Setelah selesai meeting Raffa pun langsung beringsut dari duduknya, tanpa memperdulikan Queen yang masih terduduk di tempatnya.
Queen yang melihat sang bos meninggalkan dirinya pun menghentak-hentakan kakinya kesal.
Sue banget sih gue di tinggalin gini. gumam Queen dalam hati.
Tak lama Queen pun berlari kecil guna mengejar sang bos yang sudah lebih dulu tiba di parkiran.
"Maaf Pak, ini jaketnya terimakasih." Queen membuka suara saat mereka berdua sudah masuk kedalam mobil.
"Pakai aja dulu." jawab Raffa singkat, ia lalu mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukanya secara perlahan.
"Nggak Pak, saya balikin aja. toh jaket Bapak nggak saya pake ini." Queen tetap memaksa, ia terlihat tengah melipat jas hitam itu dan mencoba menaruhnya di belakang kemudi.
Raffa pun melirik Queen sekilas. "Saya bilang pakai, ya pakai!!! kamu nggak lihat itu paha kamu kemana-mana." ucap Raffa tegas, dengan ekor mata yang melirik kearah paha mulus Queen.
Mendengar pernyataan itu Queen refleks menutup paha mulus miliknya dengan jas hitam lagi.
perhatian sih tapi galak gitu ngomongnya. gerutu Queen kesal dalam hati.
Raffa pun menggelengkan kepalanya sekilas. "Ternyata kamu nggak patuh pada perintah saya tempo hari." ucap Raffa lalu memarkirkan mobilnya di salah satu boutique langganan sang mama. "Ayo turun!" titah Raffa sebelum membuka pintu mobilnya.
Queen pun di buat heran dengan tindakan sang bos, pasalnya hari ini beliau tidak ada jadwal untuk pergi ke boutique. "Mau ngapain Pak?" tanya Queen penasaran.
Tanpa menjawab pertanyaan sang asisten pribadi Raffa pun lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan perlahan.
mau tak mau Queen pun harus mengikuti kemana pun sang bos itu pergi.
"Selamat sore Pak Raffa, mari silahkan masuk." Sapa salah satu pegawai boutique itu dengan ramah, sepertinya Raffa memang sudah sering kali datang kesini.
Raffa hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kemana Monica?" tanya Raffa pada pegawai berjilbab hitam itu.
"Bu Monica ada di ruangan nya Pak Raffa, mari saya antar." pegawai yang di ketahui bernama Aina itu langsung berjalan menuju ruangan bos nya.
Terdengar suara ketukan pada daun pintu itu sebanyak tiga kali, dan tak lama daun pintu itu pun terbuka.
"Bu? ada Pak Raffa?" ucap Aina lalu mempersilahkan Pak Raffa untuk masuk. tak lama Aina pun pergi dan kembali melakukan pekerjaannya.
Ngapain sih ngajak gue kesini, mau pamer gitu kalau dia punya cewek. gerutu Queen dalam hati.
Bagaiman Queen tidak kesal, saat melihat seorang wanita cantik nan anggun dengan tampilan jilbab syar'i nya yang modis itu tengah mencium punggung tangan Raffa dengan sopan.
"Abang kapan dateng?" tanya Monica lalu menyuruh Raffa untuk duduk.
"Baru aja." ucap Raffa singkat, ia lalu duduk di sofa berwarna navy itu.
"Ini siapa Bang?" tanya Monica lalu berjalan mendekat menghampiri Queen yang masih terdiam di depan pintu.
Queen pun mulai panik saat melihat pacar sang bos datang mendekat, ia takut akan mengalami kejadian seperti di sinetron yang setiap malam di tonton oleh Mama Anin dirumah
dimana adegan sang pacar menampar atau mendorong kasar tubuh seorang wanita yang di duga sebagai selingkuhan pacarnya.
tentu saja Queen tak mau mengalami hal yang sama. "Ehh ... maaf Mba saya cuman sekretaris pribadinya nggak lebih, saya juga nggak tau kenapa Pak Raffa tiba-tiba ngajak saya kesini." Queen berucap panjang lebar, sebelum Monica menanyakan tentang dirinya lebih lanjut.
Monica pun lalu mengulas senyum tipis di bibirnya. "Pacar Bang Raffa beneran juga nggak apa-apa kok Mba, mari sini duduk dulu Mba." ucap Monica ramah lalu menarik lembut tangan Queen untuk duduk di samping Raffa.
"Akhirnya setelah bertahun-tahun, baru kali ini aku lihat Abang bawa cewek." Ada senyum kebahagiaan di bibir Monica saat melihat kakak sepupunya itu datang ke boutique miliknya dengan membawa seorang wanita cantik.
Ya, Monica ini adalah anak dari Tante Rachel adik sang Papa.
Raffa sendiri tidak menggubris ucapan sang adik sepupu, ia masih sibuk dengan ponsel pintar di tangan kirinya. "Mon? tolong carikan stelan kerja yang baru buat Mba itu." titah Raffa, lalu menaruh ponselnya itu di atas meja.
Monica yang paham pun langsung mengangguk. "Siap Bang laksanakan." ucap Monica lalu izin sebentar pada Queen untuk keluar ruangan.
"Pak? Bapak mau beliin saya baju" tanya Queen to the point.
Raffa menoleh sekilas. "Iya." jawab Raffa singkat. "Saya pikir kamu nggak punya uang, makanya kamu belum juga ganti pakaian kerja kamu yang kurang bahan itu." lagi-lagi Raffa berucap sinis, seperti tengah meragukan kekayaan keluarga Queen, ya meski memang masih kaya keluarga Pradipta. Tapi kalau hanya membeli pakaian kerja deri brand ternama pun sepertinya Queen masih mampu.
Queen pun mendengus kesal mendengar pernyataan bos nya itu, apa Raffa ini tidak tahu bahwa Queen adalah seorang wanita yang modis dan fashionable.
bukan perkara tidak punya uang, hanya saja Queen memakai rok pendek memang Fashion Queen. ia lebih suka berpenampilan seperti ini.
"Bapak nggak perlu repot-repot beliin saya baju, saya masih mampu beli sendiri Pak. apa Bapa---" ucapan Queen pun terputus.
Ceklek ...
"Ini Bang bajunya?" ucap Monica lalu menaruh beberapa stelan kerja yang tadi Raffa pesan tadi di atas meja. "Ayo Mba cobain, pasti Mba kelihatan tambah cantik pakai ini."
Dengan malas Queen pun berjalan keruang ganti, ia lalu Menganti pakaiannya disana dan tak lama Queen pun keluar dengan setelan baju kerjanya yang baru.
Raffa dibuat takjub dan terpesona kala melihat Queen berpenampilan tertutup seperti itu.
Nah begini kan tambah cakep. gumam Raffa senang dalam hati.
Sementara itu di dalam hati Queen tengah mengumpat kesal, bagaimana bisa selera bosnya kampungan seperti ini.
Idih ini apa dah, make baju gombrong-gombrong kek begini. gumam Queen dalam hati yang pun terus memandang dirinya di pantulan cermin.
Raffa terus memandang Queen tanpa berkedip, bahkan kini Raffa menaruh kedua tangannya di pipi, matanya masih fokus memandang penampilan baru Queen yang lebih tertutup. hingga suara berisik sang adik sepupu menyadarkan lamunan Raffa.
"Bang?" bisik Monica pelan, namun ternyata Raffa tidak mendengarkannya hingga Monica pun meninggikan suaranya. "BANG RAFFA? ITU DI PANGGIL MBA QUEEN DARI TADI!" Monica yang kesal pun akhirnya berteriak.
Raffa menoleh seketika. "Aa--apa sih Mon? lu teriak-teriak kayak di hutan aja!" ucap Raffa tergagap, ia lalu membuang arah pandangannya. saat ini muka Raffa mulai memerah seperti seorang pencuri yang sedang tertangkap basah dan malu.
"Pak? saya nggak suka baju ini." tolak Queen halus, ia lalu berjalan kearah ruang ganti baju, guna mencoba satu setelan kerja yang tadi ia pilih.
Sementara itu Monica terus menggoda sang Abang. "Cie Abang cie ... ceweknya seksoy abis." ucap Monica lalu menaik-turunkan alis matanya.
Raffa tidak menanggapi ocehan adik sepupunya itu, ia memilih memainkan ponsel pintarnya guna menghilangkan rasa canggungnya tadi.
hingga suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh.
DEG!!!
Netra Queen dan Raffa pun bertemu.
ada glayer aneh pada hati Raffa setiap memandang Queen.
Raffa pun tak tau perasaan apa sebenarnya itu.
"Bang? sekarang bengong lagi." ucap Monica lalu menyenggol pelan lengan Abang sepupunya itu.
"Aa--apa sih Mon!!!" hentak Raffa kesal, ia lalu membenarkan posisi duduknya.
"Pak? saya nggak mau baju yang tadi." ucap Queen lalu menunjuk pada setelan kerja berwarna putih yang tadi ia pakai. "Saya mau yang ini aja Pak." Queen menyengir menampilkan deretan giginya yang putih dan bersih.
"Bagaimana Mba Mon, cocok kan saya?" ucap Queen percaya diri, ia lalu memutarkan dirinya ke kanan dan ke kiri. tak lupa Queen pun menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Monica pun berseru senang. "Cocok Mba, Mba Queen pakai baju apa aja tetap cocok." Monica lalu berjalan mendekat menghampiri Queen. "Mba Queen ini paca----"
"Ayo kita pulang!!!" titah Raffa dengan suara bariton yang khas itu.
Kedua wanita itu menoleh seketika. "Abang aku belum selesai---"
Raffa menempelkan ibu jari pada bibirnya, mengisyaratkan agar Monica tak banyak bicara.
Monica yang paham pun mengangguk. "Makasih ya Bang, Makasih ya Mba Queen." ucap Monica lalu tersenyum. ia lalu mengantar kedua orang tamu spesialnya itu sampai ke halaman parkir.
Queen pun mengangguk. "Sama-sama Mba Monica. makasih ya Mba, maaf kalau sa--". ucap Queen pun terputus.
"Kamu mau saya tinggal di sini!" ucap Raffa kesal. ia sudah berada di dalam mobil sedari tadi. tapi dua wanita ini masih saja asyik mengobrol.
"Iyaa---aa Pak. saya masuk." ucap Queen tergagap. ia buru-buru masuk kedalam mobil mewah milik bos nya itu.
Hening ...
Tidak ada percakapan di antara keduanya selama perjalanan, hingga di lampu merah ketiga Raffa pun menoleh. "Kenapa kamu suka sekali memakai rok kurang bahan seperti itu?" tanya Raffa tanpa menoleh kearah Queen sedikitpun.
Queen yang sedang melihat pemandangan dari luar jendela pun menoleh seketika. "Karena ini fashion saya, Pak." terang Queen tegas tak terbantahkan. Sejujurnya Queen paling tidak suka ada seseorang yang mengkritik penampilan.
Queen enjoy berpenampilan seperti ini, yang terpenting selama ini Queen bisa menjaga dirinya dengan baik.
Raffa terlihat memijat pangkal hidung nya pelan. "Mulai besok tolong kamu pakai rok yang lebih sopan lagi." titah Raffa lalu melirik Queen sekilas. "Saya nggak mau karyawan yang lain mengikuti gaya tren berpakaian kamu!!!" ucap Raffa dengan tegas.
Queen menghela nafasnya berat. "Baik Pak." Jawab Queen singkat, ia sudah lelah dan tak mau banyak berdebat dengan bos nya ini.
Sekitar tiga puluh menit melakukan perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman Queen.
Ya, karena waktu sudah malam Raffa pun berinisiatif mengantar Queen pulang. awalnya Queen menolak karena ia pun membawa kendaraannya sendiri ke kantor.
tapi mengingat waktu yang semakin malam di tambah hujan rintik-rintik yang mulai turun.
akhirnya Queen bersedia di antar pulang.
tak lupa Queen mengucapkan banyak terimakasih karena kebaikan bos barunya itu.
sudah membelikan beberapa setelan kerja untuk dirinya di tambah mengantarkan nya pulang sampai kerumah.
Sungguh Queen, nikmat mana lagi yang kau dusta kan. gumam Queen bersyukur dalam hati.
Tok ... tok ... tok ...
Ceklek ...
"Assalamualaikum, Mama oh Mama." ucap Queen lalu menghampiri kedua orangtuanya yang tengah terduduk di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam. udah pulang anak Mama?" Mama Anin menyambut uluran tangan sang anak. dan menariknya perlahan. menyuruh Queen untuk duduk disampingnya. "Tunggu, pakaian kamu yang tadi kemana?" Tanya Mama Anin. beliau lalu memperhatikan penampilan anaknya dari atas sampai bawah.
Queen pun menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. "Aku disuruh ganti baju sama si bos, Ma. Katanya baju aku nggak sopan." ucap Queen lalu mencebikan bibirnya kesal.
Papa Amri yang sedari tadi sibuk mengecek laporan keuangan pada tokonya pun menoleh. "Berapa kali Papa bilang sama kamu Queen. kamu itu perempuan pakai baju lah yang sopan." ucap Papa Amri lalu menatap dalam manik mata anak semata wayangnya itu.
Queen mendesah pelan. "Ah, Papa mah nggak keren. masak aku suruh pakai, pakaian yang gombrong-gombrong gitu." Membayangkan nya sudah membuat Queen menggelengkan kepalanya ngeri.
"Mulai besok kamu kerja pakailah rok yang di bawah lutut!" titah Papa Amri pada Queen.
"Ish ..." Queen berdecak malas, ia lalu bangkit dari duduknya. "Papa itu sama kayak bos aku, kerjaannya ngatur-ngatur mulu!!!" ucap Queen kesal. ia lalu berjalan perlahan dan masuk kedalam kamarnya.