Part 4. Tak Bisa Memiliki

1356 Words
Ironi terbesar dalam mencintai bukanlah saat cintamu ditolak, melainkan saat kamu duduk di kursi kehormatan sebagai saksi akad, memegang pena untuk menandatangani dokumen yang secara legal menyerahkan wanita yang sungguh engkau cintai kepada sahabatmu sendiri. Tanda tangan itu bukanlah sekadar tinta tercoret di atas lembaran kertas, melainkan juga persetujuan surat kematian bagi sebuah harapan. * Langit Yogyakarta sepertinya mengerti suasana hati Marco. Sejak pagi, awan kelabu menggantung rendah, menyembunyikan matahari, membuat gedung resepsi outdoor itu terasa lebih sendu dari seharusnya. Di ruang ganti pengantin pria, Marco berdiri di belakang Rangga, merapikan jas putih yang dipakai sang sahabat. Cermin di hadapan mereka memantulkan dua sosok yang tumbuh bersama, Rangga yang tampil gagah dengan senyum gugup dan Marco yang tampak tenang namun matanya redup seperti tiada kehidupan di situ. "Gue ganteng nggak, Bro?" tanya Rangga, menyisir rambutnya yang sudah diberi pomade licin. "Standar," jawab Marco datar, menarik kerah jas Rangga sedikit lebih kencang, seolah ingin mencekik rasa cemburunya sendiri, “jangan malu-maluin Raras ntar, Ga!" Rangga berbalik, wajah jenakanya lenyap. Ia mencengkeram bahu Marco, "Mark, makasih ya. Lo yang nemenin gue dari zaman kita rebutan gorengan di kantin FK, sampe sekarang gue mau jadi suami orang. Gue nggak tahu hidup gue bakal gimana tanpa lo." Tenggorokan Marco tercekat. Dan gue nggak tahu hidup gue bakal gimana setelah hari ini, Ga. "Udah, jangan melow. Lo mau ucap akad loh," Marco menepis tangan Rangga pelan, memaksakan tawa kecil yang hambar, "simpen air mata lo buat ijab kabul. Kalau lo salah sebut nama bapaknya Raras, gue pulang duluan." Akad nikah dimulai. Hujan mulai turun rintik-rintik saat Raras memasuki area akad. Ia mengenakan kebaya putih sederhana dengan payet mutiara. Sangat cantik hingga Marco bisa merasakan napasnya dicuri paksa dari paru-paru. Raras berjalan pelan, matanya hanya tertuju pada Rangga di ujung meja akad, bukan pada dirinya yang duduk sebagai saksi. Marco duduk tegak di kursi kayu di sisi kiri meja akad. Kemeja batik lengan panjang tailor-made membalut tubuhnya dengan sempurna, namun entah kenapa kerahnya terasa mencekik lehernya perlahan-lahan. Marco hembuskan napas pelan, agar tidak ada orang lain yang tahu, karena di posisi duduknya ini, sangat strategis untuk melihat wanita yang dicintainya diserahkan kepada lelaki lain. Di hadapan Marco, Rangga duduk dengan punggung tegang. Keringat dingin mengalir di pelipis sahabatnya itu. "Saya terima nikah dan kawinnya..." Suara Rangga terdengar lantang namun bergetar tapi tidak ada keraguan. Getaran di suaranya adalah sebuah keharuan, bukan ketakutan. Marco menahan napas untuk meredakan debaran jantungnya yang seolah ingin mendobrak rusuknya dan lari dari tempat itu. "...dibayar tunai." Penghulu menoleh ke arah Marco bertanya dengan nada tegas, "bagaimana saksi? Sah?" Waktu melambat. Semua mata tertuju pada Marco. Raras, yang duduk di samping Rangga dengan kebaya putih gading, menunduk malu-malu dengan hati berdebar. Sedangkan Rangga menatap Marco dengan mata memohon persetujuan. Marco harus mengucapkan satu kata itu. Satu kata yang berarti harapannya akan musnah selamanya. Marco menelan ludah yang terasa seperti pasir panas. "Sah," ucap Marco. Suaranya datar, tanpa emosi, namun tegas. Di dalam dadanya, Marco merasakan ada sesuatu yang putus. Harapan. Suara putusnya begitu nyaring di telinganya sendiri, diikuti dengan kekosongan yang membuat hatinya semakin sakit. "Alhamdulillah..." Pekikan syukur bergema. Tangan Marco bergerak kaku mengambil pena. Mau tidak mau, dia membubuhkan tanda tangannya di lembaran yang sudah ditentukan. Goresan tintanya dalam dan tajam, menembus hingga ke halaman belakang kertas. Saksi! Menjadi saksi nikah dan menyerahkan Raras selamanya. Wanita cantik itu tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca bahagia, “terima kasih, Mark!” bibirnya berucap itu tanpa suara. Upacara selesai. Gerimis mulai turun seolah langit ikut menangis atau lebih tepatnya mungkin malah menertawakan Marco dengan segala kebodohannya. Sesi sungkeman sudah selesai, sekarang sesi foto keluarga. Marco berdiri paling akhir di barisan keluarga. Dengan dipaksakan untuk tetap tegap, Marco melangkah mendekati Rangga. Tanpa aba-aba, Marco menarik Rangga ke dalam pelukannya. Bukan pelukan sopan santun, tapi pelukan yang erat dan keras, bahkan mungkin sedikit menyakitkan. Marco menepuk punggung Rangga dua kali, cukup bertenaga hingga terdengar bunyi buk buk layaknya meninju karena Rangga meringis kesakitan. "Jaga Raras," bisik Marco tepat di telinga Rangga. Suaranya rendah malah terdengar seperti geraman di antara deru angin saat itu, "kalau lo sakitin dia, Ga, kalau lo bikin dia nangis sedikit aja, gue jadi orang pertama yang bakal hajar lo. Gue nggak peduli lo sahabat gue sekalipun!” Rangga tertawa, mengira itu ancaman persahabatan biasa karena rasa sayang seorang sahabat, seorang Marco pada Raras. Rangga tidak melihat kilat serius di mata Marco, "siap, Komandan. Gue bakal jaga Raras, taruhannya nyawa gue sendiri demi dia." Jawab Rangga sembari memberi gestur hormat ala tentara ke atasannya. Marco melepaskan pelukan, lalu bergeser ke samping. Raras. Wanita itu tersenyum lebar, mata indahnya berkaca-kaca bahagia, "Marco..." Marco tidak memeluk Raras. Dia tahu posisinya sekarang. Batas itu telah ditegaskan oleh hukum dan agama dan disaksikan olehnya. Marco hanya mengulurkan tangan, menjabat tangan Raras yang kini terasa berbeda. Mata Marco menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin pilihan Marco yang dipasangkan oleh Rangga. "Selamat, Ras," Marco tersenyum tipis, “bahagia ya." Hanya itu, tidak ada puisi, tidak ada doa panjang lebar. Karena jika Marco bicara lebih banyak lagi, dia takut akan ketahuan suaranya bergetar tanda betapa dia tidak rela Raras dimiliki lelaki lain. Raras menggenggam tangan Marco erat sesaat, “makasih ya, Marco. Kamu... kamu tetep sahabat terbaik kami, kan? Kita akan tetep bertiga kan?” tanyanya. "Selalu," jawab Marco lirih, mengangguk perih. Selalu di belakang kalian. Selalu di luar bingkai. Raras tersenyum lebar, tiba-tiba bulir air mata menetes di pipinya, "janji ya, Mark? Kamu harus tetep jadi penjaga kami. Jangan mentang-mentang aku udah nikah, kamu jadi jauh." "Nggak akan," janji Marco dengan sebuah senyum tipis, sebuah kebohongan putih lainnya, “gue akan selalu ada di radius aman kalian." Yah, radius aman, juga untuk mengamankan hatinya agar tidak semakin remuk. Marco turun dari pelaminan. Gerimis turun semakin deras. Para tamu berlarian mencari tempat berteduh di bawah tenda-tenda kerucut putih, tapi Marco berjalan pelan menuju area buffet yang agak sepi, membiarkan titik-titik air membasahi kemeja batik mahalnya. Tiba-tiba, intro gitar yang familiar terdengar dari panggung live music. Melodi yang melankolis dan menyayat hati. Terutama Marco yang akrab dengan lagu ini. Marco menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah panggung satu level yang semua pemain bandnya memakai baju putih. Di sana, Alessia, adik perempuannya yang mengenakan dress pastel selutut sedang berbisik pada sang vokalis, lalu menatap Marco dari kejauhan. Tatapan adiknya itu penuh arti, campuran antara kasihan, sayang dan sedikit ejekan. Vokalis band mulai bernyanyi. Suaranya yang syahdu membuat vibes lagu semakin mengena, terutama pada Marco. “... Tetapi hatiku memilikimu sepanjang umurku…” Lagu Samsons. Tak Bisa Memiliki. Marco mendengkus pelan, menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. Alessia tahu. Bocah itu selalu tahu karena menjadi teman curhatnya. Alessia sengaja memutar soundtrack hidup kakaknya di hari paling menyedihkan ini. Alessia berjalan menghampiri Marco, membawa dua gelas fruit punch. "Kurang dramatis apa lagi coba hidup Mas Marco?" Alessia menyodorkan gelas itu, lalu berdiri di samping kakaknya, ikut memandang ke arah pelaminan di mana Rangga sedang menatap Raras penuh cinta. "Pilihan lagu lo norak banget, Dek," komentar Marco dingin, melirik kesal ke sang adik sembari meneguk minumannya sekali tandas. "Tapi liriknya relate kan? Tadi tuh pinginnya si MC malah ngundang Mas Marco buat yang nyanyiin loh," senyum usil Alessia, sengaja menyenggol lengan Marco, “tungguin deh, habis ini request-an keduaku, Luluh. Biar Mas Marco makin sadar kalau hati Mas itu udah hancur lebur, jadi berhenti sok kuat." Marco tidak menjawab. Matanya menatap nanar lurus ke depan. Gerimis turun semakin deras tapi menampilkan Rangga dan Raras yang tertawa bahagia, kontras dengan apa yang dia rasakan saat ini. Rangga mengangkat gaun Raras agar tidak kotor terkena cipratan lumpur. Mereka ada di dunia mereka sendiri, dunia yang hangat dan penuh warna. Sementara Marco berdiri di area yang jauh, basah dan dingin. Terpisah oleh jarak fisik dan takdir. Ia melihat fotografer pernikahan mengarahkan lensa kepada dua sahabatnya. "Satu... dua... tiga! Cheese!" Kilatan flash menyala. Menangkap tawa bahagia Rangga dan Raras dalam keabadian. Marco semakin menjauh, memastikan dirinya benar-benar keluar dari frame foto itu. Karena begitulah seharusnya cerita ini berjalan, Sang Pahlawan mendapatkan Putri, dan Sang Penjaga kembali ke dalam bayangan, membawa pulang hatinya yang sudah menjadi serpihan tak berbentuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD