Barbara duduk di kursi kayu di samping tempat tidurku. Tatapannya kosong, tapi sorot matanya memancarkan sesuatu yang tak ingin ia ucapkan: kekhawatiran. Dia menatapku seperti seseorang yang takut kehilangan sosok yang dia sayangi tanpa tahu cara menolongnya.
“Audrey… kamu bikin aku takut,” ucapnya pelan.
Suara Barbara biasanya nyaring seperti petasan tahun baru, tetapi kali ini terdengar rapuh. Seperti seseorang yang hampir kehabisan tenaga untuk berharap. Aku ingin menjawab, tetapi suaraku tercekat di tenggorokan, terkubur bersama semua ketakutan yang tidak pernah berhenti menggerogotiku.
“Aku cuma… capek, Bar,” bisikku. “Capek sama semuanya.”
Barbara menarik napas panjang, lalu duduk di lantai, tepat di bawah kakiku. Barbara bersandar pada sisi ranjang. “Kalau kamu capek, kamu harus bilang. Biar aku yang bantu mikirin semuanya. Jangan pendam sendiri.”
Pendapatannya selalu sama sederhana, tetapi tepat sasaran. Hanya saja, ada hal-hal yang bahkan keberanian Barbara tak sanggup menjangkau. Luka-luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan kata-kata.
Aku memejamkan mata sesaat, berharap kesadaranku padam begitu saja. Semakin aku menutup mata, semakin jelas bayangan itu muncul, bayangan malam terkutuk yang mengubah seluruh jalan hidupku.
---
Jack membawaku ke apartemennya malam itu. Malam yang seharusnya hanya kuhabiskan dengan mabuk ringan, bukan mimpi buruk yang akan terus menghantuiku.
Tubuhku sudah tidak mampu berdiri. Aku merasa ringan, kosong. Seperti boneka kain yang bisa dilempar kemana saja tanpa nyawa. Jack memapahku masuk dengan berbagai gerakan tergesa yang tidak kumengerti saat itu. Namun sekarang ini aku tahu, dia sedang melawan hasratnya sendiri… dan dia kalah.
Begitu tubuhku jatuh di atas sprei putihnya, dingin merambat dari punggungku hingga ke kepala. Pikiranku buram. Aku hanya ingat satu hal sentuhan yang membuatku ingin berteriak. Sentuhan yang bahkan dalam kondisi mabuk, masih membuatku merasa jijik.
Aku ingin melawan. Aku ingin menepisnya. Namun lenganku tidak mau bergerak. Lidahku tidak bisa bersuara. Aku terperangkap dalam tubuhku sendiri.
Semuanya terjadi seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Selimut yang ditarik. Kancing yang dibuka. Nafas berat yang memburu. Dan suara kecil dalam diriku yang berteriak minta tolong, tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
Dia mengambil semuanya dariku. Dalam diam. Dalam gelap. Dalam ketidakberdayaan.
Aku ingin melupakan malam itu. Namun tubuhku masih mengingatnya, setiap inci dari rasa sakit itu masih tersimpan di bawah kulitku.
---
“Audrey?”
Suara Barbara mengguncangku kembali ke masa kini. Aku membuka mata dan mendapati wajahnya yang dipenuhi rasa bersalah. Seolah-olah akulah yang harus menenangkannya.
“Kamu tadi nangis,” katanya sambil menghapus air mata di pipiku yang bahkan tidak kusadari telah jatuh.
Aku tidak menjawab. Karena kalau aku mulai bicara, aku takut semua yang kupendam akan tumpah keluar. Dan aku tidak siap mendengar diriku sendiri mengatakannya.
Barbara menggenggam tanganku. Hangat. Nyata. Berbeda dari dinginnya malam yang selalu datang bersamaan dengan mimpi burukku.
“Kamu harus keluar dari ini, Dri,” katanya lirih. “Aku nggak mau lihat kamu perlahan mati hanya karena orang b******k itu.”
Mulutku terbuka, tetapi kata-kata terasa terlalu berat untuk diucap. “Aku bukan cuma hancur, Bar. Aku… hilang.”
Barbara menatapku lama. Sangat lama. “Kalau kamu hilang, biar aku yang cari kamu. Biar aku yang bawa kamu pulang.”
Kata-katanya membuat dadaku sesak. Ada rasa sakit yang begitu dalam, tetapi ada juga sedikit, sangat sedikit kehangatan yang mencoba masuk.
---
Barbara tidak pernah tahu seluruh kebenaran. Tidak ada yang tahu, bahkan Ayah sekalipun. Mereka hanya melihat permukaannya, pergaulan gelap, obat-obatan, club malam. Mereka tidak pernah melihat apa yang ada di dalam diriku kehancuran, ketakutan, dan rasa jijik pada diri sendiri yang terus menetes seperti racun.
Aku menatap langit-langit kamar. “Bar…”
“Hm?”
“Kalau misalnya seseorang sudah rusak… bener-bener rusak… menurut kamu, dia masih bisa diperbaiki?”
Barbara diam. Lalu dia berdiri perlahan, meraih wajahku dan memaksaku menatap matanya.
“Kalau yang rusak itu kamu,” katanya tegas, “aku bakal cari cara untuk memperbaiki kamu. Sampai kamu bisa lihat dunia lagi tanpa merasa hancur.”
Aku tersenyum kecil. Senyum yang menyakitkan. “Kamu terlalu baik.”
“Kamu terlalu keras sama diri kamu sendiri,” balasnya. “Sudah waktunya kamu berhenti menyalahkan dirimu.”
Aku ingin percaya. Namun bagaimana caranya memperbaiki kaca yang telah retak di seribu tempat sekaligus? Bagaimana caranya menghapus sesuatu yang sudah melekat di tulang?
---
Siang itu, Barbara menyuapiku roti dan beberapa potong buah. Terlihat jelas dia memaksakan senyum agar aku tidak merasa bersalah. Tangannya sedikit gemetar ketika menaruh gelas air di meja kecil samping tempat tidur.
“Mulai besok, aku bakal ajak kamu jalan-jalan. Nggak perlu jauh, kamu cuma keluar kena matahari. Biar kepala kamu nggak gelap terus,” ucapnya.
Aku hanya mengangguk pelan.
Di luar jendela, cahaya pagi menembus tirai, menciptakan garis tipis keemasan di lantai kamar. Indah, sebenarnya. Tetapi bagiku, cahaya itu terasa seperti pengingat bahwa hidup di luar sana masih berjalan seperti biasa. Sementara aku terjebak dalam ruang sempit bernama masa lalu.
Barbara duduk kembali di sampingku. “Audrey… kamu dengar aku, kan?”
Aku memaksakan senyum. “Aku dengar.”
“Bagus.” Barbara berdiri, merapikan rambutku, lalu berkata pelan, “Karena aku nggak akan ninggalin kamu. Apa pun yang terjadi.”
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, aku merasakan sesuatu yang nyaris menyerupai harapan. Tipis, rapuh, tetapi ada.
Dan mungkin… dari sinilah aku harus memulai lagi.