Kantor Abizard Group

1107 Words
Matahari sudah berada di atas langit, menyinari bumi dengan sempurna. Namun, seorang gadis masih terlelap dalam tidurnya. Gadis itu tetap terjaga semalam, mengingat masa lalunya. Kenangan yang diingatnya diiringi isak tangis yang sudah susah payah ia kendalikan. Beruntungnya, tangisnya tak sampai terdengar kakak dan kakak iparnya. Merasakan tenggorokannya yang kering, perlahan Nadira terbangun. Bukan karena ingin bangun, tapi karena dirinya merasa haus sehingga ia terpaksa bangkit dari atas ranjangnya. Berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya, matanya terbelalak ketika menyadari bahwa hari sudah siang. Ia pun menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas. “Buset?! Pantesan lapar, mana haus.” Nadira tak percaya dirinya bangun sesiang itu. Usai mencuci wajah dan menggosok gigi, Nadira mencari sosok kakak iparnya yang tidak ia temukan di mana pun. Tak ingin pusing, dirinya memutuskan untuk duduk di meja makan, mulai memasukkan potongan-potongan roti ke dalam mulutnya guna mengganjal perutnya yang keroncongan. “Dek.” Tasya baru saja pulang, mengejutkan Nadira yang hampir tersedak makanannya sendiri. “Dari mana?” tanya Nadira, lalu minum air putih sesegera mungkin. “Belanja bulanan. Lo baru bangun?” Tasya ikut duduk di samping Nadira. Wajahnya terlihat kelelahan, mungkin karena perutnya sudah besar dan ia harus susah payah membawa kantong-kantong belanjaannya seorang diri. Nadira yang melihat itu merasa bersalah karena tidak membantu, dirinya semakin merasa tak enak karena berpikir Tasya belanja banyak karena ada dirinya. “Kenapa gak nungguin gue bangun, sih? Kita bisa belanja bareng.” Nadira penuh sesal. “Boro-boro nungguin lo, yang ada gue kelaparan, Dek. Lo kenapa gak angkat telepon Gara? Dia ngomel tuh, teleponin gue minta lo angkat teleponnya.” Tasya mengomeli. “Gue baru bangun, Kak. Mana tau dia telepon gue. Lagian, mau ngapain coba? 'Kan ntar juga ketemu,” kilah Nadira sambil memasukkan kembali potongan roti ke dalam mulutnya dengan santai. “Lo disuruh ke kantor Bang Dafa. Katanya, ada temen Bang Dafa yang mau bantu lo jadi model di sini,” tutur Tasya memberitahu. “Serius?” Nadira menghentikan kunyahannya, menatap Tasya tak percaya. Semudah itu mendapatkan pekerjaan di Indonesia? Wah, ternyata sehebat itu teman sekaligus bosnya Farel. Nadira tidak bisa menyangkal, pria itu memang hebat, memiliki kenalan yang bisa membantunya mendapatkan pekerjaan. “Makanya, lo ke sana aja. Tapi angkat dulu telepon Kakak lo.” Tasya memberikan saran. “Siap.” Nadira manggut-manggut dengan cepat. Setelah menghabiskan makanannya, Nadira segera memasuki kamarnya. Untuk apalagi jika bukan memeriksa ponselnya yang sengaja ia matikan? Saat ponselnya dihidupkan, banyak notifikasi masuk dan kebanyakan berasal dari kakaknya itu. Nadira sudah yakin, pria itu pasti akan mengoceh perihal dirinya yang tidak bisa dihubungi. “Dasar kebo! Baru bangun 'kan lo?” serobot Farel tak santai ketika menjawab panggilan. “Lo kalo mau maki-maki gue, ntar aja kalo pulang. Baku hantam sama gue!” Nadira tak suka, malah menantangnya dengan kesal. “Lo ke sini sekarang juga, mumpung temen Dafa masih di sini.” Farel memerintah tak sabaran. Ia sudah menunggu adiknya menjawab panggilan sejak tadi, tentu ia tak ingin berbasa-basi lagi. “Gue belum mandi.” Nadira mendesah kesal, tak ingin diburu-buru. “Udah tau. Gak aneh lo mah.” Farel sudah bisa menebak tanpa diberitahu. Tapi, yang jelas saat ini adalah adiknya yang harus datang secepatnya. “Pokoknya, lo siap-siap, terus ke sini. Ntar gue kirim alamat kantornya.” “Iya ... gue mandi dulu, sih.” Nadira mengalah, tak ada pilihan lain selain segera mematuhi perintah kakaknya. “Jangan pake baju kurang bahan! Apalagi rok yang kemarin lo pake. Jangan malu-maluin gue.” Farel memperingati. “Gue ke sana pake sarung. Puas?!” Nadira memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Pukul satu siang, Nadira baru keluar dari kamar mandi dengan bathrobe-nya. Segera ia mengeringkan rambut panjangnya dan berpakaian. Ia menggunakan celana jeans warna hitam yang utuh, maksudnya tidak robek-robek seperti yang biasa ia pakai guna menyesuaikan dirinya yang akan memasuki gedung perkantoran. Blazer berwarna pink yang ia padukan dengan tanktop berwarna putih di dalamnya sudah melekat di tubuhnya. Tak lupa ia memakai make up tipis, juga meng-curly rambutnya seperti kebiasaannya. Satu lagi, heels yang tidak terlalu tinggi dan sebuah clutch berwarna senada dengan blazer yaitu pink muda. “Wah, lo cantik banget, Dek. Lo tiap hari dandan gini di Australia?” Tasya tak henti memperhatikan penampilan Nadira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan kemarin juga cantik, tetapi pakaiannya cukup terbuka. Sekarang, penampilan adik iparnya itu jauh lebih baik, sangat cocok menjadi pekerja kantoran. Terlebih, saat ini wanita itu memakai riasan di wajahnya, tidak seperti kemarin yang terlihat hanya wajah lelah. “Gue pergi sekarang, ya. Keburu suami Kakak itu telepon lagi, ngoceh lagi. Bosen dengernya.” Nadira berpamit pergi. “Penampilan lo udah cakep gini, nada lo jangan kayak gitu ntar.” Tasya menasehati dengan wajah kesalnya. Nadira mengangguk tanpa ingin membahas apa pun lagi. Ia pun memesan taksi online, lalu menunggu taksi tersebut di parkiran apartemen. Sampainya di kantor Abizard Group, Nadira segera menghubungi Farel sehingga kakaknya itu bergegas menjemputnya di lantai dasar kantor tersebut. Farel membawa Nadira ke arah lift dan memasukinya. Salah satu jarinya segera menyentuh tombol 47 setelah pintu lift tertutup. Ting... Bunyi di dalam lift dan pintu lift tersebut terbuka. Farel keluar dari lift itu diikuti Nadira yang berada di belakangnya. Tak henti Nadira merasa kagum terhadap perusahaan tersebut yang sangat besar. Lantai yang ia injak adalah ruangan khusus orang terpenting kantor tersebut, yaitu CEO dan direktur utama. Tampak banyak pria bertubuh tinggi besar berjas hitam, lengkap dengan sebuah pistol dan earphones di salah satu telinganya sedang berdiri tegak di sepanjang koridor lantai tersebut. Bagaikan akan menemui seorang presiden, Nadira mendecih sebal karena menilainya terlalu berlebihan. Namun, sebenarnya itu sudah tradisi untuk CEO dan direktur utama yang memiliki banyak pengawal. Dikarenakan perusahaan yang mereka kelola bukanlah perusahaan biasa, melainkan perusahaan raksasa yang bergerak dibidang retail terbesar di Indonesia. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang dikendalikan Abizard Group. Saingan Abizard Group tidaklah sedikit, bukan hanya dalam Negeri, tetapi juga luar Negeri. Mereka sering mengusik popularitas Abizard Group sehingga orang-orang terpenting di perusahaan tersebut memiliki pengawal masing-masing. Masuk ke dalam ruangan teman sekaligus bos Farel, Nadira melihat ada dua pria yang tengah duduk di sofa yang sama dan bukan di kursi kebesaran yang ada di ruangan tersebut. Salah satunya adalah si pemilik ruangan, Dafa Pratama. Pria yang seusia Farel yaitu 32 tahun itu adalah seorang direktur utama di perusahaan Abizard Group. Pria itu dikenal sangat dingin terhadap wanita, terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia tak memiliki kekasih hati dan tak peduli dengan banyaknya wanita yang menginginkannya. Sosok tampan berwajah dingin. Tubuhnya tinggi besar dengan bahu yang lebar, ditambah kumis yang menutupi seperempat wajah bagian bawahnya, membuat ia dinilai paket lengkap oleh wanita mana pun yang melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD