⛧ Chapter 3 ⛧

1067 Words
Tidak mau lama-lama melamun meratapi masalahnya, Daera segera membuka laptopnya. Ia membuka file naskahnya dan mulai menambahkan pemikiran-pemikirannya di sana. Setidaknya targetnya hari ini adalah menyelesaikan menulis satu bab. Tetapi Daera sadar bahwa ia sudah tidak punya banyak ide untuk dituangkan dalam tulisannya. Tulisannya semakin hari semakin terlihat monoton, tidak seru, bahasanya acak-acakan, dan masalah lainnya. Pokoknya, tulisan Daera benar-benar kacau. Daera menyadari itu. Namun ia tidak sempat membenahi semua masalah yang ada dalam naskah ceritanya karena dia sudah terlalu penat. Belum lagi soal tugas-tugas kuliahnya. Bahkan di semester ini, ada salah satu kelas yang mengharuskan mahasiswa-mahasiswanya untuk membuat suatu pertunjukan atau pentas teater. Parahnya lagi, beberapa teman Daera sudah berencana menunjuk Daera sebagai sutradara. "Argh," erang Daera sambil meletakkan kepalanya di lipatan tangan. Pusing langsung menyerang kala ia memikirkan segala masalah yang harus ia hadapi. Daera berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk jangan ambil pusing pada semua itu. "Yuk, kerjain satu-satu," ujarnya menyemangati dirinya sendiri. Daera menepuk-nepuk pipinya agar rasa kantuk dan rasa malas lenyap. Ia kembali memfokuskan diri untuk menuangkan pikirannya ke dalam tulisan. Tapi ngomong-ngomong, sampai mana tadi? Ah, bahkan Daera lupa apa saja yang telah dan akan ditulisnya. *** Seperti biasa, Etha bangun pukul dua pagi dan mengambil wudhu. Ia sedang membiasakan diri untuk rajin beribadah di sepertiga malam. Namun malam ini, suasana yang Etha rasakan tidak sehening suasana di malam-malam sebelumnya. Ada suara petikan gitar yang nadanya amburadul dan terdengar sayup-sayup. Merasa penasaran, Etha menyempatkan diri mengecek ke luar kamarnya. Lampu kamar Gara dan Taka sama-sama telah dimatikan. Itu artinya mereka mungkin sudah tidak beraktivitas di dalam kamar. Lantas dari mana suara itu berasal? Etha percaya adanya makhluk gaib. Tapi menurutnya, kali ini bukan suara yang berasal dari sesuatu seperti itu. Jadi Etha memutuskan untuk mengecek ke lantai satu. Memang benar, suaranya makin jelas terdengar saat ia menuruni tangga. Ia melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Sepertinya suara petikan gitar itu berasal dari teras indekost Xabara. Etha melangkahkan kakinya ke sana. Sesampainya di pintu, Etha sudah dapat melihat siapa pemain gitar itu. Ternyata Gara lah yang sedang coba-coba memetik gitar dengan melihat tutorial di YouTube. "Kamu nggak tidur?" tanya Etha membuat Gara terlonjak kaget. Gara mengelus dadanya sambil berujar, "Astaga, Tha. Gue kira siapa. Perasaan tadi anak-anak kost udah tidur semua. Oh, jangan-jangan lo kebangun gara-gara suara gitar gue, ya?" Etha menggeleng. Ia pun menjelaskan, "Enggak, kok. Aku emang sengaja bangun jam segini. Lagian suara gitarmu nggak terlalu kedengaran kalau dari dalam kamar. Aku cuma penasaran, terus ngecek ke sini." Gara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun meletakkan gitarnya dan menyeruput kopi hitam yang tersedia di hadapannya. Merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Etha pamitan untuk kembali ke kamar. "Gara, aku balik ke kamar dulu." Gara kembali mengangguk-angguk. Ia mengamati pakaian Etha dan menyadari kalau Etha akan kembali beribadah. Gara pun berceletuk, "Tha, ajarin gue jadi rajin ibadah kaya lo, dong. Gue rasanya udah lama banget nggak ke gereja." Etha menoleh dan mengangguk sembari tersenyum. Ia tentunya menyanggupi permintaan Gara. *** Di dalam kamar, Taka sedang merenung sambil menatap layar laptop yang menampilkan proyek business plan terbarunya. Ia memang belum tidur sejak tadi. Bahkan sepertinya ia tidak akan sempat tidur hingga pagi. Suara langkah kaki terdengar dari koridor di depan kamarnya. Taka menggumam, "Etha tumben keluar kamar. Biasanya langsung sholat tahajud terus berdiam diri di kamar sampai subuh." Tapi ia tak ambil pusing soal itu. Taka lebih memilih memikirkan kelanjutan proyek business plan-nya. Setelah menyelesaikan seperempat dari business plan-nya, Taka menghentikan aktivitasnya sejenak. Taka menyandarkan tubuhnya yang mulai pegal karena kelamaan duduk. Taka juga mengucek-ucek matanya yang mulai terserang kantuk. "Jangan tidur!" perintah Taka pada dirinya sendiri. Ya, ia memang harus keras. Kalau dia bermalas-malasan, tak pelak lagi tugas-tugasnya akan terbengkalai. Taka kembali menegakkan tubuhnya dan menghadap ke laptop yang sebenarnya sudah agak kabur di mata Taka yang diselimuti kantuk. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menunda mengerjakan business plan-nya. Besok dia harus kuliah dan waktunya akan tersita untuk mengerjakan tugas. Taka menguap beberapa kali. Ia memilih untuk beranjak sejenak dari kursi belajarnya dan berjalan menuju ke kulkas kecil yang tersedia di kamarnya. Setelah menemukan sebotol minuman dingin, ia langsung menyambarnya dan menenggaknya. "Anjir, ngilu," keluhnya saat merasakan gusinya kedinginan karena terkena minuman dingin itu. Tapi meski merasa ngilu, ia tetap melanjutkan aktivitasnya. Hingga pada akhirnya, isi botol itu tandas juga. Taka berjalan mendekati pintu kamarnya. Ia membuka pintu itu dan melongok ke luar. Taka melemparkan botol kosong bekas minumannya tadi itu ke arah tempat sampah Gara yang diparkir tak jauh dari pintu kamarnya. Taka memang resek, dia tidak menyediakan tempat sampahnya sendiri dan suka membuang sampahnya di tempat sampah Gara. Makanya tempat sampah Gara cepat penuh dan Gara jadi sering membuang sampah ke tempat sampah di depan rumah. Beres berbuat kriminal, Taka kembali masuk ke kamarnya. Ia kembali mendudukkan diri di kursi belajarnya. Dia pun kembali berusaha menyelesaikan pembuatan proyek business plan-nya. *** Gara kembali ke kamarnya setelah kantuk mulai menyerang. Ia melirik ke jam di ponselnya dan ternyata sekarang sudah pukul lima pagi. Hari ini dia kuliah agak siang, pukul sepuluh pagi. Jadi masih ada waktu untuk tidur dulu. Gara bergegas memasuki rumah bergaya minimalis yang merupakan indekostnya itu. Sebelum menuju kamar, Gara menyempatkan diri untuk pergi ke pantry. Tujuannya sudah jelas, ia akan mengembalikan gelas bekas kopi yang semalaman menemaninya begadang. Saat mengembalikan gelas kopi ke pantry, Gara berpapasan dengan Daera yang sepertinya bersiap akan memasak menu sarapan untuk seluruh penghuni indekost Xabara pagi ini. "Eh, udah bangun Gar?" tanya Daera dengan kaget. Gara menoleh dan menjawab, "Gue baru mau tidur." Daera ber-oh-ria. Ia pun berceletuk, "Agak aneh sih kalau liat lo bisa bangun pagi. Pantes sekarang ada di sini, belum tidur toh ternyata." Gara hanya terkekeh kecil. Ia pun menyelesaikan acara cuci gelasnya dan bersiap meninggalkan pantry. Tapi sebelum pergi dari sana, Gara masih sempat meledek Daera, "Masak yang enak ya, Bi. Ntar gue bangun biar bisa langsung makan." "Bi apa nih? Baby?" canda Daera sembari mulai memanaskan minyak. "Bi yang jadi panggilannya pembantu-pembantu di sinetron itu," balas Gara sembari cepat-cepat kabur dari sana. Ia khawatir akan disiram minyak panas oleh Daera. Meski berhasil meninggalkan pantry, bukan berarti ia selamat dari serangan Daera. Memang bukan minyak panas yang melayang dan mengenai kepala Gara, tapi justru satu siung bawang putih yang sepertinya tadi akan diiris-iris oleh Daera. Alhasil sambil meringis kesakitan dan mengelus-elus kepalanya, Gara pun berjalan cepat menaiki tangga dan kembali ke kamarnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD