BAB 22

1049 Words
ALBERT POV Semenjak peristiwa itu, aku semakin protektif terhadap Adelle. Aku melarangnya untuk keluar sampai malam karena aku takut terjadi sesuatu padanya. Adelle menganggap aku terlalu paranoid dan ia berjanji bisa menjaga dirinya sendiri tetapi aku tetap bersikeras akan mengawasinya dan memastikan kondisinya aman. Tiba - tiba ada yang mengetuk pintu rumah dan saat itu aku sangat terkejut melihat Ben yang datang ke rumah. Ia meminta maaf padaku karena sudah meninggalkan rumah tanpa berpamitan padaku. " Ayah, maafkan aku. Aku tau apa yang aku lakukan salah dan aku berharap ayah mau mengampuniku." Kata Ben sambil memohon padaku untuk memaafkannya. " Ayah sudah memaafkan mu." Kataku sambil memeluknya dan tiba - tiba Irene datang menghampiri ku dan ia sangat terkejut melihat Ben yang datang ke rumah. Tiba - tiba Irene mengusir Ben pergi dari rumah dan ia menyalahkan Ben atas kejadian kemarin yang menimpaku. Saat itu Ben terlihat tidak tau apa - apa dan Irene mendorong Ben keluar dari rumah tetapi aku berusaha mencegahnya. Saat itu Ben pergi begitu saja dan ia tampak kecewa melihat perlakuan Irene padanya. Aku memarahi Irene yang mengusir Ben pergi dari rumah dan ia tidak perduli dengan ku. Rasanya tidak adil jika Ben di salahkan dalam hal yang menimpaku karena aku merasa Ben tidak tau apa - apa tentang kesalahannya yang di lakukan ayahnya. *** Hampir tiga hari aku tidak bertegur sapa dengan Irene dan ia menjaga jarak dengan ku. Adelle yang menyadari hal ini langsung membujuk Irene untuk berbaikan dengan ku tetapi Irene tidak mau dan bersikukuh dengan keputusan nya jika apa yang ia yakini benar. Waktu itu Adelle mengajakku berbincang dan ia berusaha membujuk ku untuk meminta maaf kepada Irene tetapi aku merasa tidak salah meskipun berulang kali Adelle membujukku. " Ayah, tolonglah berbaikan dengan ibu. Adelle tidak ingin melihat ibu dan ayah bertengkar seperti ini." Kata Adelle sambil membujukku berbaikan dengan Irene. " Ayah merasa tidak salah dan biarkan saja ibumu seperti ini. Ibumu yang salah sudah mengusir kakakmu dari rumah ini." Kataku dengan nada emosi. Saat itu Adelle tiba bisa berbuat apa - apa dan ia kembali ke kamar nya. Aku tidak tau apa yang merasuki Irene sampai ia membenci Ben tetapi apa yang ia lakukan kepada Ben tidak benar. Tiba - tiba Irene muncul dari dapur dan saat itu aku ingin membantunya membawakan puding tetapi ia acuh padaku. Aku tau ia masih marah padaku karena kedatangan Ben dan aku tidak bisa berbuat apapun untuk mengakhiri permasalahan di antara kami. *** Seharian ini aku sengaja berada di toko karena aku ingin menjauhi Irene. Tiba - tiba Adelle menelfon dan ia meminta ku untuk menjemput nya di sekolah. Aku baru teringat jika sekarang waktunya menjemput Adelle di sekolah nya. Lalu aku berangkat kesana dan saat tiba disana, aku melihat ada dua orang yang membawa pergi Adelle dan aku langsung melawan kedua orang itu. Sampai mereka melepaskan Adelle dan aku melihat kedua orang itu kabur saat di kejar oleh banyak orang. Saat itu Adelle memelukku sambil menangis dan aku berusaha menenangkan nya. " Berhentilah menangis, ada ayah yang menjaga mu dan tidak membiarkan siapapun menyakiti mu." Kataku sambil berbisik di telinga nya. " Adelle sangat takut ayah." Kata Adelle sambil menangis. Akhirnya aku mengajak nya pulang ke rumah dan ia mulai tertidur di kursi penumpang. Aku merasa ia sangat kelelahan karena ia habis mengikuti ekstrakurikuler basket di sekolah nya. Tidak beberapa lama kami tiba di rumah dan aku mengangkat tubuhnya dari mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah. Saat itu aku melihat tidak ada orang di rumah sehingga aku membawa Adelle masuk ke dalam kamar nya. Lalu aku merebahkan tubuhnya disana. Tiba - tiba Adelle terbangun dan aku menyuruhnya untuk beristirahat. " Sebaiknya kau beristirahat. Pasti kau sangat lelah." Kataku sambil menyelimutinya. " Baik ayah. Tolong tutup pintunya." Pinta Adelle padaku dan aku menutup pintu kamar nya. Tidak beberapa lama Irene tiba di rumah dan ia tidak menoleh padaku. Rasanya aku tidak sebagai seorang suami sampai akhirnya aku memulai pembicaraan dengannya. Saat itu Irene terlihat acuh saat aku mengajaknya berbincang dan aku sangat kesal saat ia mulai melawanku dengan nada tinggi. Aku sangat terkejut ketika ia meminta cerai padaku dan ia berkata tidak tahan hidup bersama ku. Rasanya saat itu aku sangat sakit hati padanya karena ia tidak menginginkan ku. " Aku ingin kita bercerai karena aku tidak tahan hidup bersama mu!" Kata Irene dengan nada tinggi. " Kau tidak boleh berkata seperti itu! Apa kau tidak memikirkan perasaan Adelle jika kita berpisah?!" Tanyaku padanya dan ia terlihat acuh. Saat itu keputusan nya bulat untuk berpisah dengan ku dan ia mengemasi barang-barang nya dan pergi dari rumah. Waktu itu aku tidak menghalangi kepergiannya karena aku tidak bisa memaksakan dirinya untuk tetap bersama ku. *** Saat Adelle terbangun, ia mencari Irene dan aku memberitahu nya jika Irene pergi dari rumah. Adelle terlihat sangat terkejut mendengar hal itu dan ia tidak menyangka jika Irene akan berpisah dengan ku. Adelle terlihat tidak setuju jika aku bercerai dengan Irene tetapi aku tidak bisa memaksanya Irene bersamaku karena aku tidak ingin rumah tanggaku di bayangi oleh kepura-puraan. Saat itu aku memberitahu Adelle jika aku akan fokus menjaganya dan tidak meninggalkan nya seorang diri. Aku tau Adelle sangat menyayangkan perpisahan ku dengan Irene tetapi kami harus menghadapi kenyataan ini dengan lapang d**a. " Ayah berjanji padamu akan selalu menjagamu dan tidak meninggalkan mu seorang diri karena ayah sangat menyayangimu." Kataku sambil memeluknya. " Terima kasih ayah selalu berada di samping ku." Kata Adelle sambil membalas pelukan ku dengan erat. Rasanya saat itu aku sangat sedih menerima kenyataan pernikahan ku harus berakhir seperti ini padahal Adelle sangat membuat sosok Irene di hidupnya. *** Saat malam tiba, aku dan Adelle memutuskan untuk makan malam di luar dan kami memilih makan di sebuah warung di pinggir jalan. Rasanya sudah lama kami tidak makan di luar dan aku teringat dengan Ben yang sangat suka makanan di pinggir jalan. Aku berharap Ben baik - baik saja dan aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Aku tau ia seorang anak yang sangat baik dan aku berharap bisa bertemu dengan nya lagi karena sampai sekarang aku masih menyayanginya seperti anak kandung ku sendiri. Aku dan Adelle selalu menanti kehadiran Ben di rumah kami dan aku berharap bisa berkumpul dengan Ben seperti dulu. Aku yakin Ben sangat merindukan kami karena sejak kecil kami tidak pernah terpisah seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD