THOMAS POV
Akhirnya Ben resmi memimpin kantor baru dan semua orang tercengang mengetahui hal itu. Mereka tidak menyangka jika Ben di lantik menjadi pemimpin kantor yang baru.
Ada yang memberi selamat padanya, ada juga yang acuh padanya. Meskipun begitu aku bangga memiliki anak seperti Ben karena hanya ia yang bisa memimpin perusahaan.
Ben berjanji padaku untuk menjalankan perusahaan dengan sebaik-baiknya dan aku percaya padanya.
" Ben berjanji akan menjalankan perusahaan sebaik mungkin dan tidak membuat papa kecewa padaku." Janji Ben padaku dan aku percaya padanya.
" Papa percaya padamu bahwa kau bisa di andalkan." Kataku sambil memeluknya.
Tiba - tiba ada seseorang yang masuk ke ruang kerjaku dan ternyata orang itu adalah Sharon. Ia terlihat sangat heran melihat kami dan saat itu ia bertanya tentang hubungan kami.
Rasanya saat itu aku sangat kesal padanya karena ia ingin tau urusan orang lain dan aku menyuruhnya untuk segera pergi dari kantorku tetapi ia tidak mau dan aku menyuruh Ben untuk kembali ke ruangannya.
Entah apa tujuan Sharon mendatangiku ke kantor tetapi yang jelas aku tidak ingin berurusan dengannya.
***
Hari ini terasa sangat berat untukku karena banyak hal yang harus aku pikirkan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dan disana banyak wanita yang datang menghampiri ku.
Mereka mengajakku berdansa di atas lantai dansa tetapi aku tidak mau dan lebih memilih menghabiskan minumanku.
Tiba - tiba ada seorang wanita datang menghampiri ku dan ia mengenalkan diri sebagai Paula. Aku berpikir wanita itu usianya tidak jauh dariku dan ia mengajakku berbincang cukup lama sampai akhirnya ia mengajakku pergi ke apartemennya untuk menghabiskan waktu bersama.
" Bagaimana jika kita menghabiskan waktu bersama di apartemenku?" Tanya Paula padaku dan saat itu aku menolak tawarannya dan memilih pulang ke rumah.
" Maaf aku tidak bisa menerima tawaranmu. Sebaiknya aku pulang ke rumah saja." Kataku sambil bangkit dari tempat duduk.
Saat aku hendak melangkah pergi, Paula menarik tanganku dan menyuruhku untuk duduk lagi. Aku melihat ia mabuk berat karena minuman dan saat itu ia meminta tolong padaku untuk mengantarnya ke apartemen.
Akhirnya aku mengantarnya ke apartemen dan aku bisa mendengar ia meracau sambil memanggil nama Richard.
Aku tidak tau siapa pria yang ia panggil tetapi yang jelas aku tidak ingin ikut campur urusan nya. Tidak beberapa lama aku tiba di apartemen dan ia menyerahkan kunci kamar padaku.
" Terima kasih sudah mengantarku pulang. Maaf merepotkan mu." Kata Paula sambil terhuyung dan aku berusaha membantunya berdiri dan membopong tubuhnya masuk ke dalam kamar.
Tiba - tiba ia menarik ku sehingga aku berada di atas tubuhnya. Saat itu aku langsung menarik diri dan keluar dari kamarnya karena aku tidak ingin berduaan dengan wanita yang tidak aku kenal.
Sampai kapanpun tidak ada yang bisa menggantikan Diana di hatiku karena aku tidak ingin membuka hati untuk wanita manapun.
***
Keesokan harinya aku terbangun dan melihat jam menunjukkan pukul enam pagi. Aku segera beranjak bangun dari teman tidur dan pergi ke kamar mandi.
Setelah itu aku berpakaian dan sarapan. Aku berencana untuk menjenguk Felix ke rumah sakit. Aku berharap Felix segera pulang ke rumah dan berkumpul bersama ku karena aku merasa sepi tanpa dirinya.
Saat aku tiba di rumah sakit, aku melihat Felix sedang sarapan sambil menonton televisi. Aku bersyukur melihat kondisi nya yang mulai membaik.
" Bagaimana kabarmu?" Tanyaku padanya sambil menaruh buah di atas meja.
" Aku baik - baik saya. Rasanya aku ingin segera pulang ke rumah." Kata Felix sambil memberitahu ku.
Aku memberitahu nya untuk sabar karena tidak lama lagi ia akan keluar dari rumah sakit. Tiba - tiba ada seorang wanita yang menjenguk Felix dan Felix terlihat tidak senang dengan kedatangan wanita itu.
Felix berbisik di telinga ku untuk menyuruh wanita itu segera pergi dari hadapannya karena ia tidak mau di jenguk wanita itu.
Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi terhadap mereka tetapi yang jelas aku tidak mau ikut campur urusan Felix dengan wanita itu.
" Maaf, Felix harus istirahat jadi sebaiknya kau pulang saja." Kataku sambil menyuruh wanita itu untuk pulang.
" Baiklah kalau begitu. Saya kesini membawakan makanan untuk Felix yang saya buat sendiri. Semoga Felix suka dengan masakan saya." Kata wanita itu sambil menyerahkan makanan kepadaku dan ia pergi begitu saja.
Aku merasa wanita itu orang yang baik tetapi aku tidak tau masalah apa yang terjadi sehingga Felix tidak ingin di jenguk oleh wanita itu.
Lalu aku memberitahu Felix jika wanita itu membawakan makanan untuk nya dan Felix menyuruh ku untuk menghabiskan makanan itu karena ia tidak ingin menerima pemberian wanita itu.
Aku bertanya ada apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka tetapi Felix tidak mau menceritakan apa yang terjadi.
" Ada apa sebenarnya terhadap kalian? Apa kalian punya masalah?" Tanyaku padanya dan ia hanya terdiam tanpa merespon perkataan ku.
Lalu aku pergi meninggalkan nya seorang diri di dalam kamar dan aku memutuskan untuk pergi mengelilingi rumah sakit.
Tiba - tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Paula dan ia ternyata masih mengingat ku. Lalu kami berbincang sebentar dan ternyata anaknya bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini.
Aku tidak menyangka ia memiliki anak karena wajahnya terlihat awet muda. Tidak beberapa lama ada seorang dokter datang menghampiri Paula dan ternyata dokter itu adalah anaknya Paula.
" Perkenalkan ini anakku, James." Kata Paula sambil memperkenalkan anaknya padaku.
" Senang bertemu dengan mu." Kataku sambil menjabat tangan James.
Saat itu aku berpamitan kepada Paula karena aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan nya. Entah kenapa aku merasa James berpikir jika aku ada hubungan dengan ibunya tetapi aku tidak memperdulikan perkataan orang padaku.
***
Tidak beberapa lama aku masuk ke dalam kamar dan melihat Felix yang sedang tertidur. Lalu aku pergi meninggalkan nya dan kembali ke kantor.
Saat tiba di kantor, aku melihat Sharon mengacak - ngacak dokumen di atas meja dan aku menyuruh nya untuk pergi karena sudah membuat kekacauan di ruang kerjaku.
Ternyata ia meluapkan kekesalannya padaku karena tadi malam ia melihat ku pergi bersama Paula dan ia terbakar api cemburu.
" Kenapa kau mengacak-acak ruang kerja ku?" Tanyaku padanya sambil menatap tajam ke arahnya.
" Karena tadi malam aku melihat kau pergi bersama seorang wanita padahal belum lama kakakku pergi!" Kata Sharon sambil membentak ku.
Saat itu aku memanggil pihak keamanan untuk membawa Sharon pergi dari ruang kerjaku karena aku tidak ingin melihat nya dan berurusan dengannya.
Sharon terlihat sangat marah saat aku mengusirnya dari ruang kerjaku dan aku tidak perduli karena ia terlalu sering mengganggu hidupku.