Kerja Kantoran?

1008 Words
“Biar gue aja, Kak. Eh, ada oleh-oleh di koper, buka aja.” Nadira tak ingin merepotkan Tasya yang terlihat kesulitan untuk melakukan apa pun karena perut buncitnya. “Asyik ... koper yang mana, nih?” sahut Tasya antusias, tetapi ia bingung karena ada tiga koper Nadira yang dibawa Farel. “Yang warna merah,” jawab Nadira, lalu berjalan menuju dapur untuk membawa minumnya sendiri. Setelah membuka pintu kulkas dan mengambil satu minuman kaleng, Nadira segera membuka segel minuman tersebut dan meminumnya di saat itu juga. Menatap ke sekelilingnya, ia bersyukur karena kakaknya tinggal di tempat yang nyaman seperti yang sedang ia lihat saat ini. Tak henti Nadira mengucapkan terima kasih dalam hatinya yang ditunjukkan untuk majikan sang kakak yang sudah memberikan apartemen tersebut. Meski bukan yang pertama kalinya memasuki apartemen itu, akan tetapi setiap kali memasukinya ia selalu bersyukur atas apa yang kakaknya dapatkan saat ini. Saat kembali ke ruang TV, Nadira melihat Tasya dan Farel sedang meributkan sesuatu yang tidak perlu diributkan. Mereka sedang berebut oleh-oleh yang dibawa Nadira, persis seperti anak kecil. “Gak ada yang beres.” Nadira menggelengkan kepalanya, geli dengan tingkah laku kedua manusia dewasa yang tak jauh darinya. Tak ingin mengganggu, Nadira memilih berdiri, menyaksikan kakak dan kakak iparnya meributkan suatu hal yang tak penting. Dalam hatinya ia tersenyum, Farel masih seperti dulu, bersikap kekanak-kanakan. Hal itu sangat manis ketika Farel dan Nadira memperebutkan sesuatu di hadapan orangtuanya saat kecil dulu. Orangtuanya selalu saja memihak Nadira, dan menyalahkan Farel jika sang adik menangis sedikit saja. “Sya, apaan sih?!” Farel menyembunyikan makanan di belakang tubuhnya. “Punya aku!” teriak Tasya yang ingin mengambil makanan tersebut, padahal ia sudah mengambil lebih banyak sedangkan Farel hanya membawa satu bungkus. “Mana ada! Gak usah rakus!” Farel tetap tak ingin memberikan makanannya. “Anak kamu juga mau! Bukan cuma aku!” jawab Tasya sekenanya. Farel menipiskan bibirnya, berkata dengan malas, “Selalu aja itu alasannya.” “Ya udah, nih, ambil semua!” Tasya melemparkan semua bungkusan makanan yang sudah ia ambil tadi. “Gitu aja ngambek, 'kan? Nih, aku bukain.” Farel mengalah, segera membuka segel bungkusan makanan tersebut, lalu menyodorkannya ke mulut sang istri. “Males!” Tasya membuang wajahnya ke sembarang arah, menghindari suapan Farel. “Aku makan semua, baru tau rasa!” ancam Farel jengkel. “Gara!” bentak Tasya semakin kesal. Tasya memang memanggil suaminya dengan sebutan 'Gara', diambil dari nama belakangnya 'Anggara'. Nadira mendekati mereka berdua setelah dirasa pegal karena berdiri sejak tadi, juga jengah mendengarkan teriakan kedua belah pihak yang entah sampai kapan akan terus berlangsung. “Kamar gue yang mana, nih? Atau, gue nge-kost aja?” Nadira tak tahu letak kamarnya sendiri karena kamar yang biasa ia tempati saat berkunjung, sudah ditempati Farel dah Tasya. Mereka pindah kamar lebih tepatnya. “Jangan!” jawab Farel dan Tasya secara bersamaan hingga mereka menghentikan pertengkaran dan menatap satu sama lain. “Kamar lo yang itu.” Farel menunjukkan kamar Nadira yang terletak di dekat dapur. “Ntar gue bantu rapiin barang-barang lo, Ra.” Tasya sedikit berteriak karena posisi mereka yang cukup jauh. “Gak usah, gue beresin sendiri.” Nadira benar-benar tak ingin merepotkan Tasya. Nadira segera mengeluarkan seluruh pakaiannya yang ada di dalam koper untuk ia rapikan ke dalam lemari satu per satu. Tidak banyak yang ia bawa pulang, berpikir akan kembali ke Australia, entah kapan. Setelah selesai menata semua pakaian dan make up serta yang lainnya, wanita itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang berukuran single, lalu memejamkan matanya untuk beristirahat. Menikmati detik demi detik dalam posisi matanya yang terpejam, perasaan itu datang lagi, perasaan tak nyaman hingga rasanya ingin segera pergi dari sana. Bukan hanya pergi dari Jakarta, tetapi dari Indonesia. Hanya dengan mengingat sepenggal luka yang pernah dialaminya, mampu membuat suasana hatinya tergoncang sangat hebat. Cukup lama Nadira tertidur, akhirnya ia terbangun tanpa siapa pun yang mengganggunya. Dengan langkah gontai, wanita itu keluar dari kamarnya dengan membawa segala peralatan mandi, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk memandikan dirinya. Suara teriakan Farel memanggil namanya terdengar samar, kakaknya itu sudah menunggunya sejak tadi untuk makan malam. Nadira bergegas menyelesaikan aktivitasnya, lalu segera keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan yang terdapat di dalam dapur apartemen tersebut. “Dek, kalo lo mau kerja di sini, biar gue minta bantuan Dafa,” kata Farel saat makan malam sedang berlangsung. Tasya langsung menimpali dengan antusias, “Nah, betul itu. Lo gak usah pergi lagi, Dek. Lagian bentar lagi gue lahiran, lo bantu urusin bayi, kek.” Nadira berpikir sejenak. “Jadi apaan?” tanyanya penasaran. “Mana gue tau. Gue 'kan nanya dulu, lo mau kagaknya kerja di sini. Soal jadi apa-apanya, biar Dafa yang putusin.” Farel berusaha agar adiknya itu tidak pergi ke Australia lagi. “Gak, deh. Gue nyari kerjaan lain aja.” Nadira menggelengkan kepalanya dengan malas. Dirinya tak ada niat sedikit pun untuk bekerja di perkantoran, sadar bahwa ia tak memiliki keahlian apa pun yang bersangkutan dengan bidang itu. Tasya tak bisa menahan keingintahuannya. Dengan mulut penuh makanan, ia bertanya, “Kenapa?” “Gue gak tertarik jadi orang kantoran,” jawab Nadira malas, lalu mendengus sebal. Untuk membayangkannya saja, Nadira sudah malas duluan. Duduk di depan komputer? Mohon maaf, itu bukan Nadira namanya. “Tapi, lo cocok, Dek. Lo, 'kan cantik.” Tasya memuji sekaligus membujuk. “Apa hubungannya sama kerja kantoran? Lagian gak nyambung, gue kuliah ambil modeling. Terus kalo gue kerja kantoran, jadi apaan coba?” Nadira kesal, kakak iparnya itu seolah memaksanya untuk bekerja di kantor teman sekaligus bos Farel. “Dafa punya banyak kenalan. Lo kalo mau tetep jadi model, di sini juga bisa. Gak usah di perkantoran kalo gak mau,” ujar Farel tanpa menatap sang adik, malah sibuk dengan makanannya. “Serah. Gue ikut aja.” Nadira tak ingin pusing. “Oke, sip. Ntar gue ngobrol sama Dafa.” Farel mengacungkan jempolnya. “Gue percaya sih sama Bang Dafa, dia pasti banyak kenalannya. Lo gak usah khawatir, Ra.” Tasya menimpali dan Farel manggut-manggut tanda setuju dengan ucapan sang istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD