Chapter 22

1041 Words

Telepon lengang sejenak karena 20 detik yang lalu Andini mendengar tipis-tipis suara ayahnya yang sedang menanyai sabuk pada ibunya, nampaknya ayah Andini mau berangkat kerja, karena walau buncit-buncit begitu, ayah Andini adalah seorang pelatih taekwondo. "Andini." Ibu Andini sudah kembali dengan telepon. "Hmm." "Oh kamu masih ada? Ibu pikir sudah kabur." Andini menyeringai kecil. 'Kabur? Bisa disantet aku kalau berani kabur,' bathin Andini bergejolak. "Ini... ibu lupa bilang sama kamu, kalau kamu ga bisa jadi lulusan terbaik di madrasah sana, ibu ga bakal kuliahin kamu, ibu akan langsung nikahkan kamu sama anak Ustad Ari." Mata Andini terbelalak mendengar kalimat yang lebih merusak dari pada bisikan syaitan itu. "Haha, jangan bercanda deh, Bu." Andini tertawa paksa, berharap ibunya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD