"Kok gitu?" cecar Gara yang makin dibuat penasaran.
Etha pun kembali tersenyum canggung. Bahkan sekarang ditambah gerakan garuk-garuk tengkuknya. Ia mengucap istighfar lirih dan itu sukses membuat keempat temannya menghela napas kecewa. Mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Maaf ya. Nggak aku terusin ceritanya. Soalnya nanti jatuhnya gibah," ujar Etha. Ia kembali menghadap ke televisi dan terlihat fokus menonton acara komedi yang sedang tayang.
Lain halnya dengan Etha yang sudah melupakan hal tadi, keempat temannya justru makin dibuat penasaran. Tapi tentunya mereka tidak bisa mendesak Etha untuk lanjut bercerita. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.
Kini giliran Gara yang mau sedikit curhat. Teman-temannya sih sudah cukup hafal dengan bahasan apa yang sekiranya akan diangkat oleh Gara. Cowok yang punya tujuan hidup untuk harta, tahta, dan wanita itu pasti akan membahas permasalahannya terkait dengan wanitanya.
"Gue mau minta saran," ujar Gara sebagai pembuka.
"Kali ini siapa?" ejek Serin yang memang agak malas untuk mendengarkan keluh kesah cowok yang lumayan terkenal dengan image playboynya itu.
Gara nyengir kuda. Namun ia pantang untuk berhenti bercerita. Jadi ia melanjutkan, "Kali ini gue beneran tertarik sama cewek yang bakalan jadi calon wakil ketua BEM FH itu. Ya tapi seperti yang udah pernah gue ceritain ke kalian, gue butuh tenaga ekstra buat wujudin keinginan gue itu. Dia agak sulit didekati. Apalagi dia terkenal anti pacaran."
"Udah lah, cari aja cewek-cewek yang modelnya kaya biasanya. Cewek-cewek yang mau lo ajak membangun hubungan nggak serius," seloroh Taka tak mau ambil pusing dengan curhatan Gara.
Sementara Daera yang lebih penasaran ke hal lain, justru melempar tanya, "Emang kenapa lo tertarik sama dia? Dia kan lumayan beda dari mantan-mantan lo. Masa selara lo berubah?"
"Nah, emang karena itu, Dae. Gue tertarik ke dia karena dia beda. Gue nggak punya selera khusus sih. Gue oke-oke aja apapun modelnya." Gara dengan semangat menjawab pertanyaan Daera dan mengacuhkan selorohan Taka.
"Bilang aja kalau lo merasa tertantang buat bisa takhlukin dia. Terus habis itu lo campakin dia kaya barisan mantan lo lainnya." Taka masih menuduh yang tidak-tidak. Namun Serin kelihatan mengangguk-angguki ucapan Taka.
Gara menghela napas. Ia membuka mulutnya dan mengeluarkan pembelaan, "Udah gue bilang berkali-kali kan, kalau mereka yang mutusin gue. Itu artinya mereka yang campakin gue. Bukan sebaliknya. Sial, image gue jadi rusak begini."
"Makanya jangan main api kalau nggak mau kebakar," tukas Serin dengan ketus karena moodnya yang mendadak agak kacau.
"Maksud lo, kaya lo gitu? Dasar jomblo dari lahir. Gue sih ogah ya!" balas Gara dengan penuh kemenangan.
Namun rupanya Serin merasa amat marah. Ia sampai bangkit dari duduknya di sofa di sebelah Daera. Tanpa sepatah kata, Serin pergi meninggalkan ruangan itu dan menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Anjir, ngambek dia," gumam Taka agak terkejut juga.
"Ah, gue juga mau cuci piring terus balik ke kamar deh," ujar Daera sembari membawa piring kotor bekas tempat menghidangkan kentang gorengnya. Ia berjalan ke pantry dan segera kembali ke kamarnya setelah selesai mencuci piring.
Kepergian Serin dan Daera membuat ruang tengah menjadi senyap. Etha tetap menonton televisi seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Gara dan Taka sesekali saling tatap tapi juga tidak bicara apa-apa.
Untuk mencairkan situasi, Taka berseru tiba-tiba, "Main kartu, yuk!"
Mendengar ajakan itu, Etha menoleh dan tentunya menolak, "Aku balik ke kamar dulu ya. Mau sholat isya. Oh ya, soal Serin tadi itu, mungkin dia lagi capek. Makanya marah-marah. Gara, kamu juga harus minta maaf ke Serin karena udah ngatain dia jomblo. Nanti juga insyaallah Serin akan minta maaf karena sudah berkata sarkas ke kamu."
Selepas bicara begitu, Etha benar-benar menaiki tangga dan kembali ke kamarnya.
Sekarang yang tersisa di ruang tengah hanya lah Gara dan Taka. Mereka masih ditemani suara televisi yang tayangannya sudah berganti dari acara komedi menjadi acara uji nyali.
Berhubung Taka tidak suka dengan acara horor semacam uji nyali begitu, ia menyambar remote dan mematikan televisi. Ia juga berencana akan kembali ke kamarnya saja. Tapi sebelum pergi meninggalkan Gara, ia melemparkan pertanyaan, "Gar, menurut lo si Etha udah pernah pacaran atau sama kaya Serin yang jomblo dari lahir?"
Gara melempar handuk yang semula tersampir di bahunya ke arah Taka tapi ujung-ujungnya meleset. Ia juga agak memaki, "Bodo amat lah, Anying!"
***
Di dalam kamarnya, Serin sibuk mengacak-acak lemari. Ia mencari celana jeans nya untuk dipakai latihan nge-band malam ini. Setelah menemukannya, ia segera mengganti bajunya dan memoles make up secukupnya.
Beres dengan itu, Serin kembali keluar dari kamarnya. Kebetulan ia berpapasan dengan Daera yang sepertinya baru selesai membuang sampah di tempat sampah di depan kamarnya.
"Mbak Serin jadi pergi latihan?" tanya Daera setelah mengamati Serin yang sudah berpakaian rapi.
Ya, jangan heran kalau Daera akan memanggil Serin dengan embel-embel "Mbak". Sesekali memang Daera akan ingat kalau Serin lebih tua darinya. Makanya dia memanggilnya dengan lebih sopan.
Serin mengangguk sambil menjawab, "Iya, wajib soalnya."
Daera juga mengangguk-angguk paham. Lantas ia teringat sesuatu dan kembali bertanya dengan cepat, "Mbak Serin pergi sama siapa ke tempat latihannya?"
Serin cemberut, "Abang ojol kayanya."
"Bahaya, Mbak. Sejak peraturan baru semester ini, ojol katanya nggak bisa masuk ke area fakultas kalau portal di gerbang depan udah ditutup. Mending Mbak Serin ajak Gara aja. Motornya masih di luar," saran Daera.
Serin mencebik, "Gara mana mau gue repotin. Nggak papa gue naik ojol aja. Semoga gerbang depan belum diportal jadi abang ojolnya bisa anterin gue sampai fakultas."
Mendengar itu, Daera mengangguk-angguk dan berpesan, "Ya udah, hati-hati Mbak Serin."
Serin tersenyum dan berjalan menuruni tangga menuju lantai satu dan melipir ke pintu keluar. Namun belum benar-benar meninggalkan teras, Serin mendengar suara Gara memanggilnya.
Gara yang rupanya baru saja keluar dari pantry, kini tengah berjalan menyusul Serin. Gara menghentikan langkah di ambang pintu.
"Serin, gue anter lo ke tempat latihan ya," tawar Gara dengan tulus.
Serin menyipitkan matanya dengan curiga. Serin berpikir kalau jangan-jangan Gara tengah menyusun rencana untuk mengisenginya. Cowok itu kan tidak pernah merasa puas kalau belum membuat masalah.
Gara yang menyadari kecurigaan Serin akhirnya kembali buka suara untuk menjelaskan, "Anggap aja ini sebagai permintaan maaf gue karena udah ngomong yang nyakitin tadi. Lo belum pesen ojol, kan? Bentar ya, gue mau ambil jaket sama kunci motor."
Serin sebenarnya ingin menolak. Namun sudah keburu Gara menghilang di tangga. Alhasil Serin mengurungkan niatnya untuk memesan ojek online dan setuju untuk pergi ke tempat latihan diantar Gara.
***
Setelah membereskan sampah-sampah di kamarnya, Daera mendudukkan dirinya di kursi belajar. Barusan ia mengantarkan kepergian Serin, cewek yang menghuni kamar di depan kamarnya. Daera sebenarnya satu fakultas dengan Serin. Namun mereka mengambil jurusan yang berbeda.
Daera adalah mahasiswi di Jurusan Seni Teater. Sementara Serin adalah mahasiswi di Jurusan Seni Musik. Mereka satu angkatan dan kini sama-sama berada di semester tiga. Serin memang lebih tua satu tahun dari Daera karena Serin sempat tidak langsung lanjut kuliah karena menekuni hobinya di bidang musik.
Nah, lain halnya dengan Serin yang hobi bermusik, Daera punya hobi menulis. Bahkan belakangan ini ia menandatangani kontrak kerja sebagai penulis penuh waktu. Daera dituntut untuk menghasilkan naskah-naskah cerita yang menarik. Persaingan yang semakin ketat dengan sesama penulis membuat Daera berpikir ekstra untuk membuat cerita yang berbeda dari yang sudah ada. Tapi ternyata, itu tidak semudah yang Daera bayangkan.
***