Gadis bernama Nuni
Di teras rumah sederhana, seorang pria muda berusia hampir tiga puluh tahun itu duduk sembari menunggu padi yang dijemur di halaman. Tak lama seorang gadis berusia belasan datang, menyusul duduk di bangku sebelahnya, menenggak habis air di dalam gelas kecil di atas meja.
Gadis itu membetulkan kerudungnya, sekejap mengusap ingusnya dengan ujung kerudung abu-abu yang dia kenakan. Sementara kakinya bergerak-gerak sembarang, menimbulkan getar pada meja di hadapannya.
"Mas, tadarusan, yoq!" ucapnya mantap dengan qolqolah sempurna di akhir kalimat.
Pria di hadapannya mengernyitkan dahi. Heran melihat tingkah gadis SMP di hadapannya. "Kan masih ntar jam empat TPA dimulai, Nun. Tumben rajin amat."
Nuni menghentakkan kakinya. "Dih, Mas Hanan lemot. Pedekate gitu, Mas tapi versi islami gitu. Pacaran halal sebelum nikah maksudnya."
Hanan tertawa mendengar penuturan Nuni. Susah payah meredam tawa, pria muda itu berhasil mengambil alih ketenangan. "Ta'aruf, Nun. Bukan tadarus. Lagipula nggak ada tuh pacaran islami. Jangan bikin teori baru deh."
Nuni tak merespon, gadis itu justru menatap langit di atas sana. Menghela napas kemudian kembali menatap Hanan dengan sorot memelas. "MAS, nikahin Nuni bisa, nggak? Nuni udah nggak kuat."
Nuni. Gadis berperawakan kurus itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Lalu, tubuhnya terguncang pelan, beriring suara tangisan lirih yang susah payah dia tenggelamkan.
"Dimarahin lagi sama Bapak?" Hanan memutuskan bertanya. Menepuk bahu Nuni pelan.
Nuni mengangkat wajahnya. Memamerkan sembab dan lelehan ingus serta air mata di wajahnya. "Pokoknya Nuni nggak kuat, Mas. Nuni mau nikah aja. Abis nikah, kita pulang ke rumah Mas Hanan yang di Jakarta."
Hanan menghela napas berat. Gadis itu hanya satu dari sekian banyak anak pedesaan yang dia ajar. Hanan memutuskan mengabdikan waktu mudanya untuk menularkan ilmu agama di desa kecil itu. Meninggalkan hiruk-pikuk kota Jakarta.
"Kamu masih terlalu muda, Nun. Jangan ngaco. Belajar aja yang bener. Nanti sukses, kamu bikin bapak ibuk bangga, kan?" Hanan mencoba menghibur Nuni.
Nuni menunduk lagi. Meletakkan kepala beratnya ke atas meja dan melanjutkan acara menangisnya.
"Mas, Nuni dituduh ngambil uangnya Mbak Ira." Nuni mengelap ingusnya dengan ujung kerudung.
Hanan menatap ingin tahu. "Kamu ambil?"
Nuni menggeleng.
"Kalau nggak ambil, berarti kamu nggak salah. Tenang aja, ngaku yang sebenarnya." Hanan berusaha menenangkan gadis kecil di hadapannya. Mencoba keras agar tangis gadis itu tak meledak lagi. Mengobrol berdua saja dengan gadis kecil itu di teras rumah sudah merupakan godaan berat sebenarnya. Bagaimana nanti kalau orang-orang salah mengira?
Nuni tak lekas menjawab. Gadis itu mengulurkan lengan, kemudian menarik lengan kausnya dan menampakkan bekas luka pukulan di sekujur tangan.
"Astaghfirullah, Nun. Ini kenapa?" pekik Hanan dengan nada cemas.
Nuni terisak lagi. "Tadi bapak pukul pakai gagang sapu, Mas. Bapak sama ibuk nggak percaya kalau bukan Nuni yang ambil uangnya."
Mata Hanan mengembun. Seolah ikut merasakan perih di lengan begitu melihat luka merah di tangan Nuni. "Kamu yang sabar, ya, Nun. Sekarang pulang, gih. Mas Hanan mau panggil Pakde Mardi. Itu padinya udah kering."
Nuni membuang napas berat sekali lagi. Lalu menatap Hanan dengan sorot mengiba. "Mas, pengen cepet umur 18, deh, rasanya. Biar cepet dewasa. Biar cepet bebas dari penderitaan."
"Iya iya, nanti kalau udah umur segitu kamu baru tahu kalau dewasa itu berat. Ada-ada saja kamu, dah pulang sana."
Nuni berdiri kemudian beranjak pergi sembari menghentakkan kaki.
Hanan menatap lembut gadis itu, merasa bersalah karena telah menyuruhnya pulang. Lihatlah, tubuh kecil Nuni berlari tunggang langgang menuju rumah. Terlihat sesekali menyeka air mata dengan kerudung lusuhnya. Yang entah sudah berapa mili ingus dan air mata yang menetap di sana.
***
Magrib itu dibuat kacau. Seluruh desa dibuat geger dengan menghilangnya Nuni. Rupanya selepas berkunjung ke rumah Hanan, gadis itu tak langsung pulang. Entah kemana dia sekarang.
Seluruh penduduk mencarinya. Sebagian menyebar ke hutan yang berada di ujung desa, sebagian ke kebun-kebun warga, berteriak, memanggil tanpa henti.
Hanan orang yang paling menyesal. Menyesal karena tidak mendengarkan keluh kesah gadis itu lebih lama. Menyesal karena terlalu meremehkan permasalahan Nuni dengan keluarganya.
***
Sementara di tempat lain. Di sudut terminal, di sebuah ruko kosong yang terbengkalai, sesosok gadis kecil meringkuk memeluk tas lusuh berisi pakaian.
Gadis itu menutup wajahnya dengan kerudung lusuh yang sejak pagi dikenakan. Sandal jepit yang hampir keropos dijadikan bantal, lalu, lirih terdengar dengkuran.
Gadis itu memutuskan pergi. Egonya menyalak mengalahkan logika. Emosi kemarahannya, bentuk protes pada keadaan yang seolah tak pernah memihak padanya, membuat gadis itu memilih pergi. Mengembara ke dunia luar yang lebih liar.
Gadis itu tak sabar menyambut delapan belas tahunnya yang masih lama.
Sepasang mata mengawasi sosok yang meringkuk di sudut terminal itu. Perlahan melangkah memastikan pengelihatannya, kakinua berjingkat mendekati Nuni yang sedang tidur pulas.
Bersambung