Penampilan Queen Yang Aduhai

1381 Words
PT Gemilang Pradipta Sejahtera. Pukul 7.30 pagi sebagian karyawan sudah ada yang datang, dan berjalan menuju ruangan masing-masing. begitupun dengan Queen, profesinya sebagai sekretaris pribadi mengharuskan ia hadir lebih awal dari karyawan yang lain, selain mempersiapkan keperluan meeting Queen juga harus mempersiapkan keperluan bosnya itu. "Pagi Bu Queen." sapa kepala security dengan ramah. saat melihat Queen datang dan berjalan masuk kedalam gedung. "Pagi Pak," sapa Queen, wanita itu lalu menyipitkan matanya membaca name tag yang ada pada seragam kepala security itu. "Pak Jo?" tanya Queen memastikan, karena yang ia baca barusan hanya ada dua huruf 'JO' di sana. Pak Jo pun menangguk. "Bener Bu Queen, nama saya Paijo Sutrisno." ucapnya dengan bangga. Queen mengulas senyum tipis di bibirnya. tak habis pikir nama Paijo bisa di panggil Jo saja, tadinya Queen pikir nama security itu Johan atau Jonathan. tak lama Queen pun melanjutkan perjalanan menuju ruangannya. Queen ini memang tipikal orang yang ramah dan nilai plusnya ia orang yang cepat akrab dengan siapapun itu tanpa memandang fisik atau status sosial orang itu. Queen berjalan dengan penuh percaya diri dengan stelan kerja yang saat ini ia gunakan Queen merasa lebih nyaman dan tentunya lebih cantik dari biasanya, begitu pikir Queen penuh percaya diri. Saat tiba di lobby seluruh karyawan pria memandang Queen tanpa berkedip sedikitpun, bahkan ada di antara mereka yang terang-terangan meminta nomor ponsel Queen. Anjir, bagian mana tuh mana bohay gitu bikin semangat kerja. ucap salah satu karyawan bagian keuangan. Semangat dah kalau dia satu ruangan sama gue. ucap karyawan bagian pemasaran. "Bu, Ibu Queen ya? boleh Bu minta nomor Ibu?. ucap salah satu karyawan yang memang sudah mengenal Queen melalui dunia maya atau situs jejaring sosial. Queen hanya tersenyum ramah sambil terus berjalan lurus kedepan, tanpa Queen sadari para lelaki itu menatap dirinya penuh nafsu, bagaimana tidak dengan bentuk tubuh yang proporsional padat, sintal dan berisi. Queen berjalan melenggak-lenggokan tubuhnya bak model profesional, tentu saja pemandangan indah ini tidak di sia-sia kan oleh para kaum adam itu. tanpa Queen sadari, dari jauh ada seseorang yang mengawasi pergerakannya sedari tadi. Denting lift pun berbunyi, kini Queen sudah sampai di lantai paling atas, ia melirik sekilas jam tangan mewah di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu dua puluh menit lagi sampai bos dateng. gumam Queen dalam hati. Queen lalu mendudukan dirinya di atas kursi, ia buka lembar demi lembar file yang harus ia kerjakan hari ini. Queen memang seperti ini, selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Maka tak heran jika kinerja Queen yang bagus ini selalu menjadi daya tarik bagi perusahaan asing yang ingin meminangnya menjadi karyawan, di samping kecantikan dirinya tentunya. Queen yang sedang fokus mengecek beberapa jadwal Bos baru nya itu di kagetnya dengan suara langkah seseorang yang tengah berjalan, Queen pun refleks berdiri dan menundukan kepalanya hormat. "Selamat pagi Pak Raffa." ucap Queen dengan lembut. "Hmm, pagi." jawab Raffa singkat, ia terus berjalan menuju ruangannya. sepuluh menit kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu. "Masuk!" ucap Raffa dari dalam. Daun pintu berwarna cokelat itu pun terbuka, terlihat sosok wanita cantik tengah berjalan mendekat. "Permisi Pak, ini kopinya silahkan diminum." Queen lalu menaruh satu gelas kopi hitam di atas meja. Raffa yang saat itu tengah membaca beberapa dokumen pun menoleh. "Apa tadi saya pesan kopi itu sama kamu?" tanya Raffa lalu mengangkat sebelah alis matanya. Queen pun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak Pak." jawab Queen singkat, memang Raffa sang bos tidak memesan minuman itu pada dirinya, tapi sebagai sekretaris yang baik bukanlah ini menjadi tugas Queen juga untuk menyiapkan segala sesuatu kebutuhan bos nya itu tanpa di minta. "Lalu buat apa kamu bawa kesini? kalau saya sendiri nggak minta." tanya Raffa tanpa menoleh sedikitpun pada sekretaris barunya itu. Sue banget ini bos, nggak ngerti apa kalau dia tuh lagi gue urusin. geram Queen dalam hati. "Baik Pak, kalau gitu saya bawa lagi kopinya." Queen tak mau berlama-lama di ruangan Bos nya itu. ia pun berinisiatif mengambil kembali kopi hitam yang tadi sudah ia taruh di atas meja. "Taruh situ, kenapa kamu bawa lagi?" tanya Raffa saat melihat Queen sudah memegang cangkir itu kembali. "Nanti saya minum, oh ya lain kali buatkan saya esspreso aja." ucap Raffa lalu menyesap sedikit demi sedikit minuman berkafein itu, saat Queen sudah kembali menaruhnya di atas meja, dan tentunya tanpa memperdulikan Queen yang sedari tadi memandangnya dengan penuh rasa kesal. Tadi bilang nggak pesen, giliran mau di bawa lagi nggak boleh, Sekarang malah di minum itu kopi. dasar jual mahal banget sih lu Bos. gumam Queen heran bercampur kesal dalam hati. () () () () Waktu pun telah menunjukan pukul 11.00 siang, sesuai janji siang ini Raffa sang bos akan makan siang bersama salah satu klien dari Arab. "Permisi Pak? saya hanya mengingat pukul 12.00 nanti Bapak ada janji makan siang dengan Tuan Abrar dari Arab." Queen selaku sekretaris Raffa pun membacakan ulang jadwal bosnya itu. Raffa pun mengangguk, ia lalu beringsut dari duduknya. "Kita berangkat sekarang aja!" titah Raffa lalu beringsut dari duduknya dan membenarkan sedikit jas mahal yang ia gunakan. Queen pun mengangguk, ia lalu mengikuti langkah sang bos dari belakang, dengan tak lupa membawa beberapa file dokumen yang di perlukan. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju lobby perusahaan, banyak sekali pasang mata yang memperhatikan penampilan keduanya. bahkan Queen tak sengaja mendengar ucapan yang tidak mengenakan dari beberapa karyawan. Ih sexy banget tuh sekretaris baru, kalau di tivi-tivi udah pasti kerjanya godain si bos ini mah. Wah Pak Bos pilih kasih nih, katanya karyawan harus pake rok di bawah lutut, tapi tuh sekretaris roknya lebih parah di atas lutut malahan. Widih Bohay gitu, pantes nggak kena omel sama si Bos. Bener-bener aduhai banget penampilan Queen. Dan masih banyak lagi suara-suara yang Queen dengar tapi Queen yang memang dasarnya masa bodo itu pun tak ingin memperdulikan penilaian buruk tentangnya, buang-buang waktu saja. begitu pikirnya. "Kamu cari siapa?" tanya Raffa penasaran, pasalnya saat ini mereka sudah berada di dalam mobil mewah milik Raffa, tapi kini Queen terlihat tengah menengok ke kanan dan kiri seperti sedang mencari keberadaan seseorang. "Kita berdua doang Pak? maksud saya, Bapak nggak pakai sopir pribadi gitu?" ucap Queen lalu membenarkan posisi duduknya, kini ia terlihat kembali menyilang kan kedua kakinya, sontak saja paha mulus dan putih Queen terlihat kembali. Astagfirullah, bener-bener godaan. gumam Raffa dalam hati, pria itu lalu membuang pandangannya kearah luar jendela. "Nggak!!! saya selalu bawa mobil sendiri." jawab Raffa singkat, ia lalu mulai melajukan mobilnya dengan perlahan. Queen pun mengangguk singkat, ia lalu membuka ponsel pintarnya dan mengecek beberapa pekerjaannya disana, sementara Raffa sang Bos tetap fokus mengendarai mobilnya. hening tidak ada percakapan lagi di antara keduanya hingga mereka tiba di salah satu restoran bintang lima yang ada di Jakarta Selatan. "Selamat siang Tuan Abrar, senang. bertemu dengan anda." sapa Raffa ramah, ia lalu mengulurkan tangannya dan menjabat tangan rekan bisnisnya itu. "Selamat siang Tuan Raffa, ini sekretaris baru anda?" tanya Tuan Abrar to the point, ia lalu tersenyum memperhatikan penampilan Queen dari atas sampai bawah. "Selama siang Tuan Abrar." Kini giliran Queen yang menjabat tangan pengusaha muda yang berasal dari negara penghasil minyak terbesar di dunia itu. Meeting pun di mulai, selama membahas kontrak kerja sama, tatapan mata Tuan Abrar tak pernah sekalipun beralih dari memang Queen, bahkan yang Raffa tangkap pengusaha itu senang berlama-lama memandang paha mulus Queen, entah mengapa pemandangan itu membuat Raffa menjadi sedikit kesal. ia seperti tidak terima jika sesuatu yang ada pada diri Queen di pandang lebih oleh orang lain selain dirinya. "Ehem, bagaimana Tuan Abrar keputusan nya?" tanya Raffa yang kini tengah menyesap sedikit demi sedikit Coffe Americano miliknya itu. "Saya setuju, dan memang harus segera di laksanakan." ucap Tuan Abrar dengan tegas, tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya pada wajah cantik Queen. Raffa pun dibuat semakin geram dengan tingkah rekan bisnisnya itu, dengan gerakan cepat ia lalu melepas jas mahal miliknya dan menutupi paha Queen yang sedikit terbuka. "Maaf jika anda kurang nyaman Tuan Abrar, kedepannya saya akan memerintahkan sekretaris saya untuk berpakaian lebih sopan lagi." ucap Raffa lalu menatap tajam Queen dengan menekankan kata-kata 'lebih sopan' itu berulang kali. Queen yang di perlukan seperti itu pun bukan senang atau merasa tersanjung, justru Queen malah merasa sedang merasa di permalukan oleh bos barunya itu. Sialan banget sih ini orang, pake bilang baju gue nggak sopan lagi, awas aja besok gue mau pake rok yang pendeknya di atas lutut lima cm. gumam Queen kesal dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD