THOMAS POV
Hari ini aku mengajak Ben ke tempat proyek dan disana banyak orang yang bekerja. Aku memberitahu Ben tentang proyek yang aku jalankan beberapa bulan yang lalu dan kurang beberapa bulan lagi proyek ini akan selesai.
Entah kenapa aku berpikir Ben lebih cepat tanggap dalam hal apapun di bandingkan Felix sehingga aku memutuskan akan membuat cabang baru yang akan di pimpin oleh Ben.
Aku merasa Ben pantas memimpin perusahaan apalagi ia seorang pria yang baik dan jujur. Aku melihat ia sudah bisa membaur dengan teman kerjanya di kantor sehingga ia pantas untuk memimpin perusahaan.
" Papa memutuskan untuk membuat cabang perusahaan yang baru dan kau yang akan memimpin." Kataku sambil memberitahunya.
Ben terlihat sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Saat itu aku tau Ben merasa tidak percaya diri untuk memimpin perusahaan karena ia merasa bukan lulusan sarjana.
Saat itu aku menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi untuk masa depan nya dan ia saat ini sedang menabung agar bisa melanjutkan kuliah.
***
Setelah dari tempat proyek, aku mengajaknya makan siang bersama dan kali ini kami membahas pekerjaan. Tiba - Tiba ada seseorang yang mendatangi kami dan ternyata orang itu Renzo.
Ia memberitahu kami jika ia sudah sukses dan aku tidak suka saat ia menghina Ben di depanku. Saat itu aku mencengkeram bajunya dan memperingatkan nya untuk tidak menghina Ben.
Ben berusaha menarik tangan ku dan ia mengajakku pergi dari sana. Aku akan membuat perhitungan padanya karena telah menghina anakku.
" Papa jangan terbawa emosi. Renzo sejak dulu tidak suka aku berada di kantor tetapi aku tidak pernah memperdulikan nya." Kata Ben sambil menenangkan ku.
" Tidak ada seorang pun yang bisa menghinamu di depanku! Kau adalah anakku dan sudah kewajiban ku melindungimu." Kataku sambil menatap nya.
Ben tampak meneteskan air mata dan sepertinya ia terharu mendengar perkataan ku. Aku tau sejak kecil ia sudah terbiasa mandiri meskipun ia memiliki orang tua.
Tidak beberapa lama kami tiba di kantor dan Ben kembali ke ruang kerjanya. Aku menyuruh anak buahku untuk mencari informasi tentang keberadaan Renzo karena aku ingin memberinya pelajaran karena telah menghina Ben.
Tiba - tiba ada yang mengetuk pintu dan aku langsung mematikan telfon. Ternyata Diana yang datang bersama Sharon dan rasanya aku sangat muak melihat Sharon yang tersenyum genit ke arahku.
" Sayang, maaf mengganggu mu. Kami kesini ingin meminta ijin karena hari ini Sharon ingin mengajakku bertemu klien di luar kota sehingga kami akan naik pesawat." Kata Diana sambil meminta ijin padaku.
" Baiklah kalau begitu, kau hati - hati di jalan dan kabari aku jika sudah tiba di sana." Kataku sambil mencium keningnya dan sekilas aku bisa melihat Sharon yang tidak suka melihat ku dengan Diana.
Setelah mereka berpamitan, aku bisa melihat Sharon yang menatapku dengan tatapan licik dan entah kenapa aku merasakan firasat buruk tentang kepergian mereka sehingga aku berusaha mengejar Diana tetapi sayangnya ia sudah pergi.
***
Tepat jam lima sore Ben keluar dari ruang kerjanya dan ia mengajakku pulang bersama dan rasanya saat itu aku tidak berhenti memikirkan Diana.
Tiba - tiba ponselku berbunyi dan Diana mengabariku jika ia sudah sampai di Bali. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan klien dan aku sangat bersyukur mendengar ia baik - baik saja.
Setelah selesai menelfon, aku mengajak Ben makan malam di luar dan kali ini aku menyuruh Ben untuk memilih tempat makan yang enak.
" Lumayan pilihanmu. Kali ini kita punya kesamaan." Kataku waktu ia memilih tempat makan di pinggir jalan yang terlihat sangat bersih.
" Biasanya Ben dan teman kerja suka makan disini karena tempatnya bersih dan harganya terjangkau." Kata Ben sambil melihat menu makanan.
Setelah memesan makanan, kami berbincang-bincang sampai pelayan mengantar makanan kami. Aku tidak menyangka makanan yang kami pesan sama persis dan kami tertawa melihat hal ini.
Tiba - tiba aku teringat ketika dulu makan malam bersama Claire. Aku dulu pernah mengalami kejadian seperti ini dan terasa seperti de javu.
Aku bercerita kepada Ben tentang Claire agar ia lebih mengenal ibu kandungnya. Lalu aku mengambil foto Claire di dalam dompet ku dan aku memberikan foto itu kepada Ben untuk di simpannya.
" Tolong kau simpan baik-baik foto ini." Kataku sambil memberikan foto Claire padanya.
" Terima kasih papa mau memberikan foto ibu padaku." Kata Ben sambil berterima kasih kepada ku.
Aku merasa Ben sangat menyayangi Claire dan ia sangat senang ketika aku memberinya foto Claire. Setelah selesai makan, aku mengantarnya pulang ke rumah dan sepertinya kali ini hubungan ku dengan Ben semakin baik.
****
Saat aku tiba di rumah, aku mendengar suara orang sedang tertawa terbahak-bahak dan aku berpikir jika Felix sedang bersama teman kampusnya di kamarnya.
Aku mendatangi kamarnya dan mereka sangat terkejut melihat kedatangan ku. Lalu aku memberitahu Felix jika Diana sedang berada di luar kota bersama Sharon.
Felix sudah terbiasa di tinggal Diana ke luar kota sehingga tidak jarang ia membawa teman - temannya ke rumah. Sejujurnya aku tidak terganggu jika teman - temannya datang ke rumah selama mereka tidak membuat kegaduhan saat aku sedang berada di rumah.
" Felix, ibumu tadi meminta ijin ayah untuk pergi ke luar kota bersama Tante Sharon untuk bertemu klien." Kataku sambil memberitahu nya dan ia mengangguk saja.
" Felix sudah tau tentang hal itu. Teman - temanku ingin menginap di rumah selama ibu tidak ada." Kata Felix sambil memberitahu ku.
Teman - teman Felix memberiku makanan yang mereka bawa dari rumah nya dan aku berterima kasih kepada mereka.
Lalu aku pergi meninggalkan mereka dan berjalan ke arah ruang kerja ku. Disana aku menghabiskan waktu memandang foto Claire.
Aku sangat merindukan nya dan aku berharap ia tidak pergi meninggalkan ku. Meskipun aku sudah menikah dengan Diana, tetapi perasaan cinta ku kepada Claire tidak pernah padam.
Ia akan selamanya berada di dalam hatiku dan sekarang aku sudah menebus kesalahanku dengan bertanggung jawab terhadap kehidupan Ben.
Aku yakin Claire memaafkan kesalahanku karena telah menelantarkan Ben tetapi aku sudah memperbaiki kesalahanku dan Ben sudah memaafkan ku.
Tiba - tiba ponselku berbunyi dan aku mendapat kabar jika anak buahku sudah menemukan keberadaan Renzo dan sekarang mereka membawanya ke gudang kosong yang sudah lama tidak terpakai.
Rasanya aku sangat ingin menyakiti pria itu karena telah kurang ajar kepada Ben dan aku tidak akan membiarkan siapapun menghina keluarga ku dan aku akan memberikan pelajaran kepada pria itu atas perbuatannya yang kurang menyenangkan.