Jari Raras kan kecil." Rangga menggeleng-gelengkan kepala, menatap Marco dengan tatapan takjub, “gila lo, Mark. Lo hafal banget selera dia. Ukuran jarinya, kebiasaan kerjanya. Selain pengamat handal, lo emang sahabat terbaik kami. Gue beruntung banget punya lo." Tanpa ragu, Rangga menarik Marco ke pelukannya yang tentu saja segera ditepis Marco karena risih. Hal itu menjadi bahan tertawaan penjaga toko, senang melihat keakraban keduanya. Marco menelan ludah yang terasa pahit seperti empedu. Sahabat terbaik. Dua kata yang menjadi tembok raksasa, yang menghalanginya untuk melangkah lebih jauh. Dua kata yang ternyata membunuhnya pelan-pelan. "Buruan bayar, Ga. Gue laper," Marco membalikkan badan, berpura-pura tertarik pada pajangan kalung di dinding etalase sisi lain, menyembunyikan topeng wajahnya yang kini mungkin sudah hancur. * Parkiran basement mal sudah sepi dan remang-remang menjadi panggung terakhir penyiksaan Marco hari ini. Rangga berhenti di samping mobilnya. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan kotak beludru merah yang baru saja dibelinya. Napasnya terdengar berat dan cepat. "Bro," panggil Rangga, suaranya tiba-tiba serius, kehilangan nada bercandanya. "Apa lagi?" Marco menyandarkan punggungnya di pintu mobil, tangannya memainkan kunci mobil, ingin segera pulang dan tidur, atau malah pingsan sekalian agar tidak perlu merasakan kesakitan apa pun. "Lo mau nggak latihan jadi Raras bentar?" Marco membeku. Sedetik kemudian matanya mengerjap, menatap sahabatnya tak percaya. "Lo gila? Gue cowok, Ga. Brewokan pula. Ntar kalau ada yang iseng videoin kita gimana coba?” Tolak Marco, walau alasan sebenarnya, dia tidak sanggup lagi hari ini berperan menjadi sahabat terbaik. "Gue gugup, man! Sumpah, tangan gue dingin banget. Gue takut nanti malem pas dinner, gue malah gagap atau cincinnya jatoh ke sup. Kan gak lucu," Rangga memohon, wajahnya pucat karena demam panggung. "Please? Di sini sepi kok. Cuma butuh dua menit. Anggap aja gladi resik." Sumpah, hati Marco ingin menolak. Ia ingin berteriak, memaki, meninju wajah tampan Rangga dan menjauh sejauh mungkin. Tapi tubuhnya, tubuh pengkhianat yang sudah terbiasa melayani kebahagiaan dua sahabatnya ini, justru menghela napas pasrah. "Ya udah. Cepetan," desis Marco. Rangga tersenyum lega. Dia mundur selangkah. Di atas aspal beton yang keras, di antara deretan mobil yang diam, Rangga Pradipta menjatuhkan satu lututnya. Dia membuka kotak cincin itu. Berlian-berlian kecil pilihan Marco berkilau redup di bawah lampu neon parkiran. Rangga mendongak, menatap Marco. Tapi di mata Rangga, yang terlihat bukan Marco, melainkan sedang melihat masa depannya. "Raras Kirana Maheswari," ucap Rangga lembut. Suaranya bergetar penuh kasih, sebuah cinta yang tulus dan terang benderang, “aku mungkin bukan laki-laki paling sempurna. Aku juga sering lupa tanggal, aku ceroboh dan aku nggak sepeka Marco..." Rahang Marco mengeras mendengar namanya disebut dalam lamaran lelaki lain kepada wanita yang dia cinta! Sebuah ironi yang sempurna bukan? "...tapi aku janji, selama jantungku berdetak, kamu nggak akan pernah sendirian. Aku mau jadi orang yang kamu lihat pertama kali saat bangun tidur dan orang terakhir yang kamu lihat sebelum terlelap. Will you marry me?" Hening. Hanya terdengar suara blower AC sentral berdengung di kejauhan. Marco berdiri kaku. Matanya terpaku pada cincin yang dia pilih, dipersembahkan oleh sahabatnya yang sedang berlatih, untuk wanita yang dia cintai. Skenario ini, hufft ini adalah adegan yang diputar Marco di kepalanya setiap malam sebelum tidur selama empat tahun terakhir. Bedanya, dalam kepalanya, dialah yang berlutut. Tapi realita mana peduli pada imajinasi Marco. "Jawab dong, woy!" desak Rangga, merusak suasana, kembali menjadi Rangga yang konyol. Marco menarik napas tajam, seolah ada pisau bedah yang ditarik paksa dari paru-parunya. Ia harus menyelesaikan peran ini. Peran sebagai Raras dan peran sebagai figuran. "Ya," bisik Marco, suaranya serak, Raras pasti bilang iya, Ga. Dia cinta mati sama lo." Tanpa Rangga tahu betapa tersiksanya Marco. Rangga bersorak. Ia melompat berdiri, menutup kotak cincin itu dengan bunyi klik yang keras, lalu memeluk Marco erat-erat. "Doain gue ya, man! Nanti malem gue eksekusi!" Marco tidak membalas pelukan itu. Tangannya tergantung lemas di sisi tubuhnya, layu, selayu harapannya. * Pukul 23.00. Apartemen Marco sunyi senyap. Tidak ada musik rock cadas malam ini. Marco duduk di tepi ranjangnya, masih mengenakan kemeja kerja yang kusut. Lampu utama kamar dimatikan, dia hanya menyalakan lampu nakas remang-remang dan membiarkan cahaya bulan purnama masuk dari celah tirai. Tangannya perlahan membuka laci nakas paling bawah. Di sana, tersembunyi di balik tumpukan paspor dan dokumen asuransi, ada sebuah kotak beludru berwarna biru tua yang sedikit berdebu, menandakan dia memiliki kotak itu sudah dari beberapa waktu lalu. Marco mengambilnya. Tangannya gemetaran saat membukanya. Sebuah cincin dari emas putih. Model eternity ring. Sangat mirip dengan yang dibeli Rangga tadi sore. Bedanya, cincin di tangan Marco ini sudah dibelinya tiga tahun yang lalu. Saat Raras lulus S2 dan saat dia berpikir, mungkin ini waktunya. Tapi waktu tidak pernah berpihak padanya. Rangga selalu lebih cepat. Rangga selalu lebih terang. Ponselnya bergetar di atas kasur. Sebuah notifikasi i********: muncul, menerangi sesaat ruangan kamarnya yang remang. @raraskirana: I SAID YES! (Tag: @ranggapradipta) Foto tangan Raras dengan cincin pilihan Marco melingkar sempurna di jari manisnya. Marco menatap layar itu lama, tapi jempolnya tidak bergerak untuk menyukai foto yang diposting di akun Raras. Dia malah mematikan ponselnya dan melemparkannya ke ujung kasur. Dengan gerakan lambat seperti robot yang sudah kehabisan daya, Marco memasukkan kembali kotak cincin biru miliknya ke sudut laci paling dalam. Ke tempat di mana cahaya tidak akan pernah menyentuhnya lagi. Marco rebahkan tubuh lelahnya ke ranjang. Di kegelapan kamarnya, akhirnya dia mampu menjawab pertanyaan di kepalanya tadi pagi. Apakah itu pengorbanan atau kebodohan?  Malam itu, Marco menyadari jawaban versi dirinya adalah keduanya. Ditambah lagi, dengan sukarela dia memilih menjadi orang bodoh itu, lagi dan lagi, seumur hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD