Amarah

1577 Words

Wijaya duduk dengan pikiran yang tidak tahu mau dibuat seperti apa. Memaksa untuk berpikir positif dan mengolah rasa bahagia, tetapi hatinya tersayat dengan perkataan ibunya. Tidak lama dari itu, Wijaya memilih untuk bangkit dari tempat itu. Kakinya melangkah ke arah garasi. Mengendarai mobil untuk mencari sarapan. Mengganti sarapan yang gagal tadi. Kini, Wijaya telah sampai di salah satu warung yang menjual bubur ayam. Masuk, duduk di bangku panjang yang ada di warung. Menunggu pesanannya sembari memainkan ponselnya. Terkejut ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Sebuah pesan yang memberitahu jika ibunya pingsan akibat terpeleset dari kamar mandi. “Bukannya tadi sama Aura lagi makan?” lirihnya sembari membayarkan uang ke penjualnya. Akhirnya, bubur ayam itu terpaksa dibun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD