THOMAS POV
Aku sangat senang ketika melihat Ben kembali bekerja di perusahaan dan ia bersikap seolah - olah tidak terjadi apa - apa. Saat itu aku mengajaknya berbincang dan ia seperti menjaga jarak dengan ku.
Aku mengerti jika ia masih marah padaku tetapi aku berusaha memperbaiki hubungan dengannya. Saat itu aku memberitahu nya jika aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya.
Saat itu Ben hanya diam tanpa memberi respon padaku dan ia bersikap profesional di depan ku tetapi aku tau jika ia sepertinya sudah melupakan apa yang terjadi.
" Ben, tolong beri papa kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu." Kataku sambil memohon padanya.
" Mohon maaf, saya permisi." Kata Ben sambil membawa dokumen yang sudah ku tanda tangani ke ruangannya.
Aku harus bersabar menghadapi Ben dan aku yakin suatu hari nanti Ben akan menyayangiku sebagai ayah kandungnya.
Tiba - tiba aku kedatangan seseorang yang tidak aku harapkan yaitu Sharon. Ia datang mengajakku untuk makan siang bersama tetapi aku menolaknya dan beralasan sangat sibuk.
Tetapi ia tidak putus asa dan tetap membujukku untuk makan siang. Sampai akhirnya aku harus memanggil satpam untuk membawa Sharon pergi dari ruang kerjaku karena ia sangat keras kepala.
" Kenapa kau mengusirku? Aku kesini hanya ingin mengajakmu makan siang!" Kata Sharon dengan nada tinggi.
" Tolong bawa pergi dia!" Kataku sambil memberi perintah kepada dua satpam.
Akhirnya aku terbebas dari Sharon karena saat ini aku tidak ingin di ganggu siapapun karena aku sangat sibuk mengurus pekerjaan ku.
****
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul empat sore dan saatnya aku pulang tetapi aku tidak ingin pulang karena aku ingin pulang bersama Ben.
Aku melihat ia masih sibuk mengurus pekerjaan nya sehingga aku menunggu nya sampai selesai. Setelah itu aku datang menghampiri nya dan mengajak nya pulang bersama tetapi ia lebih memilih pulang sendiri.
Tiba - tiba ia berkata sangat ingin melakukan tes DNA agar bisa memastikan jika aku adalah ayah kandung nya.
" Saya sangat ingin melakukan tes DNA. Apakah anda setuju?" Tanya Ben padaku dan saat itu dengan yakin aku menyetujuinya.
" Baiklah kalau itu keinginan mu. Aku setuju untuk melakukan tes DNA jika kau belum yakin padaku." Kataku dengan yakin dan akhirnya aku mengajaknya ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
Saat tiba di rumah sakit, kami mendaftar untuk melakukan tes DNA dan baru besok pagi bisa melakukan tes. Akhirnya kami setuju dan besok pagi kami ke rumah sakit bersama.
Setelah dari rumah sakit, kami pulang ke rumah masing - masing dan rasanya aku tidak sabar ingin segera melakukan tes DNA.
***
Keesokan harinya aku tiba di rumah sakit dan aku melihat Ben sudah berada disana. Lalu kami melakukan tes DNA dan setelah itu kami di suruh menunggu oleh pihak rumah sakit sampai hasilnya keluar.
Lalu kami pergi ke kantor dan saat itu Ben memilih menggunakan angkot karena ia tidak ingin menjadi bahan omongan orang - orang di kantor tetapi aku memaksanya untuk pergi bersama ku sampai ia akhirnya tidak bisa menolak.
Di sepanjang jalan, Ben hanya terdiam tanpa mengucap sepatah kata pun. Aku tau ia tidak mau dekat dengan ku setelah ia tau siapa aku yang sebenarnya tetapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan pengakuan darinya jika aku ayah kandungnya.
***
Tidak beberapa lama kami tiba di kantor dan saat itu banyak yang melihat ke arah kami. Aku tau Ben belum terbiasa di bicarakan orang banyak sehingga ia lebih memilih menghindar dan fokus mengerjakan tugasnya.
Aku tau tidak lama lagi semua orang akan tau jika Ben adalah anak kandung ku. Semua orang membicarakan ku tetapi aku tidak peduli dan lebih memilih mengurus bisnis ku.
****
Beberapa minggu kemudian, aku mendapat kabar dari rumah sakit jika hasil tes sudah keluar dan saat itu aku memberitahu Ben jika hasil tes DNA sudah keluar.
Lalu kami pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes itu dan saat kami melihat hasil tes menunjukkan bahwa aku adalah ayah kandung Ben.
Saat itu Ben seperti tidak percaya melihat hasil tes tetapi aku dari awal sangat yakin jika Ben adalah anak kandung ku.
" Papa sudah yakin dari awal jika kau adalah anak kandung ku." Kataku sambil memeluk Ben yang diam tanpa kata.
Saat itu Ben hanya diam mematung tanpa membalas pelukan ku dan aku tau ia sangat terkejut mengetahui hasilnya.
Aku memberitahu nya untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun dan ia hanya mengangguk setuju.
***
Sejak saat itu hubungan ku dengan Ben berubah. Ia lebih hormat padaku meskipun ia masih menjaga jarak dengan ku sampai suatu hari aku mengajak Ben pergi ke makam Claire.
Disana aku memberitahu nya jika itu adalah makam ibu kandungnya dan saat itu Ben menangis dan ia memeluk nisan Claire.
Saat itu aku berusaha menenangkan nya karena ia menangis histeris dan aku bisa merasakan kesedihan yang ia rasakan.
" Berhentilah menangis. Ibumu sudah tenang di sisi Tuhan. Kita doakan semoga ia bahagia di surga." Kataku sambil mengajaknya berdoa.
Setelah itu kami berdoa untuk Claire dan aku melihat Ben tidak ingin pergi dari makam Claire. Aku tau ini pertama kalinya iya ke makam Claire setelah ia tau yang sebenarnya.
***
Setelah dari makam, aku mengantar Ben ke rumah kontrakan nya dan ia sudah berbulan-bulan tinggal disana. Awalnya aku yang menyuruhnya untuk tinggal di rumah sendiri agar ia bisa leluasa tanpa ada orang lain.
Aku berjanji padanya akan bertanggung jawab terhadap kehidupan nya sehingga aku membiayai rumah kontrakannya.
Sepertinya Ben sangat nyaman tinggal di rumah itu dan aku bersyukur ia tidak pernah meminta lebih dari apa yang aku berikan.
" Terima kasih sudah mengajakku ke makam ibu." Kata Ben sambil berterima kasih padaku.
" Sama - sama nak. Sekarang tinggal papa yang kau punya dan papa berjanji tidak akan meninggalkan mu seperti dulu." Janjiku padanya dan Ben memeluk ku sangat erat dan rasanya aku sangat bahagia karena hubungan kami membaik.
***
Keesokan harinya aku bangun dengan hati yang bahagia karena mengingat Ben sudah mengakuiku sebagai ayah kandungnya.
Aku berjanji tidak akan mengecewakan nya dan memberikan apapun yang ia butuhkan tetapi aku tau Ben bukanlah tipe orang yang boros dan ia sudah terbiasa hidup sederhana.
Aku yakin Claire sangat bahagia melihat hubungan ku dengan Ben yang membaik. Aku berharap bisa mendampingi Ben sampai akhirnya ia menikah dan memiliki anak.
Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu Diana dan Felix jika Ben adalah anak kandung ku. Biarlah ini menjadi rahasia ku karena aku tidak ingin membuat Diana kecewa jika tau tentang hal ini.