Salah Lift
Suara alarm di ponsel Luna hampir membuat jantungnya copot.
Tepat pukul 07.42 pagi.
Mata Luna membulat sempurna.
“ASTAGA!”
Ia langsung bangun dari kasur dengan tergesa-gesa, sampai selimut melilit di kakinya dan nyaris membuatnya terjatuh.
Hari ini adalah hari wawancara kerja. Dan bukan di perusahaan sembarangan—melainkan di Aetherium Group, perusahaan raksasa dengan gedung tinggi menjulang di pusat kota. Tempat yang sulit sekali ditembus oleh lulusan baru seperti dirinya.
Kalau diterima, hidup Luna bisa berubah total. Tapi kalau gagal, ibunya pasti akan mulai mengulang ceramah tentang menjadi pegawai toko milik sepupunya.
“Luna! Kamu belum berangkat juga?!” teriak ibunya dari lantai bawah.
“Iya, Ma! Lima menit lagi!”
“Sudah dari tadi bilang lima menit!”
“Ini lima menit yang benar-benar!”
Luna mengacak-ngacak isi lemari dengan panik.
Kemeja putih, rok hitam, jas kerja, tas, map berkas wawancara, dan sepatu hak rendah. Selesai.
Atau hampir selesai—karena rambutnya masih berantakan seolah baru saja diterpa angin kencang.
Tiga puluh menit kemudian…
Luna turun dari ojek daring dengan napas terengah-engah. Matanya langsung terbelalak melihat pemandangan di hadapannya.
Gedung Aetherium Group ternyata benar-benar megah. Dindingnya terbuat dari kaca tinggi yang berkilau, lobi luas yang mewah, dan orang-orang yang berjalan dengan penampilan rapi dan berkelas. Semuanya terlihat mahal dan profesional.
Sementara dirinya…
Luna menunduk memeriksa penampilannya sendiri. Masih layak, meski bajunya agak kusut karena tadi nyaris terjatuh dari motor.
“Baiklah, Luna,” gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri. “Jangan gugup. Jangan panik. Jangan bikin malu keluarga.”
Ia melangkah cepat menuju pintu masuk. Namun baru tiga langkah, tubuhnya menabrak sesuatu.
Bruk!
“Aduh!”
Map di tangannya terlepas dan jatuh. Lembaran kertas berisi daftar riwayat hidup berserakan di lantai.
“Aduh, maaf, maafkan saya!”
Luna segera berjongkok mengambilnya satu per satu.
Sepasang sepatu kulit hitam yang sangat bersih dan terlihat mahal berhenti tepat di depannya.
Luna mendongak.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di hadapannya. Ia mengenakan jas hitam yang rapi, dengan bahu yang bidang. Wajahnya…
Luna sempat tertegun beberapa detik. Tampan, tapi terlihat sangat dingin. Bahkan tatapannya datar seperti lemari es dua pintu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu ikut membungkuk dan mengambil beberapa lembar kertas.
Luna segera menerimanya.
“Terima kasih banyak, Mas.”
Pria itu hanya mengangguk kecil. Tidak tersenyum, dan tidak berkata apa-apa lagi.
Luna melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 07.57.
Matanya kembali membulat lebar.
YA TUHAN! Wawancara dimulai pukul delapan tepat!
“Saya bisa terlambat!”
Ia segera berdiri dengan tergesa-gesa.
“Terima kasih ya, Mas Ganteng—eh, maksud saya Mas Baik!”
Setelah berkata demikian, ia langsung berlari menuju lift.
Pria itu menatap punggung Luna yang menjauh selama beberapa saat. Ekspresinya tetap datar tanpa perubahan.
“Pak?”
Seorang pria berkacamata datang menghampirinya.
“Rapat direksi sudah siap dimulai.”
Tatapan pria itu masih mengarah ke tempat Luna tadi berdiri.
“…Mas Ganteng?” gumamnya pelan.
Asistennya langsung menunduk dalam-dalam.
Tamatlah sudah. Pimpinan mereka pasti sedang merasa kesal.
Lobi gedung itu penuh sesak dengan orang-orang yang sibuk. Luna semakin panik.
“Permisi, Kak, bagian HRD ada di lantai berapa ya?” tanyanya kepada petugas resepsionis.
“Di lantai dua puluh lima, Mbak.”
“Baik, terima kasih!”
Luna segera berlari kecil menuju area lift. Namun lift utama penuh sekali, sampai orang-orang harus berdesakan.
Lalu matanya menangkap satu lift di sisi lain. Kosong, berkilau, dan tidak ada seorang pun di dalamnya.
“Wah, ini rezeki anak yang berbuat baik,” pikirnya.
Ia segera masuk ke dalam. Saat pintu hampir tertutup sepenuhnya, sebuah tangan tiba-tiba menahan daun pintu.
Ting.
Pintu terbuka kembali, dan pria yang baru saja ia temui masuk.
Luna mendongak, lalu terdiam selama dua detik.
Loh? Mas Ganteng tadi lagi?
Pria itu masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu berdiri tegak di sisi lain. Suasana di dalam lift yang sempit itu terasa semakin dingin karena aura yang ia pancarkan.
Luna menelan ludah. Kenapa rasanya menjadi tegang begini? Padahal ini cuma orang biasa yang tampan, bukan penagih utang.
Ia berdehem pelan untuk memecah keheningan.
“Mas juga bekerja di sini ya?”
Tidak ada jawaban.
Luna mengedipkan matanya. Ternyata orangnya pendiam sekali.
“Wah, keren juga bisa bekerja di gedung sebesar ini,” katanya lagi sambil tersenyum canggung.
Tetap sunyi.
Lift mulai bergerak naik.
Ting… Ting…
Terasa aneh. Tidak ada orang yang menekan tombol untuk masuk, padahal gedung ini sangat besar dan pasti penuh karyawan.
Luna melirik ke kanan dan kiri, lalu tanpa sadar bergumam pelan.
“Mas, kok lift ini sepi sekali ya?”
Pria itu melirik sekilas ke arahnya.
Luna melanjutkan bicaranya.
“Di gedung sebesar ini, ke mana semua karyawannya ya, Mas?”
Tatapan pria itu turun menatap wajah Luna. Dingin dan tajam.
“Saya tidak tahu,” jawabnya singkat.
Suaranya rendah, berat, dan terdengar dingin juga.
Luna mengangguk paham.
“Oalah, mungkin Mas masih baru mulai bekerja ya?”
Tidak ada jawaban lagi.
“Saya mau wawancara kerja di sini. Doain saya bisa diterima ya.”
Hening.
“…Mas?”
“…Hm.”
Luna langsung tersenyum lega.
“Nah, gitu dong mau menjawab.”
Pria itu kembali diam, tapi Luna malah merasa lebih santai.
“Saya agak gugup sebenarnya. Katanya CEO di sini orangnya sangat galak.”
Kali ini pria itu benar-benar menoleh ke arahnya.
“Galak?”
“Iya!”
Luna mendekat sedikit dan berbisik seolah sedang berbagi rahasia.
“Katanya dia orangnya dingin, sangat teliti, dan tidak suka didekati wanita.”
Tatapan pria itu tetap datar.
“Lalu?”
“Ya, jadi terasa menakutkan dong!”
Luna tertawa kecil.
“Kalau saya sampai bertemu dengannya, mungkin saya langsung pingsan karena takut.”
Tiba-tiba—
BZZZT!
Lift berguncang keras. Lampu di dalamnya berkedip-kedip.
Luna secara refleks memegang dinding lift.
“Astaga!”
Gerakan lift berhenti seketika. Ruangan menjadi gelap selama sedetik, lalu lampu darurat menyala dengan cahaya yang redup.
Suasana menjadi hening total.
Luna mengedipkan matanya beberapa kali.
“…Mas?”
Pria itu tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.
Liftnya mati.
“MAS?!”
Luna mulai panik.
“Jangan bilang kita terjebak di dalamnya?!”
Pria itu tetap terlihat sangat tenang. Ia menekan tombol darurat, namun tidak ada tanggapan yang cepat.
Luna mulai mondar-mandir kecil di dalam lift.
“Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan…”
“Duduklah.”
“Hah?”
“Kamu membuat saya pusing melihatmu bergerak terus.”
Luna melotot tidak percaya.
“Lah, kita sedang terjebak di dalam, Mas!”
“Ini tidak akan berlangsung lama.”
“Bagaimana bisa Mas tetap setenang ini?!”
Pria itu menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Tatapannya lurus ke depan.
“Saya sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.”
Luna tertegun.
“Wah… sering sekali ya terjebak di lift?”
Tidak ada jawaban lagi.
Luna menghela napas panjang, lalu duduk bersandar di sudut ruangan. Tangannya sedikit gemetar.
“Saya belum sempat sarapan pagi tadi…”
Tepat setelah ia berkata begitu, perutnya berbunyi keras.
Krucuuuk.
Luna langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa malunya mencapai puncaknya.
Pria itu melirik sekilas. Lalu ia mengeluarkan sebatang cokelat kecil dari saku jasnya dan mengulurkannya ke arah Luna.
Luna melotot tak percaya.
“Ini untuk saya?”
“Kalau tidak mau, tidak apa-apa.”
“Saya mau!”
Luna langsung menerimanya dengan cepat.
“Wah, terima kasih ya, Mas Dingin.”
“…Mas Dingin?”
“Iya, karena Mas terlihat sangat dingin dan pendiam.”
Anehnya, sudut bibir pria itu sedikit bergerak. Hampir tersenyum, sangat tipis sampai nyaris tidak terlihat.
Luna menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.
Wah, ternyata Mas ini lebih tampan lagi kalau tidak memasang wajah cemberut.
“Terima kasih ya,” ucap Luna sambil membuka bungkus cokelat itu. “Kalau saya sampai pingsan karena lapar, wawancara saya pasti gagal total.”
“Kamu orangnya sangat cerewet.”
Luna terdiam sejenak.
“…Apakah itu dianggap menghina?”
“Itu fakta.”
“Ya ampun.”
Luna mendengus pelan.
“Tapi tidak apa-apa, saya memaafkan karena Mas ternyata orangnya baik.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, lalu Luna membuka mulut lagi.
“Mas sudah punya pacar belum?”
Tatapan pria itu perlahan beralih ke arahnya.
“…Apa?”
“Biasa saja, siapa tahu Mas sudah ada yang punya.”
“Belum ada.”
“Pantas saja.”
“Kenapa pantas?”
“Soalnya Mas terlihat agak menakutkan.”
Hening sejenak.
Lalu—
Ting!
Lift kembali menyala.
Luna langsung berdiri dengan cepat.
“YA TUHAN, HIDUP LAGI!”
Pintu lift perlahan terbuka.
Dan di luar sana, semua orang yang berdiri menunggu terlihat kaku dan seolah menahan napas. Beberapa staf bahkan langsung membungkuk hormat.
“S-selamat pagi, Pak CEO!”
Luna masih tersenyum lebar. Namun perlahan, senyumnya memudar.
Pak… CEO?
Ia menoleh perlahan, sangat perlahan, ke arah pria di sampingnya.
Pria itu melangkah keluar. Aura dinginnya tiba-tiba terasa berbeda—lebih menyeramkan, lebih berwibawa. Semua orang menundukkan kepala.
“Periksa kondisi lift ini,” perintahnya dengan nada dingin.
“Segera perbaiki sekarang juga.”
“B-baik, Pak Arsen!”
Luna membeku di tempat. Jantungnya terasa seolah jatuh ke lantai paling bawah.
Pak… Arsen?
CEO dari Aetherium Group?
Orang yang tadi ia bilang menakutkan?
Yang ia sebut galak?
Yang ia ceritakan seenaknya?
Yang ia panggil Mas Dingin?!
Selesai sudah. Hidup saya tamat.
Arsen berhenti melangkah, lalu menoleh sedikit ke belakang. Tatapan tajamnya jatuh tepat pada Luna. Dengan suara yang tenang, rendah, dan membuat lutut terasa lemas—
“Bukankah kamu mau wawancara kerja?”
Luna hanya bisa diam membisu.
“Kalau terlambat, kesempatanmu akan hilang.”
Setelah berkata demikian, ia melangkah pergi. Semua staf masih menunduk hormat.
Sementara Luna…
Masih berdiri terpaku di depan pintu lift. Wajahnya pucat pasi, mulutnya sedikit terbuka.
“…Ya Tuhan.”
Baru saja ia mengomel dan berbicara seenaknya kepada CEO perusahaan tempat ia melamar pekerjaan.