bc

Dunia Hitam

book_age18+
89
FOLLOW
1K
READ
revenge
powerful
mafia
drama
tragedy
sweet
bxg
campus
city
first love
like
intro-logo
Blurb

Hidup dalam tekanan dan penderitaan itulah kesehariannya Clarissa Rox sejak kepergian ibunya untuk selamanya sejak dia berumur 10 tahun.

Gadis yatim piatu yang bertahan hidup dikelamnya dunia ini seorang diri tanpa ibu ataupun ayah yang menemani. Ternyata selama ini dia tidak tahu apa-apa tentang kerasnya kehidupan karena saat ibunya masih hidup dia tidak kekurangan atau kesusahan. Karena sang ibu selalu berusaha memenuhinya walaupun dia bukanlah anak yang manja.

Bahkan ayahnya sendiripun tidak diketahui olehnya antara hidup atau mati. Karena sejak lahir dia tidak memiliki atau merasakan kasih sayang seorang ayah. Sampai ibunya meninggalpun, dia tetap tidak mengetahui siapa ayahnya itu. Kecuali secarik foto yang sudah terlihat usang dan kuno!

Lalu saat dia sudah kuliah ditahun ke-2 bertemulah dengan seorang cowok tampan yang dingin dan misterius bernama Zionathan Zwetta. Sejak saat itu clarissa berpikir kalau kehidupannya pun berubah menjadi lebih berwarna walaupun penuh dengan segala macam permasalahan.

Apakah takdir yang sudah menanti mereka didepan sana? Dan bisakah mereka melewatinya?

Lalu apakah ada rahasia dibalik kelahiran clarissa?!

chap-preview
Free preview
Episode 1
~Brak!~ "Pa... paman...? Ada apa?" Tanyaku dengan nada sedikit takut. Tercium bau alkohol yang sangat menyengat darinya. "He..he..he..! Kamu tumbuh menjadi anak yang sangat cantik ya nak! Tidak sia-sia paman menampungmu disini." // Apa maksudnya..? Lalu ini sudah tengah malam. Mau apa paman kesini dengan bau penuh alkohol itu?! // "Paman ada apa? Mau aku bikinkan sesuatu?" Tanya gadis ini dengan nada curiga. Pamannya yang sudah dibutakan oleh pengaruh alkohol itu sangat menginginkannya, walaupun tanpa itu juga pamannya memang sudah mengincarnya sejak dia masuk ke rumah ini. Sekarang anak ini sudah tumbuh menjadi anak remaja yang sangat cantik. Siapapun yang melihatnya tidak akan mungkin tidak terpesona dengan kecantikannya ini. "Iyah! Paman sangat butuh sesuatu darimu, nak! Paman menginginkanmu! Kemarilah dan puaskanlah pamanmu ini! Balas budilah kepadaku karena telah membesarkanmu dengan baik!!" "Kyakk!!! Paman! Jangan, lepaskan paman. Apa yang paman lakukan..?!! Aku mohon jangan seperti ini!" Memberontak dengan sekuat tenaga atas penyergapan langsung pamannya. Saat ini pamannya sudah berada diatasnya dan ingin melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan padanya. Itulah yang dipikirkan gadis ini. "Bibi!!! Bibi tolong aku..!!! Bibi..!!! Tolong hentikan paman!! Aarggh!!!" Berteriak memanggil bibinya yang tidak kunjung datang juga. Bibinya tahu dan sadar akan kelakuan suaminya itu, tapi dia hanya diam saja dikamar sambil meringkuk didalam selimut. Bibinya tidak melakukan apapun untuk menolongnya! "Brengs*k!!! jangan membantahku!! Kurang ajar!! Kamu berani mendorong pamanmu ini!! Aku bahkan sudah membiayai semua kebutuhanmu sejak kamu datang kesini!!! Ayo cepat, jangan memberontak terus! Aku sudah mengeluarkan uang begitu banyak untuk membesarkanmu! Hanya segini harusnya bisa kamu lakukan! Kamu hanya perlu memuaskanku, jal*ng kecil!!!" "Jangan paman..! Aku mohon! Bukankah paman selama ini selalu baik padaku. Aku mohon jangan seperti ini paman." Berhasil mendorong pamannya hingga terjatuh keatas lantai dan gadis ini mencoba menutupi dirinya dengan selimut sambil memikirkan bagaimana caranya agar dia dapat kabur dari pamannya ini. Lalu kenapa bibinya tidak datang kemari, padahal dia sudah berteriak dan dengan semua kegaduhan ini. "Arghh!!" Sebuah tamparan keras mendarat diwajahnya sehingga menimbulkan luka robek dibibir dan lebam dipipinya itu. "Itu akibatnya kalau kamu tidak menurut!!" Bajunya sudah robek dan sedikit terbuka karena kancing yang menempel putus saat pamannya membuka paksa. " .....!!! " Aku harus bagaimana ini! Apa yang harus kulakukan agar bisa lolos dari cengkeraman paman. Bibi juga tidak kunjung datang kesini. ~bug!!~ "Maaf paman!!" Aku langsung berlari sekuat tenaga agar tidak tertangkap paman setelah menendang bagian vitalnya itu. Aku berpapasan dengan bibi saat keluar dari kamar. Ternyata bibi hanya berdiam dan melihat kami didalam kamar. Bagaimana bisa bibi hanya berdiam diri saja saat keponakannya hampir diperk*sa oleh suaminya sendiri. Kenapa mereka melakukan ini padaku..?! Apa aku melakukan kesalahan? Jika iyah pun tidak seharusnya seperti ini!!! •••• "Hiks..!!" "Kenapa mereka tega sekali padaku..!?!" "Aku tahu mereka terpaksa menerimaku sejak dulu. Tapi kejadian ini sudah diluar batas!" Gumam gadis ini disebuah gang kecil dan gelap yang cukup jauh dari rumahnya. Dia hanya berlari kemanapun agar pamannya itu tidak mengejar dan menangkapnya! Dia bahkan tidak tahu dirinya menuju kemana asal dia selamat dari pamannya yang bej*t itu! "Aku harus kemana sekarang? Tengah malam seperti ini, bahkan aku juga tidak terlalu mengenal daerah ini atau lebih tepatnya dimana ini..? Haa!! Bodoh!!! Harusnya tadi aku sekalian membawa dompet dan handphone sebelum kabur!! Sekarang aku harus apa..?! Aku tidak ingin kembali lagi kesana..!" " ......! " Suara apa itu!? Apa jangan-jangan itu paman? Ucap batin gadis ini. "Si*lan!! Beraninya kalian mencari masalah diwilayah kami! Dasar cecunguk!!!" "Kalian salah memilih lawan!!!" "Aku harus kabur dari sini!" Aku takut! Baru kali ini aku melihat orang berkelahi dengan memakai senjata tajam bahkan membawa pistol! Jika aku masih berdiam disini tidak menutup kemungkinan akan jadi korban salah sasaran mereka! ~brang!~ "DISANA!!!" "Seorang gadis..?! Brengs*k!!! Bawa dia pergi dari sini! Cepat!" Ucap salah satu dari mereka dan yang lainnya langsung membawa gadis tersebut untuk menjauh. "Cepat! Kalau tidak mau mati cepat ikuti kami!!" "Kalian mau membawaku kemana!? Lepaskan aku!!!" Teriakku dengan berontak tidak mau mengikuti mereka. Laki-laki yang memberi perintah itu terlihat sibuk menyingkirkan orang-orang yang bukan termasuk kelompoknya. Entahlah! Ini semua membuatku bingung dan menjadi tidak bisa berpikir. Lalu tiba-tiba ada beberapa orang yang menyergap kami, lalu dalam sekejap aku melihat mereka menyayat leher salah satu pria yang hendak membawaku pergi dan pria lainnya menusuk secara sembarangan. "Kyakk!!!!" Teriaknya histeris saat melihat seseorang dibunuh secara sadis dan brutal didepan matanya. " ......! " "Brengs*k!!! Robert!! Sisanya ku serahkan padamu!!" "Baik!!" // Aku harus lari! Kemanapun! Jika tidak orang ini tidak akan segan-segan membunuhku seperti dia membunuh pria barusan! // Berusaha lari saat mereka lengah, tapi usahanya sia-sia karena baru saja gadis itu berlari tapi sudah langsung tertangkap oleh salah satu anggota mereka yang sudah menunggu diarah sebaliknya. "Tolong lepaskan saya! Saya bukan bagian dari mereka!" Ucapnya dengan segera. Lalu saat pria dihadapannya hendak menusuknya dengan pisau gadis ini menutup matanya rapat dan berpikir hidupnya sudah pasti berakhir. "Ugh...!!" "Ayo cepat pergi jika tidak ingin mati disini!" Menarik tangan gadis ini dengan cepat setelah berhasil merubuhkan pria yang mau menyakitinya tadi. " ......!? Haa..? I...iyah" Dia menolongku? Bukankah tadi dia menyuruh anggotanya untuk membawaku? Jadi tadi dia menyuruh temannya membawaku pergi agar aku tidak terkena dampak dari perkelahian mereka. Ku kira dia menyuruh temannya untuk membunuhku karena telah menyaksikan hal yang tidak seharusnya kulihat. "Pakai ini..!" Melempar sebuah jaket padanya. Penampilannya sungguh mengenaskan! Baju yang compang camping dan juga wajahnya memar serta terluka dibagian bibir. "Lalu pergilah!" Perintahku padanya. "Tidak akan ada yang mengejarmu lagi!" " ........ " Aku memang mau pergi secepatnya dari sini, tapi entah bagaimana tubuhku tidak mau bergerak dan tiba-tiba saja airmataku mengalir begitu saja tanpa sebab. "Aaah!! Ada apa denganku..?! Kenapa aku malah menangis..?!" Bukankah harusnya aku senang karena baik-baik saja. "Haaa!!! Merepotkan!" Pergi begitu saja meninggalkan gadis itu sendiri. *** ( Tiga tahun kemudian ) "Selamat pagi pak!" Sapaku saat berpapasan dengan salah satu dosen di kampus. Yah! Namaku Clarissa Rox. Aku kuliah disalah satu kampus terbaik dikota ini dengan semua biaya ditanggung pihak kampus alias beasiswa. Aku sangat berusaha dengan keras untuk mendapatkan beasiswa ini karena aku tidak mempunyai siapapun yang dapat kuandalkan, jadi aku harus mengandalkan diriku sendiri. Ibuku telah meninggal dunia saat aku berumur sepuluh tahun, lalu ayahku tidak diketahui siapa bahkan sejak aku lahir aku tidak pernah bertemu dengannya satu kalipun hingga saat ini. Setiap kali bertanya pada ibu, ibuku pasti akan selalu mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya dan akhirnya aku menyerah bertanya soal ayahku. Sebelum ibu meninggal dia sempat memberikan sebuah foto lama seorang pria dan wanita yang tengah hamil. Bisa kutebak kalau wanita itu adalah ibuku dan disebelahnya pasti adalah pria yang seharusnya menjadi ayahku, tapi tidak tahu mengapa dia tidak pernah berada disisi kami. Bahkan saat ibu meninggalpun dia tidak muncul. Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak yang pasti keberadaannya sudah tidak penting lagi untukku! Karena aku bisa bertahan hidup sendiri tanpa dia atau yang lainnya! "Selamat pagi clarissa." "Oh iyah, bisa tolong bilangin kalau mata kuliah saya hari ini diliburkan. Karena saya ada urusan mendadak." "Oh baik pak, akan saya sampaikan pada yang lain." Yess!! Berarti aku bisa datang lebih cepat nanti kesana agar dapat biaya lebih. "Baiklah, terima kasih ya." "Sama-sama pak." Lalu mengirim pesan digrup agar yang lainnya tahu juga tentang info ini. ~brak~ "Aah..! Maaf.. Maaf! Saya tidak sengaja." Ucapku saat menabrak seseorang, walaupun bukan salahku tapi sudah menjadi kebiasaanku untuk meminta maaf lebih dulu. "Ish!! Menyebalkan!!!" "Hey!!! Kalau jalan pakai matanya dong! Buta yah!!" "Ivanka..?!" Cukup terkejut melihatnya berada di kampus ini. Karena setahuku dia tidak kuliah disini melainkan ditempat lain. "Ngapain kamu disini..?" Tanpa sadar bertanya padanya dengan akrab, walaupun pihak lainnya tidak merasa demikian. "Gak usah sok akrab deh. Aku mau disini atau tidak bukan urusanmu!! Dasar miskin!!!" " ......! " Ternyata dia masih saja tidak berubah. Sejak kami sekolah menengah keatas juga dia seperti ini. Bersikap sombong dan angkuh karena terlahir dari keluarga yang cukup terpandang. Awalnya dia baik dan ramah padaku, tapi lambat laun dia mulai memperlihatkan sifat aslinya. Dia hanya mempermainkanku. Dia dan teman-temannya yang sampah itu! "Aku hanya bertanya! Bertanya bukan berarti aku mau akrab denganmu! Aku hanya terkejut melihatmu berada disini karena aku tahu kemampuan studimu seperti apa!" Menyindirnya dengan halus. Siapa suruh dia cari gara-gara duluan denganku! "Dasar!!! Jaga tuh mulut yah!!" "Tsk!" Gak penting! Lebih baik aku ke kelas sekarang juga daripada meladeni nenek sihir. "Kurang ajar! Beraninya ......." .... "Baiklah! Jangan lupa kumpulkan tugas kalian paling lambat lusa!" Begitulah kata salah satu dosen pengajar disini saat kelas berakhir. "Hai clarissa! Aku boleh lihat gak catatan yang tadi?" "Iyah aku juga! Lalu gimana kalau kita kerjain tugasnya bareng-bareng?" "Maaf..! Aku tidak bisa bareng kalian. Karena masih harus melakukan hal yang lain." Menolak mereka dengan wajah ramah yang dipaksakan. Mereka hanya baik saat ada maunya saja, jika sudah tidak dibutuhkan mereka akan menganggap atau melihatku seperti sampah. Aku sangat kagum sekali dengan perubahan sikap mereka itu. Sangat luar biasa sekali! "Aku permisi dulu ya!" Langsung pergi meninggalkan mereka. Tidak perlu dihiraukan, masih ada hal penting yang harus ku lakukan yaitu kerja part time!! Aku membiayai segala kebutuhan hidupku melalui kerja sambilan. Dalam sehari aku bisa bekerja sambil tiga bahkan sampai empat sekaligus ku lakukan. Setelah pulang kuliah aku akan langsung bekerja sambilan disebuah restorant sebagai pelayan. Gaji disana cukup tinggi dan juga jika ada pelanggan baik hati akan dapat tip yang lumayan besar. Lalu sebagai pengantar makanan, setelahnya sebagai penjaga kasir disebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam. Aku sengaja meminta jam kerja paling akhir disini agar aku bisa belajar saat menjaga minimarket ini, lalu biasanya saat tengah malam jarang ada pembeli tapi bukan berarti tidak ada sama sekali, hanya saja tidak seramai saat jam-jam normal lainnya. •••• "Halo semuanya!" Sapaku saat sampai di restoran tempatku bekerja. "Sasa!!!! Akhirnya sasaku sudah datang! Cepatlah ganti pakaianmu dan bantulah kami!" Memasang wajah lelah dan suram pada gadis bernama clarissa itu. "Pfft... " Mereka ini selalu saja memasang wajah seolah-olah dunia akan kiamat saat ini juga. Lucu sekali. Aku sangat akrab dengan para pekerja disini. Mereka semua baik dan sangat ramah padaku. Mereka sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Tiga tahun sudah aku bekerja ditempat ini, ini adalah tempat kerja ku yang paling lama diantara yang lainnya dan pekerjaan pertamaku juga. Aku kabur dari rumah bibi dan paman karena sudah tidak tahan dengan kelakuan bej*t suami bibiku itu! Hampir setiap malam dia mendatangi kamarku hanya untuk memuaskan dirinya saja. Tentunya aku melawan dan tidak hanya berdiam diri. Sejak kelakuan bej*tnya yang pertama kali itu terjadi aku kabur dari rumah dan tidak langsung kembali, hingga hari sudah sore baru aku memutuskan untuk pulang. Setelah kembali ke rumah bisa-bisanya mereka memasang wajah tanpa dosa dan melupakan kejadian hari itu. Aku hampir saja kehilangan nyawa karena ulah bej*tnya saat itu! Bibi juga hanya dia dan tidak membelaku! Mulai saat itu memasang kunci lainnya dari dalam dan luar. Saat aku pergi sekolah aku akan mengunci pintu kamarku dari luar dan saat pulang akan hanya akan berdiam didalam kamar tanpa melangkah keluar sedikitpun dan mengunci rapat-rapat kamarku tersebut. Karena sudah tidak tahan aku pindah dari sana dan memilih tinggal sendiri disebuah tempat yang sangat kecil. Hanya satu ruangan dan satu kamar mandi. Cukup untukku seorang dan yang paling utama aku aman tinggal disini! "Selamat datang!" "Halo, ini menunya. Silahkan dilihat-lihat. Ingin memesan langsung atau melihat-lihat menunya dulu?" "Jika butuh sesuatu silahkan panggil saya atau rekan saya yang lainnya. Terima kasih!" "Ini pesanannya! Selamat menikmati!" "Terima kasih! Ditunggu kedatangan selanjutnya!!" Ucapku dengan sangat ramah sekali kepada para pelanggan yang datang kemari. Inilah kegiatan tanpa henti yang kami lakukan setiap hari ditempat ini. Menyenangkan sekali rasanya jika pelanggan yang kami layanin merasa senang dan puas, seperti ada perasaan haru dan bangga tersendiri didalam hatiku. "Sasa, kerja bagus!" Seru salah satu pegawai bernama delon. "Makasih kak! Kakak juga sudah berusaha keras kok dan kak nindy juga! Timpalnya kembali pada delon dan juga tidak melupakan nindy teman sekerjanya juga. Alih-alih memanggilku dengan nama claris atau clarissa mereka semua memanggilku dengan nama sasa. Katanya lebih mudah dan cocok, lebih sesuai dengan penampilanku yang imut dan lucu. Padahal tidak pernah sekalipun aku bertingkah atau bersikap seperti kata mereka. "Uhhh.. Sasaku!! Oke! Ayo setelah ini kita pergi makan malam bareng, biar aku traktir!" Ajak nindy pada sasa tanpa memedulikan delon yang mengernyitkan alis karena tidak sekalian diajak. "Hmm... Maaf kak! Kakak tahu kan aku masih ada kerja paruh waktu lagi setelah ini.." "Jadi Maaf sekali lagi kak aku gak bisa ikutan!" Menolak dengan perasaan bersalah. Karena setiap kali diajak oleh mereka. "Ish! Kenapa sih kamu berusaha lebih banyak daripada kami. Haaa! Yah sudah tidak jadi. Tidak seru jika hanya bersama delon!" Gerutu nindy. "Tsk! Aku juga tidak mau. Kakak itu sangat berbahaya jika mabuk!" Timpal delon pada gerutuan nindy. "Tsk! Kamu itu tidak sopan! Pantas saja tidak ada cewek yang mau padamu! Ck.. ck..! Lihat sikapmu itu!" Balasnya dengan tidak terima pada perkataan delon. "Pfftt... Sudah-sudah. Kak nindy dan kak delon jangan berkelahi terus." Terkekeh melihat tingkah laku kedua rekannya ini. "Kalau begitu aku duluan yah. Bye kakak-kakak semuanya! Semangat!!!" Lalu langsung pergi begitu saja. Karena mengejar waktu dan ya karena mata kuliah di jam terakhir libur dia jadi mendapatkan uang tambahan karena bekerja extra dari jam yang ditentukan dan tentu saja ini membuatnya sangat senang! "Bye sasa.." Balas delin dengan wajah acuh tak acuh melirik kearah nindy. "Hiks.. Hati-hati yah, sasaku!!" Ucap nindy yang terlihat lesu saat clarissa pergi dan tidak terlihat lagi. .... "Halo, selamat malam paman." Sapaku pada pemilik minimarket tempatku bekerja. "Oh, malam. Kamu sudah datang. Karena kamu sudah datang saya serahkan semuanya yah. Tadi sudah dibagian sebelah sana sudah diperiksa oleh rani jadi sisanya kamu tolong kamu bereskan yah. Lalu kalau bisa tolong dicek lagi catatannya, takut ada yang salah. Kamu tahu kan anak itu suka teledor." "Baik, akan saya lakukan." "Hem.. Oke, kalau begitu saya tinggal ya. Kalau kamu lapar ambillah satu atau dua makanan yang ada disini." "Siap pak bos! Makasih banyak!" Balasku padanya. Pemilik minimarket disini sangat baik sekali padaku. Dia selalu membolehkanku mengambil satu atau dua barang yang ada disini. Dia punya dua orang anak. Anak laki-lakinya dan anak perempuan yang seumuran denganku, tapi sayangnya putrinya itu meninggal dunia enam bulan yang lalu karena sakit yang dideritanya sejak masih kecil. Maka dari itu dia baik padaku, karena setiap melihatku dia akan selalu teringat pada putrinya itu. "Hati-hati. Jika terjadi sesuatu jangan lupa telepon, ok?!" "Iyah pak, tenang saja.. Hehehe.." Senang sekali rasanya mempunyai seseorang yang peduli pada diri kita. Seakan-akan ada yang memberitahukan padaku kalau aku tidak sendiri didunia ini. Masih ada orang-orang yang peduli dan perhatian padaku walaupun mereka bukan keluargaku melainkan orang lain yang tidak ada hubungan darah sedikitpun. Entah bagaimana aku merasa sangat bersyukur karena hal ini. "Dasar!" Menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya clarissa sambil pergi meninggalkan minimarket ini. ~cring~ "Selamat datang!" Salamnya pada pelanggan yang masuk ke minimarket tempatnya bekerja. "Totalnya empat puluh ribu." Ucap gadis ini kepada pembeli tersebut saat sudah selesai berbelanja dan langsung mengambil uang pas yang diberikan pembeli tersebut "Terima kasih. Ditunggu kedatangannya lagi." Dengan ramah dia melayani pembeli tersebut dan mendapat senyuman balasan darinya. Lalu setelah tidak ada pembeli lagi dia memulai kembali kegiatan yang sebelumnya dilakukannya, yaitu belajar dan mengerjakan tugas kuliahnya. Selama beberapa jam dia menjaga keadaan masih sangat tenang dan damai hingga saat orang-orang ini masuk. ~cring~ "Selamat datang!" Seperti biasa menyapa pelanggan yang masuk kedalam minimarket ini dengan ramah. "~plak!~ Harusnya biarkan bos kita masuk lebih dulu! Dasar bod*h!" "Arrgh!! Maaf aku lupa, tapi kan tidak harus dipukul!" "Jangan membuat keributan dan cepatlah!" Lagi-lagi mereka bertengkar hanya masalah sepele seperti ini, padahal orang yang bersangkutanpun tampak tidak peduli. // Pelanggan yang berisik. Untunglah aku sudah terbiasa.. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya? Atau aku salah ingat..?! // Batin clarissa saat melihat salah satu cowok tersebut dan cowok tersebutpun langsung memandangnya tajam hingga membuat clarissa sedikit terkejut dan takut karena pandangannya itu. " ....... " Apa aku pernah bertemu dengannya? Kenapa rasanya aku pernah melihatnya ya. Lalu dia juga sepertinya tadi memandang kearah sini. "Ada apa, zio?" Tanya cowok yang bernama robert ini pada seseorang yang bernama zio. "Tidak ada." Balas cowok yang dipanggil zio ini kepada temannya. "Ok." "Apa kalian sudah selesai?" "Sudah. Kalian tidak beli sesuatu..? Bukannya tadi zio ya yang ngajak kesini." "Aku sudah. Kalian saja yang lama!" Timpal zio pada teman-temannya. "Tsk! Dasar manusia berhati dingin!" "Berapa..?!" Tanyaku pada gadis ini. "Baik tolong tunggu sebentar." Dengan cepat aku menghitung semau belanjaan mereka. "Total semuanya seratus delapan belas ribu." "Oh nona, maaf tolong sekalian rok*k yang disana satu ya." "Baik. Ditambah dengan ini jadi seratus empat puluh ribu." Dia pjn mengambil barang tersebut dan menerima uangnya. "Ini kembalian. Terima kasih dan ditunggu kedatangannya lagi." Dia tidak membeda-bedakan pelanggan dan melakukan seperti yang biasa dia lakukan yaitu bersikap ramah pada pelanggan, walaupun terkadang suka ada yang salah paham dengan maksud perkataannya. "Oh! Apakah kamu tertarik pada kami..?" " ......? Ya?" Dengan bingung dia hanya menatap mereka bergantian. "Sudahlah! Dia hanya bersikap basa basi, bod*h!" Saat mereka keluar, lalu masuklah seorang cowok kedalam minimarket itu dan terlihat seperti mereka sedang beradu mulut. Cowok tersebut sedikit bersikap kasar padanya dengan menggenggam kencang pergelangan tangannya. "Ada apa dengan mereka..?! Apakah mereka pasangan kekasih yang sedang ribut..?" "Lihatlah! Sangat kasarnya sekali caranya memperlakukan seorang gadis! Ck..ck..!" "Zi, mau kemana..?!" "Biarkan saja dia." "Lepas..! Sudah berapa kali saya bilang tolong jangan mengganggu saya. Kenapa sih anda terus saja mengganggu saya?!" Berontakku pada cowok yang ada dihadapanku ini. Benar-benar deh! Dia ini gila atau apa sih! Padahal sudah berkali-kali dibilang jika aku hanya bersikap ramah karena dia pelanggan bukan karena maksud lain. Sudah berapa lama dia seperti ini dan selalu saja menggangguku, bahkan dia sampai menemukan minimarket ini darimana! Benar-benar tidak ada yang berjalan dengan baik! "Kenapa kamu menghindar?!! Bukankah kamu yang menggodaku duluan waktu itu direstoran tersebur. Tersenyum ramah dan terus memperlakukanku dengan baik! Kenapa sekarang kamu menolak?! Jangan bersikap sok jual mahal! Bilang saja kamu mau berapa pasti akan aku berikan!" "Dasar gila!!! Tanganku sakit, Lepaskan!!" Teriakku dengan kencang. Gila!! Dasar cowok gila!!! "Hey! Bukankah dia sudah bilang lepaskan berulang kali!" Timpalnya langsung karena mereka berdua tidak sadar akan kehadirannya disana. "Siapa kamu?! Beraninya ikut campur! Atau jangan-jangan karena dia kamu tidak peduli padaku lagi, haa!!!" "Dasar cowok gila!!! Aku tidak kenal dengannya dan kalaupun iyah itu bukan urusanmu sama sekali!! Jadi cepat lepaskan aku atau akan aku laporkan hal ini ke polisi!!" Habis sudah kesabaranku. Sudah tidak perlu bersikap sopan lagi pada cowok sinting ini. "Aghh!" "Cewek murahan!! Beraninya melakukan hal ini padaku. Lihatlah akan aku beri kamu pelajaran agar tidak bisa bertingkah lagi!" Mendorong clarissa dengan sangat kasar sehingga terbentur sisi meja kasir dan membuat dahinya terluka. Melihat clarissa terjatuh seperti itu tidak menghentikan tindakan gila orang ini, dia masih merasa belum puas dan semakin ingin memukul clarissa. Saat melihatnya hendak memukul gadis itu dengan cepat zio menghentikannya lalu memukul sekali pria itu hingga berjalan mundur dengan sempoyongan. " ......! " "Cowok pengecut! ~Bug~ Hanya cowok berengs*k dan pengecut yang bersikap kasar pada cewek!" Tanpa sadar dia memukul cowok yang sudah mendorong clarissa dan tidak lama polisi pun datang dan memisahkan mereka. .... "Clarissa!" Panggil pemilik minimarket yang datang bersama putranya itu. "Paman! Maaf sudah membuat masalah dan merepotkan." Ucapku tidak enak saat melihatnya datang. Karena aku mereka jadi harus datang ke kantor polisi. "Tidak apa. Lalu ini kenapa? Kamu terluka?! Siapa yang berani melukaimu!?!!" Lalu melihat sekitar dan menemukan dua orang pria yang sedang diborgol oleh polisi. "Kamu! Pasti kamu kan yang telah melukainya! Dasar kur......" "Paman bukan, bukan dia. Justru dia sudah membantu saya. Tolong berhenti dan tenanglah" Hampir saja paman memukul orang yang sudah membantuku. Lalu aku menceritakan semuanya pada polisi itu dan juga paman beserta harry, anak laki-laki paman pemilik minimarket. Setelah selesai menceritakan semuanya polisi membebaskan cowok yang sudah menolongku dan memasukkan orang itu ke penjara. "Apa kamu baik-baik saja..?" Tanya harry pada clarissa. "Eem.. Saya baik-baik saja. Maaf telah merepotkan kalian berdua dan membuat keributan seperti ini. Padahal kalian sudah sangat baik pada saya!" "Tidak perlu dipikirkan. Bagaimana bisa ada orang seperti itu..! Benar-benar keterlaluan! Menyimpulkan sesukanya saja!" Gerutu harry tidak senang dengan laki-laki tadi setelah mendengar cerita clarissa kalau laki-laki tersebut salah paham dengan sikap ramah clarissa yang ramah dan tersenyum saat melayani pelanggan direstoran tempatnya bekerja. Laki-laki itu mengira kalau clarissa tertarik padanya sehingga dia pun mengejar-ngejar clarissa terus menerus selama sebulan ini hingga akhirnya ke minimarket dan terjadilah kejadian seperti saat ini. "A.. Anu.. Terima kasih sudah membantuku tadi. Apa ....... " Baru saja ingin menanyakan bagaimana caranya untuk membalas budi dia sudah menolak lebih dulu. "Tidak apa-apa dan tidak perlu membalas! Hanya kebetulan saja karena saya ada disana!" Mereka dekat sekali. Padahal bukan keluarga. Jika dilihat sekilas mereka memang seperti keluarga, tapi ternyata bukan. Ini murni hubungan pegawai dan atasan, tapi kenapa bisa sedekat itu, seperti keluarga sungguhan. "Oh, tapi .... " Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka bertiga disana. "Sekali lagi terima kasih!" Ucapku cukup kencang melihatnya pergi begitu saja. Kalau bertemu lagi aku harus membalasnya bagaimanapun juga. Karena aku tidak suka yang namanya berhutang budi pada seseorang. Karena itu bisa saja dijadikan kelemahanku suatu saat nanti, bahkan ke paman pemilik minimarketpun begitu. Biarpun dia baik dan memperbolehkanku mengambil barang disana tapi tidak pernah sekalipun aku mengambil secara gratis atau lainnya. Aku pasti akan tetap membayar sesuai dengan harga yang tertera. Bukan menolak atau tidak tahu diri tapi aku hanya tidak ingin bergantung pada orang lain atau menerima kebaikan cuma-cuma seperti itu, karena takutnya jika aku terbiasa dengan kebaikan itu aku menjadi mengharapkan lebih. Walaupun itu tidak mungkin terjadi tapi aku hanya tidak ingin terjadi hal yang tidak mengenakan dan ingin tetap menjaga agar hubungan kami baik-baik saja.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook