Setelah kejadian itu paman menyuruhku pulang saja dan katanya anaknya yang akan menjaganya. Aku merasa sangat tidak enak sekali, tapi berkat itu aku jadi bisa pulang cepat dan beristirahat karena entah kenapa tubuhku rasanya lelah sekali. Karena kejadian itu juga aku jadi teringat saat tinggal bersama bibi dan pamanku dulu. Jika paman atau bibi marah mereka akan melampiaskannya padaku, mereka akan mencaci makiku sepuas mereka serta sesekali mereka akan bertindak kasar padaku. Terlebih paman dia tidak akan segan memukulku jika aku membuatnya marah atau tidak menuruti keinginannya. Saat itu hidupku benar-benar seperti dineraka! Mereka selalu saja menyebutku sebagai beban dan benalu yang hanya menyusahkan mereka saja. Aku yang terus menerus mendengarnya merasa kalau aku memang seperti itu dan hanya berdiam diri saja saat mereka menghinaku habis-habisan.
Sekarang biarpun aku harus bekerja keras mencari uang untuk biaya hidup, aku merasa sangat senang dan bebas, merasa kalau aku lebih hidup daripada aku yang dulu.
"Clarissa, bagus sekali. Tugas kamu kali ini juga tidak mengecewakan dan sama seperti yang saya bayangkan."
Ucap salah satu dosen padanya dengan wajah bersemangat dan juga bangga.
"Terima kasih pak!"
Balasnya pada dosen tersebut.
"Hmm.. Sepertinya kamu bisa mengikuti Senat Mahasiswa. Bagaimana? Ini bisa jadi memudahkanmu kedepannya."
" ........ "
Kalau mengikuti senat bagaimana dengan pekerjaanku. Artinya aku harus mengurangi kerja part time, karena jika mengikuti senat pasti akan sangat sibuk sekali dan waktu juga banyak termakan, tapi disatu sisi ini bisa sangat menguntungkanku kedepannya sebagai nilai extra saat melamar kerja di perusahaan besar.
"Bapak tahu ini pilihan sulit karena kamu bekerja part time juga, tapi kamu tidak akan menyesal masuk senat karena banyak yang bisa kamu dapatkan disana. Kalau kamu mau bapak bisa rekomendasikanmu jadi tidak perlu ikut pemilihan anggota lagi. Bagaimana?"
"Baiklah pak, saya mau. Tapi tolong berikan waktu beberapa hari agar saya bisa berbicara pada atasan tempat saya bekerja. Karena jika saya langsung berhenti begitu saja sepertinya kurang sopan."
Balasku dengan sopan pada dosen tersebut. Dia dosen yang baik dan bijaksana tanpa membeda-bedakan. Aku bersyukur jika karena dosen tersebut menyukaiku. Terkadang aku juga suka membantunya dalam mata kuliahnya, bisa dibilang mungkin setengahnya dari asisten dosen dan aku juga menyukai ini karena hal ini bisa menjadi nilai lebih juga untukku jika membantu dosen.
"Baiklah! Bapak senang kamu akhirnya mau menerimanya. Nanti akan saya bilang pada mereka. Pilihan yang bagus clarissa!"
"Sekali lagi terima kasih pak!"
Ucapku sekali lagi padanya, lalu meninggalkan ruangan dosen tersebut. Benar-benar sangat bersyukur karena disekitarku masih ada orang-orang yang baik seperti mereka. Mulai kedepannya aku harus lebih irit lagi dalam memakai uang, tapi untunglah aku sempat menabung selama bekerja dua tahun ini.
"Sepertinya aku harus berhenti dari pekerjaan delivery. Karena itu waktu yang paling mungkin bertabrakan dengan kegiatan senat nanti. Mungkin yang lainnya masih bisa ku pertahankan. Dicoba dulu saja, jika memang tidak memungkinkan lagi dengan terpaksa aku harus berhenti dari restoran dan hanya menyisakan part time di minimarket."
"Haaa....."
Apa aku bisa membiayai kebutuhan sehari-hari hanya dengan bekerja di minimarket? Haa! Memikirkannya saja membuatku pusing, tapi demi bisa bekerja diperusahaan besar!! Ayoo, semangat clarissa!!! Kamu pasti bisa!!!
°°°°
"Oh!! Itu... Itu si penjaga minimarket yang semalam bukan?!"
"Sepertinya benar."
"Dia kuliah disini juga..? Kenapa selama ini tidak pernah bertemu? Dan setelah dilihat-lihat ternyata dia sangat cantik seperti peri!"
"~plak!~ Jangan macam-macam!"
"Tsk!!"
"Oi zio, kenapa hanya diam saja? Apakah zio kita yang hebat ini jug terpanah dengan gadis itu? Kalau kamu mau aku bisa merelakan gadis itu untukmu!"
Terkekeh sambil meledek.
" ~plak!~ "
Hanya memukul temannya itu dan langsung pergi tanpa kata-kata.
"Ck.. ck..! Tidak pernah belajar dari yang sebelumnya!"
Mengasihani temannya yang dipukul oleh zio. Karena dia pantas mendapatkannya dengan tingkah laku seperti itu.
••••
" ....... "
Bagaimana caranya aku bilang ingin berhenti. Arrghh! Benar-benar membuatku frustasi
"Pe.. permisi bi. Boleh minta waktunya sebentar, karena ada yang ingin saya katakan."
Dengan hati-hati mengatakannya, semoga saja tidak menimbulkan masalah.
"Oh nak clarissa. Boleh, silahkan bicara. Ada apa?"
"Hmm.. Saya harus berhenti bekerja karena ada kegiatan organisasi di kampus yang mengharuskan mahasiswanya untuk ikut."
Semoga saja dengan alasan seperti ini bisa diterima, toh aku tidak berbohong. Memang benar aku akan mengikuti itu, walaupun yang aku bilang seperti dipaksa. Maafkan aku pak dosen!
"Aah.. Begitu yah, sayang sekali ya kamu berhenti, tapi kalau memang seperti itu keadaannya baiklah. Tapi kamu harus mampir dan main kesini yah jika memiliki waktu luang."
"Iyah, bi. Terima kasih banyak sudah mau mengerti! Lalu saya pasti akan mampir kesini, karena saya pasti kangen dengan bibi."
Timpalku padanya. Wanita paruh baya ini sangat baik padaku. Dia hidup seorang diri tanpa keluarga. Benar-benar wanita yang luar biasa! Dan sangat menginspirasiku. Karena dia berjuang dan bertahan seorang diri untuk memulai usahanya ini.
"Karena hari ini terakhir kamu bekerja, makanlah yang banyak sebelum pulang. Lalu bawalah ini juga, jika kamu lapar bisa dipanaskan sebentar. Jika senggang datanglah kesini untuk membawa beberapa makanan pulang. Kamu kan sendiri dan sibuk dengan kuliah, jagalah diri, hati-hati dan jangan lupa makan sesibuk apapun, eem?!"
" .....! Bibi.... "
Aku sangat terharu dengan perlakuannya padaku. Menganggapku seperti anaknya sendiri. Aku yang kehilangan ibu kandungku sejak lama jadi bisa merasakan kasih sayang seorang ibu melaluinya dan itu membuatku sangat bahagia.
"Hais!! Kenapa malah menangis!! Dasar anak cengeng!! Bagaimana bisa kamu bertahan diluar sana jika cengeng seperti ini!!"
"Saya tidak menangis! Ini hanya kelilipan saja!"
Sambil sedikit nyengir pada bibi tersebut yang menghasilkan gelengan kepala darinya. Mungkin jika ibuku masih hidup kami akan seperti ini juga ya. Bercanda sambil menunjukkan kasih sayang satu sama lain.
•••
"Kenapa sih kamu harus berhenti..?!"
"Bakal sepi banget deh kalau tidak ada kamu!"
Gerutu gadis bernama nindy tersebut.
"Belum pasti kak, aku bilang seperti ini hanya berjaga-jaga. Semoga saja tidak, tapi jika memang tidak memungkinkan mau tidak mau aku harus berhenti."
Timpalku pada kak nindy yang terlihat sedih dan tidak terima dengan keputusan ini.
"Kak delon mana? Bukankah harusnya sudah datang sejak tadi?"
Tanyaku saat datang tidak melihat kak delon. Salah satu pegawai disini juga sama sepertiku dan kak nindy.
"Paling sebentar lagi datang. Ijin akan datang telat karena ada urusan katanya. Gak tahu urusan apa yang anak itu kerjakan!"
"Tumben tidak biasanya kak delon ijin."
Karena biasanya dia akan selalu ontime bahkan sebelum waktunya juga sudah duluan.
"Terima kasih dan ditunggu kedatangannya kembali!"
Ramah tamah kepada pelanggan yang sudah selesai membayar.
"Halo sasa, kak. Maaf aku terlambat!"
Bergegas kedalam untuk mengganti seragam.
"Halo kak!"
Balasku pada sapaannya dan kak nindy yang hanya mengangguk pelan.
"Maaf yah sa jadi merepotkanmu."
"Tidak apa kak, biasa juga kakak kan membantu pekerjaanku."
Tersenyum membalas perkataan kak delon yang terlihat tidak enak hati karena pekerjaannya aku kerjakan semuanya.
"Nanti akan ku traktir makan malam sebelum kamu lanjut kerja. Dan jangan ditolak!"
"Pfft... Padahal aku serius tidak apa-apa, tapi yah sudah kalau kakak memaksa.. Hehhe.."
"Sasa akan berhenti bekerja, lon!"
Timpal kak nindy tiba-tiba.
"HAH!? Kenapa? Karena menggantikanku kerja?!"
"Pfftt.. Bukan kak. Aku juga belum pasti akan berhenti atau tidak. Aku mau coba dulu jika memang bisa aku akan lanjutkan, tapi jika memang tidak bisa aku akan berhenti dari sini."
Sambil menjelaskan pada mereka tentang situasiku. Kak delon baru tahu tapi dia cukup mendukungku, sementara kak nindy dia mendukungku tapi juga tetap berusaha menahanku agar tidak berhenti.
"Ngomong-ngomong kamu hanya mentraktir sasa? Aku tidak diajak? Padahal aku juga bekerja menggantikanmu!"
"Kak nindy yang terhormat mau ikut juga kah nanti bersama kami!?"
"Tidak dan terima kasih! Aku hari ini ada janji dengan seseorang. Jadi tidak bisa ikut!"
"Tsk!"
"Pfftt.. setiap kali melihat kalian berdua entah kenapa aku seperti lagi nonton drama! Kenapa sih kalian selalu bertengkar dan tidak pernah akur?!"
Mereka berdua ini benar-benar deh selalu saja bertengkar. Mereka hanya kompak dan tidak cekcok saat bekerja saja, tapi jika sudah selesai akan mulai kembali pertengkaran yang tiada habisnya.
••
"Bye..! Kalian hati-hati ya!"
"Iyah kak. Kakak juga hati-hati ya!"
Sambil menyudahi pelukan kami.
"Jagain sasa! Awas berani macam-macam sama sasaku!"
Memperingati delon agar tidak bertindak aneh pada clarissa sambil berlalu pergi meninggalkan mereka.
Gadis bernama nindy ini tahu jika delon menyukai sasa sejak sasa memulai bekerja disini. Hanya gadis itu sendiri yang tidak mengetahui tentang perasaan suka rekan kerjanya.
"Kita mau kemana kak sekarang?"
Bertanya sambil mereka berjalan pelan.
"Kamu mau makan apa? Pilih saja apapun yang kamu suka."
"Hm.. Aku tidak tahu, tapi karena cuacanya dingin sepertinya makan yang hangat enak deh."
"Katanya kamu suka udon. Bagaimana jika kita makan itu? Lalu disana juga dekat dengan minimarket tempatmu bekerja kan."
"Boleh! Katanya udon disana enak sekali! Aku mau mencobanya tapi selalu tidak sempat."
Bersemangat saat mendengar kata udon dan juga dekat dari minimarket.
Udon adalah makanan kesukaanku! Karena waktu kecil ibu sering membuatkannya untukku dan udon buatan ibu sangat enak sekali.
....
"Permisi, kami pesan udonnya dua porsi yah. Terima kasih."
"Keputusanmu untuk ikut senat bagus, sa. Jika sudah lulus peluang untuk diterima diperusahaan yang bagus akan lebih besar. Apalagi kamu kan pintar dan cekatan, kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus!"
"Semoga kak. Awalnya aku menolak saat dosen menawarkan, tapi sepertinya akan tidak sopan jika aku menolakagi. Maka dari itu aku mengiyakannya, terlebih sekarang sudah tahun ke dua aku kuliah jadi sepertinya aku sudah harus memikirkan untuk kedepannya. Walau harus jadi lebih irit karena berkurangnya pemasukanku."
"Pffttt.. Kamu pekerja keras sekali! Bahkan kamu lebih bekerja keras dibanding aku. Kamu gadis yang luar biasa."
"Itu karena aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri, jadi aku harus bekerja lebih keras agar bisa bertahan!"
Kami mengobrol banyak sekali. Ternyata kak delon juga masih kuliah ditahun terakhir, dia tidak bercerita banyak tentang keluarganya selain cerita tentang keluarganya yang memiliki bisnis dibidang makanan. Karena dia ingin mandiri jadinya dia keluar dari rumah dan melamar kerjaan ditempat lain.
Kak delon juga sangat hebat! Padahal dia memiliki keluarga yang bisa memenuhi segala yang dia inginkan tapi dia lebih memilih mandiri dan tidam bergantung pada keluarganya. Aku benar-benar sangat salut padanya!
"Kak delon juga sangat hebat bisa mandiri tanpa mengandalkan keluarga. Wah ternyata disekitarku adalah orang-orang yang sangat luar biasa sekali yah! Aku jadi bangga dan bertambah semangat karena kalian..!!"
Ucapku dengan tulus dan sangat semangat. Dikelilingi orang-orang yang hebat itu sangat menyenangkan sekali!
"Hahah.. Kamu sendiri juga sangat hebat, malah aku yang lebih salut padamu, sa!"
°°°°
"Permisi, kami pesan udonnya dua porsi yah. Terima kasih."
"Ooh..! Itu gadis minimarket! Wah kenapa bisa kita bertemu lagi dengannya!"
"Diamlah dan jangan berisik!"
" ...... "
Dengan seorang pria. Apakah pria itu kekasihnya? Jika dibilang saudara laki-lakinya sepertinya tidak mungkin, karena tatapan pria itu padanya bukan seperti menatap saudara perempuannya, melainkan tatapan pria yang menyukainya.
"Zio kita melirik! Sepertinya akhirnya ada juga gadis yang menaklukan zio kita ini!"
"Diamlah, jamie!"
Seruku tegas agar dia berhenti berbicara melantur!
Obrolan mereka sedikit terdengar karena hanya berbeda satu tempat dari kami. Mereka duduk disebelah kanan, sementara kami disebelah kiri satu meja setelah mereka.
"Kak delon juga sangat hebat bisa mandiri tanpa mengandalkan keluarga. Wah ternyata disekitarku adalah orang-orang yang sangat luar biasa sekali yah! Aku jadi bangga dan bertambah semangat karena kalian..!!"
"Ooh!! Si gadis minimarket memuji cowok itu! Sepertinya mereka berkencan atau tidak yah? Cowok itu tampak jelas sekali terlihat si gadis minimarket, tapi gadis minimarket itu terlihat biasa saja tidak menganggap spesial cowok itu."
"Berisik jamie!"
"Haa.. Kenapa kalian berdua kaku sekali sih! Kalau zio mungkin aku mengerti, tapi kamu robert kenapa kamu juga semakin menjadi sepertinya? Apa virus zio sudah menular padamu!?"
"Hais! Anak ini minta dipukul ya!"
Robert yang Mengernyitkan alis sambil menahan rasa kesal pada jamie yang sangat berisik sekali dan zio yang hanya diam seperti biasa tanpa ekspresi apapun.
°°°°
"Makasih ya kak traktirannya. Kalau begitu aku langsung saja ya."
Sambil sedikit membungkukkan badan tanda hormat skaligus berterima kasih padanya karena telah mentraktir makan malam.
"Aah tunggu sa! Aku akan mengantarmu."
" ......?! "
Aku jadi merasa tidak enak jika harus diantar juga padahal sudah dekat.
"Aku gak apa-apa kok kak, lagian sudah dekat juga."
"Tidak apa, sekalian jalan saja. Lagian setelah ini aku tidak ada kegiatan jadi ingin berlama-lama diluar karena bosan dirumah."
" ...... "
"Oh, baiklah jika seperti itu."
Mungkin karena ceritaku tentang kejadian sebelumnya itu membuat mereka khawatir dan kak nindy juga tadi sempat berpesan agar kak delon mengantarku tepat didepan minimarket. Haa! Mereka jadi menganggapku seperti anak kecil, padahal aku tidak apa-apa.
Aku merasa bersyukur dengan perhatian mereka, tapi disatu sisi aku juga jadi merasa tidak enak hati karena merepotkan mereka seperti ini.
Rasanya masih aneh saja jika aku menerima kebaikan dari orang. Karena terkadang aku suka berpikir mereka baik padaku karena ada mau dan maksud tertentu seperti suami dari bibiku. Aku berusaha menghilangkan pikiran buruk ini otakku, tapi terkadang diluar kendali aku akan secara otomatis berpikir seperti ini lagi dan aku juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkan tentang hal tidak baik ini. Karena diluar sana memang betul dan masih ada orang yang benar-benar baik dan tulus padaku.
"Ternyata sangat dekat ya dan tidak sadar sudah sampai."
"Iyah kak.."
Entah kenapa kak delon saat ini terlihat seperti seekor anak anjing yang sedang murung, lucu sekali.
"Baiklah kalau begitu. Masuklah dan jika butuh sesuatu kamu telpon saja, tidak perlu sungkan."
"Hemm, iyah kak. Sekali lagi makasih ya sudah ditraktir dan skaligus diantar kesini juga. Aku jadi merepotkan kakak."
Ucapku dengan tulus dan juga merasa tidak enak.
"Tidak apa, aku merasa senang kok. Kalau begitu aku pergi ya, sampai bertemu besok!"
"Iyah, hati-hati ya kak dijalan!"
Lalu laki-laki itu pun pergi setelah mereka selesai berpamitan.
"Kamu sudah datang? Siapa laki-laki itu?"
Tanya paman pemilik minimarket ini saat melihatnya datang diantar oleh seorang pria.
"Aah, itu rekan kerja saya di restorant paman. Kebetulan tadi saya sedikit membantunya lalu dia mentraktir saya makan sekalian mengantar kesini karena dekat."
Jelasku dengan santai atas pertanyaan paman yang tampak curiga terhadap kak delon.
"Tenang saja paman, dia baik dan ramah. Dia tidak akan melakukan hal yang aneh. Jadi paman tidak perlu khawatir."
"Hem, baiklah! Tapi kamu tetap harus berhati-hati terhadap siapapun itu. Agar kejadian sebelumnya tidak terulang lagi."
"Iyah, saya akan melakukannya."
Menjawab sambil tersenyum padanya. Setelahnya aku langsung memakai seragam dan mulai menjaga minimarket ini. Paman pun seperti biasa saat aku sudah datang dia akan kembali pulang ke rumahnya
....
"Selamat datang!"
Sapa clarissa saat mendengar bel berbunyi jika ada yang membuka pintu tersebut dan menghentikan kegiatannya lalu melihat kearah pembeli yang masuk kedalam minimarket ini.
"Oh! Anda ..... !"
Dia orang yang sudah membantuku kemarin. Ternyata kami bertemu lagi.
"Anu.. Ini buat anda. Saya tahu ini tidak seberapa tapi saya tulus memberikan ini karena memikirkan anda."
Sambil memberikan sebuah bungkusan yang berisi kaos. Kenapa kaos? Karena kemarin atasan yang cowok ini pakai sedikit rusak akibat menolongku. Jadi aku berjaga-jaga membelinya tadi siang, seandainya kami bertemu lagi aku hanya perlu memberikannya langsung.
"Wow.. Apa ini? Atasan? Yakin kamu memberikan ini padanya? Ini terlihat murahan!"
"Jamie!"
Bentak robert padanya karena sudah bersikap tidak sopan. Sementara zio hanya menatap dalam diam tanpa sepatah katapun seperti biasanya.
"Sorry..."
Mengangkat tangan sambil berjalan mundur pelan.
"Terima kasih, tapi anda tidak perlu melakukan ini. Dia benar-benar tulus menolong tanpa mengharapkan sesuatu."
" ......? "
Kenapa malah cowok ini yang berbicara? Bukan dia langsung. Sepertinya dia orang yang sangat pendiam mengingat dia jarang sekali berbicara.
"Tidak apa. Jika hanya ini saya bisa melakukannya, lalu makasih sekali lagi!"
Lalu membungkukkan badan pada mereka dengan cepat dan akhirnya akupun memberikan barang yang mereka beli dengan gratis. Awalnya mereka menolak tapi aku memaksa hingga akhirnya mereka menyerah, lalu langsung pergi setelahnya.
"Haaa.. Akhirnya lega juga! Sudah tidak ada lagi beban!!"
Semangatnya dalam hati karena sudah tidak perlu lagi berurusan dengan orang-orang itu. Tapi ini hanyalah pemikirannya saja karena dia tidak tahu jika ternyata mereka satu kampus dan ini barulah permulaan dari semua kejadian-kejadian yang akan menimpanya dimasa yang akan datang.
***
"Halo, selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Clarissa Rox! Mohon bantuannya!"
Memperkenalkan diri saat berada diruangan senat. Karena mulai hari ini dia resmi menjadi anggota senat dan respon yang diberikan oleh yang lainnya pun cukup positif, walau beberapa ada yang tidak suka dengannya karena bisa langsung masuk tanpa tes keanggotaan lebih dulu.
"Kami mohon bantuannya juga ya untuk kedepannya!"
Balasan salam yang dia dapat dari ketua dan wakil ketua senat serta anggota lainnya. Mereka mulai berbincang dan membahas perihal urusan apa saja yang akan dilakukan oleh senat pada clarissa.
"Kebetulan selama beberapa hari kedepan kita akan mengadakan acara di kampus ini, jadi clarissa bisa membantu mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan. Mungkin kamu bisa ikut bersama dengan mimi dan leony untuk membeli segala keperluannya. Bagaimana apakah kamu bisa atau kalian berdua keberatan?"
Ucap ketua senat dengan ramah saat rapat dimulai.
"Kami tidak keberatan, ketua!"
Keduanya menjawab berbarengan.
"Saya bisa melakukannya."
Jawab clarissa dengan cepat juga saat melihat keduanya tersenyum dan terlihat bersemangat akan dirinya yang menjadi anggota baru disini.
"Baiklah! Lalu kita juga harus memikirkan dekorasinya yang cocok untuk tema kita agar pesan yang dimaksud benar-benar tersampaikan dengan jelas!"
Lalu rapat pun terus dimulai selama satu setengah jam untuk membahas semua yang perlu dilakukan. Clarissa yang baru mengikutipun mendengarkan dengan seksama agar tidak melakukan kesalahan dia pun mencatat poin-poin penting dalam rapat ini. Dia juga merasa takjub setelah bergabung karena ternyata menjadi anggota senat mahasiswa ini sangatlah keren dan ini benar-benar luar biasa. Semua terorganisir dengan sangat baik, semua dibahas dengan baik dan juga sangat teliti. Tidak ada yang terlewatkan sekecil apapun, lalu anngota yang lainnta juga sangatlah baik-baik dan juga ramah padanya. Walau ada satu atau dua orang yang tidak menyukainya dan itu termasuk ivanka dan juga jenny temannya.
Padahal ivanka baru masuk dikampus ini tapi dia sudah langsung bergabung disini. Bagaimana mungkin ini terjadi? Itulah batin clarissa saat pertama kali melihat ivanka setelah memasuki ruangan ini.
"Baiklah, kita sudahi rapatnya. Lalu tolong persiapan dengan baik jangan sampai ada kekurangan sedikitpun. Saya mengandalkan kalian semua!"
Ucap ketua senat untuk menyudahi rapat mereka saay sudah membagi tugas pada setiap anggota.
"Baik ketua!!"
"Serahkan pada kami! Kami tidak akan mengecewakan seperti yang sudah-sudah!"
Seru beberapa orang setelah mendengar kalimat tersebut dan tidak lama setelahnya bubar lalu semuanya kembali untuk mengikuti mata kuliah yang akan segera dimulai, walau masih ada beberapa yang tinggal disini sambil membahas sesuatu karena jadwal mereka kosong.