Mendengar apa yang dikatakan Narayana, pria itu pun memperhatikan dengan seksama wajah wanita di hadapannya. Benar, ia ingat wanita yang ditabraknya saat di restoran.
“Ah, soal itu. A-aku minta maaf.”
“Huh. Akhirnya aku ketemu juga denganmu,” seru Narayana sambil berkecak pingang. “Kau membuat pinggang dan bokongku sakit karena kau menjatuhkanku ke lantai.”
Pria itu terdiam sesaat. Dia memiliki alasan mengapa dirinya melakukannya, dan juga ketidaksengajaan itu. “Aku benar-benar minta maaf. Aku punya alasan melakukannya,” ucapnya sambil melihat ke arah Narayana.
“Sudahlah. Kau tidak perlu menjelaskannya padaku. Sebaiknya kau pergi dari sini, jika terus ada di sini angsa-angsa itu akan datang lagi,” ucap Narayana kemudian beranjak meninggalkan pria itu.
Dia ingin sekali memukul wajah pria itu tetapi diurungkan. Moment ingin mencari inspirasi berakhir tidak baik-baik saja. Narayana segera kembali karena waktu menunjukan pukul tiga sore dan dia harus kembali.
Seorang pria memakai seragam upacara lapangan Anggota TNI AD, dibahunya terdapat beberapa bintang yang tersemat. Menambah aura kegagahan pada pria itu.
Seorang pria paruh baya dengan beberapa bintang di bahu memberikan penghargaan kepada pria itu. Kini dibahu pria itu tersemat 3 strip—kapten.
“Karena jasa dan pengabdiannya kepada Negara. Hari ini, Letnan Alan Aditya Rasya mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Kapten,” kata pria itu.
“Hormat,” kata pria yang disebut namanya sebagai Alan Aditya Rasya.
“Selamat ya, Letnan Rasya,” kata seorang pria pria yang di panggilnya Rasya itu. “Ah tidak, aku harus memanggilmu Kapten?” ejek pria itu setelah keluar dari ruangan.
Di lain tempat, Narayana tengah fokus dengan laptopnya. Beberapa buku terlihat, sebelah kanannya terlihat pemandangan perkotaan, sedangkan sebelah kirinya terlihat rak-rak buku. Saat ini dia berada di perpustakaan.
“Permisi. Maaf. Perpustakaan sudah mau tutup,” kata seorang wanita pada Narayana.
“Aa, maaf. Aku akan pergi sekarang,” kata Narayana sambil memasukan laptopnya ke dalam tas.
Jam menunjukan pukul tiga sore, Narayana memilih untuk jalan kaki. Mungkin dengan berjalan kaki, ia menemukan ide dalam novel barunya. Sebuah pengendara motor dari arah belakangnya tiba-tiba menyambar tas Narayana.
“Copet,” teriak Narayana sambil berlari mengejar pengendara motor itu.
Dari kejauhan terdengar suara teriakan copet, serta sebuah pengendara motor lewat.
BRUGH!
Suara motor yang terjatuh. Seorang pria menggambil tas yang di bawah kedua orang itu, serta menghajar kedua orang itu. Karena ketakutan, akan dipukul massa, kedua orang itu langsung bergegas pergi dengan luka di bagian wajahnya.
Narayana, yang melihat pria yang memegang tasnya, langsung berlari dan berteriak ke arah pria itu.
“Akhirnya aku mendapatkanmu, dasar maling,” kata Narayana sambil memukul pria itu. “Kembalikan tasku!” Narayana sambil merebut kembali tasnya. “Dasar maling,” kata Narayana.
“Aa... Aa... Aa...” rintih pria itu. “Bukan aku pencopetnya,” kata pria itu.
Narayana tidak mendengarkan perkataan dari pria yang tengah dipukulinya itu. "Sudah tertangkap basah, tapi masih juga mau berbohong.”
“Apa yang kau lakukan?” tanya seorang pria, sambil membawa sebuah minuman kaleng. Pria itu menatap ke arah temannya.
“Ah, jadi kalian berhenti di sini dan pura-pura membeli minuman,” kata Narayana. “Cop—” Belum selesai Narayana berteriak, mulutnya dibungkam oleh pria yang tadi di pukulnya.
“Kita cek saja Cctv di sana,” kata teman pria itu.
Narayana memalingkan wajahnya, setelah melihat rekaman Cctv. Dia merasa malu, karena telah menuduh orang yang telah membantunya mengambil tasnya.
“Bukannya aku sudah bilang, sebaiknya kita tidak memakai pakaian seperti ini lagi,” kata temannya. “Lepas masker itu, kita benar-benar seperti preman,” kata temannya sambil membuka masker temannya itu.
“Kau—”
Narayana terkejut. Ketika melihat wajah pria itu ketika melepas maskernya.
“Cowok angsa itu?” Narayana membuat teman pria itu tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Narayana.
“Berhenti tertawa,” kata pria itu kepada temannya dengan tatapan tidak suka. “Namaku Alan Aditya Raysa bukan pria angsa.”
“Maaf... Maaf... Sepertinya kalian punya sesuatu yang harus dibahas. Aku akan menunggu di parkiran,” kata teman pria itu, bernama Kevin.
“Alan Aditya Rasya, panggil saja Rasya,” kata pria itu memperkenalkan dirinya.
“Narayana, Narayana Bramasta,” kata Narayana. “Em. Soal kejadian tadi, aku benar-benar minta maaf,” kata Narayana sambil menundukkan wajah. “Dan, aku juga minta maaf soal kejadian di taman karena menertawakanmu. Aku tahu jika itu salah, tapi...”
Rasya tertawa.
“Aku serius,” kata Narayana lagi.
“Kemarikan Ponselmu,” kata Rasya sambil mengulurkan tangannya.
Narayana memberikan Ponselnya.
“Aku akan menghubungimu,” kata Rasya sambil memberikan ponsel Narayana kemudian pergi meninggal Narayana yang masih mematung.
“Kau mengenal gadis tadi?” tanya Kevin pada Rasya yang sedari tadi memandang ponselnya.
“Ah. Iya. Dia gadis yang aku ceritakan, karena mertawakanku,” kata Rasya. “Dia bahkan tidak membantuku sama sekali saat aku di kejar angsa-angsa itu,” kata Rasya sambil mengingat kembali kejadian yang menimpanya.
Ddddrrr... Ddrr.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Rasya.
“Katakan saja di mana. Aku akan mentraktirmu karena telah membantuku menyelamatkan tasku,” bunyi pesan itu.
“Yes,” kata Rasya bersorak.
Kevin yang melihat sahabatnya itu, hanya mengeritkan dahinya.
“Aku tidak pernah melihatmu segembira itu saat menerima pesan. Apa itu? Apa kau menang lotre?” tanya Kevin.
“Tidak, hanya pesan iseng,” kata Rasya.
“Aaa... gitu ya. Pesan iseng karena mengajak seorang gadis makan malam,” kata Kevin membuat raut wajah Rasya berubah. "Sepertinya gadis itu membuatmu tidak takut lagi ber—”
Rasya menyumpal mulut sahabatnya itu, hingga tidak bisa menyelesaikan apa yang ingin dikatakan oleh Kevin.
“Aku minta maaf, aku harus pergi sekarang. Aku ada keperluan mendesak. Karena kau telah janji untuk mentraktirku. Aku akan menangihnya saat aku pulang,” kata Rasya sambil menghidupkan motornya.
Narayana hanya bisa terdiam melihat pria itu menghilang di hadapannya.
Beberapa menit sebelum kepergian Rasya, sebuah telfon masuk.
“Telpon dari siapa?” tanya Kevin sambil melihat ke layar ponsel Raysa. “Dokter Narendra? Kau belum bertemu dengannya saat kembali?”
Raysa mengelengkan kepala. “Bisa-bisanya kau belum bertemu dengannya, sebaiknya kau segera menemuinya.”
Benar apa yang dikatakan oleh Kevin padanya, dia harus segera bertemu dokter. Dia memiliki cukup banyak pertanyaan yang diajukan pada pria itu.
“Malam ini, kau tahu ‘kan? Akan ada makan malam di rumahku? Kau harus hadir jika tidak aku akan membunuhmu,” ancam Kevin kemudian naik ke atas motor. “Makan malam ini sangat penting!”
“Ya, aku tahu. Aku akan datang! Tenang saja.”
Kevin menatap Raysa. “Kau juga belum bertemu dengannya ‘kan? Dia sangat sibuk dengan bisnisnya.”
Melihat tidak ada jawaban dari Raysa, Kevin memukul bahu sahabatnya itu. “Wah. Bagaimana bisa aku memiliki ipar sepertimu. Kau mencintainya atau tidak sih?”