Satu minggu kemudian. Wijaya sudah sampai di kampus, sekitar pukul delapan pagi. Dia duduk di bangku paling depan, seperti biasanya. Menunggu bel berbunyi, Wijaya memilih untuk membuka buku sejarah. Membacanya daripada memikirkan masalah yang hanya membuatnya semakin stres. “Jaya ... Aku harap enggak marah lagi, ya. Aku tidak ada maksud untuk .... “ “Tidak apa-apa. Lupakan saja,” jawab Wijaya tanpa mendongakkan kepala. Dia tetap fokus dengan buku sejarah yang terbuka berada di mejanya. Aura melangkah untuk duduk di bangkunya. Sebuah bangku yang berada di barisan yang sama dengan Wijaya. Wijaya melanjutkan membaca buku sejarah yang membahas mengenai bangunan-bangunan peninggalan zaman kerajaan Hindu-Budha. Bagi pencinta sejarah, mempelajari tentang bangunan dan barang-barang unik sesua

