BAB 20

1049 Words
ALBERT POV Aku bersyukur kondisi Irene membaik dan ia mulai berjualan lagi. Sejujurnya aku sangat ingin membantunya tetapi aku harus berjualan di toko. Aku bersyukur Adelle sepulang sekolah mau membantu Irene berjualan puding karena hanya ia yang bisa kami andalkan setelah Ben pergi dari rumah. Rasanya sudah sebulan Ben meninggalkan rumah dan kami tidak tau kondisi nya meskipun kami sangat merindukan nya. Aku berharap Ben mau datang ke rumah meskipun hanya sebentar tetapi bisa mengobati rasa rindu kami padanya. " Ayah, aku berangkat sekolah. Nanti sepulang sekolah aku akan membantu ibu berjualan." Janji Adelle padaku sambil berpamitan padaku. " Baiklah kalau begitu. Hati - hati di jalan." Kataku sambil memberinya uang saku. Setelah Adelle berangkat ke sekolah, aku pergi ke toko dan saat tiba disana, aku sangat terkejut melihat tokoku yang sangat berantakan dan sepertinya ada penyusup yang masuk ke dalam toko. Aku curiga jika ini semua ulah Thomas karena ia tidak terima dengan perkataan ku. Aku melihat uang di laci masih ada dan aku bersyukur penyusup itu tidak mengambil uang kas. Aku tidak terima dengan perlakuan Thomas padaku dan aku berjanji akan melakukan perhitungan padanya. " Pak Albert, kenapa toko anda berantakan seperti ini?" Tanya pelanggan ku yang setiap hari berbelanja di tokoku. " Sepertinya ada penyusup yang sengaja memporak - porandakan toko tetapi saya bersyukur karena tidak kehilangan apapun." Kataku sambil merapikan barang - barangku yang berantakan. Setelah selesai merapikan barang - barang, aku mulai berjualan dan semua pelanggan ku memberitahuku untuk melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib tetapi aku tidak ingin memperpanjang masalah dan aku menganggap ini semua hanyalah ulah orang yang tidak suka padaku. *** Tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua belas dan toko mulai sepi pembeli sehingga aku memutuskan untuk menutup toko dan aku berharap kali ini orang itu berhenti mengacak - ngacak tokoku. Tiba - tiba ada mobil yang berhenti di depan tokoku dan keluar dua orang berbaju hitam dan mereka menangkap kedua tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobil. Saat itu aku mencoba berteriak minta tolong tetapi tidak ada siapapun disana dan mulutku di bekap oleh mereka sehingga aku tidak sadarkan diri. *** Tiba - tiba aku terbangun ketika ada seseorang yang membangunkanku dan aku tersadar jika berada di sebuah gudang kosong dan tangan ku terikat. Saat itu aku meminta mereka untuk melepaskan ku tetapi mereka menyuruh ku untuk diam. Tidak beberapa lama aku melihat pintu gudang terbuka dan ada sebuah mobil yang masuk. Lalu aku melihat ada seseorang yang keluar dari mobil dan ternyata orang itu adalah Thomas. Ia datang menghampiri ku dengan tatapan tajam ke arahku. " Bagaimana rasanya? Pasti sangat menyenangkan bukan?" Tanya Thomas sambil tertawa padaku. " Lepaskan aku!" Kataku sambil memandang nya dengan kemarahan. Saat itu Thomas menyombongkan dirinya jika ia berhasil mempengaruhi Ben untuk tidak kembali ke rumah dan ia berkata jika Ben tidak mau lagi mengakuiku sebagai orang tuanya. Rasanya aku sangat emosi mendengar hal itu dan aku berpikir jika itu hanyalah karangan Thomas. Aku yakin Ben tidak seperti itu karena aku tau ia sangat menyayangi ku sebagai orang tuanya yang merawatnya sejak kecil. Setelah puas berbicara, Thomas mencengkeram bajuku dan ia memperingatkan ku untuk menjauhi Ben dan melupakan nya karena ia tidak segan menyakiti keluarga ku jika aku masih berusaha mencari Ben. Waktu itu aku hanya memandang matanya dengan tajam dan aku tidak merasa takut padanya. Lalu ia menyuruh anak buahnya untuk melepaskan dan aku langsung melarikan diri dari sana. *** Aku bersyukur di bebaskan olehnya karena aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Irene dan Adelle jika kehilangan ku. Saat itu aku kebingungan mencari transportasi untuk pulang karena di sekitar jalan jarang ada kendaraan yang lewat sampai akhirnya ada sebuah truk yang lewat dan aku meminta tolong kepada supir truk untuk mengantarku ke kota dan aku sangat bersyukur ketika ia mau mengantar ku. Di sepanjang perjalanan, aku memikirkan Ben yang entah dimana. Terakhir kali aku mendengar nya berada di rumah Rendy tetapi sekarang ia sudah pindah tempat dan aku tidak tau ia tinggal dimana. Beberapa jam kemudian, aku tiba di kota. Lalu aku mencari taksi untuk mengantar ku ke rumah. Setengah jam kemudian, aku tiba di rumah dan saat itu Irene tampak cemas padaku karena aku baru sampai rumah tengah malam. " Sayang, darimana saja kau baru tiba di rumah?" Tanya Irene sambil menyuruh ku masuk ke dalam rumah. " Ceritanya sangat panjang. Biarkan aku mandi dulu baru aku bercerita padamu." Kataku sambil berjalan ke arah kamar. Setelah selesai mandi, aku menceritakan apa yang terjadi kepada Irene dan ia tidak menyangka jika Thomas melakukan semua ini. Saat itu Irene ingin melaporkan kejadian yang menimpaku kepada pihak berwajib tetapi aku melarangnya karena aku tidak ingin memperpanjang masalah tetapi Irene tidak terima dengan perlakuan Thomas padaku. Aku berusaha membujuk Irene untuk mengurungkan keinginan nya hingga akhirnya ia menuruti keinginan ku. Sudah cukup Thomas merusak kehidupan ku dan aku berharap ini terakhir kalinya ia mengusik hidupku. *** Keesokan harinya aku terbangun dan melihat waktu menunjukkan pukul enam pagi. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan melihat Irene yang sedang membuat puding di dapur. Saat itu Irene menyuruhku segera mandi karena sebentar lagi kami sarapan bersama. Akhirnya aku mandi dan setelah itu aku membantu Irene menyajikan makanan di atas meja. Tidak beberapa lama Adelle keluar dari kamar dan ia sudah berpakaian seragam. Lalu kami sarapan bersama dan pagi ini berjalan seperti biasa sampai Adelle bertanya alasanku pulang terlambat tadi malam. " Kenapa ayah pulang terlambat tadi malam?" Tanya Adelle sambil menoleh ke arah ku. " Kemarin ayah bertemu dengan teman lama dan ayah di ajak makan malam bersama mereka." Kataku padanya meskipun di dalam hati aku terpaksa berbohong padanya. Setelah selesai sarapan, Adelle bersiap - siap berangkat ke sekolah dan saat itu aku ingin mengantar nya ke sekolah karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Saat itu Adelle terlihat heran karena tidak biasanya aku mengantarnya ke sekolah dan aku beralasan jika aku ingin memastikannya selamat sampai di sekolah. Tidak beberapa lama kami tiba di sekolah dan saat itu aku memberitahu nya jika aku yang akan menjemput nya dan mengantarnya ke tempat kursus. " Nanti ayah yang akan menjemput mu. Jadi kau tunggu ayah." Kataku sambil memberitahu nya. " Baik ayah." Kata Adelle sambil mencium tanganku. Lalu ia masuk ke dalam kelas dan aku pergi ke toko untuk berjualan. Aku berharap Thomas tidak lagi mengganggu kehidupan ku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD