1. Gya Delisha

3352 Words
"Mama, cingin." Anak perempuan berusia dua tahun itu mengerjap polos, masih dalam gendongan wanita yang dia panggil mama. Payung kecil yang digunakan tidak mampu membuat mereka terhindar dari tempias hujan apalagi sekarang angin sedang tertiup kencang. Bibir mungilnya bergetar, semakin mengeratkan pelukan pada leher mamanya, sesekali memejamkan karena mengantuk. "Sabar, Sayang, ya. Sebentar lagi kita sampai ke rumah Oma." Mengusap punggung anaknya, terus melangkah meski sendal sudah terasa berat akibat tanah liat yang menggumpal. Jalan yang mereka lalui hanya setapak--sisi kanan dan kirinya terdapat semak-semak liar, sebelum akhirnya tiba di sebuah desa kecil. Sebenarnya ada jalan yang lebih besar--beraspal, tapi jarak menuju desa ibunya lumayan jauh dan memakan banyak waktu. Kalau di lalui sekarang, kemungkinan sampainya ketika langit sudah gelap. Menurutnya itu lebih berbahaya. Kali aja ada begal bukan? Tadinya cuaca hanya mendung, lalu ketika di tengah perjalanan, badai tiba-tiba hadir tanpa diundang. Di sana tidak ada pondok untuk berteduh, mau tidak mau ... dia terus melangkah membawa putri kecilnya agar cepat sampai ke rumah ibu. Untung dia selalu sedia payung di tas, karena akhir-akhir ini memang lagi musim hujan. Gya Delisha, anak perempuan yang kuat dan penuh kebahagiaan. Nama yang sangat indah dari ayahnya. Dia berusia dua puluh dua tahun, bekerja serabutan dari desa ke desa yang lain. Kadang mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan halaman, atau beberes rumah. Biasanya jika pekerjaan dia penuh sampai sore, upah Gya mencapai seratus lima puluh ribu. Meski sangat lelah, tapi dia menikmatinya. Asalkan putri kecilnya bisa minum susuu, dan menikmati makanan bernutrisi setiap hari. "Tadi Eca lupa bawa jaket ya, Nak. Besok Mama bakal lebih hati-hati dengan kebutuhan kamu. Makasih udah temenin Mama kerja seharian ini. Maaf kalau Mama banyak salah dan kurang perhatiin Eca hari ini ya." Mengecup tangan anaknya begitu tulus. Malaikat kecil itu adalah sumber kebahagiaan Gya. Apalagi ketika melihat canda tawanya, begitu ampuh sebagai penawar penat. Selama Gya bekerja, Jessica sangat pintar dan jarang cerewet. Biasanya setiap orang yang memberi Gya pekerjaan senang mengajak Jessica bermain, menjagakan anaknya selama dia menyelesaikan semua kerjaan. Gya bersyukur selalu bertemu dengan orang-orang baik, yang rela menyisihkan sedikit harta mereka untuk membantu Gya, kadang juga memberinya upah lebih. Jessica Ofelia, kebaikan Tuhan atas lahirnya anak perempuan yang suka menolong dan bijaksana. Karena anak itu tidak fasih menyebut namanya Jessica, akhirnya semua orang ikut terbiasa dengan panggilan Eca. "Ibu udah pulang? Aku pikir menginap lagi." Gya tersenyum hangat saat tiba di rumah. Menemukan ibunya sedang merokok di ruang depan. Satu kakinya naik ke kursi kayu yang dulu ayahnya bikin sendiri, masih kokoh hingga sekarang. Mungkin usianya hampir sepuluh tahun. "Minta duit dong, Ya!" Menengadahkan tangannya, menaikkan sebelah alis dengan mimik memaksa. "Ibu nggak ada uang lagi, habis buat beli minuman tadi malam." Lagi-lagi, Gya selalu menjadi sasaran empuk Desi saat dia habis mabuk dan kelayapan di luar. Saat ibunya punya uang, dia selalu membuat acara bersama pria dan teman-temannya. Lupa jika di rumah juga membutuhkan dana untuk melanjutkan hidup. Andai masih ada sang ayah, mungkin ibunya tidak seperti sekarang. Gya lelah bekerja, sementara anaknya butuh banyak uang untuk membeli ini dan itu. Gya berniat menabung untuk Jessica sekolah taman kanak-kanak, tapi uangnya selalu habis diambil oleh Desi. Padahal waktu dua tahun lagi tidak terasa akan datang, Gya ingin anaknya menempuh pendidikan yang layak, agar tidak sebodohh dirinya. "Nggak ada, Bu. Udah habis aku belikan susuu dan belanja kebutuhan rumah." Gya menjawab setelah dia menidurkan Jessica ke kamar. "Kemarin ibu punya banyak uang. Habis lagi?" Harusnya Gya tidak perlu bertanya, bukannya dia sudah hafal sifat ibunya? "Jangan ditanya lagi, ya iyalah habis. Uang segitu nggak ada apa-apanya." Gya geleng-geleng. "Sebaiknya ditabung, Bu. Kadang kita nggak bisa menerka apa besok masih sehat atau enggak. Kalau tiba-tiba kena musibah, susah nggak ada uang. Nggak mungkin kita ngutang terus, hutang beberapa tahun lalu aja belum lunas sampai sekarang." "Berisik banget kamu! Kalau Ibu sakit, kamulah yang harus kerja keras. Mau jadi anak durhaka?" "Bukan gitu maksud Gya, Bu. Tapi---" "Ibu cuman minta uang, bukannya menyuruh kamu ceramah. Sok bijak kamu ya!" "Eca makin besar, Bu. Dia butuh banyak biaya, apalagi nggak kerasa udah mau sekolah. Kalau nggak nabung dari sekarang, nanti nggak bisa masuk taman kanak-kanak." Desi mematikan rokoknya kasar, menatap murka pada Gya saat membicarakan Jessica. "Makanya cari suami yang bener. Asal nikah aja, akhirnya ditinggal kan? Ngapain kamu repot-repot besarin anak itu, tinggal kasih ke Bapaknya. Selesai!" "Udah takdir Gya kayak gini, Bu. Mau sebesar apa pun disesali, nggak bakal balikin keadaan seperti semula. Kalau nggak berjodoh, nggak mungkin sampai nikah dan punya Eca." "Bodohh! Kamu itu anak satu-satunya, tapi nggak berguna banget. Kamu harusnya nikah sama orang kaya, biar banyak duitnya. Kemarin mau dijadikan istri ketiga Juragan, malah nolak. Diberi hati, malah minta jantung. Nggak bersyukur banget kamu. Kualat kan akhirnya!" Mulut Desi emang tajam, tidak ada yang berani menghalanginya berucap demikian kepada siapa pun. Makanya tidak heran jika para tetangga sering membicarakan kelakuannya. Mereka kasihan pada Gya, prihatin pada nasibnya. "Kalau ayah hidup, dia juga nggak bakal izinin Gya nikah sama Juragan. Gya masih muda, sementara Juragan lebih pantas jadi ayahnya Gya. Lagian harta nggak menjamin seratus persen kebahagiaan manusia. Banyak di luar sana orang berduit, tapi mereka nggak bahagia, Bu. Duit itu kapan aja bisa habis. Roda kehidupan terus berputar, nggak selamanya yang kayak akan tetap di bawah. Begitu juga sebaliknya." "Terus maksud kamu apa yang membahagiakan? Cinta? Cih, buktinya kamu makan cinta aja nggak bikin kenyang. Malah sakit hati kan!" Rahang Desi mengetat, dia selalu ingin memukul Gya jika anaknya itu tidak menurut padanya. "Kamu ini emang anak nggak tahu untung. Capek aku besarin kamu, bukannya bisa buat investasi masa depan, malah nambah beban pikiran orang tua!" Beban pikiran? Padahal selama ini Gya belanja semua kebutuhannya memakai uang sendiri. Bahkan saat Desi tidak mau tahu mengenai pengeluaran di rumah, semua Gya yang membayar. Desi tinggal duduk manis, tidak pernah berpikir Gya memasak semua menu itu menggunakan uang siapa kan? "Gya nggak bakal repotin Ibu, Gya bakal kerja biar nggak minta duit ke Ibu." "Kamu lihat anak tetangga kita si Leby itu? Dia selalu ngasih uang buat mamanya. Bisa belanjain mamanya, perbaiki rumah mereka, dan punya simpanan emas yang banyak. Padahal dia lebih muda setahun daripada kamu, tapi udah pinter nyari uang." "Bu, aku nggak bakal mau kerja kayak Leby. Nggak pa-pa kerjaan aku capek, uangnya sedikit, yang penting aku senang menjalaninya. Kalau aku kayak Leby, gimana sama masa depannya Eca nanti? Aku nggak mau Eca dikataian temen-temennya kalau tahu Ibunya kerja sebagai pelacurr!" "Lalu kamu mau selamanya kerja serabutan nggak jelas gini? Malu Ibu liat kamu kerja jadi pembantu, disuruh-suruh orang. Kayak nggak ada harga dirinya banget!" Desi memukul bahu Gya, membuat anak itu terkesiap. "Disuruh nikah sama Juragan nggak mau, ikut kerja bareng Leby nggak mau. Pengin rasanya kupukul kepala kamu. Memangnya enak hidup miskin kayak gini?" "Suatu saat Tuhan bakal ngasih kita rezeki lebih, Bu. Kerja kayak gini aja aku udah bersyukur banget." "Capek ngomong sama kamu, nggak bakal paham kemauan orang tua. Besok antar si Eca ke rumah mantan suami kamu, suruh mereka aja yang besarin anak itu. Uang kerja kamu, bisa bagi dua sama Ibu!" Gya melotot, menggeleng cepat. "Eca milik aku. Nggak bakal aku kasih ke orang lain. Meski mengesot sekalipun, aku tetap bersama Eca. Aku nggak bakal ninggalin anak aku, cuman dia satu-satunya harapan aku." "Masih mencintai mantan suami kamu rupanya, huh? Kenapa kamu bodoh banget sih. Nggak tahu dulu aku ngidam apa, jadinya kok kayak gini isi kepala kamu!" Desi beranjak dari kursi, masuk ke kamar dengan masih mengumpat kasar. Semua kalimat tidak pantas itu sering Gya terima, dia sudah tidak peduli lagi. Tuhan tahu niat baiknya. Gya memang pernah menikah dengan seseorang yang dia cintai, dulu kakak kelasnya waktu sekolah. Pernikahan mereka hanya berjalan setahun, lalu cerai. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena perpecahan antar dua keluarga. Pihak dari suaminya merasa geram dengan kelakuan Desi, sering membuat malu dan senang menebar fitnah. Gya dan sang suami sering bertengkar, berakhir dengan perselingkuhan yang membuat Gya trauma. Semenjak bercerai, Gya membesarkan Jessica seorang diri. Mantan suaminya tidak pernah datang menemui anak mereka, apalagi memberikan nafkah. Dari yang Gya dengar, mantan suaminya sudah menikah dan punya anak lagi dari istri barunya. Mereka hidup bahagia. Gya sama sekali tidak berharap mereka mengasihani Jessica, Gya mampu mencukupi kebutuhan anaknya meski penghasilan sehari-hari dia tidak banyak. Jika tidak bisa Gya memberikan sesuatu yang mahal untuk Jessica, maka akan dia menciptakan hal sederhana menjadi sesuatu yang istimewa. Apapun untuk Jessica, Gya akan mengusahakannya. Menjadi sosok ibu sekaligus ayah memang tidak mudah, tapi Gya berhasil melaluinya dengan baik dan ikhlas. Dia sudah bisa berdamai dengan masa lalu dan segala pesakitan di hatinya. Sekarang jauh lebih tenang. Cukup melihat Jessica tergelak, Gya ikut bahagia. "Mama nggak bakal mempertaruhkan masa depan kamu buat keegoisan orang nggak bertanggung jawab, termasuk Oma. Sabar ya, Sayang, sebentar lagi Oma bakal kebuka mata hatinya. Dia sebenarnya menyayangi kamu, cuman selalu buta dengan uang. Jangan khawatir, Mama akan menyayangi Eca sampai titik darah penghabisan Mama." Mengusap kening anaknya lembut, mengecup penuh kasih. Anak itu sangat mirip dengan Gya. Mungkin sejak dalam perut, dia tahu hanya Gya yang berjuang untuknya. Bagi orang yang tidak tahu, Gya terlihat masih seperti anak muda yang belum menikah apalagi memiliki anak. Tubuhnya kurus, tinggi, dan memiliki kulit yang putih. Rambutnya berwarna cokelat terang, jika tersenyum kelihatan manis sekali. "Sayangnya Opa udah pergi sebelum liat Eca. Kalau aja dia masih hidup, Eca pasti main sama Opa. Dia orangnya penyayang banget." Sebenarnya Gya ini bukan anak kandung ayahnya. Desi hamil Gya bersama kekasih bulenya, seorang tentara. Lalu ditinggal pergi berperang selama beberapa bulan. Bukannya pulang dengan selamat lalu mereka menikah, pria itu malah gugur di medan perang bersama puluhan teman yang lain. Desi pernah terpuruk karena hal itu, apalagi sedang mengandung Gya. Kemudian orang tuanya menjodohkan Desi bersama Tio--ayah yang selama ini menyayangi dan menganggap Gya seperti anaknya sendiri. Selama pernikahannya dengan Tio, Desi pernah memiliki anak perempuan yang meninggal di usia lima tahun. Anak itu dulunya sakit. *** "Gya, masak apa malam ini? Ibu laper!" Wanita itu baru saja bangun tidur, terlihat dari raut wajahnya. "Oma ...!" Jessica sedang bebaring sambil mendot, melambaikan tangannya pada Desi. "Mamam, Oma? Mama nacak nenak." Mengacungkan jempol. "Tumis kangkung, ada tempe dan tahu goreng juga, Bu. Ada di dapur, udah aku siapin buat Ibu." "Apa kamu nggak berniat masak ayam atau daging, Ya? Asyik tempe dan tahu aja setiap hari, bosen!" Wajahnya memberengut kesal. Daripada membeli makanan enak layaknya orang kaya, lebih baik Gya simpan uang hasil kerjanya untuk keperluan akan datang. Mencari uang susah sekali, apalagi harga satu kotak susuu Jessica lumayan mahal. Gya sering mengalah demi kebutuhan anaknya, tidak perlu belanja yang tidak penting. "Itu udah enak banget, Bu. Bersyukur dengan nikmat yang dikasih Tuhan, banyak banget di luar sana orang yang kelaperan, pengin makan kayak kita." "Enak apanya, liat menu itu-itu mulu bikin nggak napsu makan juga. Kamu ini nggak pernah ada niatan mau senengin Ibu. Makanya kamu nggak cepat kaya, pelit sih!" Gya hanya diam, lalu memilih memijat tangan dan kaki Jessica. Untung anaknya sudah terbiasa dengan omelan Desi, jadi tidak kaget atau bertanya-tanya lagi. "Nanti malam Ibu mau keluar. Minta duit kamu dong. Ada kan? Jangan terlalu perhitungan, Ibu besarin kamu dari kecil sampai sekarang juga banyak biaya yang keluar." Harusnya seorang ibu tidak bicara seperti itu pada buah hatinya. Menjadi seorang ibu adalah keinginan Desi sendiri. Menghidupi anak pun kewajiban yang harus dilakukan orang tua tanpa pamrih. Tidak ada seorang anak berniat menyusahkan orang tua, apalagi tega melihat ibu dan ayahnya kesusahan. Hanya saja terkadang keadaan dan keterbatasan kemampuan anak itu sendiri mampu menjadi cambuk baginya hingga terlihat tidak maksimal memberi kebahagiaan. Bagi Gya sendiri, dia sudah berusaha menjadi anak yang baik sejak dulu. Selalu menciptakan kebahagiaan meski dari hal paling sederhana. Namun, Desi jarang menyadari dan menghargai perlakuan kecilnya. Gya akan selalu kurang di mata Desi, jika wanita itu tidak belajar bersyukur atas segala sesuatu yang telah Tuhan berikan untuk mereka. Seperti kata ayah Gya, Desi selalu ingin dimengerti. Tetapi ketika dia marah, emosinya tidak pernah berlarut-larut. Desi emang senang mengomel, karena itulah kebiasaan dia. Gya bersyukur memiliki ayah yang begitu perhatian, pengertian dan penyayang, selalu menjadi penengah jika Desi memarahi Gya. Saat pria baik itu meninggal, Gya merasa kehilangan sebelah sayapnya. Tetapi dia tidak boleh menyerah, Gya memiliki tanggung jawab besar pada Jessica. "Kenapa diam? Mau bilang nggak ada lagi? Tapi setiap hari kamu mampu aja belanja sayur, ikan, susuu, popok, dan jajan Eca. Nanti kalau Ibu curi uang tabungan kamu di lemari, jangan salahin Ibu ya!" "Bu, apa nggak bisa ngomelnya nanti aja? Di sini ada Eca. Dia masih kecil banget buat denger kalimat kayak gini. Biarin dia besar dengan banyak kebaikan dan kasih sayang." "Kamu yang selalu cari masalah sama Ibu!" Gya menghela kasar. "Iya, nanti Gya kasih uang. Dua puluh ribu aja ya, Bu? Sisa uang belanja hari ini cuman ada segitu." "Kamu pikir Ibu ini anak kecil? Dua puluh ribu cukup jajan Eca, bukan keperluan Ibu. Kamu ini keterlaluan banget!" "Terus ibu maunya berapa?" "Dua ratus ribu." Gya menganga kaget. "Ibu, nggak bisa sebanyak itu. Kemarin Ibu udah ambil duit aku tiga ratus ribu. Kalau terus-terusan dibelanjain, tabungan aku bisa habis, Bu. Eca mau sekolah, perlu banyak biaya." Desi mencebikkan bibir, memasuki kamar Gya dan Jessica tanpa banyak bicara. Menggeledah tas yang biasanya Gya bawa bekerja, mengambil semua uang yang ada di kantongnya. "Seratus dua puluh ribu. Kamu ini emang ratunya bohong! Ini ada seratus, bilangnya nggak ada. Mau Ibu pukul mulut kamu, huh?" "Bu, stok susuu Eca tinggal dikit. Bahkan seratus ribu itu masih kurang, harus nyari sisanya lagi besok. Jangan diambil semua, Bu. Nanti Eca gimana?" Gya masih berusaha mengambil uang itu dengan perasaan sedih. Dia berusaha mengatur nada bicaranya setiap kali bertengkar dengan Desi, tidak ingin Jessica sedih dan ketakutan. "Bodo amat, Ya. Ibu nggak peduli, besok kamu tinggal kerja lagi biar punya uang yang banyak. Gampang kan? Uang segini nggak bisa bayar jasa Ibu udah ngebesarin kamu. Jangan terlalu pelit, nanti Ibu jual kamu sama teman Ibu baru tahu rasa!" "Aku nggak bakal mau!" "Makanya diam. Kamu ini kok sudah banget disuruh hidup enak. Nikah sama Juragan, kamu nggak perlu capek kerja. Mumpung Juragan belum punya anak cowok, kamu masih punya kesempatan besar untuk menguasai hartanya." "Aku nggak bakal mau nikah sama Juragan. Sampai kapan pun juga." "Hih, anak ini ngeyelan banget. Terus kamu mau sampai mati hidup susah begini? Ibu sih ogah! Nanti kalau Ibu jadi nikah, Ibu bakal tinggal di kota. Terserah kamu mau tetap hidup di desa kecil ini atau memilih berkembang juga kayak Ibu." "Sekalipun nanti aku ada rezekinya ke kota, aku nggak bakal ambil kerja yang Tuhan larang. Aku nggak mau bikin masa depan Eca hancur dengan keegoisan." "Terserah kamu, Ya. Ibu bosen nasihatin kamu yang baik, nggak pernah didengar. Apa susahnya tinggal ngangkang? Setelah dapat duit, semua berakhir. Lagian kamu bukan perawan lagi, ngapain takut." Gya meninggalkan Desi, pertanda jika dia tidak ingin membahas hal itu terlalu jauh. Desi hanya mengumpat kasar, mengangkat tangannya memukul angin saking kesalnya pada Gya. Dia hampir mati melahirkan putrinya, tapi setelah besar ... Gya begitu keras kepala dan susah diatur. Sungguh, Gya sangat mirip dengan sifat Papa kandungnya. Selalu berjalan lurus. Aneh saja, meski hidup Desi seperti itu, dia selalu bertemu dengan pria tulus yang begitu menyayanginya. Tidak Papa kandung Gya, mantan suaminya yang meninggal pun orangnya sangat baik. Andai dulu Desi sendirian yang merawat Gya, mungkin ajaran sesat wanita itu akan turun pada Gya. Untunglah ayahnya menjadi sosok pengganti terbaik yang Tuhan hadirkan dalam hidup Gya, selalu mengajari banyak hal tentang kehidupan dan cara bersikap yang seharusnya. Tidak heran kenapa Gya sangat berbeda dengan Desi, seperti bukan anak dan ibu kandung. *** "Mama, ada Opa." Jessica tersenyum lebar memberitahu Gya yang sedang berdoa di atas pusara ayahnya. "Opa tenyum tama aku." Gya menoleh pada Jessica, lalu mengikuti arah tatapan anak itu pada sosok ayahnya yang tidak bisa dia lihat. Kalau kata orang, anak kecil biasanya emang seperti ini. "Benarkah? Opa senang Eca main ke sini." Mengecup pipi Jessica, mengusap puncak kepalanya lembut. Gya selalu memberitahu bagaimana sosok ayahnya pada Jessica, memperlihatkan juga foto-foto semasa hidupnya. Jadi setiap kali mereka berkunjung ke pemakaman, Jessica selalu tampak bahagia seolah benar-benar bertemu dengan Opanya. "Eca uga eneng tetemu Opa. Nanti kita atak dadan ya Opanya?" "Opa nggak bisa diajak jajan, Sayang. Rumah Opa di sini. Mama udah pernah jelasin tentang orang yang sudah meninggal sama Eca, tapi mungkin karena Eca masih kecil, jadi susah mengerti. Nanti kalau Eca sudah besar, bakal paham. Yang perlu kamu tahu, Opa sangat menyayangi Eca. Selalu ada di hati kita, selalu dekat dengan kita, bahkan saling merangkul meski orangnya udah nggak ada." "Oke, Mama. Aku papam kok." Mengangguk mengatakan dirinya paham. Dia menaburkan bunga ke atas pusara Opanya, sambil sesekali memberitahu kalau dia suka makan permen dan minum susuu. "Mau hujan lagi, Sayang. Ayo pulang sekarang, nanti kamu kehujanan, sakit loh." "Cendong, Mama. Tata lili emen dulu ya lalung Ubu Ciah?" Katanya minta gendong, nanti sebelum pulang mau beli permen dulu di warung ibu Jiah. "Boleh. Pinter banget anak Mama." Mengecup pipi Jessica berkali-kali sampai anak itu terkikik dan minta ampun. "Pamit dulu sama Opa. Nanti Eca main ke sini lagi." "Camit ya, Opa. Anci aku ama Mama nini agi. Awin Opa unga yayang anyak." Kata Jessica dia dan mamanya akan ke sini lagi, bawain opa bunga yang banyak. Lantas melembar ciuman, lalu memeluk Gya dengan bahagia. Gya tersenyum. "Ayah, aku sama Eca pulang dulu. Kami di rumah baik-baik aja. Akan selalu menyayangi dan bahagia seperti pesan ayah waktu itu. Nanti aku ke sini lagi. Sangat menyayangi ayah sampai kapan pun." Andai makam Papa kandungnya tidak jauh, Gya ingin sekali mengajak Eca ke sana. Mungkin nanti ketika dia sudah punya rezeki ke kota. "Halo, anak bule!" sapa Bu Jiah ketika mereka sudah tiba di warungnya. "Cantik banget rambutnya dikepang dua kayak gitu." Semua tetangga sering berkata jika Jessica sangat beruntung memiliki rupa seperti Gya, kebule-bulean. Meski mantan suami Gya tidak bisa dibilang jelek juga, tapi pahatan wajah Gya jauh lebih unggul. "Ubu Ciah. Tutah andi kah?" "Sudah dong. Kalau Eca gimana?" "Tudah andi dong. Tudah angi." Bu Jiah menunjukkan wajah tidak percaya. "Masa? Coba cium dulu sini." Dia mendekati Jessica, mengecup kedua pipi anak itu secara bergantian. Dia bilang sudah mandi, sudah wangi. "Beneran wangi ternyata. Cantik banget. Mau beli apa ke sini?" "Emen. Anyak-anyak ya. Secini!" Menunjukkan kedua tangan yang menengadah, menyuruh agar memenuhi tangannya. "Boleh. Ish, gemes banget sama anak ini. Lucu banget, Gya, anak kamu." Bu Jiah emang selalu gemas dengan Jessica, sering mengajak anak itu bermain atau hanya sekadar keliling daerah sana di waktu sore. Kadang kalau Gya lagi mencuci pakaian atau masak di rumah, Bu Jiah yang menjaga Jessica. Gya terkekeh. "Iya, Bu Jiah. Dia makin besar, makin gemesin. Aku aja sering mau gigit tangan atau pipinya. Beli permennya dua ribu aja, Bu. Sisanya roti." Dia memberikan uang lima ribuan. "Yeee, anyak emen aku. Acih Ubu Ciah. Aku lalang ulu ya. Nau tujan nih." "Sama-sama. Nanti kalau nggak hujan kita main ya?" "Oke!" Mengangguk cepat, mengacungkan jempolnya yang mungil. "Pulang dulu, Bu Jiah. Terima kasih ya." "Besok kalau kamu kerjanya sampai sore, terus cuaca nggak mendukung, titipin aja Eca di sini, Gya. Biar Ibu yang jagain, dia biasanya pinter kok. Daripada kehujanan, nanti sakit." Gya mengangguk. "Boleh, Bu Jiah. Maaf ngerepotin, terima kasih udah sering jagain Eca." "Sama-sama. Seneng kok punya anak selucu ini, ada teman di rumah." Anak-anak Bu Jiah sudah besar. Ada yang kerja ke kota, ada juga yang sudah berkeluarga. "Besok tinggal di sini aja ya, Eca? Nanti kita main dan jalan-jalan." "Enja, aku tutut Mama dong." Gya tertawa. "Dia seneng ikut aku kerja, Bu. Di sana juga ada temennya, anak seusia Eca. Asik mereka main boneka." Bu Jiah mengangguk paham, mengecup pipi Jessica sebelum Gya benar-benar pulang karena langit sudah mulai gerimis. Musim hujan begini cukup mengganggu, sebab jalanan desa yang masih banyak dari tanah liat ini menjadi licin. Harus extra hati-hati kalau jalan kaki melewatinya. Takut terpeleset. Entah kapan waktu baik itu tiba, Gya juga berharap dia bisa bekerja ke kota. Mencari pekerjaan lebih baik dengan upah yang lebih besar juga. Semakin bertumbuhnya Jessica, makin banyak biaya yang diperlukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD