Setelah disibukkan dengan kegiatan barunya yaitu menjadi anggota senat selama dua minggu. Acara yang dibuat pun berjalan dengan lancar dan terbilang sukses.
Walaupun benar-benar sangat sibuk dan melelahkan sekali tapi dia sangat menyukainya. Karena ini sesuatu yang baru untuknya, bergabung disini membuatnya mendapatkan pengalaman baru yang sangat luar biasa dan juga mendapatkan teman baru.
"Hai sasa!"
"Hai mimi dan leony. Kalian ambil mata kuliah ini juga?"
Tanya gadis itu pada kedua temannya. Karena selama dia mengikuti pelajaran ini dia tidak pernah melihat mimi ataupun leony. Apa mungkin ini karena dia tidak terlalu memperhatikan orang?!
"Iyah, kami sudah ikut ini sejak awal. Kamu saja yang tidak tahu. Padahal kami tahu kamu."
Balas leony sembari sedikit menggerutu.
"Benar! Hanya kamu saja yang tidak tahu. Seluruh angakatan kita pasti tahu kalau ditanya siapa itu clarissa! Kamu saja yang terlalu dingin dan cuek! Huuu!"
Mimi yang menggerutu secara habis-habisan.
"Ha..haha.. Maafkan aku. Aku tidak begitu memperhatikan sekeliling karena ku pikir memang seharusnya seperti itu. Aku hanya berpikir jika kalian ataupun yang lain tidak ingin juga berada dengan dekatku!"
Ya karena sewaktu aku masih sekolah orang-orang menjauhiku karena aku tidak punya orang tua. Dengan alasan aku anak yatim piatu yang miskin mereka semua menjauhiku dan tidak ada satupun yang ingin berteman denganku, jika pun ada mereka hanya memanfaatkanku karena aku cukup pintar dalam bidang pelajaran. Lalu ivanka datang dan berkata ingin berteman denganku, awalnya aku berpikir dia benar-benar tulus berteman denganku ternyata malah sebaliknya. Karena dia orang-orang yang bahkan mendiamkanku jadi mulai sedikit menggangguku hingga terkadang mereka melakukannya secara terang-terangan bahkan guru pun menutup mata atas apa yang menimpaku. Kenangan pahit yang tidak ingin ku ingat dan kupikir kuliah ini juga tidak ada bedanya sewaktu aku bersekolah, maka dari itu aku pun mengasingkan diri selama dua tahun ini, jika aku tidak masuk senat mungkin aku juga tidak akan bisa berteman dengan mereka berdua. Walau sebenarnya aku masih ragu dan tidak percaya jika mereka berdua mau berteman denganku secara tulus, tapi setidaknya aku bisa tahu jika mereka tidak akan membully ku seperti aku saat masih SMA.
"Siapa?! Siapa yang berani tidak ingin berteman denganmu? Jangan berpikiran sempit! Banyak yang ingin berteman denganmu! Bukan hanya karena kepintaranmu yang luar biasa itu, tapi karena kamu juga sangat cantik!"
Balas mimi dengan membara dan tulus dengan perkataannya. Karena dia juga salah satu diantara mereka yang mengagumi clarissa.
"Benar. Kamu itu kenapa sih bisa secantik ini..! Aku pun iri.. hiks! Kamu pakai skincare apa? Atau perawatan dimana? Beritahukan pada kami biar kami juga bisa secantik dan semulus kulitmu!"
Timpal leony yang ikut-ikutan membara seperti mimi.
"Pffttt... Kalian ini... Aku tidak perawatan apapun ataupun memakai skincare."
Mereka benar-benar lucu. Bagaimana bisa aku melakukan semua itu, jika aku melakukan hal yang mereka bilang mungkin uang tabungan yang selama ini susah payah kusimpan akan langsung habis dalam sekejap mengingat harga skincare dan perawatan yang luar biasa mahal.
"Serius?!"
Leony menganga tanda tak percaya.
"Jadi kamu ingin berkata, oh tidak ini adalah kulitku sejak awal. Aku diberkahi dan dilahirkan dengan kulit semulus sutra dan wajah secantik peri.. hohoho.."
Mimi yang meniru cara bicara seperti didrama-drama yang berperan sebagai tokoh sombong dan suka memamerkan hal yang dipunya.
"Pfftt... Hahahha..."
"Ka..lian benar-benar lucu.. hahaha.."
Aku baru kali ini tertawa lepas. Benar-benar lucu sekali. Apa memang seperti ini jika kita memiliki teman.
"Isshh... Malah tertawa!"
"Ini.. ini... Tertawalah sepuasnya..."
Mereka berdua menyerang dengan menggelitik clarisaa berbarengan.
"Kalian... hahaha.. lep ...... ~bruk~ Aah...!"
Menabrak seseorang dan membuat orang yang ditabrak terjatuh, clarissa tidak terjatuh karena kedua temannya memeganginya.
"Argh!! Si*lan!!"
"Kalian! Jika jalan pakai mata! Jangan sambil bermain. Kalian bukan anak kecil kan!!"
"Ber*ngsek!!!"
Geram cowok ini sangat marah.
"Maaf, maafkan saya.."
Sambil membungkukkan badan.
"Maaf.. Maaf!! Jika segala sesuatu selesai hanya dengan maaf penjara pasti akan penuh sekali!"
" ........? "
Jadi apa? Dia maunya apa jika maaf tidak bisa? Kenapa membesar-besarkan masalah sih. Padahal kami sudah minta maaf. Aku tahu kalau kami salah karena sudah menabraknya tapi bukankah sikapnya terlalu berlebihan. Pasti dia anak yang dimanja dikeluarganya deh!
"Rasakan ini!"
Mendorong clarissa dengan kuat hingga terjatuh terduduk.
"Aah!"
Cowok ini benar-benar keterlaluan sekali! Bisa-bisanya dia mendorong orang sekuat ini.
"Bukankah kalian sedikit keterlaluan mendorong teman kami seperti ini"
Leony berkata demikian saat melihat clarissa jatuh.
"Kamu tidak apa-apa? Claris! Gimana ini tanganmu..."
Ucap mimi dengan khawatir melihat tangannya clarissa sedikit terluka
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir."
Balasku pada mimi dan leony yang tampak khawatir sekali melihatku
"Lalu masalah sudah selesai kan?! Anda sudah mendorong saya, jadi kita impas. Ayo kita pergi"
Mengajak mereka berdua pergi dari sini. Saat hendak beranjak pergi tiba-tiba saja cowok ini menahan pergelangan tanganku yang membuatku merintih sakit karena yang dia pegang dengan kuat adalah tanganku yang terluka.
"Sshhh...!"
"Mau kemana kamu?!"
"Apa kamu pikir dengan ini masalah selesai!? Dasar cewek si*lan!!!"
"Lepas... Anda sudah membalas mendorong saya bukankah itu sudah lebih dari cukup. Lepas atau saya akan laporkan ini pada dosen!"
Ancamku pada cowok gila ini. Mau apa dia sebenarnya! Kenapa sih aku si*l banget bertemu dengan orang seperti dia!
"Haaa.. Kalau dilihat-lihat kamu cantik juga. Temani aku lalu baru akan aku anggap impas!! Itulah ganti rugi yang seharusnya.."
"Jangan keterlaluan!"
"Bukankah kamu juga sudah mendorongnya, lexton."
" ........! "
Tiba-tiba saja cowok ini muncul. Dia kan orang yang menolongku saat di minimarket.
"Hahaha.. Zio! Apa yang kamu lakukan disini? Lagian ini juga bukan urusanmu! Jadi pergilah!"
"Kamu lupa atau bod*h?! Meski beda jurusan tapi kan gedung kita sama! Bagaimana bisa kamu lulus dengan otak seperti itu!"
Mendekat lalu menarik clarissa kearahnya sehingga genggaman tadi seketika lepas dan langsung berjalan pergi tanpa menghiraukan mereka yang ada disana, kedua teman clarissa pun langsung mengikuti mereka. Cowok bernama lexton ini tampak sangat marah sekali.
"Terima kasih sudah membantu"
Ucap clarissa pada zio yang terlihat diam kembali.
Yah cowok ini kan memang seperti ini, apa yang ku harapkan.
"Lalu apakah anda kuliah disini juga?"
Bertanya karena penasaran. Jika tahu dia kuliah disini pasti kemarin akan aku berikan langsung tanpa harus menunggu
"Iyah, lalu kami juga pernah melihatmu beberapa kali tanpa sengaja sebelumnya."
Balas jamie atas pertanyaan clarissa. Memang diantara mereka bertiga jamie lah yang paling banyak bicara.
"Clarissa, tanganmu..."
Ucap mimi pelan dengan khawatir.
"Terima kasih kak sudah membantu kami tadi, tapi maaf kami harus segera pergi."
Leony berbicara dengan sopan dan ramah.
"Ayo, kita obati dulu tanganmu."
" ......? "
Bahkan aku saja sudah lupa akan tanganku. Aku memang tidak begitu merasakan sakit jika terluka ataupun memang benar sakit. Karena terlalu sering menahan mungkin aku jadi sedikit kebal akan rasa sakit jika hanya terluka seperti ini.
"Aah. iyah, ayo. Sekali lagi terima kasih sudah membantu."
Saat mau pergi tiba-tiba saja dia berbicara.
"Ikut denganku."
Ucapnya sangat singkat sekali.
" .......? "
Maksudnya? Batinnya clarissa bingung dengan maksud zio.
"Jika ingin mengobati luka itu ikutlah dengannya. Kebetulan ada seseorang kenalan kami yang kuliah kedokteran dan dia bisa membantu."
Robert menjelaskan dan barulah mereka mengerti.
"Tapi hanya gadis ini saja, kalian tunggulah disini bersama kami."
" ........?! "
Terlihat jelas diraut wajah mimi dan leony yang khawatir membiarkan clarissa pergi seorang diri.
"Tidak apa. Aku akan segera kembali."
Tersenyum agar mereka tidak perlu khawatir dan menunggu saja disini. Aku tahu dia tidak akan berbuat jahat padaku, lalu mengikuti dia yang sudah lebih dulu berjalan.
Selama kami berjalan hanya diam dan keheningan yang meliputi. Aku pun jadi merasa canggung dan tidak berani membuka suara duluan, tapi keheningan ini benar-benar menyiksa sekali.
"Kalau boleh tahu tahun keberapa anda disini?"
Bertanya dengan sopan. Clarissa hanya tidak ingin suasana yang hening layaknya dipemakaman.
"Tahun terakhir."
Jawab zio singkat.
"Oh.. Kalau boleh tahu jurusan apa?"
Bertanya lagi walaupun canggung.
"Terakhir.
"Magister Hukum."
" .....! "
Wah aku tidak menyangka dia sepintar ini. Padahal usianya terlihat tidak beda jauh denganku tapi dia sudah berada dijenjang yang lebih tinggi dariku.
"Hebat! Padahal kelihatannya kita gak berbeda jauh tapi anda hebat sekali."
"Kita sudah sampai."
~ceklek~
"Zio!"
"Sudah berapa kali kubilang jangan sembarangan masuk! Ketuklah pintu dulu."
"Masuklah!"
" .......?! "
Terkejut saat melihat clarissa memasuki pintu.
"Permisi..."
Ucapnya sembari memasuki sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kesehatan tapi seperti bukan juga. Ini lebih mirip dibilang seperti ruang pribadi seseorang.
"Aah.. Iyah, silahkan masuk."
Melirik kearah zio penuh makna. Karena tidak seperti dirinya saja yang dia membawa seorang gadis, terlebih secara terang-terangan seperti ini.
"Maaf sudah mengganggu ....... "
Belum selesai berbicara sudah dipotong olehnya.
"Tangannya terluka, cepat obati"
Katanya singkat dan juga tegas.
"Kau pikir aku siapa seenaknya memerintah seperti itu."
"A.. anu... Maaf mengganggu, ka.. kalau begitu lebih baik saya .......! "
Apa-apaan lagi sih ini! Orang ini mau apa, jelas-jelas wanita ini tidak mau mengobatiku kenapa harus memaksa. Lalu apa ini main seenaknya saja memegang tangan orang!
"Diamlah! Dia akan mengobatimu!"
Seketika membuatku sedikit gentar dan merasa takut.
Dengan wajah datar dan nada suara yang sedikit menyeramkan untukku, tapi wanita itu terlihat biasa saja dan tidak merasa takut sedikitpun.
"Perbaiki wajah dan suaramu itu! Lihatlah kau membuat gadis ini takut!"
Bentaknya dengan nada suara sedikit kencang dan langsung menghampiri clarissa.
" .......! "
Apakah aku membuatnya takut? Padahal aku tidak bermaksud demikian.
"Namaku Fiona Zwetta. Kamu bisa memanggilku fio. Kamu?"
Sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.
"Clarissa Rox."
Menggapai uluran tangannya, lalu melirik sekilas kearah gadis bernama fiona dan cowok disebelahnya ini secara bergantian. Mereka terlihat mirip, apa mereka saudara? Tapi aku saja bahkan tidak tahu nama cowok ini siapa.
"Haa..! Dia pasti belum bilang! Benar-benar membuat orang frustasi!!"
"Namanya Zionathan Zwetta. Kami saudara kembar dan di lahir lima menit lebih dulu dibandingkan aku!"
Memperkenalkannya sekaligus dengan nada frustasi.
"Aah, salam kenal. Pantas saja terlihat mirip." Sepertinya hubungan keduanya baik.
"Biar aku lihat.."
Lalu dia memegang dengan lembut dan memeriksanya.
"Tidak apa-apa, hanya luka ringan dan keseleo tapi tidak parah. Lukanya sudah diobati hanya perlu diberikan salep dan jangan terlalu banyak digerakkin agar tidak bertambah parah."
"Nah sudah selesai! Karena aku masih ada kelas, aku duluan. Tolong setelah keluar pastikan pintunya terkunci."
"Terima kasih."
Ucapku dengan suara sedikit meninggi karena fiona langsung pergi begitu saja dengan cepat.
"Aah.... Dia cepat sekali..."
Bergumam pelan.
Duh jadi canggung kan. Kok bisa sih ada orang kayak gini yang benar-benar menghemat sekali suaranya. Aku yakin seratus persen jika aku membuka pembicaraan pasti akan langsung berakhir dalam dua detik. Tapi keheningan ini juga rasanya membuatku frustasi.
"Ka.. kalau begitu saya akan pamit duluan karena teman-teman saya sedang menunggu."
"Ok. Kita bareng saja."
"Ooh.. Oke."
Haaa!!! Benar-benar deh!
Batinnya clarissa berteriak histeris karena dia baru pertama kali berhadapan dengan seseorang yang seperti Zio. Lalu mereka pun keluar dari ruangan tersebut.
~Kring...kring~
"Halo.. Ada apa kak?"
Ternyata telepon dari kak delon. Tumben sekali dia menelepon.
"Oh.. Sekarang? Baiklah..."
Ada apa tiba-tiba dia ingin datang ke kampusku.
Lalu mereka berjalan dalam diam sampai tiba ditempat dimana teman-temannya clarissa berada.
"Claris!!"
Panggil mimi langsung setelah melihatnya.
"Tidak apa-apa kan?"
Tanya leony dengan khawatir.
"Tidak apa, jangan cemas."
Mereka terlihat sangat khawatir sekali. Terlebih tadi, orang-orang yang tadi itu terlihat bukanlah orang yang baik-baik. Semoga saja kami tidak bertemu lagi.
"Sasa..!!!"
" .......! "
Ternyata sudah sampai. Cepat sekali. Lalu aku baru tahu ternyata kak delon memiliki mobil atau dia meminjam mobil temannya ya.
"Uuuhh.. Sasa...?!"
Dengan nada meledeknya mimi memasang ekspresi nakal pada clarissa dan tidak jauh berbeda juga dengan leony yang ikut-ikutan mimi.
"Ah.. Dia teman kerjaku direstoran tempat ku part time. Kami tidak ada hubungan apa-apa."
Jelasku pada mereka yang tampak tidak peduli dengan yang kubicarakan.
"Sasa seperti panggilan mesra tuh buatku. Hahaha.. Ya kan leony. Lihat tuh dia sampai terburu-buru kesini."
Sergah mimi yang masih tetap meledek.
"Ish.. Disana mereka semua memanggilku sasa. Itu nama panggilanku sejak kecil!"
Dasar mereka! Bikin aku malu saja. Padahal disini masih ada zio dan teman-temannya. Lalu kak delon akhirnya sampai setelah berjalan dengan setengah berlari.
"Hai kak.. Ada apa kemari? Tumben. Oh iya kenalin ini teman-temanku. Mimi dan leony."
Tanyaku canggung karena ulah mereka berdua.
"Halo, saya mimi"
Menyengir dengan penuh makna.
"Saya leony. Kami satu satu jurusan dan seangkatan juga"
Sambil melirik kiri dan kanan dengan tatapan jahilnya.
"Kebetulan aku lewat sini, lalu teringat kamu. Jadi sekalian saja mampir, lagian kan kamu juga mau ke restoran bukan? Ayo kita bareng."
"Aah... Begitu, tapi ......"
Bagaimana yah, kami kan ada janjian ingin makan bareng sebelum aku kerja. Baru mau menolak tiba-tiba saja mereka berdua berbicara kompak banget.
"Pergi saja"
Sergah mimi dan leony cepat.
"Pergilah, kita bisa lain pergi lain kali kok."
Ucap leony kembali.
"Kalian yakin..?"
Tanyaku sekali lagi memastikan.
"Eem.. Sana buruan.."
"Baiklah.. Maaf ya... Lalu zio terima kasih sekali lagi. Lain kali aku akan mentraktirmu."
Setelah itu aku pun berjalan pelan bersama kak delon.
"Tanganmu kenapa? Kok sampai diperban seperti ini.."
"Aah.. Ohh.. Ini tadi aku tidak sengaja menabrak seseorang tadi, lalu orang itu marah dan balik mendorongku, padahal aku sudah minta maaf. Jadinya seperti ini deh.."
Jelasku singkat sampai cerita dia mendorongku saja. Tidak sampai cowok itu memintaku menemaninya. Jika kak delon tahu mungkin dia bersama kak nindy akan menghampiri dan menghajar orang itu. Mereka terlalu over jika menyangkut diriku.
"Dasar kurang ajar. Bagaimana bisa cowok sekasar itu!"
"Hahaha.. Tidak apa kak. Tadi sudah diobati kok dan sekarang baik-baik saja."
Sambil menyentuh tanganku yang terluka dan aku yang merasa tidak enak langsung menarik tanganku kembali. Lagipun kami masih berada dikampus dan dibelakang kami ada mereka yang melihat walaupun sudah agak menjauh tapi tetap saja. Lalu leony dan mimi pasti bakal heboh banget besok.
••••
"Brengs*k!!! Anak itu perlu diberi pelajaran! Berani sekali dia mendorongmu seperti itu!!! Lihat saja besok aku akan kesana dan mematahkan tangannya! Huu!"
Marah-marah nindy setelah melihat tangan clarissa dan mendengar penjelasan delon yang dilebihkan sedikit.
"Bukan seperti itu. Kak delon sih melebih-lebihkan, lihat tuh jadinya."
Gimana bisa sih ceritanya jadi seperti ini. Aku benar-benar dibuat pusing oleh mereka.
"Biar saja sa. Kan lucu lihatnya. Lihat tuh kak nindy sudah kayak apa... Pfftt..."
"Mereka ini benar-benar deh!"
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Aku menyerah sudah jika menyangkut mereka berdua.
"Ngomong-ngomong sejak aku pertama bekerja disini aku tidak pernah melihat pemilik restoran ini sekalipun.. Apa kakak berdua pernah bertemu dengan pemiliknya?"
Tanyaku tiba-tiba karena penasaran. Sejak awal hingga saat ini aku tidak pernah melihat pemilik ini sekalipun. Hanya ada kak nindy, kak delon dan seorang manager yang mengurus tempat ini. Itupun jarang melihat si manager tersebut.
"Aah.. Hm.. Itu..."
Menyenggol-nyenggol delon dengan pelan agar tidak terlihat clarissa.
"Itu karena pemilik tempat ini sedang berada diluar negeri. Jadi dia menyerahkan semua urusan pada manager secara penuh."
"Itu saja yang kami ketahui."
Jelasnya dengan cepat.
"Ooh.. Pantas saja tidak pernah melihatnya. Lalu manager kita juga jarang banget kesini. Semua kita yang mengurusnya, dia hanya makan gaji buta!"
Mendengus sedikit kesal. Padahal harusnya dia juga ada disini, tapi jarang sekali dia menunjukkan batang hidungnya. Semua kami yang mengerjakannya mulai dari memesan bahan baku, keuangan dan sebagainya. Benar-benar deh orang itu sangat tidak bertanggungjawab sekali!
"Hahaha.. Yah begitulah. Sudah-sudah tidak usah dipikirkan, yang penting kerja kita benar dan saat pemilik datang dia bisa melihatnya dan gaji disini juga cukup besar kan."
Celoteh kak nindy langsung.
"Iyah sih. Diantara semua kerja part time yang pernah kucoba hanya disini yang memberikan gaji lumayan besar untuk pekerja part time seperti aku."
Makanya aku dulu menerimanya karena saat itu aku benar-benar membutuhkan biaya untuk biaya sewa tempat tinggal, makan dan lain-lainnya. Sudah begitu gajinya dibayar dimuka lagi. Seakan-akan tahu jika aku sangat membutuhkan sekali uang ini.
"Hahaha..."
Tawa canggung pun dilayangkan oleh kedua orang ini dan mereka bersyukur karena untungnya clarissa itu polos dan lugu jadi tidak ada perasaan curiga sedikitpun.
°°°°
"Brengs*k!!! Cari tahu tentang cewek tadi. Beraninya dia melawanku. Lalu tadi zio juga membelanya, tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Padahal dia orang paling tidak peduli terhadap siapapun kecuali adiknya!"
"Cari tahu sekarang juga! Dan kita jadikan itu kelemahannya!!"
Menyeringai mengerikan sehingga orang-orang yang ada disekitarnya hanya terdiam membisu.
"Lalu kamu!! Mau sampai kapan seperti patung!! Cepat lakukan tugasmu sekarang juga! Buat aku puas jika tidak rasakan sendiri akibatnya!"
Sambil memerintah seorang wanita yang ada disampingnya yang terlihat sangat ketakutan sekali.
"Ba.. baik tuan!!"
Lalu wanita ini langsung berjongkok didepannya dan membuka celananya lalu melakukan or*l pada alat vital laki-laki itu. Dia harus memuaskannya jika tidak ingin menjadi mayat hidup.
"Hem.. aahh.. Ya!! Seperti itu.. Bagus!! Lanjutkan..!"
Mendesahnya nikmat saat wanita itu mengor*lnya.
"Kalian juga bersenang-senanglah! Jangan pedulikan kami...!"
"Hahah.. Baik. Kalian dengar kata ketua..!"
Suara seorang laki-laki menyahut atas perkataannya dan mereka mulai melanjutkan kembali kegiatan mereka dan ruangan ini dipenuhi para penari telanjang yang dan wanita penghibur. Lalu dibeberapa sudut dan bagian ruangan ini ada yang melakukan aksi mes*m mereka tanpa tahu malu.
°°°°
"Bye.. Aku duluan ya! Hati-hati yah kalian berdua!"
Mengucapkan salam perpisahan saat sudah selesai bekerja dan langsung melanjutkan perjalanan ke minimarket.
"Haa.. Aku lelah. Setiap hari aku hanya tidur selama dua atau tiga jam. Apakah tubuhku ini bisa bertahan??"
Merasakan tubuhnya sangat lelah sekali sambil memandangi tangannya yang terluka. Meratapi hidupnya yang harus bekerja keras demi bisa bertahan hidup didunia yang keras ini.
Andai ibu masih hidup apa hidupku akan berbeda?
Itulah pertanyaan yang sering dia tanyakan didalam dirinya sendiri. Membayangkan kehidupan jika saja ibunya masih ada di dunia ini, lalu tanpa sadar dia pun meneteskan airmatanya.
"Haaa! Dasar bod*h. Kenapa cengeng banget sih!!! Ini kan bukan pertama kalinya kamu mengalami kesusahan!! Ayoo semangat!! Pasti akan ada hal baik yang menunggu!!"
Menyemangati dirinya sendiri agar tetap tegar dan kuat dalam menjalani kesehariannya dan segera menghapus airmatanya itu.
"Kamu sudah datang..?"
"Halo paman. Maaf saya terlambat."
Ucapku sambil bergegas menuju belakang untuk mengganti seragam.
"Hari ini ada pegawai baru. Tolong bantu ajari dia ya."
"Oh.. Oke paman. Serahkan saja pada saya! Heheh.."
"Halo, saya clarissa. Mohon bantuannya yah."
Ucapku dengan ramah dan mengulurkan tanganku kearahnya dengan maksud agar kami dapat berkenalan dengan layak.
"Shinya!"
"Mohon bantuannya juga."
" ........ "
Seperti dejavu dengan jawaban singkat seperti ini.
Membantinnya clarissa sambil tersenyum dipaksakan.
....
"Ini seperti ini cara menempelnya dan menyusunnya. Harus disusun dengan barang yang sama tidak boleh dicampur."
Menjelaskan dengan pelan agar shinya mengerti. Ternyata dia memang anak yang pendiam dan pemalu, tapi dia baik dan ramah walaupun pemalu.
Dia juga sangat pekerja keras dan tanggap, diajarkan sekali sudah langsung mengerti.
Tidak terasa sudah hampir waktunya jam kerja kami berakhir, saat hendak beres-beres agar pekerja selanjutnya lebih gampang shinya bertanya padaku tentang tempat tinggal.
"Maaf.. Apakah ada tempat tinggal yang murah?"
"Hmm.. Ada tapi tempatnya sedikit berbahaya. Aku tahu karena pernah tinggal disana dan langsung pindah karena tidak nyaman. Apa kamu belum mendapatkan tempat tinggal?"
Tanyaku penasaran. Melihatnya membawa satu tas besar sepertinya dia datang dengan terburu-buru atau dia kabur dari rumah seperti aku dulu.
"Oh begitu..."
"Ditempatku saja. Kebetulan rumah yang kusewa ada satu kamar kosong. Jika kamu mau bisa tinggal disana dan kita bagi dua untuk biaya sewanya."
Karena kasihan aku langsung menawarkannya. Tempatku tinggal dirumah atap gitu, walaupun kecil dan tidak terlalh besar sekali tapi untuk ditempati dua orang masih sangat cukup sekali lalu disana juga memiliki dua kamar. Jika shinya disana biaya sewa juga akan lebih murah untukku karena kami bisa patungan. Ini seperti keberuntungan untukku disaat aku mengurangi pekerjaan tiba-tiba mendapat roommate.
"Bolehkah? Tapi aku belum punya uangnya. Bolehkah jika aku membayarnya nanti setelah dapat bayaran?"
"Tidak apa. Bayarlah mulai bulan depan."
Dia mengingatkanku pada diriku yang dulu. Aku mengerti sekali perasaannya saat ini.
"Ayo kita pulang!"
Ajakku dengan ramah padanya dan dia pun mengiyakan ajakkanku setelah mengucapkan terima kasih.